Siapakah Mahrammu?

November 9th 2008 by Abu Muawiah |

Siapakah Mahrammu?

Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. Lihat Ahkam An-Nazhar Ila Al-Muharramat hal.32.
Adapun ketentuan siapa yang mahram dan yang bukan mahram telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 23 :
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِمْ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْراً رَحِيْماً.
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak-anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuai yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 32)

Di dalam ayat ini disebutkan beberapa orang mahram yaitu:

Pertama : أُمَّهَاتُكُمْ (ibu-ibu kalian). Ibu dalam bahasa arab artinya setiap yang nasab lahirmu kembali kepadanya. Defenisi ini akan mencakup :
1.    Ibu yang melahirkanmu.
2.    Nenekmu dari ayah maupun dari Ibumu.
3.    Nenek ayahmu dari ayah maupun ibunya.
4.    Nenek ibumu dari ayah maupun ibunya.
5.    Nenek buyut ayahmu dari ayah maupun ibunya.
6.    Nenek buyut ibumu dari ayah maupun ibunya.
7.    dan seterusnya ke atas.

Kedua : وَبَنَاتُكُمْ (anak-anak perempuan kalian). Anak perempuan dalam bahasa arab artinya setiap perempuan yang nisbah kelahirannya kembali kepadamu. Defenisi ini akan mencakup :
1.    Anak perempuanmu.
2.    Anak perempuan dari anak perempuanmu (cucu).
3.    Anaknya cucu.
4.    dan seterusnya ke bawah.

Ketiga : وَأَخَوَاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan kalian). Saudara perempuan ini meliputi :
1.    Saudara perempuan seayah dan seibu.
2.    Saudara perempuan seayah saja.
3.    dan saudara perempuan seibu saja.

Keempat : وَعَمَّاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ayah kalian). Masuk dalam kategori saudara perempuan ayah :
1.    Saudara perempuan ayah dari satu ayah dan ibu.
2.    Saudara perempuan ayah dari satu ayah saja.
3.    Saudara perempuan ayah dari satu ibu saja.
4.    Masuk juga di dalamnya saudara-saudara perempuan kakek dari ayah maupun ibumu.
5.    dan seterusnya ke atas.

Kelima : وَخَالاَتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ibu kalian). Yang masuk dalam saudara perempuan ibu sama seperti yang masuk dalam saudara perempuan ayah yaitu :
1.    Saudara perempuan ibu dari satu ayah dan ibu.
2.    Saudara perempuan ibu dari satu ayah saja.
3.    Saudara perempuan ibu dari satu ibu saja.
4.Saudara-saudara perempuan nenek dari ayah maupun ibumu.
5. dan seterusnya ke atas.

Keenam : وَبَنَاتُ الْأَخِ (anak-anak perempuan dari saudara laki-laki). Anak perempuan dari saudara laki-laki mencakup :
1.    Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah dan satu ibu.
2.    Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah saja.
3.    Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ibu saja.
4.    Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
5.    Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
6.    dan seterusnya ke bawah.

Ketujuh : وَبَنَاتُ الْأُخْتِ (anak-anak perempuan dari saudara perempuan). Ini sama dengan anak perempuan saudara laki-laki, yaitu meliputi :
1.    Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah dan ibu.
2.    Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah saja.
3.    Anak perempuan dari saudara perempuan satu ibu saja.
4.    Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan,.
5.    Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
6.    dan seterusnya ke bawah.

Catatan penting:
Tujuh yang tersebut di atas adalah mahram karena nasab. Sehingga kita bisa mengetahui bahwa ada empat orang yang bukan mahram walaupun ada hubungan nasab, mereka itu adalah :
1.    Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayah (sepupu).
2.    Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (sepupu).
3.    Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah (sepupu).
4.    Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu (sepupu).
Mereka ini bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

Kedelapan :  وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ(ibu-ibu yang menyusui kalian). Yang termasuk ibu susuan adalah :
1.    Ibu susuan itu sendiri.
2.    Ibunya ibu susuan.
3.    Neneknya ibu susuan.
4.    dan seterusnya keatas.

