Zikir Saat I’tidal

March 16th 2010 by Abu Muawiah |

30 Rabiul Awal

Zikir Saat I’tidal

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Jika Imam mengucapkan: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah: ‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian). Karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 796)
Dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk maka beliau biasa membaca: ROBBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWAATI WAL ARDHI WAMIL’U MAA SYI”TA MIN SYAY`IN BA’DU. AHLATS TSANAA`I WAL MAJDI, AHAQQU MAA QOOLAL ‘ABDU, WAKULLUNA LAKA ‘ABDUN. ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU (Ya Allah, Rabb kami, segala puji bagimu sepenuh langit dan bumi serta sepenuh sesuatu yang Engkau kehendaki setelah itu. wahai Pemilik pujian dan kemulian, itulah yang paling haq yang diucapkan seorang hamba. Dan setiap kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada penghalang untuk sesuatu yang Engkau beri, dan tidak ada pemberi untuk sesuatu yang Engkau halangi. Tidaklah bermanfaat harta orang yang kaya dari azab-Mu).” (HR. Muslim no. 476)
Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi -radhiallahu anhu- dia berkata:
كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
“Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya). Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca; RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik, dan penuh berkah).” Selesai shalat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?” Orang itu menjawab, “Saya.” Beliau bersabda: “Aku melihat 33 malaikat atau lebih berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk mencatat kalimat tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 799)

Penjelasan ringkas:
Insya Allah maksud hadits-hadits di atas sudah jelas dan tinggal diamalkan saja. Hanya saja di sini ada beberapa catatan mengenai masalah i’tidal:
a.    Yang disyariatkan membaca: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH hanyalah imam atau yang sedang shalat sendiri. Adapun makmum, maka yang dia baca adalah: ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU, dan zikir lain yang tersebut dalam dalil-dalil di atas. Jadi makmum tidak ikut membaca: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH. Ini berdasarkan lahiriah hadits Abu Hurairah di atas, dan inilah insya Allah pendapat yang paling kuat di kalangan ulama.

b.    Makmum tidak boleh i’tidal duluan sebelum imam tegak berdiri, hal ini juga berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas, bahkan ada hadits khusus yang mengancam pelakunya. Insya Allah akan kami sebutkan pada pembahasan sujud.

c.    Ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai posisi kedua tangan ketika i’tidal, apakah sedekap ataukah tidak, dan ada 3 pendapat dalam masalah ini. Ala kulli hal, manapun yang salah dari ketiga pendapat ini maka tidaklah sampai dalam taraf bid’ah. Walaupun kami sendiri menguatkan pendapat Imam Ahmad yang menyatakan bahwa dalam masalah ini ada keluasan, silakan seseorang memilih apakah dia sedekap atau tidak berdasarkan dalil yang dia pandang kuat. Wallahu a’lam. Insya Allah masalah ini akan kami sebutkan secara tersendiri pada tempatnya, yassarallah.

Incoming search terms:

  • doa itidal
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, March 16th, 2010 at 8:43 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Zikir Saat I’tidal”

  1. aditya said:

    Assalamu ‘alaikum
    Untuk permasalahan ini saya lebih sependapat dengan syaikh Al-Albani yang mengatakan sesungguhnya hadits Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Jika Imam mengucapkan: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah: ‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian). Karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari no. 796)
    Hadits di atas tak menunjukkan makmum tak membaca SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya) maupun imam tak membaca‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian). Tapi hanya memberitahu doa ‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian)setelah SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya).

    Saya(Aditya): maksud syaikh Albani adalah imam dan makmum membaca SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya) maupun imam tak membaca‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian). Tapi hanya memberitahu doa ‘ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian)setelah SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya).

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Jazakallahu khairan atas kutipannya. Dulu kami juga berpendapat dengan pendapat Asy-Syaikh Al-Albani berdasarkan keterangan beliau di atas dan dalam kitab beliau yang lain. Tapi belakangan kami meninggalkan pendapat ini karena memandang apa yang kami pilih sekarang itu lebih kuat dari sisi dalil. Insya Allah akan kami paparkan pada tempatnya.

  2. Muhammad Alfuraihani said:

    Bismillah
    ustadz,ana mau tnya.
    ana melihat sbgian ikhwan saat bersedekap mrka mletakkanny dbawah pusar(antara kmaluan & pusar.)
    apkh tu ada dasarny?

    Silakan lihat pembahasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1954

  3. Fahri said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum
    Ustadz, sebenarnya yang dimaksud dengan i’tidal itu gerakan bangkit dari ruku’ atau berdiri tegak setelah ruku’nya, ataukah keduanya (bangkit dan kemudian berdiri tegak)? Bagaimana kalau setelah bangkit kemudian dalam keadaan kita yang tengah berdiri tegak, kita ternyata kelupaan membaca sami’allahu liman hamidah? Apakah bacaan sami’allahu liman hamidah tempatnya hanya boleh di (gerakan) bangkit dari ruku’?

    Waalaikumussalam.
    I’tidal adalah ketika sudah berdiri tegak. Ia tetap disyariatkan membaca zikir tersebut.

  4. ibnu said:

    aswrb, baca robbana walakalhamdu nya pas berdiri atau pas bangkit dari ruku?

    Setelah dia berdiri secara sempurna.