Najiskah Alkohol?

December 27th 2009 by Abu Muawiah |

Najiskah Alkohol?

Tanya:
Bismillah,
Ustadz sahkah shalat seseorang sedangkan orang itu memakai deodorant yang mengandung alkohol?
“Ummahat” <rofiifroofi@yahoo.com>

Jawab:
Sebenarnya masalah ini dipermasalahkan oleh sebagian orang karena mengira alcohol itu adalah khamar sementara khamar itu adalah najis, karenanya tidak boleh membawa benda beralkohol di dalam shalat.
Hanya saja telah kami jelaskan sebelumnya bahwa alcohol itu tidak identik dengan khamar, karena alcohol hanya menjadi khamar (memabukkan) ketika mencapai ukuran tertentu. Silakan baca keterangannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=284

Kalaupun anggaplah alcohol itu khamar, maka harus dibahas lagi apakah khamar itu betul najis, dan yang benarnya bahwa khamar bukanlah najis. Ini adalah pendapat Al-Muzani dari Asy-Syafi’iyah dan Daud Azh-Zhahiri. Mereka berdalilkan dengan hadits Anas ketika beliau menceritakan kisah pengharaman khamar awal kali:
فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنَادِيًا يُنَادِي أَلَا إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ قَالَ فَقَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ اخْرُجْ فَأَهْرِقْهَا فَخَرَجْتُ فَهَرَقْتُهَا فَجَرَتْ فِي سِكَكِ الْمَدِينَةِ
“Kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa khamar telah diharamkan”. Anas berkata,  “Maka Abu Tholhah berkata kepadaku, “Keluar dan tumpahkanlah”. Maka aku keluar lalu aku tumpahkan. Maka khamar mengalir di jalan-jalan kota Madinah.” (HR. Al-Bukhari no. 2884, 4254 dan Muslim no. 3662)
Imam Al-Bukhari memberikan judul bab pada tempat yang pertama: Bab Menumpahkan Khamar di Jalan. Sisi pendalilan dari hadits ini bahwa khamar bukanlah najis adalah karena khamar-khamar tersebut di buang ke jalanan, sementara telah ada larangan dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- untuk membuang najis di jalan yang dilalui oleh kaum muslimin, jadi khamar tidak mungkin najis.
Sisi pendalilan yang kedua bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak memerintahkan mereka untuk mencuci bejana-bejana bekas penyimpanan khamar mereka, seandainya dia najis maka tentunya tempat penyimpanannya harus dicuci. Jika ada yang mengatakan bahwa perintahnya diundurkan, maka kita katakan bahwa itu bertentangan dengan sifat amanah Nabi -alaihishshalatu wassalam-, karena seorang nabi tidak boleh mengundurkan penjelasan sesuatu dari waktu penjelasan itu dibutuhkan. Dan di sini mereka sangat membutuhkan penjelasan tersebut karena mereka akan segera memakai bejana mereka, wallahu a’lam.

Jadi, khamar bukanlah najis dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani dan Ash-Shan’ani -rahimahumallah-. Hanya saja perlu diingatkan bahwa kewajiban seorang muslim ketika melihat khamar adalah menumpahkannya (jika dia berhak melakukannya) sebagaimana perbuatan para sahabat di atas. Karenanya walaupun dia bukan najis, akan tetapi seorang muslim tidak boleh membawanya apalagi memasukkannya ke dalam rumahnya.

Kesimpulannya: Tidak mengapa memakai parfum atau deodorant yang mengandung alcohol dan shalatnya tidak makruh sama sekali, karena dia bukanlah khamar. Wallahu Ta’ala a’lam.

Incoming search terms:

  • najiskah alkohol
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, December 27th, 2009 at 4:30 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

18 responses about “Najiskah Alkohol?”

  1. heriyanto said:

    afwan ustadz,cm ingin meluruskan sedikit. dari apa yg pernah ana pelajari dr ilmu kimia, bahwa alkohol itu adalah komponen utama dlm khamar. jadi, suatu cairan/minuman itu bisa mengakibatkan mabuk apabila didalamnya ada alkohol dg kadar tertentu. untuk itu badan POM sendiri telah mengelompokkan minuman keras dlm bbrp kategori. misal: miras kategori A itu kadar alkoholnya maksimal 5%, kategori B kadar alkohol 5-10% dst. allahu a’lam

