Hukum MLM (Multi Level Marketing)

March 26th 2010 by Abu Muawiah |

Hukum MLM (Multi Level Marketing)

Pengantar

Termasuk masalah yang banyak dipertanyakan hukumnya oleh kaum muslimin yang cinta untuk mengetahui kebenaran dan peduli dalam membedakan halal dan haram adalah masalah Multi Level Marketing (MLM). Transaksi dengan sistem MLM ini telah merambah di tengah manusia dan banyak mewarnai suasana pasar masyarakat. Maka sebagai seorang pebisnis muslim, wajib untuk mengetahui hukum transaksi dengan sistem MLM ini sebelum bergelut
didalamnya. Sebagaimana prinsip umum dari ucapan ‘Umar radhiyallahu’anhu:
“Jangan ada yang bertransaksi di pasar kami kecuali orang yang telah paham agama.” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany)
Maksud dari ucapan ‘Umar adalah bahwa seorang pedagang muslim hendaknya mengetahui hukum-hukum syariat tentang aturan berdagang atau transaksi dan mengetahui bentuk-bentuk jual-beli yang terlarang dalam agama. Dangkalnya pengetahuan tentang hal ini akan menyebabkan seseorang jatuh dalam kesalahan dan dosa. Sebagaimana telah kita saksikan tersebarnya praktek riba, memakan harta manusia dengan cara yang batil, merusak harga pasaran dan sebagainya dari bentuk-bentuk kerusakan yang merugikan masyarakat, bahkan merugikan negara.
Maka pada tulisan ini, kami akan menampilkan fatwa ulama terkemuka di masa ini. Mereka yang telah di kenal dengan keilmuan, ketakwaan dan semangat dalam membimbing dan memperbaiki umat.

Walaupun fatwa yang kami tampilkan hanya fatwa dari Lajnah Da’imah , Saudi Arabia , mengingat kedudukan mereka dalam bidang fatwa dan riset ilmiah. Namun kami juga mengetahui bahwa telah ada fatwa-fatwa lain yang sama dengan fatwa Lajnah Da’imah tersebut, seperti fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy (Perkumpulan Fiqh Islamy) di Sudan yang menjelaskan tentang hukum Perusahaan Biznas (Salah satu nama perusahaan MLM).

Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan ini dikeluarkan pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir 1424 H, bertepatan dengan tanggal 17 Juni 2003 M pada majelis no. 3/24. kesimpulan dari fatwa mereka dalam dua poin-sebagaimana yang disampaikan oleh Amin ‘Am Majma Al-Fiqh Al-Islamy Sudan, Prof. DR. Ahmad Khalid Bakar-sebagai berikut:
“Satu, sesungguhnya bergabung dengan perusahaan Biznas dan yang semisal dengannya dari perusahaan-perusaha an pemasaran berjejaring (MLM) tidak boleh secara syar’i karena hal tersebut adalah qimar.[1]

Dua, Sistem perusahaan Biznas dan yang semisal dengannya dari perusahaan-perusaha an berjejaring (MLM) tidak ada hubungannya dengan akad samsarah[2]-sebagaimana yang disangka perusahaan (Biznas) itu dan sebagimana mereka mengesankan itu kepada ahlul ilmi yang memberi fatwa boleh dengan alasan itu sebagai samsarah di sela-sela pertanyaan yang mereka ajukan kepada ahlul ilmi tersebut dan telah digambarkan kepada mereka perkara yang tidak sebenarnya-.”

Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan di atas dan pembahasan bersamanya telah dibukukan dan diberi catatan tambahan oleh seorang penuntut ilmu di Yordan, yaitu syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halaby.
“Sepanjang yang kami ketahui, belum ada dari para ulama ayang membolehkan sistem Multi Level Marketing ini. Memang ada sebagian dari tulisan orang-orang yang memberi kemungkinan bolehnya hal tersebut, tapi datangnya hanya dari sebagian para ulama yang dikabarkan kepada mereka sistem MLM dengan penggambaran yang tidak benar-sebagaimana dalam Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy-atau sebagian orang yang sebenarnya tidak pantas berbicara dalam masalah seperti ini.
Akhirulkalam, semoga apa yang tertuang dalam tulisan ini ada manfaatnya untuk seluruh pembaca dan membawa kebaikan untuk kita. Wallahula’lam.”

