Kerja di Toko Jual Beli Elektronik

January 13th 2010 by Abu Muawiah |

Kerja di Toko Jual Beli Elektronik

Tanya:
bismillah
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
saya seorang yang pemula dalam dakwah ini saya ingin bertanya masalah hukum bekerja pada toko electronic yang menjual segala macam electronic yaitu tv,kulkas,mesin cuci dan lain lain tolong penjelasanya ustadz.
“muhidin” <muhidin_a81@yahoo.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Insya Allah tidak ada masalah karena semua barang yang diperdagangkan adalah barang-barang yang asalnya boleh diperjualbelikan. Hanya saja yang lebih penting dibahas di sini adalah hukum seorang muslim bekerja pada orang kafir, mengingat kebanyakan pemilik took elektronik adalah orang kafir dan para pesuruhnya adalah orang muslim. Dalam keadaan seperti ini tidak sepantasnya seorang muslim merendahkan dirinya kepada orang kafir, apalagi sampai bersandar kepadanya dalam hal rezeki. Hal itu karena seorang muslim jauh lebih mulia dibandingkan orang kafir, dan Allah tidak membolehkan seorang muslim dikuasai oleh orang kafir.

Karenanya walaupun hukum asalnya diperbolehkan seseorang bekerja kepada orang kafir, akan tetapi untuk menjaga hatinya jangan sampai condong kepada mereka, maka kami nasehatkan untuk tidak menjadi bawahan/pesuruh secara langsung dari orang kafir. Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • sistem kerja di toko elektronik
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, January 13th, 2010 at 5:55 am and is filed under Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

10 responses about “Kerja di Toko Jual Beli Elektronik”

  1. Abul Laits said:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    “maka kami nasehatkan untuk tidak menjadi bawahan/pesuruh secara langsung dari orang kafir.” pada kalimat tersebut, kata “secara langsung” ditebalkan, Apakah bisa dijelaskan maksud dari “secara langsung”?

    Jazaakumullahu katsiron.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Maksudnya, jika seseorang bekerja pada perusahaan besar yang punya adalah orang kafir, akan tetapi yang menjadi direktur atau yang membawahinya secara langsung adalah orang muslim. Yang seperti ini insya Allah tidak mengapa, karena kerendahan dan ketundukan dia kepada orang kafir tidaklah nampak.
    Tapi tentunya syarat yang kami sebutkan di atas tetap berlaku walaupun pimpinannya muslim, yaitu tidak boleh bersandar penuh kepadanya dalam hal penghasilan.

  2. Arni Sri Anggraeny said:

    Aswrwb, kami telah beli rumah, di sekeliling rmh tsbt di benteng tembok beton yang tinggi2… dgn bangga nya si penjual menunjukan beton2 itu…pada saat transaksi itu terjadi, si penjual mengatakan bahwa jual beli ini meliputi rmh & skelilingnya, sampai batas beton2.beberapa bln kmudian, baru ada kbr dari orng lain bahwa salah satu beton itu… pondasinya bukan milik si penjual mlainkan milik tetangga yg lain….kami tidak rela dngan jual beli itu, krn mrasa si penjual tidak jujur! kami menuntut hak atas pondasi itu pada si penjual, tapi si penjual malah berkelit, dia tidak mengatakan hal yang sbenarnya pada saat jual beli itu krn dia merasa selama dia tempati rmh itu tidak ada masalah dngn si pemilik pondasi beton, yang ingin kami tanyakan, bgm hukum jual beli seperti ini dlm kacamata islam? salahkah kami kalo kami menuntut hak atas pondasi itu pada si penjual…?mohon di kaji, syukrun, jazakumulloh khoiron katsiro….

