Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?

October 3rd 2008 by Abu Muawiah |

Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?

Tanya:
Apakah dalil tentang merapatkan kedua tumit ketika sujud, itu shahih?
08164632795

Jawab:
Syaikh Bakar Abu Zaid -hafizhahullahu Ta’ala- berkata:
“Masalah yang kedua: Menggabungkan kedua tumit dalam sujud.
Masalah ini diberikan judul seperti ini, kadang dengan judul “Merapatkan kedua tumit dalam sujud,” kadang dengan, “Mengumpulkan kedua tumit,” dan kadang dengan, “Menggabungkan kedua kaki.”
Saya telah memeriksan ke sejumlah kitab yang masyhur dalam mazhab fiqhi yang empat mengenai keadaan kedua kaki ketika sujud, apakah dirapatkan atau dipisahkan. Akan tetapi saya tidak mendapatkan keterangan apa-apa dari mazhab Al-Hanafiah dan Al-Malikiah. Dalam mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah saya mendapatkan keterangan disunnahkannya memisahkan antara keduanya, dan Asy-Syafi’i menambahkan, “Dipisahkan dengan jarak sejengkal.”
An-Nawawi -rahimahullahu Ta’ala- berkata dalam Ar-Raudhah (1/259), “Saya berkata: Ashhab kami (Asy-Syafi’iyah) berkata: Disunnahkan untuk memisahkan antara kedua kaki.” Abu Ath-Thayyib berkata: Ashhab kami berkata: Jarak antara keduanya adalah sejengkal. (1)” Selesai
Adapun Al-Hanabilah, maka Al-Burhan Ibnu Muflih (2) -rahimahullahu Ta’ala- berkata dalam Al-Mubdi’ (1/457), “Antara kedua lutut dan kedua kakinya dipisahkan, karena jika beliau u bersujud maka beliau memisahkan antara kedua pahanya. Sedangkan Ibnu Tamim dan selainnya menyebutkan bahwa beliau menggabungkan kedua tumitnya.” Selesai”
Kemudian beliau -hafizhahullah- menjelaskan lemahnya hadits Aisyah yang mendukung pendapat Ibnu Tamim dari sisi ilmu hadits, dan keterangannya bisa dilihat di sini. Kemudian beliau berkata:
“Kesimpulannya: Asal hadits Aisyah ini terdapat dalam Shahih Muslim dan selainnya tapi tanpa lafazh, “Merapatkan kedua tumitnya,” dan hal ini tidak pernah disebutkan dalam hadits-hadits sahabat yang panjang lagi masyhur ketika mereka mengisahkan sifat shalat Nabi r. Lafazh ini, “Beliau merapatkan kedua tumitnya ketika sujud,” adalah syadz, yang Ibnu Khuzaimah -dan yang meriwayatkan darinya seperti Ibnu Hibban dan setelahnya- bersendirian dalam meriwayatkannya. Keadaan lafazh ini seperti yang Al-Hakim katakan, “Saya tidak mengetahui ada seorang pun yang menyebutkan penggabungan kedua tumit dalam sujud kecuali apa yang terdapat dalam hadits ini,” karena kalimat ini adalah hasil penelitian beliau yang menunjukkan syadz dan mungkarnya lafazh ini.” Selesai.
[Selesai nukilan dari risalah Laa Jadida fii Ahkam Ash-Shalah hal. 65-74 dengan sedikit perubahan]
______
(1)    Rujuk Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (3/373)
(2) Wafat tahun 884 H

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 3rd, 2008 at 8:54 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

14 responses about “Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud?”

  1. Abu Musthafa said:

    Assalamu’alaikum.
    Apakah hadis aisyah yg dimaksud yaitu ketika rasulullah sedang shalat malam dan memegang “kedua” tumit rasulullah? pembahasannya yg ana dengar jadi jika rasulullah tdk merapatkan kedua tumitnya maka tidak mungkin bagi aisyah untuk memegang “kedua” tumit rasulullah. Mohon penjelasannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia yang dimaksud di sini adalah hadits Aisyah dalam shalat lail. Tolong antum perhatikan lafazh haditsnya dalam Shahih Muslim yang kami sebutkan,

  2. abu uma said:

    Saya mendapati banyak pendapat antum yang berbeda dengan pendapat syaikh nasirudin al albani dalam hal shalat.

    saya bertanya-tanya mengenai kapasitas anda dan beliau, mana yang lebih berilmu dan patut diikuti.

    setahu saya, beliau dikategorikan sebagai ahli hadist dan diakui banyak ulama.

