Syarat Hadits Shahih: Perawi yg Kuat Hafalannya

September 18th 2014 by Abu Muawiah |

Syarat Ketiga: adh Dhabthu

adh Dhabthu menurut ahli hadits ada 2 macam:
1. Dhabthu shadrin (hafalan yang kuat, penj.)
2. Dhabthu kitàbin (catatan yang bagus, penj.)

Al Imam al Hafizh Yahya bin Ma’in berkata, “Dia ada 2 macam: Tsabtu hifzhin (kekuatan hafalan, penj.) dan tsabtu kitàbin (bagusnya catatan, penj.). Sementara Abu Saleh juru tulis al Laits adalah perawi yang bagus catatannya.” (Tahdzib at Tahdzib: 5/260)

Al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah (340-341) meriwayatkan bahwa Marwàn bin Muhammad ath Thàthiri berkata, “Ada 3 hal yang seorang ahli hadits harus memiliki minimal 2 di antaranya: Hafalan yg kuat, kejujuran, dan catatan yang bagus. Jika dia tidak memiliki salah satu di antaranya namun dia masih memiliki 2 yang lainnya, maka itu tidak ada masalah. Jika dia tidak punya hafalan yang kuat namun dia punya kejujuran dan catatan yang bagus, maka itu tidak ada masalah.”
Beliau juga berkata, “Sanad sudah sangat panjang, dan akhirnya orang-orang nantinya akan kembali (mengandalkan) buku-buku.”

Yang Pertama: Dhabthu Shadrin (ضبط صدر)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menghafal dengan baik hadits yang pernah dia dengar, hingga dia mampu melafalkan hadits itu (dari hafalannya, penj.) kapan saja dia mau.” (Nuzhah an Nazhar hal. 29)

Yang Kedua: Dhabthu Kitàbin (ضبط كتاب)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata menjelaskan definisinya, “Dia menjaganya (buku catatan haditsnya, penj.) mulai sejak dia mendengar (baca: mencatat) di dalamnya dan dia mentash-hih (mengecek kembali kebenaran, penj.) hadits-hadits yang dia tulis kepada guru yang dia mencatat hadits-hadits itu drnya.” (Idem)

 

Ada banyak perawi yang hanya mempunyai dhàbith jenis yang pertama.
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Tidak ada sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang lebih banyak meriwayatkan hadits dari beliau dibandingkan saya. Namun Abdullah bin Umar menulis hadits-haditsnya sementara saya tidak.” (Al Bukhari no. 113)

Keadaan hal ini (hanya mengandalkan hafalan, penj.) terus berlangsung dan banyak ulama huffazh yang seperti itu, seperti: Amir asy Sya’bi, Syu’bah bin al Hajjaj, Waki‘ bin al Jarrah, Malik bin Anas, Hammad bin Zaid, ats Tsauri, Ibnu Uyainah, dan selainnya.

Isràìl bin Yùnus berkata, “Saya menghafal hadits-hadits Abu Ishaq sebagaimana saya menghafal satu surat dalam al Quran.” (Al Ja’diyàt: 2/779)
Di antara ulama ada yang memiliki kedua jenis dhabth di atas; Hafalan dan catatan hadits yg bagus.
Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk hanya menyampaikan hadits dengan membaca dari buku-buku hadits mereka. Itu dikarenakan hafalan manusia itu kurang bisa diandalkan, sementara potensi untuk salah hafal akan selalu ada, apalagi jika sanad haditsnya panjang.
Di antara ulama yang seperti ini adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, Ali bin al Madini, Ibnu al Mubàrak, Abu Zur’ah ar Razi, Ibnu Dìzìl, dan selainnya.

Imam al Hafizh Ali bin al Madini berkata, “Tidak ada seorang pun di antara teman-teman kami yang lebih kuat hafalannya dibandingkan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Namun telah sampai kabar kepadaku bahwa beliau tidak pernah membawakan hadits kecuali sambil membaca dari buku. Dan beliau adalah suritauladan bagi kami.” (Ibnu Abi Hatim dalam Muqaddimah al Jarh wa at Ta’dìl hal. 295)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih sedikit kekeliruannya (dalam hadits, penj.) dibandingkan Ibnu al Mubarak. Hal itu karena beliau adalah seseorang yang selalu menyampaikan hadits dengan membaca dari buku, dan siapa saja yang seperti itu maka hampir-hampir tidak akan punya banyak kekeliruan. Sementara Waki  menyampaikan hadits dari hafalannya, tidak pernah melihat ke dalam bukunya. Akibatnya, beliau mempunyai (banyak) kekeliruan. Seberapa kuat sih hafalan seseorang?!” (al Fasawi dalam al Ma’rifah wa at Tàrìkh: 2/197)

al Hafizh Abu Zur’ah ad Dimasyqi berkata dalam kitab Tarikh (no. 1203/222) karyanya, “Aku mendengar nama Hammad bin Zaid dan Ibnu Ulayyah diperbincangkan di sisi Abu Nu’aim, bahwa Hammad menghafal hadits-hadits Ayyub, sementara Ibnu Ulayyah menulisnya. Maka Abu Nu’aim berkata, “Aku menjamin kepadamu, bahwa siapa saja yang tidak merujuk ke buku (catatan haditsnya, penj.), maka dikhawatirkan dia akan terjatuh dalam kekeliruan.”

