Nazar dan Menyembelih Adalah Ibadah

October 21st 2014 by Abu Muawiah |

Ucapan penulis: Bernazar untuk mereka.

Maksudnya: Termasuk kesyirikan adalah bernazar untuk selain Allah. Hal itu karena nazar adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Nazar adalah ibadah karena Allah Ta’ala telah memuji orang-orang yang memenuhi nazar. Allah Subhanah berfirman:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. al Insan: 7)

Asy Syaikh Sulaiman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata menjelaskan ayat di atas:
“Allah memuji mereka yang memenuhi nadzar, sementara Allah tidaklah memuji suatu amalan kecuali amalan itu adalah amalan yang wajib atau sunnah atau berupa perbuatan meninggalkan yang haram. Dan Allah tidaklah memuji suatu amalan jika itu adalah amalan yang mubah. Pujian ini menunjukkan bahwa amalan itu adalah ibadah. Karenanya siapa saja yang mempersembahkan amalan itu untuk selain Allah dalam rangka bertaqarrub kepadanya, maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.”
(Taysìr al azìz al hamìd hal. 203)

Ibnu Utsaimin berkata tentang ayat ini:
“Allah Ta’ala memuji mereka karena hal itu (memenuhi nazar, penj.) dan menjadikan itu sebagai sebab masuknya mereka ke dalam surga. Sementara tidak ada amalan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam msurga kecuali amalan itu adalah ibadah. Sehingga ini menunjukkan bahwa mempersembahkan nazar untuk selain Allah adalah kesyirikan.”
(al Qaul al Mufid: 1/317)

Bentuk nazar untuk selain Allah adalah seperti ucapan: ‘Saya bernazar untuk si fulan, atau saya bernazar untuk kubur ini, atau saya bernazar untuk Jibril.’ Dia memaksudkan dengan nazarnya untuk mendekatkan diri kepada mereka atau tujuan lain yang semisalnya.
Nazar untuk selain Allah ini tidak syah dari asalnya dan tidak ada kewajiban kaffarah padanya (jika dibatalkan, penj.), bahkan itu merupakan kesyirikan yang dia wajib bertaubat darinya.

 

Ucapan penulis: Menyembelih untuk mereka.

Maksudnya: Termasuk kesyirikan adalah menyembelih untuk selain Allah, dalam rangka pengagungan dan pendekatan diri kepadanya. Hal itu karena jika seseorang menyembelih dengan tujuan untuk berharap dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala semata, maka itu adalah ibadah.

Ibnu Utsaimin berkata:
“Menyembelih untuk selain Allah adalah syirik akbar, karena menyembelih adalah ibadah. Sebagaimana yang Allah perintahkan dalam firmanNya:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. al Kautsar: 2)
Karenanya, jika seseorang menyembelih hewan sebagai bentuk pengagungan selain Allah, penghinaan diri kepadanya, dan pendekatan diri kepadanya, sebagaimana dia mendekatkan diri dan mengagungkan Rabbnya dengan sembelihan, maka orang itu adalah orang yang musyrik kepada Allah. Sama saja, apakah selain Allah itu adalah salah satu malaikat atau seorang rasul atau seorang nabi atau seorang khalifah atau seorang wali atau seorang alim atau kubur yang mereka yakini sebagai kubur wali. Semua itu adalah kesyirikan kepada Allah Azza wa Jalla dan mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.”
(Majmu’ Fatawa: 2/148-149)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, October 21st, 2014 at 1:23 pm and is filed under Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.