    Antum tentu saja tidak bisa menuntut hak atas pondasi itu karena yang bermasalah di sini adalah penjualnya yang telah menjual sesuatu yang bukan miliknya.
    Maka di sini antum punya beberapa pilihan:
    1. Meminta kembali sebagian uang antum yang senilai dengan pondasi yang bukan menjadi milik pemilik rumah itu, dan kepemilikan pondasi tetap pada tetangga yang punya. Dengan kata lain antum hanya membayar untuk rumah dan dinding sekitarnya kecuali dinding yang bukan pemilik pemilik rumah.
    2. Antum bisa membatalkan jual beli rumah itu kalau antum tidak ridha dengan ketidakjujurannya.
    3. Atau antum ridha dengan jual beli rumah tanpa dinding tersebut, yakni antum dizhalimi dalam jual beli tersebut.
    Pilihannya kembali ke antum, wallahu a’lam.

  3. abu abdillah said:

    Assalamualaykum..
    Kebetulan ana juga memiliki permasalahan yang sejenis.. Ana sedang bermuamallah membeli rumah, ana sudah bayar separuh harga dan separuhnya lagi diselesaikan saat proses balik nama sertifikat.. Namun sifat rumah yang ana beli ternyata berbeda dengan sifat yang diterangkan saat pembayaran pertama, luas tanah berbeda dan fasilitas yang ada juga berbeda.. Rumah tersebut suadah ana tempati selama 4 bulan.. Setelah ana tanyakan kepada notaris, ternyata proses balik nama memakan waktu yang cukup panjang karena tanah tersebut terdapat sedikit masalah.. Apa yang harus ana lakukan ustadz? karena setelah ana tabayyun dengan rumah sekitar dengan penjual yang sama, terdapat informasi bahwa penjual ini tidak jujur dan susah mengembalikan uang yang sudah masuk apabila ada pembeli yang batal..
    Jazakummullah khoiron…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Menurut ana antum juga tinggal memilih salah satu dari 3 pilihan pada kasus saudari Arni di atas. Wallahu a’lam

  4. abu abdillah said:

    lalu jika ana batal, uang tidak kembali.. kalau terus ana juga terdholimi karena sifat barang tidak sesuai akad.. Bolehkah ana doakan kejelekan kepada si penjual?

    Ala kulli hal, syariat menunjukkan dikabulkannya doa orang yang terzhalimi, jika terpenuhi semua syarat doa dan tidak ada faktor yang meyebabkan doanya tertolak. Karenanya syah2 saja seorang yang dizhalimi mendoakan kejelekan atas yang menzhaliminya, akan tetapi jika doanya memang mustajabah, kenapa dia tidak mendoakan orang tersebut mendapatkan hidayah?

  5. abubaihaqi said:

    Assalamu’alaikum kaifahal ustadz?..

    Berkaitan dg masalah diatas, bagaimana hukum seseorang yang memiliki atasan langsung dalam suatu perusahaan seorang nasrani, akan tetapi atasan dari atasan yang nasrani tersebut muslim,begitu juga direktur dan pemilik perusahaan tersebut adalah muslim? mohon pencerahannya ustadz..
    Jazakallahu khairan..

    Abu Baihaqi-tambun

    Waalaikumussalam warahmatullah. Bikhairin walhamdulillah
    Insya Allah tidak bermasalah, karena keduanya (dia dan atasannya) sama-sama bekerja pada orang muslim. Dan tentunya ada perbedaan antara pegawai dengan kasus dalam pertanyaan di atas, dimana nampak sekali dia diperintah dan disuruh2 orang kafir, sehingga nampak betul dia direndahkan. Adapun pada perkantoran atau pabrik, maka hal semacam ini tidaklah terlalu nampak, wallahu a’lam.
    Ala kulli hal, siapapun atasannya, dia tidak boleh menyandarkan harapan penghasilannya kepada atasannya itu.

  6. Abu Fauzan said:

    Assalamualaykum..
    Kembali ke pertanyaan awal ttg bekerja pada toko electronic, dimana barang2 yg dijual ada untuk sarana ke perbuatan maksiat misal TV, VCD Player, tape, dll. Apakah ini bukan termasuk tolong-menolong dlm perbuatan maksiat?
    Jazakallahu khairan..

