Lafazh Salam Dalam Shalat

March 24th 2010 by Abu Muawiah |

8 Rabiul Akhir

Lafazh Salam Dalam Shalat

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash -radhiallahu anhu- dia berkata:
كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ
“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi salam ke arah kanan dan kiri  (dalam shalat) hingga aku melihat putihnya pipi beliau.” (HR. Muslim no. 582)
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
“Bahwasanya beliau mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan: “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH, ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH (Semoga keselamatan dan rahmat Allah limpahkan kepadamu).” (HR. Abu Daud no. 845, At-Tirmizi no. 295, An-Nasai no. 1303, dan Ibnu Majah no. 906)
Dari Ali -radhiallahu anhu- dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
“Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya (dari berbicara) adalah takbir, dan penghalalannya (untuk berbicara) adalah salam.” (HR. Abu Daud no. 56, At-Tirmizi no. 3, dan Ibnu Majah no. 271)
Abu Isa (At-Tirmizi) berkata, “Hadits ini adalah yang paling shahih dan paling baik dalam permasalahan ini.”
Dari Wail bin Hujr -radhiallahu anhu- dia berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
“Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memberi salam ke arah kanan dengan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tetap atas kalian), ” dan ke arah kiri dengan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Abu Daud no. 997 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` : 2/31, 32)

Penjelasan ringkas:
Ucapan salam merupakan rukun shalat terakhir, yang dia merupakan tanda dihalalkannya semua amalan yang dilarang dalam shalat seperti berbicara, setelah sebelumnya semua amalan itu diharamkan dengan ucapan takbiratul ihram. Ketika mengucapkan salam maka disyariatkan untu memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri secara sempurna sehingga orang di belakangnya bisa melihat pipinya. Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa amalan sebagian orang dimana dia hanya menoleh sedikit ke kanan dan kiri ketika salam adalah tidak sesuai dengan sunnah.
Adapun dalam lafazhnya, maka yang asal adalah apa yang terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas, dan tidak mengapa sesekali mengamalkan apa yang tersebut dalam hadits Wail bin Hujr di atas.

Incoming search terms:

  • bacaan salam dalam shalat
  • BACAAN SALAM
  • salam dalam shalat
  • salam dalam sholat
  • bacaan salam dalam sholat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, March 24th, 2010 at 4:15 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day, Zikir & Doa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

8 responses about “Lafazh Salam Dalam Shalat”

  1. Arif Handoko said:

    Bismillah,,,
    Assalamu’alaikum. Ustadz Abu Muawiyah, Ana Arif Handoko dari Bandung. Ada yang bertanya di Group ana, begini:

    “Afwn mau tanya, soal pesan hukum masturbasi. Mengganjjal bg ana yaitu, maksud dr “budak yg dimilikinya ” apa?? Untk skrng itu hadimah? Jelaskan mengenai perbudakan pd zman Nabi, Seperti apa? Knpa boleh melayani /bersetubuh dgn majikannya.

    bgmana jika zauji bkerja di luar negeri yg pulang 3 bln skali kdng jg 6 bln skali. Mungkin zauji melakukan masturbasi. Bgmana? Walau dgn tngan sendiri. Tolong di jelaskan lg. Jzakallah khair..”

    Karena keterbatasan ilmu lah ana belum berani untuk menjawabnya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Silakan baca jawabannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1536

  2. akh husni said:

    asssalamualaikum,

    ust. ana melanjutkan pertanyaan akh arif mengenai pengertian budak dizaman rosullallah dan budak zaman sekarang, apakah pembantu rumah tangga itu disebut budak, dan budak yang halal digauli

    atas penjelasan ust jazzakallahu khoir

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak sama sekali, pembantu bukanlah budak. Pembantu sama seperti pegawai atau pekerja yang dia menerima gaji dari pekerjaannya, berbeda halnya dengan budak dimana tuannya tidak wajib memberikan upah kepadanya.

  3. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Maaf ustadz saya ingin memberi saran/masukan agar penulisan Waalaikumussalam warahmatullah yang ditulis Ustadz menjadi Wa ‘alaikumussalam warahmatullah. Maaf atas kelancangan saya,hal ini dilakukan agar tak terjadi kesalahan arti/terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sekali lagi saya mohon maaf Ustadz. Jazakallah

    Wa ‘alaikumussalam warahmatullah
    Jazakallahu khairan atas sarannya.

  4. Abu Salman said:

    Ustadz yang saya hormati, kalo boleh mengusulkan kiranya sudah mencukupi seandainya artikel-artikel yang telah ustadz tulis -jazakallah khairan- dibuat versi e-book nya dan disusun per tema seperti akidah, fiqih, dst. Tentu yang demikian akan sangat bermanfaat bagi mereka-mereka yang ingin mendapatkan faidah ilmiah dari artikel-artikel yang ditampilkan sejak kali pertama situs ini diluncurkan, baik itu mereka yang telah mengikuti situs ini dari awal, terlebih lagi untuk mereka yang baru sempat bergabung dengan situs ini beberapa waktu di tengah perjalanan situs ini berjalan(seperti ana misalnya). Semoga Allah senantiasa memudahkan urusan-urusan ustadz. Barakallahufikum…

    Jazakallahu khairan atas usulnya. Insya Allah bisa diusahakan.

  5. Akh Syam said:

    Assalamu’alaikum,

    Ust, ana mau tanya bagaimana tata cara mensholatkan jenazah dan bacaan di dalamnya.

    atas penjelasan dan jawaban jazzakallahu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Insya Allah akan kami bahas tersendiri, jazakallahu khairan atas pertanyaannya.

  6. Rijal said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum
    Ustadz, ketika sholat saya seringkali melafadzkan bacaan sholat layaknya lisan org Indonesia pada umumnya. Karena dengan begitu saya lebih bisa rileks/tenang ketimbang kalau melafadzkan bacaan dengan makhroj, tajwid,dan panajng pendek yang benar. Apakah hal tersebut diperbolehkan Ustadz? Syukron.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Selama tidak merubah makna bacaan yang kita baca, maka insya Allah itu tidak mengapa.

  7. Akh Syam said:

    Assalamu’alaykum

    Ustadz, ana mau tanya seputar qurban

    masalahnya pertama : apakah boleh ana ikut patungan untuk membeli 1 ekor sapi dengan cara tersebut masing2 membayar seharga sapi tsb dibagi kami 7 orang
    kedua : apakah boleh ana sebagai anak ikut patungan tersebut dan pada hari qurbannya diatasnamakan kepada ibu (orang tua) ana (yang ikut dalam 7 orang tersebut adalah nama orang tua ana)

    atas penjelasannya jazakallhu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Semuanya sudah dibahas di pembasan seputar udhhiyah dalam situs ini, silakan disearch.

  8. syahduuw said:

    Mohon penjelasannya,,,
    Cara salam yang benar,,,
    Baca salam dulu ( pandangan ke muka ) baru melihat ke pundak kanan atau mengucapkan salam bareng / sambil melihat pundak kanan atau bagaimana..??

    Yang mana saja boleh, tidak ada tuntunan khusus dalam masalah ini.