Fatwa Lajnah Da’imah pada tanggal 14/3/1425 dengan nomor (22935)

Telah sampai pertanyaan-pertanya an yang sangat banyak kepada Al-Lajnah Ad-Da’imah Li Al-Buhuts Al-Ilmiyah wa Al-Ifta[3] tentang aktifitas perusahaan-perusaha an pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM)[4] seperti Biznas dan hibah Al-Jazirah. Kesimpulan aktifitas mereka adalah meyakinkan seseorang untuk membeli sebuah barang atau
produk agar dia (juga) mampu meyakinkan orang-orang lain untuk membeli produk tersebut (dan) agar orang-orang itu juga meyakinkan yang lainnya untuk membeli, demikian seterusnya. Setiap kali bertambah tingkatan anggota dibawahnya (downline), maka orang yang pertama akan mendapatkan komisi yang besar yang mencapai ribuan real. Setiap anggota yang dapat meyakinkan orang-orang setelahnya (downline-nya) untuk bergabung, akan mendapatkan komisi-komisi yang sangat besar yang mungkin dia dapatkan sepanjang berhasil merekrut anggota-anggota baru setelahnya ke dalam daftar para anggota. Inilah yang dinamakan dengan pemasaran berpiramida atau berjejaring (MLM).

Jawab:
Alhamdullilah, Lajnah menjawab pertanyaan diatas sebagai berikut:
Sesungguhnya transaksi sejenis ini adalah haram. Hal tersebut karena tujuan dari transaksi itu adalah komisi dan bukan produk.
Terkadang komisi dapat mencapai puluhan ribu sedangkan harga produk tidaklah melebihi sekian ratus. Seorang yang berakal ketika dihadapkan di antara dua pilihan, niscaya ia akan memilih komisi. Karena itu, sandaran perusahaan-perusaha an ini dalam memasarkan dan mempromosikan produk-produk mereka adalah menampakkan jumlah komisi yang besar yang mungkin didapatkan oleh anggota dan mengiming-imingi mereka dengan keuntungan yang melampaui batas sebagai imbalan dari modal yang kecil yaitu harga produk. Maka produk yang dipasarkan oleh
perusahaan-perusaha an ini hanya sekedar label dan pengantar untuk mendapatkan komisi dan keuntungan.

Tatkala ini adalah hakikat dari transaksi di atas, maka dia adalah haram karena beberapa alasan:
Pertama, transaksi tersebut mengandung riba dengan dua macam jenisnya; riba fadhl[5] dan riba nasi’ah[6]. Anggota membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya. Maka ia adalah barter uang dengan bentuk tafadhul (ada selisih nilai) dan ta’khir (tidak cash). Dan ini adalah riba yang diharamkan menurut nash dan kesepakatan[7]. Produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai kedok untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota (untuk mendapatkan keuntungan dari pemasarannya) , sehingga (keberadaan produk) tidak berpengaruh dalam hukum (transaksi ini).

Kedua, ia termasuk gharar[8] yang diharamkan menurut syari’at, karena anggota tidak mengetahui apakah dia akan
berhasil mendapatkan jumlah anggota yang cukup atau tidak?. Dan bagaimanapun pemasaran berjejaring atau piramida itu berlanjut, dan pasti akan mencapai batas akhir yang akan berhenti padanya. Sedangkan anggota tidak tahu ketika bergabung didalam piramida, apakah dia berada di tingkatan teratas sehingga ia beruntung atau berada di tingkatan bawah sehingga ia merugi? Dan kenyataannya, kebanyakan anggota piramida merugi kecuali sangat sedikit di tingkatan atas. Kalau begitu yang mendominasi adalah kerugian. Dan ini adalah hakikat gharar, yaitu ketidakjelasan antara dua perkara, yang paling mendominasi antara keduanya adalah yang dikhawatirkan. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari gharar sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya.

