Zikir Ruku’

March 14th 2010 by Abu Muawiah |

28 Rabiul Awal

Zikir Ruku’

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dia berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ
“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar siapa yang memuji-Nya) ‘, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Al-Bukhari no. 738 dan Muslim no. 390)
Dari Huzaifah bin Al-Yaman -radhiallahu anhu-:
أَنَّهُ صَلَّى مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَفِي سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Bahwa dia pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketika ruku’ beliau membaca: “SUBHANA RABBIYAL AZHIM (Maha suci Rabbku yang Maha Agung),” dan ketika sujud beliau membaca: “SUBHANA RABBIYAL A’LA (Maha suci Rabbku yang Maha Tinggi).” (HR. Abu Daud NO. 871, At-Tirmizi no. 262, An-Nasai no. 998, Ibnu Majah no. 878, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 333)
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca do’a dalam ruku’ dan sujudnya dengan bacaan: “SUBHAANAKALLAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII (Maha suci Engkau wahai Rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (HR. Al-Bukhari no. 794 dan Muslim no. 484)
Aisyah -radhiallahu anhu- berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam biasa berdoa dalam rukuk dan sujudnya, “SUBBUHUN QUDDUSUN RABBUL MALA`IKATI WAR RUUH (Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh).” (HR. Muslim no. 487)
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata: Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun saat ruku’ maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla padanya, sedangkan saat sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam doa, karena saat itu sangat layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim no. 479)

Penjelasan ringkas:
Di antara hal yang disyariatkan bagi orang yang akan ruku’ adalah dia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar bahu seraya bertakbir, kemudian dia ruku’ dengan sifat ruku’ yang sudah diterangkan sebelumnya. Setelah dia ruku’ maka disyariatkan atasnya untuk membaca zikir dalam ruku’, dan hukum membaca zikir ruku’ ini adalah wajib. Ada 3 zikir yang biasa Nabi -alaihishshalatu wassalam- baca dalam ruku’ beliau sebagaimana yang tersebut dalam dalil-dalil di atas. Dan sebagaimana yang telah lalu pada pembahasan doa istiftah, ketika dalam satu amalan ada beberapa contoh yang Nabi  ajarkan, maka disunnahkan bagi seorang muslim untuk mengerjakan semuanya secara bergantian, kadang yang ini dan kadang yang itu, dan tidak menggabungkan semua contoh tersebut dalam satu amalan. Maka orang yang ruku’ disyariatkan untuk memilih salah satu dari zikir tersebut di atas atau zikir ruku’ lainnya (jika ada yang shahih) untuk dia baca dalam ruku’nya dan dia tidak membaca ketiganya sekaligus dalam ruku’. Adapun jumlahnya maka tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan batasan minimal, karenanya minimal dibaca sekali dan maksimalnya terserah dia, yang jelas tidak harus terbatas tiga kali.

Ini yang disyariatkan dalam ruku’. Adapun larangan dalam ruku’, maka orang yang shalat tidak boleh membaca ayat Al-Qur`an dalam ruku’ berdasarkan hadits Ibnu Abbas  di atas. Dan ini juga dalil akan kaidah bahwa: Jika Islam melarang dari sesuatu maka dia akan menuntunkan amalan yang semisalnya yang tidak bertentangan dengan syariat. Tatkala Islam melarang membaca Al-Qur`an dalam ruku’ maka dia menganjurkan untuk mengagungkan Allah Ta’ala padanya.