Imam al Hafizh Muhammad bin Ismail al Bukhari berkata dalam kitabnya Raf’u al Yadain fi ash Shalàh (112-115), “Diriwayatkan dari Sufyàn dari ‘Àshim bin Kulaib dari Abdirrahman bin al Aswad dari ‘Alqamah dia berkata: Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata:

اﻵ أصلى بكم صلاة رسول الله -صلى الله تعالى عليه وسلم-؟ فصلى ولم يرفع يديه إﻻ مرة

“Inginkah aku tunjukkan kepada kalian tata cara shalat Rasulullah shallallahu Ta’ala alaihi wasallam?” Lalu beliau mengerjakan shalat, dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya kecuali hanya sekali.”
Ahmad bin Hanbal berkata dari Yahya bin Àdam dia berkata, “Aku melihat ke dalam buku hadits Abdullah bin Idris dari ‘Àshim bin Kulaib, namun di dalam haditsnya tidak ada kalimat: Kemudian beliau tidak mengulanginya.”
Imam al Bukhari berkata setelah meriwayatkannya, “Riwayat ini (Abdullah bin Idris, penj.) lebih shahih. Karena riwayat dari buku itu lebih kuat menurut para ulama. Hal itu karena tidak jarang seseorang membawakan hadits dari hafalannya (yang berbeda dengan yang tertulis di bukunya, penj.), namun setelahnya dia merujuk ke bukunya, dan ternyata yang benar adalah apa yang tertulis di bukunya.”

al Hafizh ar Ràmahurmùzi berkata, “Yang lebih utama dan yang lebih berhati-hati bagi setiap ahli hadits dan perawi adalah: Dalam periwayatan hadits, hendaknya dia merujuk ke bukunya, agar dia bisa menghindari kekeliruan.” (al Muhaddits al Fàshil hal. 388)

al Hafizh al Khathìb al Baghdàdi berkata dalam al Jàmi’ (1/662), “Yang lebih hati-hati dan lebih utama bagi seorang ahli hadits adalah dia menyampaikan hadits dengan membaca dari bukunya, agar dia bisa menghindari kekeliruan dan kesalahan. Dan itu akan membuatnya jauh dari kesalahhafalan.”
Di antara ahli hadits, ada yang masyhur dengan dhabtu kitab (ضبط كتاب).
Abdu ash Shamad bin Abdi al Wàrits berkata, “Betapa shahihnya buku hadits Said bin Salamah.” (al Àhàd wa al Matsàni: 2/208 karya Ibnu Abi Àshim)

Imam Ahmad berkata tentang buku hadits Syu’aib bin Abi Hamzah, “Aku melihat buku haditsnya sangat bagus dan teratur,” dan beliau memuji-muji bukunya. Ahmad berkata lagi, “Syu’aib lebih tinggi derajatnya daripada Yunus bin Yazid. Aku melihat buku hadits (Syu’aib) yang anaknya perlihatkan kepadaku, dan ternyata hadits-hadits di dalamnya tidak lepas antara hasan dan shahih. Sepanjang pengetahuanku, belum ada anak muda yang mampu menulis hadits-hadits seperti apa yang dia lakukan, baik dari sisi kesahihan, kerapian, dan semacamnya.” (Tàrìkh Abi Zur’ah ad Dimasyqi no. 1052)
Di antara mereka ada yang tidak kuat hafalannya namun bagus buku catatan haditsnya. Maka perawi seperti ini, kapan dia menyampaikan hadits dari bukunya maka haditsnya diterima, dan demikian pula sebaliknya.

Contohnya:
1. Hammàm bin Yahya al ‘Audzi.
Imam Ibnu Zurai’ dan Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Bukunya shahih, sementara hafalannya tidak ada apa-apanya.” (Syarh ‘Ilal at Tirmizi: 2/758)

2. Hafsh bin Ghiyàts.
al Hafizh Ya’qub bin Syaibah berkata, “Tsiqah. Kuat jika dia membawakan hadits dari bukunya, namun sebagian hadits-hadits hafalannya dijauhi.” (Tàrìkh Baghdàd: 8/198)

3. Yahya bin Sulaim ath Thà`ifi.
al Hafizh Ya’qub bin Sufyàn berkata, “Seorang sunni yg saleh. Buku haditsnya tidak mengapa. Jika dia menyampaikan hadits dari bukunya maka haditsnya hasan. Namun jika dia menyampaikan dari hafalan maka diingkari.” (al Ma’rifah wa at Tàrìkh: 3/51)

Incoming search terms:

  • apa itu hadist idem
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, September 18th, 2014 at 1:34 pm and is filed under al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.