Tayammum

February 4th 2010 by Abu Muawiah |

20 Shafar

Tayammum

Allah Ta’ala berfirman:
فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ
“Lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci).” (QS. Al-Maidah:  6)
Dari Jabir bin Abdullah  bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku: Aku ditolong melawan musuhku dengan (ditanamkannya) ketakutan (di dalam hati) mereka (kepadaku) sejauh satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai tempat shalat dan penyuci, karenyanya dimana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu shalat maka hendaklah dia shalat, dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku, aku diberikan (hak) syafa’at (al-uzhma), dan para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 335 dan Muslim no. 521)
Ammar bin Yasir -radhiallahu anhu berkata- kepada Umar:
بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِد الْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengutusku untuk suatu urusan, lalu aku junub dan tidak mendapatkan air. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah seperti berguling-gulingnya hewan. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, lalu beliau bersabda, “Sebenarnya cukup bagimu bila kamu melakukan begini.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- kemudian memukulkan telapak tangannya ke permukaan tanah sebanyak sekali pukulan dan mengibas-ngibaskannya, kemudian mengusapkannya ke punggung tangan kanannya dengan telapak tangan kirinya, atau punggung telapak kirinya dengan telapak tangan kanannya, kemudian beliau mengusap wajahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 338 dan Muslim no. 368)

Penjelasan ringkas:
Di antara sifat ajaran Islam adalah selalu adanya kemudahan dari syariat setiap kali pemeluknya mendapatkan kesulitan, dan ini merupakan salah satu kaidah asasi dalam syariat Islam. Di antara contohnya adalah Allah Ta’ala menurunkan syariat tayammum bagi mereka yang tidak bisa mempunyai air untuk bersuci atau ada air akan tetapi dia akan tertimpa mudharat jika menggunakannya. Dan cukuplah menunjukkan keutamaan tayammum ini tatkala dia merupakan syariat khusus bagi umat Islam yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya berdasarkan hadits Jabir di atas.
Kemudian, ayat dan hadits Ammar di atas menunjukkan tidak ada tartib dalam tayammum -dan inilah pendapat yang rajih-. Karena ayat menunjukkan yang diusap terlebih dahulu adalah wajah lalu kedua telapak tangan, tapi dalam hadits Ammar menunjukkan sebaliknya, maka ini menunjukkan keduanya boleh dilakukan. Cara tayammum selengkapnya bisa  dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=633

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, February 4th, 2010 at 2:53 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.