    Jelas sekali beliau adalah ahli hadits zaman ini, karenanya komentar antum ini justru merendahkan beliau tatkala diri kami yang bodoh ini dibandingkan dengan beliau. Seorang penyair pernah berkata, “Tidakkah engkau lihat kalau pedang itu berkurang ketajamannya, ketika dikatakan bahwa pedang lebih tajam daripada kayu.”
    Kami justru berjalan di belakang beliau dan mengikuti nasehat beliau. Dan di antara nasehat beliau adalah tidak boleh seorang itu bertaqlid kepada siapapun kecuali kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

  3. Fahri said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum
    Afwan Ustadz, setahu ana Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahulloh telah wafat, jadi apa tidak semestinya lafadz doa hafizhahullahu Ta’ala yang di belakang nama beliau di artikel di atas diganti diganti?

    Waalaikumussalam
    Rahimahullah dan hafizhahullah adalah doa, karenanya dia bebas untuk dipergunakan kepada siapa saja. Walaupun yang berkembang adalah rahimahullah untuk yang telah wafat dan hafizhahullah untuk yang hidup, akan tetapi itu bukanlah suatu keharusan.

  4. Shadow Uchiha said:

    Saya sudah membaca keterangan hadits ‘Aisyah ra tersebut, dan kalau meletakan tangan (dengan bentuk mufrad) diatas kedua tapak kaki beliau, maka masih ada ihtimal kalau kedua kaki tersebut bertemu satu sama lain, atau terbuka tapi jaraknya tidak terlalu jauh sehingga satu tangan cukup untuk menggapainya, mungkin dari sinilah sebagian ulama menganggap jarak antara dua kaki sekitar sejengkal, li kulli ra’sin ro’yun, waLLahu a’lam wa a’la bis shawab

  5. abul abbas said:

    afwan, ada titipan dari ust sofyan

    Ana masih ada isykal, tolong tanyakan kepada Ustadz penulis makalah di atas:

    Pertama: Walaupun bisa dibuktikan bahwa tambahan riwayat, “Dengan merapatkan kedua tumit beliau” adalah lemah. Namun masih ada sisi pendalilan yang lain, yaitu pada lafaz, “Maka tanganku jatuh di atas kedua telapak kaki beliau”. Sedang tangan Aisyah radhiyallahu’anha tentunya kecil untuk bisa menjangkau kedua kaki Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jika beliau renggangkan, maka dipahami darinya bahwa kedua kaki beliau berdekatan, atau bahkan menempel.

    Dan tangan yang dimaksud di sini -dipahami oleh sebagian ulama- adalah TELAPAK TANGAN, sebab dalam nash jika penyebutannya bermaksud seluruh tangan maka akan ada TAMBAHAN penjelasan. Misalnya nash-nash dalam wudhu, “Mencuci tangan SAMPAI KE SIKU”. Juga krn hadits tsb mencerikatakan Aisyah radhiyallahu’anha sedang mencari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan tangannya di kegelapan, tentunya beliau akan meraba-raba dengan telapak tangannya, bukan dengan seluruh tangan.

    Sisi pendalilan ini dikatakan oleh Syaikh Utsaimin rahimahulah dalam AsySyarhul Mumti’ (3/169):

    الذي يظهر مِن السُّنَّة أن القدمين تكونان مرصوصتين ، يعني : يرصُّ القدمين بعضهما ببعض ، كما في “الصحيح” من حديث عائشة حين فَقَدَتِ النَّبيَّ صلّى الله عليه وسلّم ، فوقعت يدُها على بطن قدميه وهما منصوبتان ، وهو ساجد .

    واليد الواحدة لا تقع على القدمين إلا في حال التَّراصِّ .
    وقد جاء ذلك أيضاً في “صحيح ابن خزيمة” في حديث عائشة المتقدِّم : ( أنَّ الرسولَ صلّى الله عليه وسلّم كان رَاصًّا عقبيه ) .
    وعلى هذا فالسُّنَّةُ في القدمين هو التَّراصُّ ، بخلاف الرُّكبتين واليدين

    Kedua: Pendapat jumhur ulama, yaitu merenggangkan kaki juga tidak terdapat dalil sharih -sepanjang yg ana tahu-.

    Ketiga: Ana pernah ditegur oleh seorang Syaikh ketika merenggangkan kaki, alasannya nanti aurat (yakni lutut, menurut pendapat jumhur) akan terlihat dari belakang. Di sini ana teringat hadits tentang terlihatnya ketiak Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika sujud, namun tidak ada hadits terlihatnya lutut beliau -sepanjang pengetahuan kami-.

    Demikian isykal dari ana, barangkali bisa jadi bahan munaqosyah ‘ilmiyah salafiyah. Wallahu A’lam.

