Keutamaan Menziarahi Kubur Nabi

June 8th 2009 by Abu Muawiah |

Keutamaan Menziarahi Kubur Nabi
-Shallallahu alaihi wasallam-

“Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji ke Ka’bah lalu dia tidak menziarahi aku maka dia telah berbuat kasar kepadaku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Adi (7/2480), Ibnu Hibban dalam Adh-Dhuafa` (2/73) dan dari jalannya, Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhuat (2/217). Semuanya dari jalan Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man bin Syabl dari kakeknya dia berkata: Malik menceritakan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’.
Ash-Shaghani membawakan hadits ini dalam Al-Ahadits Al-Maudhuah hal. 6 dan Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Maudhuah hal. 42. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan (3/237), “Hadits ini palsu.”
Cacat hadits ini adalah Muhammad bin An-Nu’man ini, Ibnu Al-Jauzi berkata tentang orang ini, “Dia meriwayatkan dari rawi-rawi tsiqah, hadits-hadits yang sangat jelek dan meriwayatkan dari rawi-rawi yang kuat hafalannya, hadits-hadits yang maqlub (terbalik).” Ad-Daraquthni berkata, “Cacat dalam hadits ini adalah Muhammad bin Muhammad bin An-Nu’man.”
[Diringkas dari Adh-Dhaifah (1/119/no. 45) karya Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah-]

Hadits kedua:

“Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji lalu dia menziarahi kuburku setelah kematianku, maka dia bagaikan orang yang mengunjungiku ketika aku masih hidup.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (3/203/2), Ad-Daraquthni (hal. 279) dan Al-Baihaqi (5/246), semuanya dari jalan Hafsh bin Sulaiman Abu Amr dari Al-Laits bin Abi Sulaim dari Mujahid dari Abdullah bin Umar secara marfu’.
Sanad hadits ini dhaifun jiddan (lemah sekali) karena di dalamnya ada dua cacat:
1. Laits bin Abi Sulaim adalah rawi yang lemah karena hafalannya telah rusak di akhir hidupnya.
2. Hafsh bin Sulaim ini adalah Al-Qari`. Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).” Bahkan Ibnu Main berkata, “Dia adalah seorang pendusta.”

[Diringkas dari Adh-Dhaifah (1/120/no. 47) karya Al-Albani -rahimahullah-]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, June 8th, 2009 at 9:22 pm and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Keutamaan Menziarahi Kubur Nabi”

  1. Ummu Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    Bgm hukumnya sholat didepan makam Rasulullah Salallahu’alihi Wassalam ketika haji/umrah?
    Dan amalan apa jk berada dimakam Rasulullah Salallahu’alihi Wassalam,apakah sama spt ketika qta melewati kubur atau ada amalan khusus?
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    Bagaimana bisa, bukankah tidak mungkin seseorang shalat menghadap ke kubur beliau? “Oleh karena itu dibuatkan 3 dinding yang mengelilingi kuburan tersebut dan dindingnya dijadikan menyimpang dari arah kiblat yaitu dengan bentuk segitiga, sudutnya ditempatkan pada sudut utara masjid, dimana seseorang yang shalat tidak akan menghadap ke kuburan tersebut karena posisi dindingnya yang menyimpang (dari arah kiblat). (Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabittauhid, 1/398-399).
    Amalannya sama seperti pada kuburan lainnya.