Sifat I’tidal

March 15th 2010 by Abu Muawiah |

29 Rabiul Awal

Sifat I’tidal

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dia berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَهُ وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَهُ وَقَالَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلَا حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ
“Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya. Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya) ‘, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.” (HR. Al-Bukhari no. 738 dan Muslim no. 390)
Dari Al-Barra’ bin Azib -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رُكُوعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ
“Lama ruku’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sujudnya, ketika mengangkat kepala dari ruku (i’tidal), dan ketika duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama lamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 801 dan Muslim no. 724)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلَاةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
“Hendaklah suatu kaum menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdoa dalam shalat, atau (kalau tidak) niscaya pandangan mereka akan dicabut (dibutakan).” (HR. Muslim no. 650)

Penjelasan ringkas:
Setelah seseorang itu menyempurnakan dan tuma’ninah dalam ruku’, maka selanjutnya dia disyariatkan untuk i’tidal. I’tidal serta tuma’ninah padanya hukumnya adalah rukun yang shalat, dimana shalat dihukumi tidak syah tanpanya. Sebagaimana ketika dia akan ruku’, di sini dia juga hendaknya mengangkat kedua tangannya hingga setinggi bahu, seraya membaca zikir: SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH … dan seterusnya yang akan datang penyebutannya.
Disunnahkan juga seseorang i’tidal seukuran lamanya dia ruku’ dan sujud, sebagaimana hadits Al-Barra` di atas. Tapi tentunya bukan hanya berdiri diam, tapi dia hendaknya membaca zikir i’tidal yang insya Allah akan kami sebutkan selanjutnya.
Di antara larangan yang terkadang dilanggar oleh sebagian orang dalam masalah i’tidal adalah dia turun sujud dalam keadaan dia belum berdiri tegak. Dan orang yang seperti ini dikhawatirkan shalatnya tidak syah karena meninggalkan i’tidal atau tuma’ninah di dalamnya. Juga di antara keselahan yang biasa terjadi adalah seorang yang ketika dia bangkit i’tidal sambil mengangkat kedua tangannya, dia juga mengikutkan pandangannya ke arah atas, terutama jika dia membaca zikir i’tidal atau membaca qunut. Ini adalah pelanggaran besar yang diancam oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam hadits Abu Hurairah di atas.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, March 15th, 2010 at 7:37 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Sifat I’tidal”

  1. Iwan said:

    Assalamu’alaykum, afwan Ustadz hafidzukumulloh, ana mau tanya masalah qunut subuh, bolehkah kita ikut mengangkat tangan ketika imam mengerjakan qunut? Dgn alasan menyatukan hati hati kita agar tdk berselisih. Barokalloh fiikum.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Makmum dianjurkan untuk mengaminkan qunut yang dilakukan oleh imam dan mereka mengangkat tangan jika imam mengangkat tangan. Alasannya adalah karena Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikuti imam dan tidak boleh menyelisihi mereka. Dan tentunya mengikuti semua gerakan imam bisa mengantarkan kepada bersatunya hati. Wallahu a’lam.
    Ini kalau dia makmum. Adapun jika dia menjadi imam atau shalat sendirian, maka hendaknya dia tidak qunut subuh karena tidak adanya dalil yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

  2. Abu Abdillah said:

    Ustadz, tentang posisi tangan…

    mereka yang berpendapat sedekap berhujjjah dengan shalat gerhana mengatakan:

    “bagaimana sikap tangan kita ketika i’tidal pertama (yaitu ketika membaca surat)? bukankah sedekap? kenapa membedakan i’tidal pertama dengan i’tidal kedua? dimana dalil yang membedakannya?”

    terima kasih ustadz.