Seputar Adab-Adab Berpuasa

August 26th 2009 by Abu Muawiah |

Seputar Adab-Adab Berpuasa

1.    Menjauhi semua bentuk maksiat.
Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya serta kejahilan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)
Ash-Shan’ani -rahimahullah- berkata dalam Subulus Salam (4/126), “Hadits ini merupakan dalil akan haramnya dusta dan beramal dengannya, serta menunjukkan haramnya orang yang berpuasa berbuat kejahilan. Kedua hal ini juga diharamkan atas orang yang tidak berpuasa, hanya saja keharamannya lebih kuat terkhusus bagi orang yang berpuasa, sebagaimana lebih kuatnya pengharaman zina atas seorang yang sudah tua dan pengharaman sombong atas orang yang fakir.”
2.    Membaca Al-Qur`an.
Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185) Dan juga Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada lailatul qadr.” (Al-Qadr: 1)
Karenanya sudah sepantasnya seorang muslim menghabiskan waktunya di dalam bulan ramadhan untuk membaca Al-Qur`an, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.
3.    Banyak bersedekah.
Dari Ibnu Abbas dia berkata:
“Rasulullah   adalah orang yang paling dermawan, dan saat dimana beliau menjadi lebih dermawan dari biasanya adalah pada bulan ramadhan tatkala Jibril menjumpai beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
4.    Shalat lail/tarawih.
Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat (lail) pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 2009 dan Muslim no. 759)
Dan secara khusus pada lailatul qadr beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat (lail) pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadits yang shahih, Rasulullah   bersabda:

مَنْ صَلَّى مَعَ إِمَامِهِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat bersama imamnya sampai selesai, maka akan dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk.”
5.    Memperbanyak doa.
Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُرَدُّ دُعَاؤُهُمْ: إِمَامٌ عَادِلٌ, الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ, وَدُعَاءُ الْمَظْلُوْمِ …

“Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doa mereka: Imam yang adil, orang yang berpuasa hingga dia berbuka dan doa orang yang terzhalimi … .” al-hadits. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’: 2/506)
6.    Menjaga lisan.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi   bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثْ وَلاَ يَصْخَبْ. إِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Jika itu pada hari berpuasa salah seorang di antara kalian maka janganlah dia berbuat keji dan jangan pula berteriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau memukulnya maka hendaknya dia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, August 26th, 2009 at 3:17 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Seputar Adab-Adab Berpuasa”

  1. Abu 'Abdillah AlKarawanjy said:

    Bismillah,

    Jazzakallohu khoiron katsiroo ustadz, walaupun kondisi antum sedang tidak sehat, antum tetap datang untuk memberikan faidah kepada kita di karawang, ahad kemarin. Semoga Allah Ta’ala membalas jerihpayah antum dengan segala kebaikan, Barokallohu fiik.

  2. Said Bajri said:

    Bagaimana dengan adab bagi orang yang tidak berpuasa, karena keterangannya sangat sulit di dapat, mohon pencerahannya yang membahas hal ini.
    Jazakumulloh
    Said B

    Jazakallahu khairan atas sarannya, insya Allah akan dibahas pada kesempatan yang akan datang.

  3. Willy said:

    Assalamu’alaikum Akh,

    Saya mau tanya tentang orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit yang lama (misalkan 10 tahun), kemudian setelah itu sembuh dan bisa melaksanakan puasa.
    1. Apakah puasa yang ditinggalkan selama 10 tahun tersebut harus dibayar dengan puasa juga, atau boleh dengan membayar fidyah?

    2. Bagaimana tata cara pembayaran fidyah, apakah harus memberi makan atau boleh memberi bahan makanan seperti beras, atau bolehkah dengan uang tunai? Berapa jumlahnya?

    3. Apakah dibayarkan kepada satu orang saja atau boleh beberapa orang?

    4. Apakah boleh seorang anak membayarkan fidyah orang tuanya yang masih hidup ataupun sudah meninggal?

    5. Saya pernah membaca suatu artikel, tapi lupa sumbernya, yang menyebutkan bahwa nazar tidak akan mengubah takdir, dan nazar hanya dilakukan oleh orang-orang yang pelit; benarkah demikian? Apakah hukumnya bernazar?

    Terima kasih sebelumnya Akh.
    Assalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Jika sakitnya itu masih dalam kategori sakit yang masih besar kemungkinan sembuhnya, maka dia wajib membayar qadha atas semua puasanya dan tidak diganti dengan fidyah. Dia bayar sekuatnya, sedikit demi sedikit. Karenanya butuh diketahui dahulu jenis penyakitnya.
    2,3 , dan 4. Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/seputar-fidyah.html
    5. Nazar yang dimaksud itu adalah nazar yang biasa dilakukan oleh orang-orang, dimana dia berjanji akan beribadah jika dia mendapatkan suatu kebaikan. Hukumnya nazar ini kalau bukan haram, makruh. Dua pendapat di kalangan ulama.