    Jazakallahu khairan. Berikut tanggapan kami:
    1. Ucapan antum: ‘Sedang tangan Aisyah radhiyallahu’anha tentunya kecil untuk bisa menjangkau kedua kaki Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jika beliau renggangkan, maka dipahami darinya bahwa kedua kaki beliau berdekatan, atau bahkan menempel.’
    Di sini antum sendiri mengakui ada dua kemungkinan: Mungkin kedua kaki beliau berdekatan dan mungkin juga menempel. Maka kami katakan kami memilih kemungkinan pertama yaitu berdekatan, dan sudah dimaklumi bahwa berdekatan belum tentu menempel walaupun berdekatannya hanya sejarak 1 cm (misalnya).
    Jadi perlu diingat bahwa ketika kami katakan kedua kaki tidak menempel, itu bukan artinya kami berpendapat kedua kaki dijauhkan dengan jarak yang jauh. Jika kedua kaki tidak menempel tapi sudah sangat berdekatan, maka ini termasuk dalam pendapat yang kami pilih.
    Adapun ucapan Asy-Syaikh rahimahullah: واليد الواحدة لا تقع على القدمين إلا في حال التَّراصِّ
    Maka ini butuh ditinjau lagi karena kenyataan membuktikan bahwa telapak tangan bisa menyentuh kedua kaki yang jaraknya berdekatan walaupun keduanya tidak bersentuhan. Wallahu a’lam

    2. Betul tidak ada dalil sharih yang menyatakan kedua kaki tidak menempel. Hanya saja kami mempunyai hukum asal, bahwa hukum asal kedua kaki di luar dan di dalam shalat (saat berdiri) adalah tidak menempel, sebagaimana hukum asal pada jari saat tasyahud tidak digerakkan. Maka disini yang dituntut untuk mendatangkan dalil adalah mereka yang berpendapat keluar dari hukum asal ini. Adapun yang berpendapat dengan hukum asal, maka hukum asal itu sendiri cukup bagi mereka.

    3. Teguran masyaikh wajah jika memang kedua kaki direnggangkan terlalu lebar dan yang shalat ini tidak pakai celana yang longgar di dalam sarung/jubahnya. Tapi jika kedua kaki sangat didekatkan tapi tidak sampai menempel maka saya rasa tidak ada alasan Syaikh tersebut hafizhahullah melarangnya, mengingat illat larangan yang beliau sampaikan adalah terlihatnya aurat.
    Ditambah lagi tidak sepantasnya antum berdalil dengan kejadian ini di sini. Antum sudah tahu kalau lutut merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para ulama apakah aurat atau bukan. Dan tentunya bukan tindakan tepat jika seseorang berdalil dengan suatu masalah yang masih diperdebatkan. Apalagi kami pribadi berpendapat bahwa lutut bukan aurat, maka jelas alasan antum yang ketiga ini tidak mengena pada ana sama sekali.

    Sekian tanggapan dari ana, semoga memuaskan.

  6. faqir ila rabbihi said:

    @: Hanya saja kami mempunyai hukum asal, bahwa hukum asal kedua kaki di luar dan di dalam shalat (saat berdiri) adalah tidak menempel, sebagaimana hukum asal pada jari saat tasyahud tidak digerakkan.

    Tadz, apa dasarnya kok antum bisa menyimpulkan hukum asal dalam shalat adalah tidak menempelkan kaki? na’am, ketika berdiri tidak menempelkan kaki, tp kan berbeda antara berdiri dengan sujud. Jazakallahu khairan…

    Dasar kami adalah bahwa kedua kaki pada semua gerakan shalat itu terpisah, maka apa dasarnya kita merapatkan keduanya saat sujud?
    Wallahu a’lam

  7. ali said:

    Assalamualaikum. Maaf, saya mau bertanya. Apakah pembahasan tentang menempelkan kaki ini juga berlaku ketika berdiri (bukan hanya sujud)?
    Terima kasih.

    Waalaikumussalam.
    Tidak berlaku karena yang dibahas di sini hanyalah masalah sujud. Dalam keadaan berdiri kedua kaki tidak dirapatkan karena selain tidak ada dalilnya, juga menjadikan shaf tidak rapat.

  8. Abu syekhi said:

    Assalamu’alaikum!
    Afwan ustadz ana ada sdkit saran bgmn klo dlm hal fiqh ijtihadiyah yg ada khilaf di kalangan pr ulama alangkah baiknya antum menjelaskan smua pendapat baru mengambil 1 pndpt misal dg kata2:
    “Klo menurut ana yg rojih adlh pendpt yg…….”atw yg semisalnya shg tidak terkesan memfonis ijtihad yg lain adlh SALAH shg membingungkan pr penganut pendpt yg lain yg msh dangkal keilmuanya spt ana.
    Wassalam.