Catatan penting:
Kita melihat bahwa dalam ayat ini Ibu susuan dinyatakan sebagai mahram, sementara menurut ulama pemilik susu adalah suaminya karena sang suamilah yang menjadi sebab isterinya melahirkan sehingga mempunyai air susu. Maka disebutkannya ibu susuan sebagai mahram dalam ayat ini adalah merupakan peringatan bahwa sang suami adalah sebagai ayah bagi anak yang menyusu kepada isterinya. Dengan demikian anak-anak ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki maupun yang perempuan dianggap sebagai saudaranya (sesusuan), dan demikian pula halnya dengaan saudara-saudara dari ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki maupun yang perempuan dianggap sebagai paman dan bibinya. Karena itulah Nabi  menetapkan di dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- :
إِنَّهُ يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ
“Sesungguhnya menjadi mahram dari susuan apa-apa yang menjadi mahrom dari nasab”.

Kesembilan :   وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ (dan saudara-saudara perempuan kalian dari susuan). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan sesusuan adalah:
1.    Perempuan yang kamu disusui oleh ibunya ( ibu kandung maupun ibu tiri).
2.    Atau perempuan itu menyusu kepada ibumu.
3.    Atau kamu dan perempuan itu sama-sama menyusu pada seorang perempuan yang bukan ibu kalian berdua.
4.    Atau perempuan yang menyusu kepada istri yang lain dari suami ibu susuanmu.

Kesepuluh :  وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ (dan ibu isteri-isteri kalian) ibu isteri mencakup ibu dalam nasab dan seterusnya keatas dan ibu susuan dan seterusnya keatas . Mereka ini menjadi mahram bila/dengan terjadinya akad nikah antara kalian dengan anak perempuan mereka, walaupun belum bercampur.
Tidak ada perbedaan antara ibu dari nasab dan ibu susuan dalam kedudukan mereka sebagai mahram. Demikian pendapat jumhur ulama seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Jabir dan Imran bin Husain dan juga pendapat kebanyakan para tabi’in dan pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Ashhab Ar-ro’y yang mana mereka berdalilkan dengan ayat ini, oleh  karena itu kita tidak bisa menerima perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bolehnya seorang lelaki menikah dengan ibu susuan isterinya dan saudara sesusuan  istrinya.  Wallahu A’lam.

Kesebelas : وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِمْ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ (anak-anak istrimu (Ar-Raba`ib) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ar-Raba`ib adalah mahram. Dan menurut bahasa arab Ar-Raba`ib ini mencakup :
1.    Anak-anak perempuan istrimu.
2.    Anak-anak perempuan dari anak-anak istrimu ( cucu perempuannya istri).
3.    Cucu perempuan dari anak-anak istrimu.
4.    dan seterusnya ke bawah.

Tapi Ar-Raba`ib ini dalam ayat ini menjadi mahram dengan syarat apabila ibunya telah digauli adapun kalau ibunya diceraikan atau meninggal sebelum digauli oleh suaminya maka Ar-Raba‘ib ini bukan mahram suami ibunya bahkan suami ibunya itu bisa menikahi dengannya. Dan ini merupakan pendapat Jumhur Ulama seperti Imam Malik, Ats-Tsaury, Al-Auza’y, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lain-lainnya. Hal ini berdasarkan dzhohir ayat diayat :
من نسآئكم اللاتي دخلتم بهم فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم
“Dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.”

Adapun yang tersebut di ayat (Ar-Raba`ib yang dalam pemeliharaanmu) kata “dalam pemeliharaanmu” dalam ayat ini bukanlah sebagai syarat untuk dianggapnya Ar-Raba`ib itu sebagai mahram. Semua Ar-Rabaib baik yang dalam pemeliharaan maupun yang diluar pemeliharaan adalah mahram menurut pendapat jumhur ulama. Jadi kata “dalam pemeliharaanmu” hanya menunjukkan bahwa kebanyakan Ar-Raba`ib itu dalam pemeliharaan atau hanya menunjukkan dekatnya Ar-Raba`ib tersebut dengan ayahnya. Dengan demikian nampaklah hikmah kenapa Ar-Raba`ib menjadi mahram. Wallahu A’lam.

Keduabelas : وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ (istri-istri anak-anak kandungmu (menantu).
Ini meliputi :
1.    Istri dari anak kalian.
2.    Istri dari cucu kalian.
3.    Istri dari anaknya cucu.
4.    dan seterusnya kebawah baik dari nasab maupun sesusuan.
Mereka semua menjadi mahram setelah akad nikah dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam hal ini.