    Syah-syah saja kalau setiap khamar mengandung alkokohol, akan tetapi yang kita pertanyakan: Apakah semua alkohol adalah khamar?
    Tentu tidak karena banyak sekali makanan di sekitar kita yang mengandung alkohol, sebut saja di antaranya tape, durian, nasi, dan semacamnya yang dalam pembuatan terdapat proses pembentukan alkohol.
    Tidak ada satupun dalil dari Alkitab dan sunnah yang mengharamkan alkohol, akan tetapi yang ada hanya pengharam khamar, yaitu semua segala sesuatu yang memabukkan. Jadi khamar diharamkan karena dia memabukkan, bukan karena dia mengandung alkohol. Karenanya para ulama mengharamkan ganja dan teman-temannya dengan dalil bahwa dia termasuk khamar, padahal di dalamnya tidak mengandung alkohol.
    Sebagian ustadz mengabarkan kepada kami bahwa LPPOM MUI memberikan kadar maksimal 2 %, yakni jika kurang dari itu maka tidak dianggap haram.
    Intinya, tidak semua alkohol adalah khamar, akan tetapi dia berubah menjadi khamar ketika mencapai ukuran tertentu, wallahu a’lam.

  2. ibnu sholeh said:

    ust, apakah ini tdk bertentangan dengan artikel jawaban atas pertanyaan :hukum parfum berakohol?

    http://al-atsariyyah.com/?p=284

    karena dinasehatkan untuk meninggalkan minyak wangi yang mengandung alkohol.

    mohon penjelasan..

    Sebelumnya kami ingatkan bahwa itu jawaban pada artikel ‘hukum parfum berakohol’ adalah jawaban dari Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Mar’i.
    Insya Allah tidak bertentangan. Hal itu karena ada sebagian ulama lain di antara Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Muqbil yang melarang alkohol secara mutlak. Maka nasehat Asy-Syaikh Abdurrahman untuk meninggalkan parfum yang beralkohol adalah saran agar untuk keluar dari lingkup perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan bukan merupakan larangan untuk menggunakannya. Karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa beliau tidak mengharamkan alkohol secara mutlak, dan sesuatu yang tidak haram tidak ada alasan untuk meninggalkannya kecuali dari sisi afdhaliah (yang paling afdhal) atau wara` (berhati-hati). Wallahu a’lam.

  3. heriyanto said:

    Afwan ustadz, ana masih kurang sreg dengan jawaban ustadz yang menyatakan bahwa alkohol tidak identik dengan khamr.

    Bahkan zat yang menyebabkan sifat memabukkan dalam khamr adalah alkohol tersebut (yaitu alkohol jenis etanol atau metanol).

    Syaikh al Albani menyatakan bahwa alkohol tersebutlah yang menjadi inti dari khamr. Beliau menyatakan bahwa tidak boleh bagi kita memeliki bahan yang memabukkan yang merupakan inti dari khamr, yaitu alkohol. (artikel: Alkohol dalam Obat dan Parfum
    http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=144)

    Allaahu a’lam..

    Wallahu a’lam, apa yang ana sebutkan itu merupakan pendapat yang ana pegang setelah ana membaca beberapa artikel mengenai hakikat alkohol, dan itulah yang ana yakini sekarang.
    Ala kulli hal, intinya ana sependapat dengan Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, dan selainnya yang memberikan rincian dalam masalah alkohol dan tidak menghukumi rata bahwa semua yang mengandung alkohol adalah haram. Baik itu parfum, obat, maupun selainnya.
    Jadi cologne dalam pertanyaan di atas juga dirinci sebagaimana rincian para masyaikh di atas. Jazakallahu khairan atas masukannya.

  4. heriyanto said:

    Ana sependapat dengan ustadz bahwa tidak semua minuman yang mengandung alkohol langsung dihukumi sebagai khamr. Tapi harus dirinci seberapa banyak kadar alkohol didalamnya sehingga dengan kadar tersebut, minuman tersebut bisa memabukkan (menjadi khamr).

    Taruhlah misal bahwa suatu minuman A dengan kadar alkohol 10% itu sudah memabukkan atau menjadi khamr. Lantas ada lagi minuman B dengan kadar alkohol 30%, maka secara akal, minuman B ini lebih memabukkan daripada minuman A.

    Demikianlah, semakin tinggi kadar alkohol dalam minuman, maka akan menjadi sangat memabukkan dan tentunya semakin berbahaya bagi organ tubuh.

    Nah, apabila kita dapati suatu cairan dengan kadar alkohol 100% (alkohol murni), tentunya cairan tersebut akan sangat berbahaya, sangat memabukkan dan akan sangat merusak tubuh jika diminum, daripada minuman A.