    Waalaikumussalam.
    Pertama, kami dalam situs ini sama sekali tidak pernah mengharuskan diri untuk menyebutkan semua pendapat yang ada. Kalau mau mengetahui semua pendapat yang ada jangan belajar dari internet, tapi silakan datangi majelis ilmu, karena bukan untuk itu kamu membuat situs ini. Situs ini hanya sebagai pendukung tambahan bagi mereka yang menuntut ilmu.
    Kedua, dalam pembahasan fiqhi, hal seperti ini sudah biasa. Jadi menurut saya sebelum belajar fiqhi, mental untuk lapang menerima perbedaan pendapat dipermantap dulu.
    Ketiga, kalau saya tidak menyalahkan yang salah berarti saya juga tidak menganggap benar apa yang saya pilih. Mana ada orang yang beragama seperti itu?

  9. Abu Mundzir Al-Ghifary said:

    Bismillah..Afwan..nashihat abu syekhi kpada antum sudah semestinya dipertimbangkan dan antum berterima kasih kepada beliau yg telah berusaha mengingatkan saudaranya.
    Antum membuat situs ini kalau tdk utk berdakwah lalu utk apa?? Sedangkan kalau masuk dlm urusan dakwah maka hendaknya smua yg kita sampaikan akan kita pertanggungjawabkan di hadapanNya kelak.
    Maka ahsan kita tampilkan smua pendapat ulama’ yg ada dalam masalah ini agar kita terjauhkan dari menyembunyikan ‘ilmu.
    Untuk itu ya akhiy..tidak ada manusia yg smpurna, maka dlm hal ijtihadiyah spt ini hendaknya kita juga menyampaikan smuanya. Agar kita selamat. Mengingat sangat terbatasnya keilmuan kita bila kita mencoba utk mengarahkan SATU pendapat menurut kita sndiri dengan TIdAK menampilkan pendapat dari ulama’ yg luas ‘ilmunya yg bertentangan dengan kita.
    Wallohulmusta’an.

    Semua yang anda katakan sangat tepat. Hanya saja merinci suatu permasalahan tidak wajib pada setiap waktu dan kesempatan, dan saya rasa ini sangat jelas pada amalan para ulama. Terkadang mereka ditanya dan mereka hanya menjawab secara ringkas dan pada kesempatan lain agak lengkap dan seterusnya. Dan antum tentu tidak akan mengatakan bahwa para ulama ini menyembunyikan ilmu.
    Kalau memang anda merasa ada pendapat yang lebih tepat, maka silakan menulis dan tampilkan dan tidak ada seorangpun yang akan menghalangi anda.

  10. nanang said:

    Assalamu alaikum,
    alhamdulillah ana dah faham penjelasan ustadz di atas, namun ada satu yg sdikit ana msh bingung, soal lutut bukanlah aurat, bisa ustadz jelaskan sdikit akan hal ini…???
    barokallohu fiik….

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca artikel ‘Lutut bukanlah aurat’.

  11. Salahuddin sa'id said:

    Assalamu’alaikum, afwan ustadz sy cukup terkesan dg beberapa tanggapan antum yg menurut sy cukup santu dan obyektif..pertsnyaan sy apakah ada dalil yg jelaskan ttg rapatkan kaki waktu shalat krn ada teman yg mengatakan itu bukan sunnah,jazakallah

    Waalaikumussalam.
    Maksudnya merapatkan kaki antara sesama makmum ketika berdiri dalam shalat? Kalau ya, silakan baca artikel wajibnya merapatkan shaf di sini: ‘http://al-atsariyyah.com/wajibnya-meluruskan-shaf.html

  12. Kedua Tumit Dirapatkan Saat Sujud? | ~Ruang Belajar ABU RAMIZA~ said:

    […] http://al-atsariyyah.com/kedua-tumit-dirapatkan-saat-sujud.html […]

  13. Faisol Amir Fath said:

    assalamualaikum.
    ana alfakir…yg bgtu bodoh…trimakash bnyk atas pencerahannya..tapi tidakkah kita merujuk pd posisi2 yg lain. tentunya kaki tdk ada yg d rapatkan..pernah ana waktu praktik solat ktka sujud kaki d rapatkan di tegur dan d salahkan oleh instruktur kami.
    wassalamualaikum

  14. dymas said:

    Subhanallah subhanallah subhanallah…mmbca kolom kmentar pd jdul bab ini ngbuat sy ngrsa sngat2 kcil…smoga Allah brkenan ngasih sy ilmu yg lbh bnyk lg^^