Penjelasan tentang Al-Hakimiah

October 30th 2008 by Abu Muawiah |

PENJELASAN TENTANG HAKIMIYAH

Sebelum kami mulai memaparkan hakikat hakimiyah, maka perlu kami tegaskan bahwa kata ‘Hakimiyah’ asalnya adalah kata yang bid’ah dan tidak pernah dikenal di kalangan para ulama salaf terdahulu. Kata ini tidaklah dimunculkan kecuali oleh orang-orang yang mempunyai aqidah Khawarij dan bermanhaj takfiry semacam Sayyid Quthb dan orang-orang bodoh yang mengikutinya (Quthbiyun).
Kemudian, kata ‘hakimiyah’ ini di sisi orang-orang yang mengucapkannya mempunyai dua pengitlakan:
Pertama : Tauhid Hakimiyah, mereka menjadikannya sebagai bagian yang keempat dari pembagian tauhid. Yang telah menjadi ketetapan di kalangan Ahlis Sunnah bahwa tauhid itu hanya ada tiga macam; Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma` wa Ash-Shifat.
Bantahan :
Tauhid Hakimiyah bukanlah pembagian tersendiri yang keluar dari ketiga jenis tauhid di atas, akan tetapi hakimiyah bisa termasuk ke dalam tauhid rububiyah atau tauhid uluhiyah.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Siapa yang membagi tauhid dengan pembagian seperti ini maka dia adalah mubtadi (ahli bid’ah)”.
Dan beliau juga berkata dalam Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 158, “Berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalah bagian dari tauhid rububiyah, karena hal itu berarti menerapkan hukum Allah yang mana hukum Allah merupakan konsokuensi rububiyahNya”.
Dan Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah juga pernah berkata dalam sebuah kaset terekam, “Al-Hakimiyah itu adalah salah satu bagian dari bagian-bagian Tauhid Uluhiyah, dan orang-orang yang mendengung-dengungkan kalimat bid’ah (Tauhid Hakimiyah-pent.) ini di zaman ini, mereka menjadikannya (Tauhid Hakimiyah) sebagai senjata bukan dalam rangka mengajari kaum muslimin tentang tauhid yang dibawa oleh para Rasul seluruhnya akan tetapi mereka menjadikannya hanya sebagai senjata siasat (untuk mengkafirkan pemerintah–pent.)”.
Dan juga Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah telah menegaskan bahwa Al-Hakimiyah itu kadang termasuk ke dalam Tauhid Uluhiyah dan kadang termasuk ke dalam Tauhid Rububiyah, sebagaimana yang dinukil oleh Syaikh Robi’ hafizhohullah dalam sebuah fatwa beliau mentahdzir dari kesesatan sebuah Yayasan Hizbiyah Sururuyah Quthbiyah ‘Wahdah Islamiyah’ di Makassar, yang ketika itu dipimpin oleh seorang yang bernama Muhammad Zaitun Resmin.