    Allaahu a’lam..

    Alhamdulillah kalau begitu tidak ada masalah, karena kami memang tidak pernah menetapkan batasan minimal dari jumlah alkohol dalam minuman sehingga dia dihukumi khamar.
    Adapun cara mengukur apakah minuman beralkohol sudah termasuk khamar atau tidak maka kita bisa menerapkan kaidah: “Apa-apa yang dalam jumlah banyak memabukkan maka dalam jumlah sedikit juga haram”. Yakni kita mengambil cairan yang terdapat alkohol lalu kita menyuruh seseorang untuk meminumnya, dengan catatan orang itu bukanlah orang yang pernah minum khamar sebelumnya. Jika dia mabuk maka berarti minuman itu khamar baik dalam jumlah sedikit, dan jika tidak maka dia bukan khamar.
    Atau untuk berjaga-jaga, kita meminumkannya kepada hewan (misalnya kucing) yang tidak pernah minum khamar sebelumnya, lalu dilihat reaksinya.
    Dengan menerapkan hal ini, insya Allah antum tidak perlu lagi memperkirakan atau menduga-duga berapa kadar alkohol yang bisa memabukkan.

  5. akhon said:

    aslmlkm,
    afwan ana ikut nimbrung..
    kbetulan ini pernah menjadi bahan diskusi kami beberapa waktu lalu..

    saya tertarik dengan pendapat akh heriyanto yg menggabungkan ilmu agama dan sains (yang sbenarnya mmang kduanya merupakan ilmu Allah)
    ya, dari pendapat beliau saya juga berfikir bahwa khamar itu memabukkan karena mengandung kadar alkohol tertentu, yg berarti inti dari yg memabukkan adalah alkohol.

    nah, jika berbicara kadar itu berarti berbicara persentase.
    bila dikatakan 15% kadar alkohol, berarti 85% selain alkohol.

    yg berari dari 100 liter cairan, mengandung 15 liter alkohol dan 85 liter zat lainnya.

    dalam 0,0001 cairan,mengandung 0,000015 liter alkohol dan 0,000085 liter cairan lainnya.

    dengan kata lain zat lainnya yg terdapat dalam suatu cairan itu berfungsi sebagai penawar.

    yg jadi masalah ketika alkohol berkadar 100%, berarti tanpa ada zat yang lainnya.

    dari 100 liter cairan mengandung 100 liter alkohol.
    dari 0,0001 liter cairan mengandung 0,0001 alkohol.

    itu menunjukkak tak ada zat penawar dari alkohol tersebut.

    jadi kita tidak melihat banyaknya, melainkan kadar persentase.

    saya jadi terbayang cerita lama guru saya dulu. seorang pencuri daging dari mobil yg diparkir di sebuah pasar.
    mengejutkan keesokan harinya pencuri itu meninggal sekeluarga. bukan lantaran daging yang dicurinya busuk atau dari hewan berpenyakit dan sebagainya. melainkan karena daging yang dicurinya adalah tumor hasil operasi yang tersimpan di mobil yang dicurinya. si pencuri sekeluarga memakan bulat-bulat penyakitnya tanpa ada kadar lain.

    wallahu a’lam

  6. dr. Abu Hana said:

    Bismillah,
    Ustadz Abu Muawiah mohon tanggapan terhadap komentar yag masuk ke blog ana sebagai berikut :

    —————————

    Agak memusingkan membaca artikel di atas, tidak membuat orang awam menjadi paham malah bingung, jadi harusnya dibuatkan kesimpulan saja seperti di atas.

    Kalau saya lebih memakai dalil tentang niat, khamar itu sebagai zat yang memabukkan dan memang dibuat untuk membuat orang menjadi mabuk, sehingga menjadi tepatlah dalil hadist: sedikit atau banyak (redaksi dari saya: kalau memang niatnya untuk mabuk) jatuhnya haram (pada situasi dan person tersebut)

    Tapi terkait dengan tujuan/atau niat seseorang ketika minum khamar itu, saya juga jadi bingung sedikit, bagaimana klo niatnya untuk kesehatan/obat seperti anggur cap orang tua, dan sejenisnya?

    Tentang larangan menyimpan alkohol di rumah, ya tidak ilmiah sama sekali, alkohol yang disimpan di rumah kan untuk tujuan pengobatan alias antiseptik.