Tiga, apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa memakan harta manusia dengan kebatilan, dimana tidak ada yang mengambil keuntungan dari akad (transaksi) ini selain perusahaan dan para anggota yang ditentukan oleh perusahaan dengan tujuan menipu anggota lainnya. Dan hal inilah yang datang nash pengharamannya dengan
firman (Allah) Ta’ala,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” [An-Nisa’:29]

Empat, apa yang terkandung dalam transaksi ini berupa penipuan, pengkaburan dan penyamaran terhadap manusia, dari sisi penampakan produk seakan-akan itulah tujuan dalam transaksi, padahal
kenyataanya adalah menyelisihi itu. Dan dari sisi, mereka mengiming-imingi komisi besar yang seringnya tidak terwujud. Dan ini terhitung dari penipuan yang diharamkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“Siapa yang menipu maka ia bukan dari saya” [Dikeluarkan Muslim dalam shahihnya]
Dan beliau juga bersabda,
“Dua orang yang bertransaksi jual beli berhak menentukan pilihannya(khiyar) selama belum berpisah. Jika keduanya saling jujur dan transparan, niscaya akan diberkati transaksinya. Dan jika keduanya saling dusta dan tertutup, niscaya akan dicabut keberkahan transaksinya.”[Muttafaqun’Alaihi]

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsarah[9], maka itu tidak benar. Karena samsarah adalah transaksi (dimana) pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya mempertemukan barang (dengan pembelinya). Adapun pemasaran berjejaring (MLM), anggotanya-lah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut. Sebagaimana maksud hakikat dari samsarah adalah memasarkan barang, berbeda dengan pemasaran berjejaring (MLM), maksud sebenarnya adalah pemasaran komisi dan bukan (pemasaran) produk. Karena itu orang yang bergabung (dalam MLM) memasarkan kepada orang yang akan memasrkan dan seterusnya[10].
Berbeda dengan samsarah, (dimana) pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan diantara dua transaksi adalah jelas.

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (pemberian), maka ini tidak benar, andaikata (pendapat itu) diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syari’at.
(Sebagaimana) hibah yang terkait dengan suatu pinjaman adalah riba. Karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah radhiyallahu’anhuma,
“Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba tersebar padanya. Maka jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadamu sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan maka ia adalah riba.”[Dikeluarkan oleh Al-Bukhary dalam Ash-Shahih]

Dan (hukum) hibah dilihat dari sebab terwujudnya hibah tersebut. Karena itu beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda kepada pekerjanya yang datang lalu berkata, “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda,
“Tidakkah sepantasnya engkau duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu apakah dihadiahkan kepadamu atau tidak?” [Muttafaqun’Alaih]

Dan komisi-komisi ini hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran berjejaring. Maka apapun namanya, baik itu hadiah, hibah atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali tidak mengubah hakikat dan hukumnya.

Dan (juga) hal yang patut disebut disana ada beberapa perusahaan yang muncul di pasar bursa dengan sistem pemasaran berjejaring atau berpiramida (MLM) dalam transaksi mereka, seperti Smart Way, Gold Quest dan Seven Diamond. Dan hukumnya sama dengan perusahaan-perusaha an yang telah berlalu penyebutannya. Walaupun sebagiannya berbeda dengan yang lainnya pada produk-produk yang mereka perdagangkan.

Wabillahi taufiq wa shalallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi.