Kedua : Menafsirkan kalimat tauhid laa Ilaha illallah dengan makna laa Hakima illallah (Tidak ada hakim/pemberi hukum selain Allah).
Bantahan :
Ini termasuk dari penafsiran yang batil dari kalimat tauhid yang mulia ini, sengaja kami tidak sebutkan dalam volume kedua yang telah lalu karena akan disinggung di tempat ini. Dan sisi kebatilannya bisa ditinjau dari beberapa sisi, di antaranya:
1.    Sisi bahasa, yang mana mereka memaknakan ilah sebagai hakim, padahal makna ilah adalah ma’bud (sembahan) sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.
2.    Keharusan dari makna ini adalah bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia tidak mengakui Allah sebagai Hakim atau dengan kata lain dia belum ber-laa Ilaha illallah yang dengannya dia belum dihukumi sebagai seorang muslim. Oleh karena itulah orang yang membenarkan hakimiyah ini, mereka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, tanpa membedakan niat dan tujuan mereka karena semuanya –menurut sangkaan mereka- belum ber-laa Ilaha illallah atau belum masuk ke dalam Islam, wal ‘iyadzu billah.
Asal kerusakan dan kesesatan mereka adalah salah dalam memahami dan menafsirkan firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala- yang terdapat dalam surah Al-Ma`idah ayat 44, 45 dan 47:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zholim”.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.
Mereka menafsirkan kata ‘kafir’, ‘zholim’ dan ‘fasik’ dalam ayat ini adalah kafir akbar (besar), zholim akbar dan fasik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Mereka berdalilkan dengan perkataan Syaikhul Islam yang kesimpulannya beliau membedakan antara kata kufrun (tanpa Al) dengan kata Al-Kufru (memakai Al). Kata yang pertama bermakna kekafiran kecil sedang yang kedua bermakna kekafiran yang besar. Mereka mengatakan kata ‘kafir’ dalam ayat ini memakai Al (Al-Kafirun) sehingga bermakna kekafiran yang besar. Mereka juga mengatakan kalau ayat ini datang dalam bentuk umum sehingga masuk ke dalam hukum ini (kafir akbar), semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah apapun sebabnya terlebih lagi bila mengganti hukum Allah dengan hukum buatan manusia (undang-undang), hukum adat dan selainnya dari aturan-aturan yang dibuat oleh makhluk.
Sanggahan :
Ayat yang mulia ini tidak diragukan kebenarannya, akan tetapi keadaan mereka sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penya`ir:
وَكَمْ مِنْ عَائِبٍ قَوْلاً صَحِيْحًا                وَآفَتُهُ مِنَ الْفَهْمِ السَّقِيْمِ
“Betapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar, padahal kesalahannya berasal dari pemahaman dia yang rusak”.
Untuk memperjelas rusaknya pemahaman mereka terhadap ayat yang mulia ini, berikut kami nukilkan perkataan para ulama salaf dalam menafsirkan ayat-ayat di atas:
Pendapat Pertama: Yang dimaksud dengan “orang-orang yang kafir” dalam ayat ini adalah ummat Islam, “orang-orang yang zholim” adalah Yahudi dan “orang-orang yang fasiq” adalah Nashara. Ini adalah pendapat ‘Amir Asy-Sya’by rahimahullah.

