Kriteria Makanan Halal (2)

December 18th 2009 by Abu Muawiah |

Hukum Beberapa Jenis Makanan

Setelah memahami ketiga pendahuluan di atas, maka berikut penyebutan satu persatu makanan yang dibahas oleh para ulama beserta hukumnya masing-masing:
1.    Bangkai
Bangkai adalah semua hewan yang mati tanpa penyembelihan yang syar’iy dan juga bukan hasil perburuan.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan dalam firman-Nya:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
Dan juga dalam firmannya:
وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan”. (QS. Al-An’am: 121)
Jenis-jenis bangkai berdasarkan ayat-ayat di atas:
1.    Al-Munhaniqoh, yaitu hewan yang mati karena tercekik.
2.    Al-Mauqudzah, yaitu hewan yang mati karena terkena pukulan keras.
3.    Al-Mutaroddiyah, yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.
4.    An-Nathihah, yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya.
5.    Hewan yang mati karena dimangsa oleh binatang buas.
6.    Semua hewan yang mati tanpa penyembelihan, misalnya disetrum.
7.    Semua hewan yang disembelih dengan sengaja tidak membaca basmalah.
8.    Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah walaupun dengan membaca basmalah.
9.    Semua bagian tubuh hewan yang terpotong/terpisah dari tubuhnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid secara marfu’:
مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ مَيْتَةٌ
“Apa-apa yang terpotong dari hewan dalam keadaan dia (hewan itu) masih hidup, maka potongan itu adalah bangkai”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy dan dishohihkan olehnya)
Diperkecualikan darinya 3 bangkai, ketiga bangkai ini halal dimakan:
1.    Ikan, karena dia termasuk hewan air dan telah berlalu penjelasan bahwa semua hewan air adalah halal bangkainya kecuali kodok.
2.    Belalang. Berdasarkan ucapan Ibnu ‘Umar yang memiliki hukum marfu’:
أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ, وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
“Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dan adapun kedua darah itu adalah hati dan limfa”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
3.    Janin yang berada dalam perut hewan yang disembelih. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i, bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
“Penyembelihan untuk janin adalah penyembelihan induknya”.
Maksudnya jika hewan yang disembelih sedang hamil, maka janin yang ada dalam perutnya halal untuk dimakan tanpa harus disembelih ulang.

2.    Darah.
Yakni darah yang mengalir dan terpancar. Hal ini dijelaskan dalam surah Al-An’am ayat 145:
أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا
“Atau darah yang mengalir”.
Dikecualikan darinya hati dan limfa sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang baru berlalu. Juga dikecualikan darinya darah yang berada dalam urat-urat setelah penyembelihan.

3.    Daging babi.
Telah berlalu dalilnya dalam surah Al-Ma`idah ayat ketiga di atas. Yang diinginkan dengan daging babi adalah mencakup seluruh bagian-bagian tubuhnya termasuk lemaknya.

4.    Khamar.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Ma`idah: 90)
Dan dalam hadits riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu’:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
“Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua khamar adalah haram”.
Dikiaskan dengannya semua makanan dan minuman yang bisa menyebabkan hilangnya akal (mabuk), misalnya narkoba, ganja, dan semacamnya.

5.    Semua hewan buas yang bertaring.
Sahabat Abu Tsa’labah Al-Khusyany -radhiallahu ‘anhu- berkata:
أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ
“Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim darinya dengan lafazh, “Semua hewan buas yang bertaring maka memakannya adalah haram”.
Yang diinginkan di sini adalah semua hewan buas yang bertaring dan menggunakan taringnya untuk menghadapi dan memangsa manusia dan hewan lainnya. Lihat Al-Ifshoh (1/457) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).
Jumhur ulama berpendapat haramnya berlandaskan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya.
[Asy-Syarhul Kabir (11/66), Mughniyul Muhtaj (4/300), dan Syarh Tanwiril Abshor ma’a Hasyiyati Ibnu ‘Abidin (5/193)]

6.    Semua burung yang memiliki cakar.
Yang diinginkan dengannya adalah semua burung yang memiliki cakar yang kuat yang dia memangsa dengannya, seperti: elang dan rajawali. Jumhur ulama dari kalangan Imam Empat -kecuali Imam Malik- dan selainnya menyatakan pengharamannya berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-:
نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، وَكُلُّ ذِيْ مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
“Beliau (Nabi) melarang untuk memakan semua hewan buas yang bertaring dan semua burung yang memiliki cakar”. (HR. Muslim)
[Al-Majmu’ (9/22), Al-Muqni’ (3/526,527), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499)]