[Fatwa diatas ditanda-tangani oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azis Alu
Asy-Syaikh (ketua), Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdullah
Al-Ghudayyan, Syaikh Abdullah Ar-Rukban, Syaikh Ahmad Sair Al-Mubaraky
dan Syaikh Abdullah Al-Mutlaq

Dikutip dari majalah An-Nashihah volume 14, hal. 12-14

Catatan Kaki :

[1] Qimar adalah seseorang mengeluarkan biaya dalam sebuah transaksi yang ada kemungkinan dia beruntung dan ada kemungkinan dua merugi (Penerjemah)

[2] Yaitu jasa sebagai perantara atau makelar

[3] Yaitu komisi khusus bidang riset ilmah dan fatwa. Beranggotakan ulama-ulama terkemuka di Saudi Arabia bahkan menjadi rujukan kaum muslimin di berbagai belahan bumi. (Penerjemah)

[4] Kadang disebut dengan istilah Pyramid Scheme, network marketing atau multi level marketing (MLM). (Penerjemah)

[5] Riba fadhl adalah penambahan pada salah satu dari dua barang ribawy (yaitu barang yang berlaku pada hukum riba) yang sejenis dengan transaksi yang kontan (Penerjemah)

[6] Riba nasi’ah adalah transaksi antara dua jenis barang ribawy yang sama sebab ribanya dengan tidak secara kontan. (Penerjemah)

[7] Maksudnya menurut nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kesepakatan para ulama. (Penerjemah)

[8] Gharar adalah apa yang belum diketahui akan diperoleh atau tidak, dari sisi hakikat dan kadarnya. (Penerjemah)

[9] Maksudnya jasa sebagai perantara atau makelar. (Penerjemah)

[10] Pengguna barang tersebut adalah anggota MLM, hal ini dikenal dengan istilah user 100%. (editor)

Sumber: Milis Salafi-Indonesia@yahoogroups.com

[http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1375]

Incoming search terms:

  • hukum MLM
  • hukum mlm haji
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, March 26th, 2010 at 1:45 pm and is filed under Ekonomi Islam, Fatawa, Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

12 responses about “Hukum MLM (Multi Level Marketing)”

  1. Muhammad Salim Muhajir said:

    Assalamu’alaikum warohmatulloh…
    afwan, saya mau tanya ustadz, tentang merusak harga pasaran dalam perdagangan…
    apakah ada ketentuan berapa besar keuntungan yang boleh diambil dari suatu barang yg dijual belikan, semisal 10%, 20% atau 50% dari harga pokok barang..?!
    andaikan dalam harga pasaran suatu barang menurut kita terlalu besar mengambil keuntungan, bolehkah kita menurunkannya lebih rendah dari harga pasaran, semisal harga pokok barang 1000 terus dijual dengan harga pasar 2000, akan tetapi menurut kita mengambil keuntungan terlalu besar hingga kita menjual dibawah harga pasar 1500, apakah itu termasuk dalam merusak harga pasar dan apa hukumnya…?!
    terima kasih sebelumnya atas jawaban ustadz, jazakalloh khoiron…

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Hal ini kembalinya kepada kebiasaan pasar, yakni jika biasanya harga sebegitu tidak terlalu berpengaruh, yakni tidak merugikan pedagang lain maka insya Allah menurunkan harga dengan batas yang wajar tidak bermasalah.
    Hanya saja, mengambil keuntungan yang sangat besar dari barang dagangan tidaklah dilarang kalau memang harga dipasarannya seperti itu dan dia kebetulan mendapatkannya dengan modal yang sangat rendah. Maka bukan suatu keharusan baginya untuk menurunkan harganya agar tidak kebanyakan untung. Wallahu a’lam

  2. isnan said:

    apa gak merugikan orag lain kalau kita ikuti program cara mudah haji dan umroh dengan gaya MLM itu, karena caranya hanya menyetor uang ke orang yang sudah bergabung dalam program itu, dan kalo kita ngajak orang lain maka kita akan mendapat bonus, bagaimana pendapat ustadz?

    Maaf pertanyaannya tidak jelas.