Lihat pembahasan di atas dalam:
Al-Mughny 9/513-518, Al-Ifshoh 8/106-110, Al-Inshof 8/113-116, Majmu’ Al-Fatawa 32/62-67, Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah 2/589-592, Zadul Ma’ad 5/119-124, Taudhil Al-Ahkam 4/394-395, Tafsir Al-Qurthuby 5/105-119, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.

Peringatan:
Demikian mahrom dalam surah An Nisa. Tapi perlu diingat, pembicaraan dalam ayat ini walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki dan menjelaskan rincian siapa yang merupakan mahrom bagi mereka, ini tidaklah menunjukkan bahwa di dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahrom bagi perempuan. Karena Mafhum Mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini menjelaskan hal tersebut.
Misalnya disebutkan dalam ayat : “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian”, maka mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.”
Misal lain, disebutkan dalam ayat : “Dan anak-anak perempuan kalian.” Maka mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai anak-anak perempuan diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian.” Dan demikian seterusnya.
Sebagai pelengkap dari pembahasan ini, kami sebutkan ayat dalam surah An Nuur ayat 31 :
وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ آبآئِهِنَّ أَوْ آبآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أو أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرَ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرَّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ اللَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
“Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki mereka yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang ‘aurat.”

Demikianlah, mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Wa akhiru da’wana wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

[Dikutip dari risalah ilmiah An-Nasihah edisi 1 rubrik An-Nisa`]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, November 9th, 2008 at 7:11 pm and is filed under Fiqh, Ilmu al-Qur`an, Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

17 responses about “Siapakah Mahrammu?”

  1. abu ibrahim said:

    Bismillah, afwan ust ana mau tanya, kalau istri keponakan mahram bukan?

    Sebagaimana istri antum bukan mahram bagi keponakan antum, maka istrinya juga bukan mahram bagi antum. Wallahu a’lam.

  2. abdurrazzaq said:

    Afwan mau bertanya, misalnya A sepupu dengan B, anak si B pernah menyusu pada ibu si A. Apakah A dan B sudah mahram? Jazakumullahu khairan

    Tetap bukan mahram, yang mahram hanyalah anak si B dengan A saja yakni keduanya saudara susuan, sehingga saudara A adalah saudaranya dan ayah A adalah ayah susuannya. Adapun si B maka dia tidak ada hubungan (mahram) dengan keluarga A, wallahu a’lam.

  3. herman said:

    Afwan ustadz, apa saudara perempuan dari neneknya istri saya adalah mahram bagi saya?

    Bukan mahram. Kalau saudara perempuan dari mertua antum saja bukan mahram bagi antum, apalagi saudara perempuan dari ibunya mertua, dia lebih-lebih bukan mahram, wallahu a’lam.

  4. Mohamad Adil Reza said:

    Assalamualaikum ustadz ana mau tanya, misalnya si A tidak pernah menyusu kepada ibunya (meski ibunya mempunyai ASI; ataupun ibunya tidak dapat mengeluarkan ASI pada saat si A menyusu karena suatu sebab), terus ada si B yg pernah menyusu pada ibu si A. Apakah A dan B menjadi mahram?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia keduanya menjadi mahram sebagai saudara susuan. Ibu kita menjadi mahram kita bukan karena kita menyusu kepadanya tapi karena dia adalah ibu kita.

  5. ibnu ngadiman al-cibubury said:

    assalaamu’alaikum, ustadz

    afwan ana masih bingung, kenapa sepupu perempuan ana itu bukan mahrom?

    sedangkan ia ada hubungan nasab.

    apakah ada dalil yang menjelaskannya ustadz?

    syukran, barakallahu fiik

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak semua orang yang mempunyai hubungan nasab dengan kita otomatis dikatakan mahram, akan tetapi mahram itu hanyalah siapa-siapa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, ada orang-orang yang jadi mahram kita padahal tidak senasab dengan kita, yaitu yang mahram karena pernikahan dan penyusuan, dan itu tentunya karena ditunjukkan oleh dalil.
    Sementara sepupu, walaupun dia punya hubungan nasab dengan kita, akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan dia sebagai mahram kita, karenanya dia bukanlah mahram.

