Taubat & Keutamaannya

December 28th 2009 by Abu Muawiah |

11 Muharram

Taubat & Keutamaannya

Allah Ta’ala berfirman:

{ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّها الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Allah Ta’ala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا}

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” ( QS. At-Tahrim :  8 )

Dari Al-Aghar bin Yasar Al Muzanni -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, susungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim no. 2702)

Dari Anas radliallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

للَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ

“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang mendapatkan hewan tunggangannya yang telah hilang di padang yang luas.” (HR. Al-Bukhari  no. 6309 dan Muslim no. 2747)

dari Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ

“Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Kemudian orang tersebut mencari penduduk bumi yang paling alim (yang banyak ilmunya). Lalu dia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah Bani Israil) dan dia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut dia berterus terang bahwasanya dia telah membunuh 99 orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu menjawab,;”’Tidak.” Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini 100 orang yang telah dibunuhnya. Kemudian orang tersebut mencari penduduk bumi yang paling alim, lalu dia ditunjukkan kepada seorang alim (ulama). Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata bahwa dia telah membunuh 100 orang dan apakah dia masih bisa bertaubat?” Orang alim itu menjawab, “Ya, apa yang menghalangi antara dia dan taubat?! Pergilah ke daerah ini karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu adalah lingkungan yang buruk.” Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat rahmat dan azab berselisih mengenai siapa yang akan membawa rohnya. Malaikat rahmat berkata, “Orang datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala.” Malaikat azab membantah, “Tetapi, dia belum berbuat kebaikan sama sekali.” Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Lalu keduanya menjadikan malaikat yang berwujud manusia sebagai hakim di antara mereka. Malaikat yang berwujud manusia tersebut berkata, “Ukurlah jarak antara kedua daerah ini, negeri mana yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini maka orang itu diikutkan sebagai penduduknya. Maka merekapun mengukurnya dan ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766)

Dalam riwayat Al-Bukhari:

فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَقَرَّبِي وَأَوْحَى اللَّهُ إِلَى هَذِهِ أَنْ تَبَاعَدِي

“Lalu Allah Ta’ala mewahyukan kepada bumi yang dituju (desa untuk mencari taubat) agar mendekat dan mewahyukan kepada bumi yang ditinggalkan (tempat dia melakukan kejahatan) agar menjauh.”

Penjelasan ringkas:

Sesungguhnya setiap manusia pasti akan terjatuh ke dalam kesalahan dan dosa, karenanya sebagai rahmat Allah Dia memerintahkan kepada segenap hambanya untuk bertaubat dan meminta ampun kepada-Nya dengan taubat yang jujur, dan Dia mengabarkan kegembiraan-Nya yang besar atas taubat hamba-Nya dan bahwa dengan taubat itulah mereka akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akhirat.

Tidak terkecuali Rasulullah -alaihishshalatu wassalam-, beliau juga mendapatkan perintah itu dan beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam menjalankan perintah ini, sampai-sampai beliau meminta ampun kepada Allah 100 kali dalam sehari padahal semua dosa beliau -yang telah lalu dan yang akan datang- telah diampuni oleh Allah. Maka bagaimana dengan kita?!

Dan satu hal yang wajib diyakini oleh para hamba bahwa Allah Ta’ala Maha luas rahmat dan ampunannya, sehingga tidak ada satu dosapun yang dianggap besar oleh Allah untuk Dia ampuni, jika orangnya bertaubat. Karenanya termasuk dosa besar tatkala seseorang berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Ambillah pelajaran dari kisah pembunuh 100 nyawa di atas, bahwa barangsiapa yang sudah mempunyai tekad dan ikhlas untuk bertaubat maka Allah akan memberikan taufik dan membantunya untuk bertaubat serta akan mengampuni dirinya, walaupun dia belum sempat menyempurnakan taubatnya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, December 28th, 2009 at 6:25 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Taubat & Keutamaannya”

  1. Taubat & Keutamaannya « T.A.U.B.A.T said:

    […] http://al-atsariyyah.com/?p=1555 Categories: Akhlak dan Adab Tags: keutamaannya, Taubat Comments (0) Trackbacks (0) Leave a comment Trackback […]

  2. muslim said:

    Bismillah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Bagaimana jika setelah taubat kita melakukan dosa lagi? Apa nasehat ustadz kepada orang-orang seperti ini? barokallohufiikum

    Ya, dia bertaubat kembali. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak pernah bosan menerima taubat seorang hamba sampai dia sendiri yang bosan bertaubat.

  3. abdullah said:

    jazakumullah khair ustadz..