  3. abu kholda said:

    tolong jelaskan tentang hukum ikut MLM yang berbisnis bukan produk tapi jasa, seperti untuk haji dan umroh. jazakallah khoiron…

    Maaf, tolong pertanyaannya dilengkapi.

  4. abu kholda said:

    Saya pernah menghadiri presentasi PT MPM yang menawarkan naik haji dengan hanya membayar Rp 2.250.000 dengan sistem jaringan (yg menurut saya tetap sama dengan MLM). Mhn ustadz jelaskan hukum sistem tersebut

    Maaf, antum tidak menggambarkan sistemnya secara lengkap. Tapi kalau menurut antum, sistemnya sama dengan MLM, maka kalau begitu hukumnya juga sama. Karena yang menjadi patokan hukum adalah hakikatnya dan bukan namanya. Wallahu a’lam

  5. Abdurrohman said:

    Assalamu’alaikum warohmatulloh…
    Ustadz, ana mau tanya…
    Ada sistem Netwotk Matketing,produknya berupa pulsa. Yang beda dengan MLM pendaftarannya, kalau MLM biasanya membeli produk sekaligus mendaftar, kalau ini memang mendaftar, jadi memang kecil biaya pendaftarannya.
    Trus disana ada beberapa hak bagi yang sudah member :
    1. Jualan pulsa, member membeli lagi pulsa untuk dijual, kelebihannya jauh lebih murah.
    2. Jadi agen, ini yang agak-agak mirip. Setiap dapat downline dapat komisi,downlinnya dibatasi hanya 2 orang, jadi kalau dia dapat downline lagi dia letakkan dibawah 2 orang tersebut. Komisinya dikalikan banyaknya downline.
    Ada lagi bonus berpasangan, karena setiap downline hanya 2 maka cabangnya 2-2 terus(1 agen bercabang 2, dia dapat bonus lagi jika downline dia dapat downline baru secara berpasangan,cabang kiri dan kanan sama-sama dapat. kalau downline nya sudah banyak maka pasangannya juga banyak. Bonusnya dikalikan banyaknya pasangan berupa uang dan pulsa gratis.
    3. boleh ikut seminar dan pelatihan dengan harga khusus.
    bagaimana ustadz hukum bergabung didalamnya?
    Jazakallaahu khoir atas jawabannya

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Penyetoran uang di awal sudah merupakan maysir (perjudian), karena dia telah menyerahkan uang lalu ada kemungkinan dia untung dan mungkin juga tidak mendapatkan apa-apa.

  6. ana said:

    assalamu’alaikum

    afwan ustad mgk agak melenceng dr topik di atas, tp ana bingung mau bertanya di artikel yg mana, karena sepertinya belum dibahas tentang bonus belanja dan undian berhadiah, pertanyaan begini ustadz:

    1. saya pernah berbelanja pada sebuah mall besar, waktu itu saya berbelanja kebutuhan pokok ut sebulan insyaAllah, lalu ketika membayar di kasir, total belanja ternyata cukup banyak, dan berhak mendapatkan bonus kartu belanja (gratis, sebelumnya sy tdk tau ttg bonus ini, kartu ini bs diperoleh pembeli dengan total belanja 300rb), manfaat punya kartu belanja ini lumayan menarik, diantaranya nnti bs mendapatkan potongan harga, bs mndapat poin2 berhadiah jika nnti berbelanja lagi di mall itu, hanya dg menunjukkan kartu belanja tersebut, dan tdk ada iuran bulanan ut kartu itu, ini gimna hukumnya ustadz? bolehkah saya memanfaatkan kartu trsbt? karena saya berbelanja di tempat itu, awalnya tertarik dg harganya yg lebih murah, dan setiap akan membayar, kasir selalu bertanya punya kartu belanja apa tidak.