Pendapat Kedua: Kata ‘kafir’, ‘zholim’ dan ‘fasik’ dalam ke tiga ayat di atas bermakna kekafiran, kezholiman dan kefasikan kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama. Ini adalah pendapat dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu –dalam satu riwayat-, ‘Atho` bin Abi Robah, Thowus dan ini adalah penafsiran jumhur (kebanyakan) ulama.
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Mereka kafir dengannya”. (Riwayat Ath-Thobary dalam Tafsirnya (6/256-Darul Fikr) dengan sanad yang shohih)
Dalam riwayat lain, “Mereka kafir dengannya, tapi bukan kafir kepada Allah, kepada para malaikatNya, seluruh kitabnya dan para RasulNya”. (Riwayat Ath-Thobary dalam Tafsirnya (10/356/12053))
Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya kekafiran (dalam ayat ini) bukanlah kekafiran yang mereka (para Khawarij di zaman itu-pent.) sangka (kafir akbar-pent.), sesungguhnya kekafiran di sini bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari agama, (akan tetapi) kufrun duna kufrin (kekafiran yang dibawah kekafiran/kekafiran kecil)”.( Riwayat Al-Hakim (2/313) dan beliau berkata, “Shohih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim.”)
‘Atho` bin Abi Robah rahimahullah berkata, “Kekafiran di bawah kekafiran, kefasikan di bawah kefasikan dan kezholiman di bawah kezholiman”. (Riwayat Ath-Thobary (12047-12051)). Maksud ucapan beliau adalah bahwa yang diinginkan dalam ketiga ayat ini adalah kekafiran yang kecil, kezholiman yang kecil dan kefasikan yang kecil dan tidak mengeluarkan pelakunya dari agama.
Dan Thowus rahimahullah berkata, “Bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari agama”. (Riwayat Ath-Thobary (12052))
Semua atsar di atas dishohihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah dalam Ash-Shohihah jilid 10 bagian Pertama hal. 109-116.
Isma’il bin Sa’ad pernah bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullah tentang ayat 44 dari surah Al-Ma`idah di atas, maka beliau menjawab, “Kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama”. Su`alat Ibni Hany (2/192)
Faidah:
Berhubung sebagian orang-orang yang berpemahaman Khawarij di zaman ini melemahkan semua atsar di atas serta berusaha untuk meyakinkan ummat akan kelemahannya maka di sini kami akan menyebutkan sebagian dari para imam kaum muslimin yang terkemuka yang menshohihkan dan berhujjah dengan atsar-atsar Ibnu ‘Abbas di atas:
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/393), Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (2/64), Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam Ta’zhim Qodru Ash-Sholah (2/520), Abul Muzhoffar As-Sam’any dalam Tafsirnya (2/42), Al-Baghawy dalam Ma’alimut Tanzil (3/61), Abu Bakr Ibnul ‘Araby dalam Ahkamul Qur`an (2/624), Al-Qurthuby dalam Al-Jami’ Li Ahkamil Qur`an (6/190), Al-Buqo’iy dalam Nazhomud Duror (2/460), Al-Wahidy dalam Al-Wasith (2/191), , Abu ‘Ubaid Al-Qosim bin Sallam dalam Al-Iman (hal. 45), Abu Hayyan dalam Al-Bahrul Muhith (3/492), Ibnu Baththoh dalam Al-Ibanah (2/723), Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid (4/237), Al-Khazin dalam Tafsirnya (1/310), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (7/312), Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin (1/355), Shiddiq Hasan Khan dalam Nailul Marom (2/472), Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy dalam Adhwa`ul Bayan (2/101), ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy dalam Tafsirnya (2/296), dan yang lainnya rahimahumullahu ajma’in.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam At-Tahdzir min Fitnatit Takfir hal. 68 berkata, “… Akan tetapi tatkala atsar ini tidak diridhoi oleh mereka-mereka yang terfitnah dengan manhaj takfiry, mereka lalu mengatakan, “Atsar ini tidak bisa diterima dan tidak shohih dari Ibnu ‘Abbas”, maka dikatakan kepada mereka, “Bagaimana mungkin atsar ini tidak shohih, padahal dia telah diterima oleh orang-orang yang lebih besar, lebih afdhol dan lebih mengetahui tentang hadits daripada kalian, lantas kalian mengatakan, “kami tidak menerimanya?!”. …. . Cukuplah bagi kita bahwa para ulama besar seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim dan selain keduanya, mereka telah sepakat menerimanya, berhujjah dengannya dan menukilnya. Maka atsar ini adalah shohih”.

Pendapat Ketiga: Ketiga ayat ini memang turun berkenaan dengan ahlul kitab, akan tetapi yang diinginkan oleh ayat ini adalah umum mencakup seluruh manusia, baik yang muslim maupun yang kafir. Ini adalah pendapat Ibrahim An-Nakha’iy dan Al-Hasan Al-Bashry dan yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. (Lihat Fathul Bary (13/120))

