Wajibnya Meluruskan Shaf

March 2nd 2010 by Abu Muawiah |

16 Rabiul Awal

Wajibnya Meluruskan Shaf

Dari Jabir bin Samurah  dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Maka kami berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan mereka rapat dalam shaf.” (HR. Muslim no. 430)
Dari Abu Mas’ud -radhiallahu Ta’ala anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلَاةِ وَيَقُولُ اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ لِيَلِنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak kami ketika akan shalat seraya bersabda, “Luruskanlah, dan jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku adalah orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka.” (HR. Muslim no. 432)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ
“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim no. 433)
Dari sahabat Nu’man bin Basyir -radhiallahu anhu- berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ. ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ ! لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
“Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” (HR.Muslim no. 436)
Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- bercerita, “Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:
أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ وَتَرَاصُّوْا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ
“Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari  balik punggungku”. (HR. Al-Bukhari no. 719)

Penjelasan ringkas:
Pembahasan mengenai hukum meluruskan dan merapatkan shaf, bisa anda baca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=213
Faidah tambahan dari dalil-dalil di atas:
1.    Hendaknya yang berdiri di belakang imam adalah orang yang sudah dewasa dan mempunyai ilmu dan kecerdasan. Karenanya hendaknya anak-anak yang belum balig atau orang-orang yang tidak punya ilmu agama (terkhusus tentang shalat dan bacaan Al-Qur`an yang baik), tidak berada di belakang imam, kecuali jika tidak ada orang yang shalat selain mereka.

2.    Perpecahan dan perbedaan dalam hal yang lahir akan menyebabkan dan mengantarkan kepada perpecahan dan perbedaan secara batin. Sebagaimana penyerupaan secara lahir akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Hal ini ditunjukkan oleh nash dan panca indera.

3.    Tidak lurus dan rapatnya shaf tidaklah mempengaruhi keabsahan shalat berjamaah tersebut, walaupun tentunya sangat mempengaruhi kesempurnaannya.

4.    Hendaknya imam shalat punya perhatian yang besar dalam meluruskan shaf sebagaimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- melakukannya. Dimana beliau sampai-sampai meluruskan sendiri dengan kedua tangan beliau. Maka di sini nampak bergampangannya sebagian imam yang hanya memerintahkan makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf (itupun sambil menghadap kiblat) tanpa memperhatikan apakah mereka mengerjakannya atau tidak.

5.    Di antara keistimewaan beliau dan merupakan tanda kenabian beliau, beliau bisa melihat orang yang ada di belakang punggung beliau dengan izin Allah.

Incoming search terms:

  • shaf
  • bacaan imam untuk meluruskan shaf
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, March 2nd, 2010 at 6:10 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Wajibnya Meluruskan Shaf”

  1. abu salman said:

    Afwan ustadz sedikit manambah pembahasan, bagaimana dengan shalat di antara dua tiang. Gambaran di masjid kantor ana demikian. Anggaplah lebar masjid antara dinding sebelah kiri dan sebelah kanan sepanjang 20 meter. Di salah satu barisan, berdiri dua buah tiang sejajar, satu tiang pada posisi 5 meter dari dinding sebelah kiri dan satu tiang lain 5 meter dari dinding sebelah kanan. Baris ini pun diisi para makmum dalam pelaksanaan shalat jama’ah, padahal masjid cukup luas untuk menampung jama’ah 5 waktu (kecuali shalat Jum’at). Sehingga, kesimpulan dari keadaan barisan tersebut ada 3 bagian, bagian pertama dan kedua yang berdiri di sisi kiri dan kanan tiang masjid sampai ke dinding, dan bagian ketiga yang berdiri di tengah-tengah antara dua tiang tersebut yg jaraknya sekitar 10 meter sehingga jama’ahnya pun lebih banyak di banding dua bagian yang pertama tadi yg hanya jaraknya sekitar 5 meter. Maka bagaimanakah hukum dari ketiga bagian shaf tadi ya ustadz…? Jazakallahu khairan

    Seharusnya imam menyarankan agar jamaah yang berbaris sejajar dengan tiang itu untuk mundur agar shafnya tidak terputus dengan tiang. Karena shalat di antara 2 tiang atau ketika shaf terputus adalah makruh walaupun tidak membatalkan shalat jamaah. Wallahu a’lam.