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Seperti yang disebut dalam pertanyaan, di situ bukan hanya menjual TV, tapi juga menjual kulkas, mesin cuci. Dan sudah masyhur di situ juga biasanya menjual AC, kipas angin, dan seterusnya dari alat2 elektronik. Maka kita tidak bisa mengharamkan secara mutlak dia bekerja di situ. Paling tinggi kita katakan, dia haram jika menjual elektronik yang haram dan halal jika menjual elektronik yang halal.
    Hanya saja di sini akan muncul pertanyaan baru: Bagaimana dengan hukum menjual HP, komputer, modem, jasa internet, dan seterusnya. Yang mana sudah banyak contoh dan kenyataan yang menunjukkan bagaimana pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh HP, komputer, modem, dan internet jauh lebih merusak daripada TV. Dan pengguna keempat produk ini untuk kejelekan jauh lebih banyak daripada yang menggunakannya untuk kebaikan. Apakah ini berarti ketika kita membelinya berati telah tolong menolong dalam kemaksiatan.
    Karenanya dalam hal ini ana berpendapat bahwa asal memperjualbelikan alat-alat elektronik adalah mubah. Jika pembelinya menggunakannya untuk maksiat maka tentunya itu masalah lain yang tidak berhubungan dengan penjualnya. Allahumma kecuali yang jelas-jelas akan menggunakannya untuk maksiat, semisal menjual senjata saat perang saudara dan menjual anggur kepada produsen khamar, maka kedua jual beli ini dan semacamnya tidak diperbolehkan. Dan mungkin bisa juga dimasukkan ke dalamnya jual beli TV bagi yang berpendapat haramnya gambar 2 dimensi secara mutlak. Wallahu a’lam

  7. Abdullah said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Afwan mau tanya, apa hukum jual beli MP3 Player kepada orang awam?
    Jazakumullahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Tidak mengapa insya Allah

  8. Abu Muhammad said:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ana mau tanya ustadz, apa hukum bekerja di perusahaan PJTKI? Karena didalamnya kadang mengirimkan TKW tanpa mahrom, walaupun ada pengiriman TKI laki2 juga?? Sebelum berangkat, ada pelatihan untuk calon TKI sebelum diberangkatkan…

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Jika yang diberangkatkan itu lelaki maka insya Allah tidak mengapa. Tapi jika wanita maka dia telah bekerja sama dalam dosa dan permusuhan. Karenanya sebaiknya pekerjaan ini ditinggalkan.

  9. soleh said:

    Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

    Ustad yang terhormat, ana mohon izin copy artikelnya buat pelajaran

    Wa’alaikumussalam Warrahmatullahi Wabarakatuh
    tafadhdhal

  10. Ibnu At-Tamini said:

    Bismillah,
    Assalamu’alaykum Warohmatullohi wabarokaatuh,

    Ustadz yg semoga selalu dirahmati Allah, ana ada permasalahan ttg kerjasama dgn org kafir. ana kebetulan bekerja dlm bidang konsultan IT. ana dpt tawaran proyek utk membuat sistem informasi website & jaringan komputer pada suatu universitas, yg mana nama universitas tsb ada nama kristen nya. jurusan ilmu yg mereka ajarkan jg sama spt universitas pd umumnya. kami tdk melihat adanya ilmu yg mengajarkan ilmu2 kristen atau semisalnya. ana cek di website kami mendapati visi dan misi mereka yaitu “Menyelenggarakan pendidikan tinggi berkualitas yang didasarkan pada nilai-nilai Kristiani untuk menghasilkan profesional mandiri”. bagaimana hukum kerjasama spt ini ustadz, apakah boleh kami tetap teruskan seperti dalam dalil rasulullah pernah menjual baju besinya kpd org yahudi ? mohon jawabannya ya ustadz. Jazaakumullahu khairan wa baarakallahu fiykum

    Waalaikumussalam Warohmatullohi wabarokaatuh,
    Ya, muamalah seperti ini insya Allah boleh dan silakan diteruskan. Dalilnya seperti yang antum sebutkan di atas.