Pendapat Keempat: Kata ‘kafir’ di sini bermakna kekafiran besar, karena orang yang berhukum dengan selain hukum Allah yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) yang mana mereka ini tidak berhukum dengan hukum Allah karena mereka juhud (mengingkari) terhadapnya. Adapun orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah dalam keadaan meyakini hukum Allah dan tidak mengingkarinya, akan tetapi dia berhukum dengan selain hukum Allah karena dikuasai oleh hawa nafsunya maka tidak termasuk ke dalam ayat ini. Ini adalah pendapat Abu Sholeh, Adh-Dhohhak, Qotadah, ‘Ikrimah, Abu Mijlaz dan Hudzaifah ibnul Yaman serta ini yang dikuatkan oleh Asy-Syathiby dalam Al-Muwafaqot (4/39) dan Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, beliau berkata setelah membawakan perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam menafsirkan ayat ini, “Pendapat yang paling benar menurut saya adalah pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang kafir ahli kitab, karena ayat sebelumnya dan ayat setelahnya turun berkenaan dengan mereka dan merekalah yang diinginkan dengan ayat-ayat ini. Dan ayat-ayat ini merupakan pengkhabaran tentang mereka maka keberadaan ayat-ayat ini turun berkenaan dengan mereka lebih tepat.
Jika ada yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah -Ta’ala- telah mengumumkan pengkhabaran (dalam ayat ini) mengenai semua orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka bagaimana bisa kamu mengkhususkannya (hanya untuk ahli kitab–pent.)?”.
Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Allah -Ta’ala- telah mengumumkan pengkhabaran tentang hal tersebut terhadap kaum yang juhud (mengingkari) hukum Allah yang Dia tetapkan dalam kitabNya, maka Allah mengkhabarkan tentang mereka bahwa mereka dengan perbuatan mereka menginggalkan hukum (Allah) –dalam keadaan seperti itu (juhud)- adalah orang-orang yang kafir. Demikian pula hukumnya kepada siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan dalam keadaan juhud terhadapanya maka dia adalah orang yang kafir kepada Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, karena juhudnya dia kepada hukum Allah setelah dia ketahui bahwa hukum tersebut Allah turunkan dalam kitabNya menyerupai juhudnya dia terhadap kenabian NabiNya setelah dia mengetahui bahwa beliau adalah seorang nabi”. –Selesai ucapan Ath-Thobary rahimahullah dalam Tafsirnya (10/358)-.
Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata mengomentari perkataan Ath-Thobary di atas, “Dan kesimpulannya, sesungguhnya ayat ini (ayat 44 surah Al-Ma`idah-pent.) turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang juhud terhadap apa yang Allah turunkan. Maka siapa saja yang mengikuti mereka dalam juhud (terhadap hukum Alah-pent.) maka dia adalah kafir dengan kekafiran i’tiqody (keyakinan/akbar), dan barangsiapa yang tidak mengikuti mereka dalam juhud (terhadap hukum Alah-pent.) maka kekafirannya adalah ‘amaly (amalan/ashgar) karena dia mengamalkan amalan mereka (orang-orang Yahudi), maka dia dengan perbuatannya itu adalah mujrim lagi berdosa akan tetapi dia tidak keluar dari agama sebagaimana yang telah berlalu dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu”. Lihat Ash-Shohihah jilid 1 bagian pertama hal. 116.
Kami katakan: Penafsiran Keempat ini diperkuat dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad (4/286) dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda tentang ketiga ayat di atas :
هِيَ فِي الْكُفَّارِ كُلِّهَا
“Semua (ayat-ayat di atas turun) berkenaan dengan orang-orang kafir”.
Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas beserta sanadnya pada hal. 457, “Ini adalah sanad yang shohih di atas syarat Bukhary dan Muslim, dan hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan oleh ketiga ayat di atas adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nashrani dan yang semisal mereka dari kalangan orang-orang yang mengingkari syari’at Islamiyah dan hukum-hukumnya. Dan diikutkan kepada mereka (dalam hal pengkafiran-pent.) semua orang yang mengikuti mereka dalam hal tersebut walaupun orang tersebut menampakkan keislaman, sampai walaupun dia hanya mengingkari satu hukum darinya (syari’at Islamiyah). Akan tetapi, dari perkara yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak demikian keadaannya orang yang tidak berhukum dengan sesuatupun darinya tapi dia tidak mengingkari hukum tersebut, maka tidak boleh menghukumi orang semacam ini dengan kekafiran dan keluar dari agama karena dia adalah mu`min, paling tinggi dia kekafirannya adalah kekafiran ‘amaly (amalan/ashgar). Ini adalah point penting dalam masalah ini yang kebanyakan pemuda yang bersemangat menerapkan hukum Islam lalai darinya. Oleh karena itulah mereka, pada banyak kesempatan melakukan aksi kudeta terhadap pemerintah yang tidak berhukum dengan Islam, sehingga terjadilah banyak fitnah dan tertumpahnya darah tanpa hak hanya karena semangat yang tidak pada tempatnya. Dan yang wajib menurut saya adalah mentashfiyah (menyucikan) Islam dari apa-apa yang bukan darinya, seperti akidah-akidah yang batil, hukum-hukum yang menelantarkan dan pendapat-pendapat yang rusak lagi menyelisihi sunnah, serta mentarbiyah (mendidik) generasi di atas Islam yang suci ini, wallahul musta’an”. –selesai ucapan beliau-.