  2. Rizal said:

    Assalamu’alaikum…Ustadz
    Bagaimana membantah syubhat sebagian orang yang enggan mempelajari fiqh sholat seperti hukum meluruskan dan merapatkan shaf, qunut subuh dan lain sebagainya karena dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan dan umat lari dari dakwah Islamiyyah. Lalu diantara mereka berkata “yang penting kan hasilnya” sholat yang kita lakukan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti korupsi, zina, menganggu orang lain dan lain sebagainya. mohon pencerahannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hal ini muncul karena sempitnya pemahaman mereka mengenai makna ‘kemungkaran’. Shalat yang baik bisa mencegah dari semua bentuk kekejian dan kemungkaran, dan termasuk bentuk kemungkaran adalah semua dosa dan bid’ah. Jika seseorang tidak mempelajari tentang shalat, apa yang wajib darinya dan apa-apa saja yang terlarang dikerjakan di dalamnya, maka kemungkinan besar dia akan meninggalkan suatu kewajiban (seperti meluruskan shaf) atau mengerjakan suatu kesalahan (seperti qunut subuh), dan tentunya kedua jenis amalan ini adalah kemungkaran yang harus dirubah.
    Jadi, jika dia tidak mempelajari tentang shalat maka shalatnya tidak akan bisa mencegah dia dari perbuatan keumungkaran. Wallahu a’lam.

  3. adiziyad said:

    Assalamualaikum..

    afwan ustadz ana izin share artikel ini dan artikel2 lainnya ke blog ana

    jazaakallahu khairan
    wa’alaikumussalam warahmatullah. tafadhdhal

  4. yasir hasan said:

    Assalammualikum.
    Semoga Allah memudahkan surga di Akhirat dan memberikan Rahmat dan Hidayahnya bagi umat yang selalu menyampaikan kebaikan bagi sesamanya,
    Amin.
    Saya mohon izin menyiarkan ini di blog dan facebook saya.
    Wassalammualaikum.

  5. Ibnu Suradi said:

    Assalaamu ‘alaikum.

    Afwan Ustadz, boleh ana tambahkan tulisan tentang awal sebab enggannya orang merapatkan shaf.

    Sebab awal enggannya orang merapatkan shaf adalah salah berdirinya saat shalat. Mereka berdiri dengan jari-jari kaki kanan menyerong ke kanan dan kaki kiri menyerong ke kiri. Cara berdiri seperti ini menimbulkan masalah saat merapatkan shaf:
    1. jari kelingkingnya terinjak dan akan terasa sakit sekali bila jarinya sakit cantengan
    2. kuku jari kelingkingnya menusuk jari orang di sebelahnya
    3. mata kakinya tidak bisa merapat dengan mata kaki kawana sebelahnya.

    Cara berdiri ini menyalahi cara berdiri Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abi Humaid yang berkata: “Yastaqbilu bi aathrofi rijlaihi al qiblah (Beliau – Rasululullaah – menghadapkan jari-jari kakinya lurus ke kiblat).”

    Dengan cara berdiri yang benar sesuai dengan contoh dari Rasulullaah, maka kita dapat dengan mudah merapatkan mata kaki kita dengan mata kaki kawan sebelah kita dan bahu kita dengan bahu kawan kita.

    Wallaahu a’lam.

  6. Meluruskan dan Merapatkan Shaf « gans46 said:

    […] 1.http://al-atsariyyah.com/wajibnya-meluruskan-shaf.html 2.http://al-atsariyyah.com/wajibnya-merapatkan-dan-meluruskan-shaf.html Share […]

  7. Azhar said:

    Ustadz bagaimana jika kita ingin merapatkan shaf tapi orang disebelah kita,, tidak mau kita rapatkan,, malah kaki kita “diinjek” klo kita terus merapat,, kejadian ini sungguh terjadi ustadz,, apa kita biarkan saja shaf nya tidak rapat ??
    Syukron,, Jazakallahu Khair,,

    Iya, kalau seperti keadaannya dibiarkan saja, kita diperintahkan untuk bertakwa semampu kita.
    wa jazaakumullah khairon. (MT)

  8. mas soer said:

    ijin share setiap artikel yang menurut ane dibutuhkan

    Tafadhdhal (MT)

  9. abu faqih said:

    assalammu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh ustadz

    yang ana mau tanyakan terkait dengan pertanyaan nomor 2 di atas yaitu masalah bacaan qunut subuh sbb:
    1. apa benar melakukan qunut subuh adalah suatu kesalahan sebagaimana jawaban ustadz pd pertanyaan nomor 2 di atas?
    2. apa benar rosulullah solallahu alaihi wassalam tidak pernah mengerjakan qunut subuh ustadz?
    3. bagaimana dgn pendapat imam syafi’i yang menyatakan bhw rosul selalu melakukan qunut subuh sampai akhir hayatnya?
    4. bagaimana kalau di mesjid dekat rumah ana selalu melakukan qunut subuh, apakah ana masih harus tetap sholat di mesjid itu atau sholat subuh di rumah saja? karena di mesjid-mesjid yang lain di sekitar rumah ana juga sama ustadz yaitu selalu melakukan qunut subuh.

    jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam warrohmatullahi wabarokatuh
    1. Benar, itu kesalahan.
    2. Benar.
    3. Beliau berpendapat seperti itu, karena beliau meyakini shahihnya hadits yang dha’if tentang qunut subuh, wallahu a’lam.
    4. Tetap shalat di masjid itu dan qunut bersama imam, kesalahannya imam yang tanggung.