    Obat-obat bius kan golongan narkotika juga yang dimasukkan ke dalam kategori khamar. Kalau di tangan dokter bius dia bisa menjadi obat penghilang rasa sakit (seperti heroin, morfin, bahkan mungkin ganja, kalau keadaannya darurat), dan itu menjadi fly loh alias hilang akal/mabuk. Jadi tidak bisa dipisahkan antara mabuk dan terbius, terbius itu kan tidak sadar dan atau hilang rasa sakitnya…sehingga orang yang masih terbius (total) tentu saja tidak bisa sholat. Berbeda kalau heroin sudah dipakai oleh drug user, menurut saya kembali lagi ketujuan/niat tadi, heroin menjelma menjadi nama lain yaitu putaw, dan menjadi haram statusnya.

    Mohon tanggapan….
    ———————————

    Baarokallaahu fiikum wa Jazaakallaahu khairan atas jawabannya.

    Kalau menurut ana, itu tidak usah ditanggapin, soalnya dalilnya ngawur yakni kembali kepada niat. Sementara para ulama telah menyatakan -bahkan ini berdasarkan banyak nash- bahwa baiknya niat dan tujuan tidaklah menjadikan cara yang salah menjadi benar.

  7. dr.Abu Hana said:

    Jazaakallaahu khairan..

  8. Abu Fat-hi said:

    Bagus sekali artikelnya, kesimpulan ttg parfum beralkohol sangat tepat dan bisa menghilangkan rasa ragu, barakallahu fiikum.

  9. NUR ASLIDAWATI said:

    USTAZ, MHN DIBAHAS MENGENAI BAHAN2 UNTUK MASAKAN SEPERTI ANG CIU , MIRIN. APAKAH BOLEH DI[AKAI UNTUK MASAK BAGI KELUARGA MUSLIM. T.KASIH.

    Wallahu a’lam. Berdasarkan referensi yang kami baca, ang ciu dan mirin adalah hal yang terlarang untuk dikonsumsi karena kandungan alkoholnya tidak larut dan masih terasa ketika diminum.

  10. abu miqdad said:

    sebuah ilmu yang bermanfaat
    barokallahu fikum

  11. Abchory said:

    Saya malah jd tambah bingung dan ragu…

    Mending kita tidak usah menggunakan parfum atw deodoran yg mengandung alkohol ketika hendak sholat…
    Untk hati2 aja agar kita tdk msuk ke dlm yg mkruh apalgi haram..
    Syukron..

    Shalat dengan memakai sesuatu yang mengandung alkohol tidaklah makruh apalagi haram. Maka kita tidak bisa seenaknya menetapkan hukum makruh atau haram hanya karena kita ragu-ragu. Karena hukum itu dari Allah dan hanya dengan firman-Nya kita bisa menetapkan hukum.

  12. ayu said:

    Bismillah..
    Berkaitan dgn tercampurnya bahan haram pada suatu produk makanan yaa ustadz,apakah benar padanya berlaku kaidah istihlak..?yang bila pada produk tsbt setelah dicampur dgn bahan-bahan lain sehingga hilang pengaruh memabukkannya maka kemudian bisa menjadi halal?
    Jazaakallahu khairan..

    Ya, jika memang barang haram itu hilang zat dan pengaruhnya setelah bercampur dengan benda yang suci.

  13. Ayu said:

    Bismillah..
    ‘afwan ustadz,apakah penggunaan rhum pada makanan atau masakan lain yang menggunakan mirin/ang ciu masuk dalam kaidah istihlak?apakah jika kemudian pengaruh memabukkannya hilang kemudian dapat menjadikannya halal u/ dikonsumsi seperti pada donat dan roti?Bagaimana dengan pendapat berikut :

    Ada dua syarat agar suatu materi itu bisa disebut khamar: pertama, menghilangkan atau menutupi akal; kedua, menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya.

    Dengan demikian, materi yang menghilangkan akal namun tidak menimbulkan rasa nikmat tidaklah masuk dalam kategori khamar.
    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ ».

    Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.” (HR. Abu Daud, no. 3683)

    Tentang hadis ini, Ibnu Utsaimin mengatakan, “Banyak orang yang beranggapan bahwa makna hadis di atas adalah bahwa jika khamar bercampur dengan materi yang lain dalam kadar yang banyak maka materi campuran tersebut haram. Makna hadis tidaklah demikian. Yang benar, makna hadis di atas adalah bahwa jika ada suatu materi yang hanya bisa menyebabkan mabuk–apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak–maka kadar sedikit yang tidak memabukkan dari materi tersebut pun tetap haram.