  6. wahyu said:

    Assalamu’alaikum, ustadz ana bingung ketika dtanya ma teman. Jika si A menikah dengan si B yg mana si A pny adik bnama si C dan si B punya adik bnama si D. Kemudian si C ini ingin menikah dengan si D. Apakah boleh si C menikah dengan si D? Syukron jawabannya. Wassalaamu’alaikum

    Waalaikumussalam
    Ia boleh, karena C dan D bukan mahram sehingga keduanya boleh menikah.

  7. Abu Hafshah said:

    Assalamu’alaikum Ustadz, di dlm ayat kita dilarang menghimpunkn dlm perkwnan 2 wnt bersaudara, berarti saudara istri kita(ipar) adalah mahram, tp kok tdk dijlskan dlm artikel di atas? Jazakallahu khoiron

    Waalaikumussalam
    Ipar bukanlah mahram, karena jika istri meninggal maka kita bisa menikah dengan ipar.

  8. Muh. Tanzil said:

    Assalamu’alaikum..
    Afwan Ustadz, didlm artikel diatas dikatakan “kita tidak bisa menerima perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yg mngatakan seorang lelaki boleh menikahi saudara sesusuan istrinya..” smntara jwbn dari slh satu penanya diatas bahwa adik ipar bknlah mahram yg artinya bs dinikahi..
    Mohon pnjelasnnya Ustadz.
    Jazakallahu khairan..

    Waalaikumussalam.
    Ipar tetap bukan mahram, hanya saja dalam hal ini selama istri masih menjadi istri kita maka tidak boleh menikah dengan ipar. Hal itu karena Allah Ta’ala telah mengharamkan menikahi dua wanita yang saudara -walaupun saudara susuan- dalam waktu yang sama. Jika istri kita meninggal atau kita bercerai dengannya, maka barulah seseorang dibolehkan menikah dengan iparnya.

  9. ai said:

    ustadz berarti dengan adik ipar atau kakak ipar,dan mertua misalkan, harus tetap menutup aurat karena bkn muhrim y?

    Mertua adalah mahram karena ortu istri/suami adalah ortu kita juga. Adapun saudara ipar bukanlah mahram jadi tetap wajib menutup aurat dari mereka.

  10. dieya said:

    assalamu ‘alaikum..
    ustadz, apa yang dimaksud dengan mahram saat pergi haji atau umroh?

    Waalaikumussalam.
    Semuanya, pokoknya mahram untuk melakukan safar. Baik untuk haji, umrah, menuntut ilmu, berkunjung ke kerabat, ataupun tamasya.

  11. arisetim said:

    bismillah…
    apakah yang dimaksud bukan mahrom adalah semua saudara sepupu?

    ana punya sepupu dari saudara perempuan ibu apakah sama saja hukumnya dengan sepupu dari saudara laki-lki ibu? manakah yang boleh dinikahi?

    Ya, sama. Semua sepupu bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

  12. Mhdrizal said:

    Assalamualikum,pak ustad saya mau tanya seorang duda dan janda menikah, kedua belah pihak masing2 mempunyai anak. Apakah anak2 mereka itu secara hukum bisa dinikahkan?

    Boleh saja, karena keduanya bukanlah mahram dan tidak ada dalil yang mengharamkan sesama saudara tiri untuk menikah. Wallahu a’lam

  13. abu hilyah said:

    assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ustadz ana mau tanya apakah istri ana dengan bapak tiri ana itu mahram

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/ayah-tiri-mahram-bagi-istri-anak-tiri.html

  14. Thoriqotul Jannah said:

    Assalaamu’alaykum
    Maaf ustadz mau nanya, kalo suami dari budhe atau suami dari bulik itu mahrom bukan?
    trus keponakan laki2 tiri itu mahrom bukan?
    jazaakallah khoir

    Waalaikumussalam.
    Suami dari budhe atau bulik bukanlah mahram.
    Keponakan laki2 tiri juga bukan mahram. Wallahu a’lam.

  15. el-khansa said:

    assalamu’alaikum ustadz… bgmana dgn cucu dr adik kakek saya… mahrom bukan??

    Waalaikumussalam.
    Bukan mahram

  16. fahan said:

    assalamualaikum ..

  17. abu ubaid said:

    afwan tadz mau nanya : apakah saudara kandung atau saudara tiri dari ibu susuan kita mahrom buat kita ?
    mohon jawabannya !!

    Kalau saudara kandung, iya, dia mahram bagi kita.
    Maksud saudara tiri di sini bagaimana?