Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?

October 25th 2008 by Abu Muawiah |

Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?

Muazzin memiliki keutamaan (tersendiri) dan imam juga memiliki keutamaan (tersendiri). Termasuk dalil yang menerangkan tentang keutamaan muazzin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.
Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al-Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al-Maziny :
إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ. فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ, فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”.
Adapun keutamaan imam maka banyak perkara yang menunjukkannya, di antaranya bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus menjadi imam sepanjang hidup beliau dan demikian pula para khalifah beliau radhiallahu ‘anhum, (masuk) dalam keumuman firman Allah Ta’ala :
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74).
Maka yang dimaksudkan adalah bahwa imam memiliki keutamaan yang besar dan demikian pula muadzdzin memiliki keutamaan yang besar, dan masing-masing dari keduanya memanggul tanggung jawab yang wajib dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan Abu Hurairah telah meriwayatkan dari nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
اَلِْإمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مَؤْتَمَنٌ اَللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِيْنَ
“Imam adalah penanggung jawab dan muadzdzin adalah yang diberi amanah, Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzdzin”.

(Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh rahimahullah)

Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلْمُؤَذِّنُوْنَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Para muadzdzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada Hari Kiamat”.

Dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari Abu Sa’id Al-Khusry radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin Abi Sho’sho’ah Al-Anshory lalu Al-Maziny :

إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ. فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ باَدِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ, فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan (badiyah) pedalaman, maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau (badiyah) pedalaman lalu engkau mengumandangkan adzan maka angkatlah (baca : besarkanlah) suaramu dengan adzan tersebut, karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muadzdzin baik itu jin, tidak pula manusia dan tidak pula sesuatu apapun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada Hari Kiamat. Abu Sa’id berkata : Saya mendengar hal ini dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”.

Adapun keutamaan imam maka banyak perkara yang menunjukkannya, di antaranya bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus menjadi imam sepanjang hidup beliau dan demikian pula para khalifah beliau radhiallahu ‘anhum, (masuk) dalam keumuman firman Allah Ta’ala :

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”. (QS. Al-Furqan : 74).

Maka yang dimaksudkan adalah bahwa imam memiliki keutamaan yang besar dan demikian pula muadzdzin memiliki keutamaan yang besar, dan masing-masing dari keduanya memanggul tanggung jawab yang wajib dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan Abu Hurairah telah meriwayatkan dari nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :

اَلِْإمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مَؤْتَمَنٌ اَللَّهُمَّ أَرْشِدِ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِيْنَ

“Imam adalah penanggung jawab dan muadzdzin adalah yang diberi amanah, Ya Allah berilah petunjuk kepada para imam dan ampunilah para muadzdzin”.

(Kumpulan Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Asy-Syaikh rahimahullah)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, October 25th, 2008 at 8:18 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Fatawa, Tahukah Anda?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Siapa yang lebih utama, imam atau muazzin?”

  1. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz, saya merasa ilmu agama saya masih minim, bacaan al-qur’an saya masih buruk dan hapalan surat2 al-qur’an saya masih sedikit. Tetapi di kantor saya sering diminta jadi imam sholat, dan bila saya menolak/enggan maka tak ada yg mau menjadi imam padahal saya yakin bahwa diantara jama’ah banyak yg ilmu agamanya lebih baik dari saya. Bagaimana menyikapi hal ini ustadz?
    Satu lagi, istri saya bilang menjadi imam itu hal yg berat bila ilmu agamanya masih minim karena bila salah akan menanggung dosa makmumnya. Dan saya akui, istri saya ilmu agamanya lebih tinggi dari saya karena dia pernah mondok di pesantren. Dengan alasan inilah istri saya enggan kalo saya imam-in, takut saya berdosa. Benarkah hal ini ustadz? terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Sebaiknya anda memberikan pemahaman kepada teman-teman yang lebih bagus bacaan Al-Qur`annya, bahwa hak mereka menjadi imam dibandingkan yang lain. Jika tetap tidak ada yang mau, maka seharusnya anda segera memperbaiki bacaan, dan hanya membaca surah yang anda baik cara bacaannya di situ.
    2. Ucapan istri anda itu tidak benar. Tidak ada seorang pun yang akan menanggung dosa orang lain.