Sifat Ruku’ & Sujud

March 13th 2010 by Abu Muawiah |

27 Rabiul Awal

Sifat Ruku’ & Sujud

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid dan shalat, kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya kemudian bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat!” Orang itu kemudian mengulangi shalat dan kembali datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memberi salam. Namun beliau kembali bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali dan akhirnya, sehingga ia berkata, “Demi Dzat yang mengutus anda dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda: “Jika kamu mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar rukuk dengan tenang, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk, Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397)
Dari Abu Humaid As Sa’idi -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Aku melihat beliau ketika bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya. Jika beliau ruku’ maka beliau menggenggam erat kedua lututnya dan meluruskan punggungnya. Jika i’tidal  maka beliau berdiri tegak hingga seluruh tulang punggungnya kembali pada tempatnya semula. Jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah dan tidak pula mendekatkannya ke badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedepankan (baca: memasukkan kaki kirinya di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (lantai).” (HR. Al-Bukhari no. 828 )
Dari Aisyah -radhiallahu’anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam selalu membuka shalatnya dengan takbir dan bacaan, ‘Alhamdulillahirabbil alamin’ (al-fatihah). Dan apabila beliau ruku maka beliau tidak terlalu menundukkan kepalanya dan tidak pula terlalu mengangkatnya, akan tetapi beliau menundukkan kepalanya di antara itu. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, maka beliau tidak bersujud hingga beliau berdiri tegak. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud maka beliau tidak sujud kembali hingga duduk sempurna. Beliau membaca ‘tahiyyat’ pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkkan kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan beliau melarang seseorang menghamparkan kedua dzira’ sebagaimana binatang buas menghamparkannya (yakni dengan merapatkan dzira’ ke lantai). Dan beliau menutup shalatnya dengan salam.” (HR. Muslim no. 498)
Dzira’ adalah siku sampai ujung jari tengah.

Penjelasan ringkas:
Ruku’ dan sujud termasuk dari rukun-rukun shalat karena tersebut dalam hadits Abu Hurairah di atas. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah yang sangat bermanfaat dalam masalah ini bahwa: Semua amalan yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah di atas -yang lebih sering dinamakan hadits al-musi` shalatuh (hadits tentang orang yang jelek shalatnya)- adalah rukun dalam shalat. Karenanya barangsiapa yang meninggalkan salah satu ruku’ atau sujud baik dalam keadaan sengaja maupun lupa maka rakaat shalatnya tidak syah.
Adapun kaifiat ruku’ dan sujud yang sesuai dengan sunnah maka hendaknya membaca dengan seksama ketiga hadits di atas, wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • ruku dan sujud
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, March 13th, 2010 at 3:41 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Sifat Ruku’ & Sujud”

  1. Wahyu bin Khutsaim said:

    Assalaamu ‘Alaikum

    Apakah disyariatkan membaca Shalawat pada Tasyahhud awal pada Shalat yang raka’atnya 3 dan 4 raka’at..?? Mohon penjelasannya dan kalau bisa disertai dalilnya…!!!

    Jazaakallahu Khair.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Saya sudah pernah menjawab pertanyaan seperti ini di salah satu komentar, hanya saja saya lupa dimana. Silakan searching di artikel yang kira2 terkait masalah shalat. Awfan jiddan.

  2. Rijal said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum
    Ustadz, apa hukumnya bila kita ruku’ tapi tidak sesuai kaifiat ruku’nya Rasulullah?
    Syukron.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Yang menjadi kewajiban dalam ruku’ adalah tuma’ninah dan membaca zikir ruku’ minimal sekali, sisanya merupakan amalan sunnah.

  3. cris said:

    assalammualaikum ustad.
    Bagaimana posisi kaki ketika sujud? Apakah merapat antar kaki atau ada jarak?
    Syukron.
    Wassalamualaikum.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Kedua kaki tidak dirapatkan ketika sujud. Hadits yang menerangkan tentang merapatkannya adalah lemah, sebagaimana yang telah kami bawakan artikelnya pada kategori ‘Ensiklopedia Hadits Lemah’, silakan disearch.

  4. Fahri said:

    Assalamu’alaykum
    Ustadz, apakah benar kalau ruku’ & sujud itu mesti ditekan? Dan bagaimana kalo tangan2 qt tidak menekan pada saat bersamaan?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Saat ruku’ disunnahkan memantapkan kedua telapak tangan pada lutut, hukumnya sunnah tapi bukan wajib. Adapun saat sujud maka yang disunnahkan adalah mengarahkan jari jemari ke arah kiblat.

  5. agus said:

    Posisi kaki saat sujud dirapatkan menurut hr tarmidzi dan hr hakim benarkah minta penjelasan nya

    Silakan baca keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/kedua-tumit-dirapatkan-saat-sujud.html

  6. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, kalau makmum masbuk mendapati imam lagi sujud apakah makmum langsung sujud sambil membaca takbir atau berdiri dulu sambil membaca takbir dan meletakkan tangan di dada (seperti awal sholat) baru langsung sujud sambil takbir lagi? terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Keduanya boleh dilakukan. Tapi pada cara yang pertama, takbirnya harus diniatkan sebagai takbiratul ihram.

  7. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Terimakasih atas jawabanya ustadz. Maksudnya takbirnya harus diniatkan sebagai takbiratul ikhram itu bagaimana?

    Waalaikumussalam.
    Kan pada cara pertama ada dua kali takbir. Nah yang pertama yang membuka shalat itu adalah takbiratul ihram di awal shalat dan yang kedua adalah takbir perpindahan gerakan (intiqal).

  8. putra said:

    Assalamu’alaikum ustadz
    tentang cara sujud sesuai sunnah itu, mendahulukan tangan menyentuh tanah atau lutut dahulu?

    Waalaikumussalam.
    Keduanya boleh insya Allah, karena tidak ada satu pun hadits yang shahih dalam permasalahan. Wallahu a’lam.