    Misalnya: Ada minuman yang jika diminum sebanyak sepuluh botol maka akan memabukkan, namun jika hanya minum satu botol maka tidaklah memabukkan. Meminum satu botol yang tidak memabukkan tersebut hukumnya haram. Inilah makna sabda Nabi, ‘Jika (sesuatu yang) dikonsumsi dalam jumlah banyak (itu bersifat) memabukkan maka (jika hal tersebut) dikonsumsi dalam jumlah sedikit pun hukumnya tetap haram.’
    Hadis di atas tidak bermaksud bahwa materi yang tercampur dengan sedikit barang memabukkan itu haram dikonsumsi karena jika materi memabukkan (baca: khamar) bercampur dengan materi yang lain dan tidak ada pengaruh khamar dalam materi campuran tersebut maka hukum mengkonsumsi materi campuran tersebut adalah halal, karena sebab diharamkannya khamar–yaitu memabukkan–tidaklah dijumpai dalam materi campuran tersebut.” (Majmu` Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11, hlm. 253, pertanyaan no. 209, terbitan Dar Ats-Tsaraya, Riyadh, cetakan kedua, 1426 H)Berdasarkan uraian di atas, maka obat yang mengandung campuran alkohol tidaklah termasuk khamar yang haram untuk diperjualbelikan. Syarat khamar adalah menimbulkan rasa nikmat bagi orang yang mengkonsumsinya, dan ini tidak dijumpai pada orang yang mengkonsumsi obat tersebut. Materi yang bercampur dengan khamar adalah halal, jika pada materi campuran tersebut tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan. Obat yang mengandung alkohol itu termasuk dalam kaidah mengenai materi yang bercampur dengan khamar. Dalam obat yang bercampur dengan alkohol, tidak dijumpai pengaruh khamar, yaitu memabukkan, sehingga selayaknya obat tersebut dinilai halal untuk dikonsumsi.

    Jazaakalaahu khairan

    Afwan kami tidak paham dengan pertanyaannya.
    Kami setuju dengan pendapat itu, dan masalah ini juga sudah kami jelaskan dalam artikel: Hukum Obat dan Parfum Beralkohol dalam bllog ini.

  14. Ayu said:

    Bismillah,
    ‘afwan ustadz,apakah sama kaidah istihlak dan istihalal berlaku pada produk yang bercampur khomr dengan produk yang padanya bercampur unsur babi meski sedikit?

    jazaakallahu khairan

    Ya, juga berlaku.

  15. Ayu said:

    ‘afwan ustadz,sejujurnya ana masih bingung..
    antara khomr dan babi (atau bagian dari babi) yang bercampur pada makanan,jika pada khomr ia dapat menjadi halal jika pengaruh memabukkannya hilang setelah bercampur dengan zat yg lebih banyak,tapi bagaimana dengan zat babi? bukankah sebab pengharamannya karena memang dzatnya,banyak atau sedikitnya..?
    jazaakallahu khairan ustdaz..

    Kalau zat babi juga bisa hilang karena didominasi oleh zat yang halal, sehingga zat dan pengaruh zat babi tersebut sudah tidak tersisa sama sekali, maka insya Allah itu menjadi halal.

  16. Yenni Hartati said:

    Terimakasih atas penjelasan tentang parfum.
    Saya sepakat bahwa alkohol bukan najis. Jadi gak masalah jika sholat memakai parfum beralkohol. Hal ini juga pernah saya baca di artikel dengan nara sumber yang kompeten.

    Oleh karena itu, alkohol juga boleh digunakan untuk antiseptik. Kalau sekiranya alkohol itu najis, saya yakin pasti banyak ulama yang menentang penggunaannya di bidang kedokteran, dll.

    Alkohol yang terdapat dalam khamr, adalah jenis etanol (C2H5OH), bukan metanol. Seperti yang ditulis oleh saudara Heriyanto. Metanol tidak mungkin dipakai dalam makanan/minuman, karena merupakan zat beracun yg menyebabkan kematian.
    Perlu saya koreksi juga, alkohol tidak ada yang kadarnya 100%. Mau dicari hingga ke ujung dunia pun tidak akan pernah ketemu. Karena secara ilmiah, alkohol mutlak (kadar alkohol tertinggi) hanya sekitar 95 – 96% saja.

