Kepada Pengingkar Kebangkitan & Barzakh

February 7th 2010 by Abu Muawiah |

Kepada Pengingkar Kebangkitan & Barzakh

Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari Akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara’, indera, dan akal.
A. Bukti Syara’
Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Sekali-kali tidak, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian amalkan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Ath-Taghabun: 7)
Semua kitab-kitab suci samawi telah sepakat tentang adanya hari kebangkitan.

B. Bukti Inderawi
Allah Ta’ala telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini. Dalam surat Al-Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini:
1. Allah Ta’ala berfirman tentang Israil, “Dan (ingatlah), ketika kalian berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami bisa melihat Allah dengan terang,” karena itu kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, agar kalian bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 55-56)

2. Allah Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah) ketika kalian membunuh seorang manusia, lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkap apa yang kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian mengerti”. (QS. Al-Baqarah: 72-73)

3. Allah Ta’ala juga menyatakan dalam firman-Nya, “Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang keluar dari negeri mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut akan mati. Maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kalian semua,” kemudian  Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 243)

4. Juga di dalam firman-Nya, “Atau apakah (kamu melihat) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya (hancur). Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancurnya?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidukannya kembali.” (QS. Al-Baqarah: 259)

5. Dan juga dalam kisah Ibrahim -alaihissalam- dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati,” Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.” Allah berfirman, “(Kalau demikian), ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera.” (QS. Al-Baqarah: 260)

C. Bukti Akal (Logika)
Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian.
1. Allah Ta’ala sebagai pencipta langit dan bumi serta semua isinya telah menciptakannya pertama kali. Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk mengembalikannya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya”. (QS. Ar-Rum: 27)
Allah Ta’ala juga berfirman, “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya”. (QS. Al-Anbiya‘: 104)

2. Bumi yang mati dan tandus akan hidup kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun hujan. Yang mampu untuk menghidupkannya setelah mati, dan yang mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati itu sudah pasti Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa lagi Maha Berkehendak. Allah Ta’ala berfirman, “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya dia akan bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Fushshilat: 39)

Orang yang ingkar kepada siksa kubur dan kenikmatannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur itu dibongkar akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’, indera, dan akal.
A. Dalil Syara’
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- bahwa dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari salah satu kebun kota Madinah. Lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu karena tidak memelihara buang air kecil (kencing sembarangan), dan yang satunya lagi karena mengadu domba.

B. Dalil Inderawi
Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenang-senang di situ. Atau terkadang dia juga mimpi berada di tempat yang sempit, menyedihkan, dan menyakitkan. Terkadang seseorang bisa terbangun karena mimpinya itu, padahal dia berada di atas tempat tidurnya. Tidur adalah saudara kematian. Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan ‘wafat’, seperti dalam firman-Nya, “Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya dan (mewafatkan) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan (jiwa) orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu ditentukan”. (QS. Az-Zumar: 42)

C. Dalil Akal
Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi dia mimpi melihat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan sifat beliau. Dan barangsiapa yang bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka berarti dia telah melihatnya dengan sebenar-benarnya. Padahal pada waktu itu dia ada di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, jauh dari yang dia mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat?

Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur itu digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit, maka jawabannya:
1. Apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang mempertentangkan itu mau berpikir tentang apa yang dibawa oleh syara’, dia pasti akan mengetahui kebatilan kesalahan pahamannya itu.

2. Keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera. Karena jika hal itu dapat dijangkau oleh indera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan akan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari, dalam mempercayainya.

3. Siksa kubur, nikmat kubur, luasnya kubur, dan sempitnya kubur hanya dapat dirasakan oleh si mayit itu sendiri, bukan orang lain. Ini seperti yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit yang menakutkan, atau di tempat yang luas dan menyenangkan, padahal orang lain melihatnya tidur, tidurnya tidak berubah, masih di dalam kamar, dan di atas tempat tidurnya.
Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengarkan wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Kadang wahyu itu diturunkan dengan cara malaikat menjelma menjadi seorang lelaki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.

4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah dengan tasbih yang sebenarnya, yang terkadang Allah perdengarkan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Meskipun demikian hal itu terhalang dari kita. Allah Ta’ala berfirman, “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)
Demikian halnya dengan setan dan jin yang mondar-mandir di bumi. Meski demikian, mereka tidak terlihat oleh kita. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Dia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sungguh, dia dan pengikutnya melihat kalian dari arah yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-A’raf: 27)

Maka apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.

[Diterjemah ulang dan diringkas dari Syarh Ushul Al-Iman karya Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahullah-]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, February 7th, 2010 at 3:29 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Kepada Pengingkar Kebangkitan & Barzakh”

  1. Kepada Pengingkar Kebangkitan & Barzakh « Ibnu Ali Bajry said:

    […] Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1843 […]