Pendapat Kelima: Makna ayat-ayat ini adalah, “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juhud (ingkar) terhadapnya maka dia kafir keluar dari Islam, dan barangsiapa yang tidak berhukum dengannya (hukum Allah) tapi tetap mengakuinya maka dia adalah zholim lagi fasik, tidak keluar dari agama Islam”. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma –dalam satu riwayat-, dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 160-161 ketika beliau menjelaskan tentang macam-macam thogut dan Syaikh Muhammad Aman Al-Jamy hafizhohullah sebagaimana dalam kaset yang berjudul Taujihat li Asy-Syabab.
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Barangsiapa yang juhud (mengingkari) apa yang Allah turunkan maka sungguh dia telah kafir (akbar-pent.) dan barangsiapa yang mengakuinya tapi tidak berhukum dengannya maka dia adalah zholim lagi fasik”. Diriwayatkan oleh Ath-Thobary (10/346-357) dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan.

Tujuan kami membawakan penafsiran-penafsiran di atas bukanlah untuk mentarjih (menguatkan) salah satunya, karena sebagaimana yang kita lihat para ulamapun berselisih dalam mentarjih. Akan tetapi tujuan kami adalah untuk menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun dari kalangan para ulama salaf yang memahami ketiga ayat di atas seperti yang dipahami oleh orang-orang khawarij yang menyatakan bahwa orang-orang yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah kafir dan keluar dari Islam tanpa rincian dan perkecualian. Dan juga setelah melihat uraian penafsiran para ulama salaf terhadap ketiga ayat di atas, maka pembaca yang jeli tentunya akan menarik sebuah kesimpulan yang pasti bahwa ada rincian dalam hukum orang yang berhukum dengan selain hukum Allah. Maka celakalah orang yang menafikan kekafiran secara mutlak dan merugilah orang yang menghukumi kafir secara mutlak dalam masalah ini, dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.
Dan kesimpulan inilah yang diyakini oleh para ulama salaf secara menyeluruh, dari kalangan para ulama terdahulu sampai para ulama di zaman ini. Lihat selengkapnya ucapan-ucapan mereka di sini.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, October 30th, 2008 at 11:20 pm and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Penjelasan tentang Al-Hakimiah”

  1.   Beberapa Pemaknaan Keliru Dari Kalimat Tauhid — AL-ILMU.WEB.ID said:

    […] lebih luas masalah hakimiah ini telah kami paparkan dalam kategori ‘Manhaj’ atau klik di sini. 5. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (Laa Rabba bihaqqin illallah). Pemaknaan […]

  2. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz, saya ingin tanya karena saya bingung maksud pendapat pertama orang-orang kafir adalah unat Islam apa maksudnya Ustadz? Mohon dijelaskan. Jazakallah

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Wallahu a’lam, kami sudah berusaha mencari keterangan mengenai pendapat ini akan tetapi sampai saat ini be,um menemukannya, wallahul musta’an. Tapi yang jelas pendapat Asy-Sya’bi -rahimahullah- ini tidaklah sama dengan pendapat kaum khawarij.
    Bagi ikhwan yang mempunyai faidah mengenai makna pendapat ini maka kami berharap agar sudi membagi faidah tersebut ke dalam kolom komentar. Jazakumullahu khairan

  3. anonim said:

    ‘afwan,ttg syaikh Robi’-hafidzahullah- yang mentahdzir WI dan memunculkan fatwa syaikh bin baz-rahimahullah- tentang tauhid hakimiyah kadang masuk di T.Uluhiyah maupun T.Rububiyah,ana hanya mau bilang,slama kajian di WI ana jg mendapatkan pelajaran demikian sbgmn apa yg difatwakan syaikh bin Baz.kami mempelajari kitab Mujmal Ushul fil Aqidah Ahlussunnah wal jamaah karya Syaikh Nashir Al ‘Aql…dan demikianlah adanya.ana jg heran knp bnyak yang mngatakan bhwa org2 di WI mmbagi tauhid jd 4 pdhl slama kira2 5 tahun,kami tdk mandapati pelajaran yang demikian.