    Tentang obat yg mengandung alkohol. Biasanya kadar alkohol dalam obat sirup sekitar 5%. Berdasarkan ketentuan MUI (kalo gak salah mengharamkan produk dg kandungan alkohol di atas 2%), berarti obat seperti ini pun diharamkan. Jadi, sebaiknya dihindari.

    Soal alkohol dalam makanan. Tape, jus buah yang sudah terfermentasi dan lain2 pasti mengandung alkohol. Status kehalalannya, tergantung kadarnya. Utk tape dengan fermentasi sedikit masih diperbolehkan. Tapi untuk tape yang sudah berair (tape ketan misalnya), mengandung alkohol kadar tinggi. Saya tidak begitu ingat berapa kadarnya, mungkin sekitar 12%. So, tape jenis ini sebaiknya tidak dikonsumsi.

    Jadi, walaupun tape adalah produk makanan yang sering dijumpai sehari – hari, tidak berarti makanan ini otomatis halal.

    Tentang mirin/angciu dalam makanan. Makanan yang dimasak dengan tambahan zat ini haram hukumnya. Status haramnya tidak bisa berubah menjadi halal karena dianggap kadarnya sangat sedikit atau diperkirakan hilang dalam proses memasak. Utk makanan, kaidahnya, JIKA ZAT HARAM BERCAMPUR DENGAN ZAT HALAL, WALAUPUN SEDIKIT, MAKA MENJADI HARAMLAH SEMUA CAMPURAN/MAKANAN TERSEBUT. Ini berlaku untuk alkohol, dan tentu saja babi.

    So, pendapat Saudara ini : “Kalau zat babi juga bisa hilang karena didominasi oleh zat yang halal, sehingga zat dan pengaruh zat babi tersebut sudah tidak tersisa sama sekali, maka insya Allah itu menjadi halal.” ADALAH SANGAT MENYESATKAN !

    Mungkin itu tambahan dari saya, berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Maaf saya tidak bisa menuliskan dalil2 atau angka2 yang tepat. Karena bagi saya, setelah membaca artikel tertentu (dengan sumber yg sahih baik dari seorang ilmuwan atau ahli agama),yang saya hafal bukanlah dalil2 atau angka2nya. Melainkan kesimpulan hukumnya.

    Makasih

  17. Miftah habibi said:

    Sbelumnya ragu ttg parfum bralkohol boleh dipakai atw tidak, najis atw tidak. Krn tdk ada dalil yg mngatakan alkohol itu najis. Tp klw haram dikonsumsi, masalahnya kompleks. Tp saya doyan bnget makan tape. Airnya pun saya doyan. Manis soalnya. Tp gak pernah dnger tuh org mabuk gara2 makan tape bnyak2. Tp krn uda dngar pnjelasan di atas klw makanan hati2 jadinya. Tp klw parfum insyaallah gak ragu lg. Wallahu a’lam

  18. syifa said:

    afwan ustd, ini ada artikel yg saya dapatkan dengan penjelasan yang berbeda.:

    Adapun menurut kami, yang rajih adalah pendapat jumhur bahwa khamr itu najis. Dalilnya memang bukan QS Al-Ma`idah : 90, dalam panci-panci mereka dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.” Nabi SAW menjawab, “Jika kamu dapati wadah lainnya, makan makan dan minumlah dengannya. Jika tidak kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan gunakan untuk makan dan minum.” (HR Ahmad & Abu Dawud, dengan isnad shahih). (Subulus Salam, 1/33; Nailul Authar, hal. 62).
    Hadits di atas menunjukkan kenajisan khamr, sebab tidaklah Nabi SAW memerintahkan untuk mencuci wadah mereka dengan air, kecuali karena khamr itu najis. Ini diperkuat dengan riwayat Ad-Daruquthni, bahwa Nabi SAW bersabda,”maka cucilah wadah-wadah mereka dengan air karena air itu akan menyucikannya.” (farhadhuuhaa bil-maa`i fa-inna al-maa`a thahuuruhaa) (Mahmud Uwaidhah, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Shalah, 1/45).
    Kesimpulannya, alkohol (etanol) itu najis karena mengikuti kenajisan khamr. Maka, parfum beralkohol tidak boleh digunakan karena najis. Wallahu a’lam. (ustadz siddiq al jawie; mediaumat.com)

    Memang dlm masalah khamar, apakah dia najis atau bukan, ada perbedaan pendapat. Namun yg benarnya adalah dia bukan najis, sebagaimana yg telah kami jelaskan di atas.