7.    Jallalah.
Dia adalah hewan pemakan feses (kotoran) manusia atau hewan lain, baik berupa onta, sapi, dan kambing, maupun yang berupa burung, seperti: garuda, angsa (yang memakan feses), ayam (pemakan feses), dan sebagian gagak. Lihat Nailul Author (8/128).
Hukumnya adalah haram. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad -dalam satu riwayat- dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Syafi’iyah, mereka  berdalilkan dengan hadits Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah dan dari meminum susunya”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`i (3787))
Beberapa masalah yang berkaitan dengan jallalah:
1.    Tidak semua hewan yang memakan feses masuk dalam kategori jallalah yang diharamkan, akan tetapi yang diharamkan hanyalah hewan yang kebanyakan makanannya adalah feses dan jarang memakan selainnya. Dikecualikan juga semua hewan air pemakan feses, karena telah berlalu bahwa semua hewan air adalah halal dimakan. Lihat Hasyiyatul Al-Muqni’ (3/529).
2.    Jika jallalah ini dibiarkan sementara waktu hingga isi perutnya bersih dari feses maka tidak apa-apa memakannya ketika itu. Hanya saja mereka berselisih pendapat mengenai berapa lamanya dia dibiarkan, dan yang benarnya dikembalikan kepada ukuran adat kebiasaan atau kepada sangkaan besar. Lihat Al-Majmu’ (9/28).
[Al-Muqni’ (3/527,529), Mughniyul Muhtaj (4/304), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499-500)]

8.    Keledai jinak (bukan yang liar).
Ini merupakan madzhab Imam Empat kecuali Imam Malik dalam sebagian riwayat darinya. Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ الله ورسوله يَنْهَيَاكُمْ عَنْ لُحُوْمِ ِالْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian untuk memakan daging-daging keledai yang jinak, karena dia adalah najis”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Diperkecualikan darinya keledai liar, karena Jabir -radhiallahu ‘anhu- berkata:
أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرٍ اَلْخَيْلَ وَحُمُرَ الْوَحْشِ ، وَنَهَانَا النبي صلى الله عليه وسلم عَنِ الْحِمَارِ الْأَهْلِيْ
“Saat (perang) Khaibar, kami memakan kuda dan keledai liar, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang kami dari keledai jinak”. (HR. Muslim)
Inilah pendapat yang paling kuat, sampai-sampai Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan, “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama zaman ini tentang pengharamannya”. Lihat Al-Mughny beserta Asy-Syarhul Kabir (11/65).
[Al-Bada`i’ (5/37), Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni’ (3/525), dan Al-Bidayah (1/344].

9.    Kuda.
Telah berlalu dalam hadits Jabir bahwasanya mereka memakan kuda saat perang Khaibar. Semakna dengannya ucapan Asma` bintu Abi Bakr -radhiallahu ‘anhuma-:
نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَاهُ
“Kami menyembelih kuda di zaman Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- lalu kamipun memakannya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Maka ini adalah sunnah taqririyyah (persetujuan) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.
Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah, serta merupakan pendapat Muhammad ibnul Hasan dan Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah. Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ath-Thohawy sebagaimana dalam Fathul Bary (9/650) dan Imam Ibnu Rusyd dalam Al-Bidayah (1/3440).
[Mughniyul Muhtaj (4/291-291), Al-Muqni’ beserta hasyiyahnya (3/528), Al-Bada`i’ (5/18), dan Asy-Syarhus Shoghir (2/185)]

10.    Baghol.
Dia adalah hewan hasil peranakan antara kuda dan keledai. Jabir -radhiallahu ‘anhuma- berkata:
حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم – يَعْنِي يَوْمَ خَيْبَرٍٍ – لُحُوْمَ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ الْبِغَالِ
“Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak dan daging baghol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzy)
Dan ini (haram) adalah hukum untuk semua hewan hasil peranakan antara hewan yang halal dimakan dengan yang haram dimakan.
[Al-Majmu’ (9/27), Ays-Syarhul Kabir (11/75), dan Majmu’ Al-Fatawa (35/208)].

11.    Anjing.
Para ulama sepakat akan haramnya memakan anjing, di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwa anjing termasuk dari hewan buas yang bertaring yang telah berlalu pengharamannya. Dan telah tsabit dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:
إِنَّ الله إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu maka Dia akan mengharamkan harganya “.
Maksudnya diharamkan menjualnya, menyewanya, dan seterusnya dari bentuk tukar-menukar harga.
Dan telah tsabit dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshory riwayat Al-Bukhary dan Muslim dan juga dari hadits Jabir riwayat Muslim akan haramnya memperjualbelikan anjing.