    Kalau antum baru kenal WI baru 5 tahun, berarti antum termasuk orang baru dan belakangan mengenal wahdah. Artinya antum tidak tahu apa-apa mengenai WI sebelum 5 tahun tersebut. Jadi saya harap antum tidak berkomentar pada apa-apa yang antum belum punya pengetahuan tentangnya, dan jangan meniadakan sesuatu yang antum sendiri belum mengetahui permasalahannya yang sebenarnya.
    Semoga Allah merahmati orang yang diam pada permasalahan yang dia tidak mengetahui apa-apa tentangnya.

  4. abu salwa said:

    Sangat bagus Ustadz. Mohon izin copy untuk dakwah di facebook

  5. ummu hasanaiin said:

    afwan…sy sependapat dgn komentar no.3. sy malah -alhamdulillah- sdh 9thn (suami saya bahkan lebih dari itu) belajar islam di WI salahsatu melalui kitab Mujmal Ushul fil Aqidah Ahlussunnah wal jamaah karya Syaikh Nashir Al ‘Aql tapi -alhamdulillah- tdk pernah menemukan adanya pembagian tauhid menjadi 4. sy heran sendiri. knp yah..ada2 saja org2 yg senantiasa mnuduhkan hal yg demikian kpd WI??? dengan tambahan “Yayasan Hizbiyah Sururuyah Quthbiyah” lagi..wallahulmusta’an. dusta itu dosa besar, akhi!
    hati2 dgn lisan2 kita saudara2ku..Allah itu Maha Adil!

    Afwan, tapi pembagian tauhid ini dan kesesatan lainnya sudah terdengar jauh lebih lama dari 9 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang belum ada pernyataan taubat dari mereka.
    Jadi maaf saja, kalau 9 tahun itu bisa dikatakan masih baru dan belum mendapatkan kesesatan2 besar yang dahulu WI lakukan ketika masih bernama FM.
    Ini hanya pesan, bahkan bagi yang telah menjadi anggota 20 tahun sekalipun belum tentu dia mendapatkan kesesatan yang WI dahulu lakukan terang-terangan. Jadi ini bukan, tapi realita yang dibenci oleh sebagian orang sehingga dia sangat berat walaupun hanya untuk mencari-cari tahu lebih dalam mengenai hakikat sebenarnya karena khawatir akan menyakiti hatinya. Padahal ketahuilah bahwa beragama bukan dengan hati dan perasaan tapi murni dengan wahyu.

  6. ummu hasanaiin said:

    Alhamdulillah saya tidak pernah menemukan fitnah dan tuduhan antum thadap WI khususnya ttg pembagian tauhid menjadi 4. Entah itu secara sembunyi2 atau terang2an.
    Dusta itu dosa besar lho.
    Kalopun dulu mmg pernah terjatuh pd kesalahan (menurut persangkaan antum), Alhamdulillah hingga detik ini kami tidak menemukan kesalahan yg antum tuduhkan itu.
    Justru sepertinya antum yg ngotot menyudutkan dakwah WI. Dengan mengungkit2 ‘lagu lama’ yang sudah ‘tidak merdu’ lagi. Ada apa dengan antum???

    Apa yang kami dapatkan dan yg kami ajarkan kpd mad’u kami, insyaAllah sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, bukan bdasarkan perasaan seperti yg (lagi2) antum tuduhkan. Wallahulmusta’an.

    Sungguh kasihan diri2 kita yang hari ini merasa paling benar dan senantiasa mencari2 kesalahan saudara2nya sendiri lantas menyebarkannya tanpa merasa berdosa sedikitpun.
    Semoga Allah senantiasa menunjukkan kebenaran kepada kita semua dan melembutkan hati kita agar mudah menerima kebenaran tsb sehingga tdk menjadi orang yang sombong. Aamiin.

    Allah menjadi saksi untuk setiap tuduhan dan fitnahan antum kepada dakwah salaf yang berusaha dilakukan oleh WI dan Allah pula sebaik2 Pemberi Balasan atas semua yang antum lakukan. Kami hanya bisa mengucapkan Jazaakumullahu Khairan atas semua tuduhan dan fitnahan tsb, semoga kelak di akhirat semua itu bermanfaat bagi kami. Aamiin.

