Shalat Dua Hari Raya

April 16th 2010 by Abu Muawiah |

1 Jumadil Ula

Shalat Dua Hari Raya

Dari Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
“Rasulullah -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- tidaklah berangkat di hari iedul fithri sampai beliau makan beberapa biji korma”. (HR. Al-Bukhari no. 953)
Buraidah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمُ وَيَوْمَ النَّحْرِ لاَ يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ نَسِيْكَتِهِ
“Nabi -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali lalu maka sebagian dari hewan korbannya”. (HR. Ahmad: 5/352), At-Tirmizi no. 542), Ibnu Majah no. 1756, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/452)
Dari Ibnu Abbas -radhiallahu anhuma- dia berkata:
شَهِدْتُ العِيْدَ مَعَ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ -, فَكُلُّهُمْ يُصَلُّوْنَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ
“Saya mengikuti shalat id bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, Abu Bakar, Umar, dan Utsman -radhiallahu anhu-, maka mereka semua mengerjakan shalat sebelum khutbah.” (HR. Al-Bukhari no. 962 dan Muslim no. 884)
Dari Jabir bin Samurah dia berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْعِيْدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ
“Saya shalat kedua id bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bukan sekali dan bukan pula dua kali, tanpa ada azan dan tidak pula iqamah.” (HR. Muslim no. 887)
Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ
“Nabi -alaihishshalatu wassalam- keluar pada hari idul fithr dan adhha ke lapangan, maka perkara yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau selesai shalat lalu berdiri menghadap ke orang-orang -sementara mereka duduk di shaf-shaf mereka- lalu beliau memberikan peringatan, wasiat, dan perintah kepada mereka (berkhutbah).” (HR. Al-Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)

Penjelasan ringkas:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan dua shalat id sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana untuk mengingat-Nya, yang mana kedua shalat id tersebut dikerjakan setelah selesainya pelaksanaan dua ibadah yang besar yaitu puasa ramadhan dan haji. Pada kedua shalat id ini, beliau shallallahu alaihi wasallam memberikan banyak tuntunan dan aturan yang sepantasnya diketahui oleh seorang muslim guna mewujudkan pengikutan dia kepada sang Rasul shallallahu alaihi wasallam.
Alhamdulillah sudah ada 5 artikel sebelumnya yang berkenaan dengan shalat id, bias dibaca di sini:
Shalat id bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4, dan artikel lainnya di sini.

Incoming search terms:

  • shalat dua hari raya
  • shalat 2 hari raya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, April 16th, 2010 at 4:22 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Shalat Dua Hari Raya”

  1. abu tanisha said:

    ijin copy ustadz..akan ana kumpulkan dan susun dalam bentuk pdf ya…

    Tafadhdhal, jangan lupa dicantumkan sumber URLnya ya.
    jazakallahukhoiran.

  2. kiki said:

    assalamualaikum
    Pa ustadz,
    shalat Hari Raya Idul Adha kemarin saya berjamaah di majlis ta’lim, saat rakaat pertama imam lupa bertakbir dan langsung membaca surat alfatihah,pada rakaat kedua imam langsung menambah takbir menjadi 12x sebagai kekurangan di rakaat pertama.
    yang saya ingin tanyakan, bagaimana hukum shalat tersebut, apakah sah ( termasuk makmumnya )?
    apakah sudah benar yang di lakukan imam tersebut, jika belum benar bagaimana seharusnya?
    Terima Kasih. Wassalamualaikum

    Waalaikumussalam
    Insya Allah shalatnya tetap syah.
    Yang dilakukan imam itu salah, seharusnya dia cukup takbir 5 kali dan tidak perlu mengganti takbir yang 7 kali, karena waktu pelaksanaannya sudah lewat. Wallahu a’lam