Hadits Ibnu Abbas ini juga menjadi dalil dari ucapan sebagian salaf: Amalan sedikit tapi di atas sunnah itu lebih baik daripada amalan banyak tapi tidak di atas sunnah.Tidak diragukan bahwa membaca Al-Qur`an mempunyai pahala yang sangat besar, bahkan membaca Al-Qur`an merupakan zikir yang paling utama. Akan tetapi tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengajarkan zikir ringkas ini dalam ruku’ dan melarang dari membaca Al-Qur`an, maka jadilah orang yang membaca zikir ringkas ini lebih besar pahalanya daripada yang membaca Al-Qur`an padanya. Bahkan orang yang membaca Al-Qur`an saat ruku’ tidaklah mendapatkan pahala, justru dia berdosa karena telah melanggar larangan.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa terkadang amalan yang paling utama menjadi kurang utama pada sebagian keadaan yang ditunjukkan dalil. Tidak diragukan bahwa Al-Qur`an merupakan zikir yang paling utama, tapi saat ruku’ ada zikir lain yang lebih utama darinya. Sebagaimana habis shalat, amalan yang paling utama adalah berzikir, bukan berdoa dan membaca Al-Qur`an, karena zikirlah yang ditunjukkan oleh dalil. Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • ruku
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, March 14th, 2010 at 3:50 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Zikir Ruku’”

  1. anwar sanusi said:

    Assalamu”alaikum Pak Ustad, pada tulisan diatas terdapat hadist yang mengatakan “Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun saat ruku’ maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla padanya, sedangkan saat sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam doa, karena saat itu sangat layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim no. 479), dan saya mau nanyak pak ustad, dalam sujud sebaiknya kita bersungguh-sungguh dalam berdoa, tetapi doa yang kita baca dalam sujud doa yang ada dalam Al-Qur’an, gimana tuh pak ustad hukumnya sementara dalam sujud nggak boleh baca Al-Qur’an. Trimakasih dan Wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Ia, tidak boleh berdoa dengan doa yang lafazhnya ada di dalam Al-Qur`an. Jadi hendaknya dia berdoa dengan lafazh-lafazh doa yang diajarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- (yang jumlahnya sangat banyak), dan lafazh doa itu tidak terdapat dalam Al-Qur`an.
    Untuk lafazh doa-doa yang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah ajarkan, silakan baca di buku2 tentang doa dan zikir, insya Allah banyak.

  2. Abu Auza'i said:

    Bismillah.
    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Sebagian Ulama membolehkan untuk berdo’a dalam sujud ketika sholat dengan lafadz-lafadz do’a yang terdapat dalam al Qur’an dengan alasan bahwa orang yang melakukannya bukan termasuk dalam larangan membaca al qur’an ketika sujud, tetapi dia sedang berdo’a dan bukan membaca al Qur’an(walaupun dengan lafadz do’a dari al Qur’an).

    Bagaimana kalau untuk mengkompromikan kedua pendapat ini kemudian ada seseorang yang berdo’a dalam sujud dengan lafadz do’a dari al Qur’an namun semua kata Rabb (dalam lafadz Al Qur’an) diganti dengan Allahumma, sehingga menjadi seperti ini, contohnya: Allahumma la tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa ………………

    Apakah ini dibolehkan atau juga terlarang ya Ustadz?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Kalau lafazhnya sudah berubah seperti yang dicontohkan di atas, insya Allah sudah boleh berdoa dengannya, karena ketika itu dia bukan lagi teranggap ayat Al-Qur`an, wallahu a’lam.

  3. rully said:

    Ada dzikir ruku’ yg berbunyi “Allahumma laka raka’tu wabika amantu khasanga laka samngi wabakhori…dst”
    Sahih kah hadits nya ustadz?

    Mungkin maksudnya lafazh: Allahumma laka raka’tu, wa bika amantu, wa laka aslamtu, khasya’a laka sam’i wa bashari ….
    Kalau ya, maka doa ini insya Allah shahih diamalkan. Disebutkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Sifatu Shalatin Nabi hal. 133

  4. Aris said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz, Saya tidak masih sedikit hapalan do’a dlm bahasa arab dan sebagian besar tidak hapal artinya. Bolehkah berdo’a dlm bahasa indonesia waktu sujud? terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh karena itu akan membatalkan shalat.