Kekalnya Surga dan Neraka

May 19th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
Bismillah. Ustadz hafizhakallah. Mau tanya: Apakah dalam surah Hud 107-108 Allah berfirman:
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيد- وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Apakah dalam kedua ayat diatas bisa dipahami bahwa akhirat itu tidak kekal?
Mohon penjelasannya tentang ayat ini. Baarokallahu fiykum.

Jawab:
Sama sekali tidak. Para ulama telah bersepakat bahwa akhirat beserta semua di dalamnya seperti surga dan neraka adalah kekal, tidak akan binasa selama-lamanya. Dan dalil-dalil akan hal ini sangat lah banyak dan masyhur.

Adapun ayat di atas dan yang semakna dengannya, maka hanya orang-orang Jahmiah atau yang mengikuti mazhab mereka yg menjadikannya sebagai dalil akan tidak kekalnya surga dan neraka. Hal itu karena mazhab mereka dalam hal ini memang seperti itu, yakni surga dan neraka tidak kekal.

Adapun penafsiran ayat di atas, maka para ulama ahlussunnah telah menjelaskannya dalam buku-buku tafsir mereka. Mereka menjelaskan bahwa ayat di atas tidaklah seperti yang disangka oleh Jahmiah. Di antara ulama yg menjelaskan maknanya adalah Imam Ibnu Jarir ath Thabari dan al Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsir keduanya, dan juga Imam Ibnu al Jauzi dlm Zàd al Masìr.

Berikut kesimpulan tafsir ayat di atas yang kami ringkas dari Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah:

A. Adapun maksud kalimat: (selama ada langit dan bumi). Maka ada 2 penafsiran di sini:
1. Kalimat itu bermakna surga dan neraka kekal selamanya, bukan bermakna surga dan neraka hanya ada selama langit dan bumi masih ada.
Hal itu karena orang-orang Arab biasa menggunakan kalimat di atas sebagai kiasan untuk menunjukkan sesuatu yg kekal. Seperti ucapan mereka:
هذا دائم دوام السموات واﻷرض
“Ini kekal sekekal langit-langit dan bumi.”
Atau kalimat:
هذا باق ما اختلف اليل والنهار
“Ini tetap ada selama malam dan siang masih silih berganti.”
Kedua kalimat di atas adalah kiasan untuk menunjukkan kekalnya sesuatu itu.
Sehingga makna ayat dlm surah Hud di atas adalah: Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

2. Jawaban kedua dikatakan:
Memang surga dan neraka akan tetap ada selama langit dan bumi masih ada, namun yang dimaksud dengan langit dan bumi di sini bukanlah langit dan bumi yang kita kenal sekarang. Namun yang dimaksud di sini adalah jenis langit dan bumi yang notabene akan selalu ada selamanya.
Hal itu krn pd hari kiamat, langit dan bumi akan tetap ada, walaupun tentunya bukan langit dan bumi yg kita kenali sekarang. Karena pada hari kiamat, setelah hancurnya langit dan bumi kita ini, Allah Ta’ala akan menggantinya dengan bumi dan langit yang lain. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ ۖ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (QS. Ibrahim: 48)

Bahkan ada atsar dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang menyatakan bahwa setiap surga itu mempunyai langit dan buminya masing-masing. Atsarnya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya. Wallahu a’lam

B. Adapun kalimat: (kecuali jika Tuhanmu menghendaki).
Maka ada beberapa penafsiran di kalangan ulama.
Namun penafsiran yg paling masyhur adalah apa yang dinisbatkan oleh Ibnu Jarir kpd adh Dhahhàk, Khàlid bin Ma’dàn,  Qatàdah, dan Ibnu Sinàn, serta dinisbatkan juga oleh Ibnu Abi Hatim kpd al Hasan dan Ibnu Abbas. Yaitu bahwa:
Pengecualian ini berlaku bagi para pelaku maksiat dari ahli tauhid. Maksudnya bahwa semua yang masuk ke dalam neraka akan kekal di dalamnya kecuali mereka yang masih bertauhid, karena Allah menghendaki mereka akan keluar nantinya.
Demikian halnya pengecualian yang terdapat dalam penyebutan surga. Yang dimaksud adalah para pelaku dosa besar yang disiksa di neraka dahulu sebelum masuk ke dalam surga. Sehingga maksudnya: Penghuni surga akan berada di dalam surga selamanya, kecuali pelaku maksiat yang Allah takdirkan masuk neraka dahulu. Mereka tidak kekal di surga dalam artian karena mereka tidak masuk surga dari sejak awal. Adapun setelah mereka masuk ke dalam surga, maka mereka akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya selamanya.

Demikian penafsiran ringkas dari ayat di atas, wallahu a’lam bishshawab.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, May 19th, 2014 at 9:17 pm and is filed under Aqidah, Dari Grup WA, Ilmu al-Qur`an, Syubhat & Jawabannya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.