12.    Kucing baik yang jinak maupun yang liar.
Jumhur ulama menyatakan haramnya memakan kucing karena dia termasuk hewan yang bertaring dan memangsa dengan taringnya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Fauzan. Dan juga telah warid dalam hadits Jabir riwayat Imam Muslim akan larangan meperjualbelikan kucing, sehingga hal ini menunjukkan haramnya.
[Al-Majmu’ (9/8) dan Hasyiyah Ibni ‘Abidin (5/194)]

13.    Monyet.
Ini merupakan madzhab Syafi’iyah dan merupakan pendapat dari ‘Atho`, ‘Ikrimah, Mujahid, Makhul, dan Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Dan monyet adalah haram, karena Allah -Ta’ala- telah merubah sekelompok manusia yang bermaksiat (Yahudi) menjadi babi dan monyet sebagai hukuman atas mereka. Dan setiap orang yang masih mempunyai panca indra yang bersih tentunya bisa memastikan bahwa Allah -Ta’ala- tidaklah merubah bentuk (suatu kaum) sebagai hukuman (kepada mereka) menjadi bentuk yang baik dari hewan, maka jelaslah bahwa monyet tidak termasuk ke dalam hewan-hewan yang baik sehingga secara otomatis dia tergolong hewan yang khobits (jelek)”. Lihat Al-Muhalla: (7/429)

Incoming search terms:

  • makalah binatang halal
  • Apakah burung yang mati karna di tembak halal dimakan? Jelaskan!
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 18th, 2009 at 1:53 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

10 responses about “Kriteria Makanan Halal (2)”

  1. abu al-'abbas said:

    afwan,, poin no. 9 kuda,, mengapa dikategorikan dalam makanan yang dimana poin-poin sebelum dan sesdahnya haram dimakan,,

    Di sini kami hanya menyebutkan sebagian hewan yang dibahas oleh para ulama tanpa memperhatikan dia halal atau haram dimakan. Maksudnya kami tidak terbatas hanya menyebutkan yang haram saja atau yang halal saja. Karenanya di antara hewan yang kami sebut ada yang halal dimakan dan sebagian lainnya tidak halal dimakan. Semoga bisa dipahami.

  2. Ibnu 'Ali said:

    assalmu’alaikum,
    ustadz, kalau kuda poni halal atau haram??

    Waalaikumussalam.
    Halal insya Allah.

  3. Abu Auza'i said:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Afwan ya Ustadz, tertulis di atas dengan lafadz sepثrti ini:
    كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

    Memang ada riwayat yang seperti ini, atau seharusnya yang tertulis adalah:

    كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
    atau dengan lafadz
    كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

    بارك الله فيكم يا أستاذ

    Jazakallahu khairan atas ralatnya. Betul lafazh seharusnya dalam riwayat Muslim adalah:
    كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
    “Setiao yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. (HR. Muslim no. 2003)
    Dan ada juga dengan lafazh:
    كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
    “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram.” (HR. Muslim no. 2003)

  4. HUNGRYMANN said:

    PAK UST KADANG2 KAN ADA MAKANAN YANG SUDAH TERKENAL TAPI TIDAK TAHU HALAL / HARAM
    SEPERTI REGAL MARIE BISCUIT
    APA ITU HARAM / HALAL? KARNA SERTIFIKAT MUI NYA GAK ADA
    TETAPI ITU SUKA MENJADI CEMILAN DIRUMAH SAKIT?
    APALAGI BAYI2 MAKAN BISKUIT ITU
    KARNA SUDAH TERKENAL
    KOMPOSISINYA SIH: TEPUNG TERIGU,LEMAK NABATI, DLL TIDAK ADA INDIKASI HEWAN SEPERTINYA
    JADI GIMANA KALO YANG GAADA SERTIFIKAT HALALNYA?

    Insya Allah sudah cukup dengan mengetahui komposisinya. Jika semuanya halal maka memakannya juga halal.

  5. yeni said:

    membaca makanan halal, saya jadi ngeri juga nih pak ustad, saya tinggal di Australia,kebetulan saya tinggalnya di pulau kebanyakan toko daging disini saya yakin cara motongnya tidak baca bismilah, ada juga sih toko daging yang halal tapi untuk menuju toko tersebut saya harus naik kendaraan mobil sambung lagi ferry dan sambung lagi bis lalu sambung lagi kereta total perjalanan 3 jam jadi pulang pegi 6 jam, yang saya mau tanyakan apakah dalam keadaan seperti saya sekarang ini untuk memakan daging yg tdk halal itu apakah diperbolehkan untuk saya makan dengan hanya baca bismillaahir rahmaani rahiim atau Allaahumma baarik lanaa fimma razaqtanaa waqinna adzaabannar, apakah dengan membaca bacaan tersebut sebelum makan apakah makanan tersebut menjadi halal?,tolong beri penjelasan ustad, terimakasih.

