Ikhlas dan Niat

December 18th 2009 by Abu Muawiah |

1 Muharram

Ikhlas dan Niat

Allah Ta’ala berfirman:
{مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُون .  أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ}
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Dari Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953 dan Muslim no. 3530)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتَشْهَدَ فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَى اسْتَشْهَدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ، وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا فَعَلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، لَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَّادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)

Penjelasan ringkas:
Semua dalil di atas tegas menunjukkan wajibnya seseorang untuk berniat dan mengikhlaskan niatnya dalam seluruh ibadah yang dia kerjakan, karena tanpa niat ataukah dia berniat tapi dengan niat yang salah maka amalan yang dia kerjakan tidak bernilai apa-apa bahwa amalan itulah yang akan membinasakan dirinya di akhirat kelak. Lihat keterangan tambahan di: http://al-atsariyyah.com/?p=823
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang niatnya tidak benar terkadang Allah memenuhi apa yang dia niatkan tersebut di dunia. Akan tetapi itu sebenarnya hanya istidraj (penyesatan) dari Allah kepada dirinya agar dia semakin jauh dari-Nya. Karenanya pada hari kiamat dia tidak mempunyai bagian sedikitpun kecuali api neraka dan amalan yang dia perbuat itu tidak berguna sama sekali.
Adapun hadits Umar bin Al-Khaththab tentang niat, maka bisa dilihat penjelasannya di: http://al-atsariyyah.com/?p=135
Adapun hadits Abu Hurairah, maka dia adalah peringatan yang sangat keras bagi setiap orang yang memiliki ibadah yang besar lagi hebat -apalagi yang amalannya kecil-, jangan sampai niat mereka berpaling dari Allah kepada mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia. Karena sungguh ada seseorang yang pernah berkata kepada Nabi -alaihishshalatu wassalam-, “Wahai Muhammad, sesungguhnya pujianku adalah hiasan dan celaanku adalah kotoran,” maksudnya jika dia memuji seseorang maka pasti orang itu akan dimuliakan dan jika dia mencela seseorang maka orang itu pasti jatuh di mata manusia, karena kefasihan dan kehebatan dia dalam beretorika. Akan tetapi Nabi -alaihishshalatu wassalam- membantah dengan bersabda, “Itu adalah Allah -Azza wa Jalla-,” yakni yang punya sifat seperti itu hanya Allah Ta’ala. Riwayat Ahmad
Dan ini juga menjadi bukti nyata dari ucapan sebagian ulama, “Betapa banyak amalan besar dibuat kecil karena niatnya (yang salah) dan betapa banyak amalan kecil dibuat besar karena niatnya (yang baik).”
Hadits ini juga menunjukkan bahwa pelaku riya` dan sum’ah adalah makhluk pertama yang akan disiksa dan dilemparkan ke dalam neraka, bahkan mereka yang akan lebih dahulu di siksa daripada para penyembah berhala. Karena dalam riwayat lain hadits ini Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda di akhirnya, “Wahai Abu Hurairah, mereka inilah orang yang pertama kali merasakan panasnya api neraka.” Wallahu a’lam wanas`alullahas salamah wal afiyah.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, December 18th, 2009 at 2:54 am and is filed under Aqidah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Ikhlas dan Niat”

  1. Roni said:

    Assalamu’alaikum
    Ustadz, apakah boleh bersedekah dengan niat mencari kesembuhan dari Allah, bersilaturrahim dengan niat agar umurnya panjang dan rezekinya lapang? Mohon penjelasannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Boleh saja tapi tentunya niat tersebut digandengkan dengan niat ikhlas hanya untuk Allah semata. Amalan yang pertama termasuk bentuk tawassul dengan menggunakan amalan saleh, sedang yang kedua pembolehannya disebutkan dalam hadits Anas bin Malik riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

  2. Roni said:

    Assalamu’alaikum
    dari jawaban Ustadz diatas, maka ana menyimpulkan bahwa kita diperbolehkan mengejar pahala dunia dengan amalan akhirat (seperti sedekah demi mencari kesembuhan dan silaturrahim agar umur panjang)
    Dengan catatan : yang penting ikhlas karena Allah dan pahala dunia dari amal tersebut memang telah di janjikan oleh Allah dan Rasulnya. bukan begitu Ustadz. mohon koreksinya kalau kesimpulan ana ini salah.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia sudah betul begitu.

  3. Budi Satria said:

    Assalamu’alaikum ustadz, ana mau tanya ketika ana sedang sakit ana selalu terbayang dengan dosa2 ana dan azab Allah di alam dikubur, apakah ini salah ?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sama sekali bukan kesalahan, bahkan itu merupakan amalan yang dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan cobaan dari Allah Ta’ala.

  4. Ummu Firdaus said:

    Bismillah,,Ust,
    1.Bgmn mndeteksi apkh niat qt dlm mlakukn ssuatu it ikhlas/tdk?
    2.Apkh mnulis note/status2 d fb yg isinya motivasi/nsht utk bramal bg dri sndri khususny dan bg yg mbacany trmsk riya’?
    Jazakallohkhoiir.

    1. Hanya Allah kemudian dia yang mengetahuinya.
    2. Tergantung apa niatnya. Bisa jadi riya jika dia niatnya mau pamer statusnya itu.