Muamalah Harus Jujur dan Amanah.

November 16th 2008 by Abu Muawiah |

Muamalah Harus Jujur dan Amanah.

Dhobit keenam : Mu’amalat harus dibangun diatas dasar dan jujur dan amanah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah : 119)
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa` : 58)
Dan Allah Jalla Tsana`uhu berfirman :
فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ
“Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangi bagi manusia barang-barang takaran dan timbangan barang-barangnya.” (QS. Al-A’raf : 85)
Dan Dalam Tanzil-Nya :
فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ
“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya).” (QS. Al-Baqarah : 283)

Dan dalam Hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Dua orang yang saling berjual beli mempunyai pilihan selama belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan saling menerangkan (tidak menyembunyikan aib, pent) maka mereka berdua akan diberkahi dalam jual belinya dan kalau keduanya menyembunyikan dan berdusta maka akan dicabut berkah jual belinya.”
Dalam Hadits Abu Dzar Al-Gifary radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : الْمَنَّانُ, الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلَفِ الْكَاذِبِ
“Tiga (golongan) yang Allah tidak berbicara kepada mereka Hari Kiyamat, tidakmelihat kepada mereka, tidak mensucikan mereka dan mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih; orang yang sering mengungkit pemberiannya kepada orang, orang yang menurunkan sarungnya melewati mata kaki  dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah dusta.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, November 16th, 2008 at 11:40 pm and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Muamalah Harus Jujur dan Amanah.”

  1. Isa said:

    Assalamu’alaikum warahamatullah wabarakatuh

    Ust, bagaimana status gaji ke 13 PNS? jelas tidak ada bulan ke 13, maka kemudian tidak ada kerja untuk memperoleh gaji tersebut, lalu ketika tidak ada kerja maka = gaji buta, bukankah gaji buta = haram?

    lalu, tentang tunjangan PNS, yang saya tidak tahu dari mana asal usul tunjangan tsb, otomatis saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan untuk menghalalkan uang tersebut, lalu saya harus bagaimana Ust?

    Jika uang tersebut ternyata sebelum sya tahu bahwa syubhat dan mungkin mengarah ke haram, ada yang saya telan ada yang saya buat daftar haji, lalu bagaimanakah menghalalkan itu semua Ust? apakah saya cukup bertaubat, meninggalkan semua tunjangan tidak jelas, dan juga men-shadaqahkan uang sejumlah uang yang digunakan untuk daftar haji supaya uang yang sudah terlanjur masuk ke kas depag untuk haji berubah statusnya dari syubhat/haram menjadi halal?

    Doakan Ustadz, semoga Allah berikan kemampuan untuk meninggalkan segala yang haram dan syubhat, hijrah ke rizki yang halal dan thayib, serta lingkungan dan diri yang lebih baik…

    jazakallahu khairan katsiran

    wa’alaikum salam warahmatullah wa barakaatuh,
    insyaAllah gaji itu halal, bisa jadi itu adalah HADIAH dari pemerintah bagi setiap PNS dan tidak mesti dikatakan gaji buta, hal ini sama dengan mukafaah(tunjangan) bagi mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Saudi Arabia, walaupun di musim libur tunjangan itu tetap diberikan kepada setiap mahasiswa. baarakallahu fiykum, (MT)