    Asalnya, sembelihan orang kristen dan nashrani adalah halal, sampai nampak kalau dia menyembelih untuk selain Allah dan tidak menyebut nama Allah. Dan tidak ada keharusan untuk mencari tahu hal tersebut. Dari mana anda yakin bahwa yang memotongnya tidak membaca bismillah. Apakah daging tersebut mereka sendiri yang potong atau mereka membeli daging yang memang sudah dipotong dan diekspor dari luar negeri?
    Ala kulli haal, jika daging itu mereka sendiri yang menyembelih dan juga dipastikan mereka tidak menyebut nama Allah, maka dagingnya tidak boleh dimakan. Dan anda tidak diperbolehkan memakannya karena bukan dalam keadaan darurat. Kan masih banyak makanan lain yang bisa dimakan?

  6. Hukum Beberapa jenis makanan | Bantargedang said:

    […] http://al-atsariyyah.com/kriteria-makanan-halal-2.html […]

  7. Mahensi said:

    Assalamu’alaikum…
    Saya ingin bertanya unta halal atau haram?

    Waalaikumussalam.
    Jelas halal dong.

  8. retno said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…..
    mau tanya, penyebab katak haram dimakan itu apa?? apakah hanya karena katak itu hewan amphibi????

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.
    Para ulama menyebutkan bahwa sebabnya adalah karena katak itu hewan yang dilarang dibunuh. Dan semua hewan yang dilarang dibunuh maka tidak boleh memakannya.

  9. tao said:

    Assalamu’alaikum…

    menanggapi jawaban no 5 maksud dari :

    Ala kulli haal, daging itu mereka sendiri yang menyembelih dan juga dipastikan tidak menyebut nama Allah, maka dagingnya tidak haram dimakan. Dan anda tidak diperbolehkan memakannya karena bukan dalam keadaan darurat. Kan masih banyak makanan lain yang bisa dimakan?

    maka daging nya tidak haram di makan dan anda tidak diperbolehkan memakanya

    maksud nya gm ustadz, mohn penjelasan nya?

    Waalaikumussalam.
    Ya, afwan salah ketik. Sudah diralat. Jazakallahu khairan atas infonya.

  10. tao said:

    assalamualaikum..

    ustadz saya mo tanya karena sy masih bingung dalam menanggapi masalah ini

    saya dapet ceramah dr seorang ustadz melalui mp3 dan youtube ini link nya :

    http://www.youtube.com/watch?v=unD6kuVdi5I

    ceramah nya dalam bahasa sunda.. dia adalah mantan kafir,mantan misionaris nasrani,dan masuk islam kurang lebih sudah 16 thn menurut pengakuan dia. dia menjelaskan tentang makanan zaman sekarang yg hampir seluruh nya di produksi oleh orang kafir yg dahulu dia juga membuat permen permen,.

    dia menjelaskan bahwa dia berani bersumpah tembak saya sekarang di depan kalo produksi orang kafir itu tidak mengandung bahan yg di haramkan( babi, bangkai,dll)

    dia pernah di penjara gara gara mengupas masalh coklat produksi orang kafir..intinya dia menceritakan hampir seluruh makanan yg di produksi orang kafir mengandung bahan haram

    dia juga menceritakan klo perusahaan2 besar orang kafir baik di bidang makanan ato yg lain nya sebagian keuntungan nya di sumbangkan pada kaum yg memerangi islam seperti perusahaan amerika ( danone,kfc,dll)

    pertanyaanya:

    1. bagai manakah sebaik nya sikap kita terhadap apa yg di bawakan ustadz itu karena memang betul hampir setiap hari semua makanan atau minuman di dominasi produksi orang kafir
    2. apakah betul perusahaan2 besar/kecil orang kafir itu sebagian keuntungan nya di sumbangkan buat kaum yg memerangi kaum islam ? jika betul maka secara tidak langsung ketika kita beli produk mereka kita telah membunuh diri kita dan sodara sodara kita sendiri
    3. jika kedua pertanyaan di atas benar bagai mana sikap kita dalam menghadapi setiap makanan dari kaum kafir?

    mhn penjelasan nya ustadz

    Yang jelas Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah berjual beli dengan orang kafir dan beliau shallallahu alaihi wasallam pernah meminjam kepada orang kafir dengan menggadaikan baju besi beliau. Semua itu beliau lakukan padahal beliau tahu bahwa uang tersebut tentunya akan mereka gunakan untuk kesyirikan dan kekafiran mereka. Wallahu a’lam.