Masih seputar al-ajn

October 29th 2008 by Abu Muawiah |

Masih Seputar Al-Ajn

Pertanyaan:
Bagaimana sebenarnya keadaan kedua telapak tangan ketika bangkit dari sujud dan ingin berdiri ke rakaat selanjutnya? Karena saya pernah ditegur oleh salah seorang teman ketika menghamparkan kedua telapak tangan untuk berdiri dalam sholat dan dia mengatakan bahwa yang sunnah adalah dengan mengepalkan kedua tangan (al-ajn). Mana yang benar dalam masalah ini? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan.

Abu Sa’id

Jawab:
Berikut kami terjemahkan ucapan Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya yang berjudul ‘Laa Jadida fi Ahkam Ash-Shalah’ hal. 47-48:
Al-ajn adalah cara seorang yang shalat untuk berdiri dari satu rakaat ke rakaat lainnya, yaitu seperti al-ajin (orang yang membuat ajn/adonan roti), yaitu dia mengepalkan kedua tangannya lalu bertumpu di atas punggung kedua telapak tangannya ketika akan berdiri dalam shalat. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan.
Ini adalah kaifiat ajam (baru), bukanlah sunnah yang disyariatkan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ucapan Ibnu Ash-Shalah -rahimahullahu Ta’ala-.
Ini adalah kaifiat yang hanya dikerjakan oleh orang yang sudah tua dalam keadaan terpaksa -bukan dengan kesengajaan- karena kaifiat ini bisa membantunya untuk bangkit (ke rakaat selanjutnya).
Kemudian, al-ajn mempunyai dua kaifiat dalam bahasa arab: Yang tersebut di atas, dan yang kedua adalah dengan menghamparkan kedua telapak tangan di atas tanah, sebagaimana yang ma’ruf dari keadaan para wanita ketika membuat adonan tepung.
Dan sejak kapan kaifiat yang tasyabbuh dengan wanita atau kaifiat yang hanya diamalkan ketika tidak sanggup, sejak kapan kaifiat seperti ini menjadi sunnah dari sunnah-sunnah al-huda?!
Itupun sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa: Sebenarnya lafazh haditsnya adalah, “Seperti kaifiat al-ajiz (orang yang lemah),” tapi huruf zai dan nun tertukar karena miripnya pola penulisan antara keduanya.
Itupun hadits yang menerangkan sunnahnya al-ajn adalah hadits yang lemah lagi tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Tidak diamalkannya kaifiat ini di zaman-zaman sebelum kita merupakan cacat yang merusak keshahihannya. Saya telah menjelaskan masalah ini dalam tulisan tersendiri yang berjudul ‘Kaifiat Turun Dalam Shalat dan Lemahnya Hadits Al-Ajn.” Selesai ucapan beliau

Silakan lihat penjelasan lemahnya hadits al-ajn di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=735

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, October 29th, 2008 at 10:53 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Masih seputar al-ajn”

  1. muhsin al jakarty said:

    Ustadz.? artikel ini bisa: [kirim ke teman]ga’?? spy makin banyak saudara-saudara kita yang mendapatkan manfaatnya
    barokallohufikum
    ________
    admin:
    Tafadhdhal, wabarakallahu fikum