    Sudah tepat anda memperumpakan kesesatan itu dengan lagu, karena keduanya memang diharamkan dalam islam. Semua lagu bagi lagu klasik tempo doeloe maupun musik modern di zaman ini semua haram dan semua wajib diingatkan keharamannya. Maka demikian pula kesesatan baik yang ‘lagu lama’ maupun yang sudah ‘tidak merdu’ lagi, tetap wajib diingatkan dan dijauhi walaupun pemilik bahkan sektenya sudah meninggal.
    Ini Abu Al-Hasan Al-Bashri dengan sekte Asy’ariyah yang diusungnya. Walaupun beliau telah wafat dan telah rujuk kepada ahlussunnah, tapi sampai zaman sekarang para ulama senantiasa mengingatkan dari kesesatan asy’ariyah dan pemikirannya.
    Jadi semua ucapan tuduhan anda kepada kami di atas maka kami sangat memaklumi, karena kami masih menganggap anda ini tidak tahu apa-apa dengan pengalaman hanya sekitar 10 tahun di yayasan itu. Jadi betul-betul kami sangat memaklumi dari mana asal kekeliruan anda di atas.
    Hanya saja untuk memperbaiki kekeliruan anda di atas, silakan kunjungi blog: http://nasihatuntukwahdah.wordpress.com/
    Karena di situ dan juga di rekamannya terdapat bukti kaset dan bukti tertulis (berupa buku dan selebaran) dari ustad2 yayasan itu yang mereka sendiri nampakkan dan sebarkan -jadi kami tidak mencari kesalahan mereka tapi merekalah yang menampakkan kesalahan dan aib mereka- lebih dari 10 tahun yang lalu, yang kami maklumi tidak pernah anda dengar dan dapatkan.
    Lihat juga keterangan ustadz/murabbi yayasan itu yang sudah bertaubat dan meninggalkan yayasan itu di: http://almakassari.com/
    Maka ini sudah terkumpul bukti suara, tulisan, dan saksi hidup yang menyaksikan sendiri kesesatan tersebut. Maka insya Allah ini bukanlah tuduhan kosong, maka jangan sampai fanatisme dan dunia membuat kita berpaling dari kebenaran, karena itu sungguh merupakan kerugian di akhirat. Apalagi kelihatannya anda seorang murabbi, maka bertakwalah kepada Allah pada anak2 didik anda, jangan sampai anda menanggung dosa semua orang yang tersesat melalui perantaraan anda.
    Betul apa yang anda ucapkan bahwa ‘merasa paling benar dan senantiasa mencari2 kesalahan saudara2nya sendiri lantas menyebarkannya tanpa merasa berdosa sedikitpun’ adalah dosa yang sangat besar dan insya Allah tidak ada seorang muslimpun yang mengingkarinya. Hanya saja mengungkap kebenaran dan menjelaskan kesesatan sudah menjadi kewajiban dari para rasul dan para ulama sepeninggal beliau, dan saya yakin anda tidak akan mengatakan kalau para rasul dan para ulama itu ‘merasa paling benar’ atau ‘senantiasa mencari2 kesalahan saudara2nya sendiri lantas menyebarkannya tanpa merasa berdosa sedikitpun’. Maka kedua amalan ini harus dibedakan, yaitu antara dosa yang anda sebutkan dengan kewajiban menyingkap kesesatan.
    Ucapan anda ‘Kami hanya bisa mengucapkan Jazaakumullahu Khairan atas semua tuduhan dan fitnahan tsb’. Jangan berterima kasih kepada kami atas semua nasehat dan peringatan tersebut, akan tetapi bersyukurlah kepada Allah jika Allah memberikan hidayah kepada anda, kemudian kepada para ulama yang bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk memberikan nasehat kepada satu di antara jutaan yayasan yang ada di dunia ini, kemudian juga kepada ustadz2 anda di yayasan yang telah bertaubat dan meninggalkan yayasan lalu berdakwah mengingatkan kaum muslimin dari kesesatan tempatnya dulu berada, dan juga kepada ikhwan2 yang telah keluar dari yayasan yang juga membawa imbas peringatan kepada yang belum keluar.
    Akhirnya kami juga ikut meng’amin’kan doa anda: ‘Semoga Allah senantiasa menunjukkan kebenaran kepada kita semua dan melembutkan hati kita agar mudah menerima kebenaran tsb sehingga tdk menjadi orang yang sombong.’