    2. jika ada dua barang yg sama, satu dg bonus satunya lagi tanpa bonus, bolehkan kita memilih yg ada bonusnya, karena hrganya sama?

    jazaakumullah khoiron atas jawabannya ustadz

    Waalaikumussalam
    Insya Allah tidak masalah memanfaatkan kartu tersebut.
    Silakan baca artikel: http://al-atsariyyah.com/hukum-hadiah-pada-barang-dagangan.html

  7. hendra said:

    assalamu a’laikum ww…

    adakah hukum yang berkaitan jika badan yayasan atau badan perusahaan mengeluarkan biaya royalti kepada seseorang yang menjual sistem atau program perencanaan yang menyangkut bisnis atau pengembangan usaha?

    Waalaikumussalam.
    Maaf pertanyaannya masih kurang jelas.

  8. abu azzam said:

    assalamu’alaikum

    Ustad ana mau nanya akhir2 ini mulai banyak berkembang apa yang disebut dengan MLM syariah dan ada juga MLM yang sudah mendapatkan sertifikat MLM syariah dari MUI. Bagaimana dengan hal tersebut apakah hukumnya tetap sama dengan yang ustad sampaikan diatas? syukron katsir

    Waalaikumussalam.
    Jika sifat-sifatnya sama atau sebab-sebab pengharaman yang tersebut di atas juga terdapat pada MLM syariah itu, maka berarti hukumnya tetap sama walaupun namanya diembel-embeli dengan kata ‘syariah’.

  9. ibnuyazid said:

    Assalamualaikum waromatulloh…

    Ustadz bagaimana bila sistem yang dipakai sbb, untuk mendapatkan potongan harga/diskon diminta untuk menjadi anggota dengan cara membeli barang (kualitas barang diketahui bagus dan berkualitas tinggi) dan harga nya sesuai dengan harga pasaran, misal seharga 750rb langsung dapat barang dan diskon 30% dan mendapatkan hadiah. Bila tidak melanjutkan kegiatan penjualan sebagai anggota, tidak ada ruginya karena barang yang telah dibeli sesuai dengan harga dan bermanfaat sekali. Bagamiana hukumnya sistem tersebut?Demikian Jazakallahu khoiran.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tetap tidak boleh, karena dia membeli barang yang mungkin saja dia tidak butuhkan, hanya untuk mendapatkan potongan tersebut.

  10. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, bagaimana hukum menjadi seorang agen asuransi (jiwa, kesehatan, dll)? Dimana agen tsb akan mendapatkan komisi dari hasil menjual produk/polis. Dan bila mencapai target, agen tsb akan naik level nya dan berhak merekrut agen2 baru dan menjadi satu kelompok baru dibawahnya. Dan kelompok ini akan memberikan konstribusi berupa komisi tambahan ke agen tsb (yg sudah naik levelnya). Makin berkembang kelompoknya dan makin aktif menjual produk/polis tsb maka level agen tsb akan makin meningkat dan otomatis pendapatan makin bertambah. Apakah sistem ini bisa dikatakan MLM? terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Jelas itu salah satu bentuk MLM. Lagi pula, hukum asal polis asuransi adalah dilarang dalam Islam karena mengandung unsur maisir (taruhan/judi) dan kezhaliman.

  11. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Terimakasih atas jawabanya. Bagaimana dengan sistim asuransi syari’ah? Dan bagaimana hukum orang yg ikut asuransi? Dan tidak bisa dipungkiri bahwa di kantor2 kita di ikutkan asuransi kesehatan, jamsostek, bikin SIM juga ada asuransinya, kredit rumah, kredit kendaraan, dll, semua ada asuransinya. Bagaimana menyikapi hal ini? terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Asuransi syariah tidak berbeda hukumnya dengan yang kinvensional, tetap dilarang. Adapun asuransi yang kita terpaksa mengikutinya atau tidak ada jalan lain untuk menghindarinya, maka dosa ditanggung oleh yang mendaftarnya. Dan kita tidak boleh mengambil dari uang asuransi kecuali sebatas jumlah uang yang telah kita setorkan.

  12. Abu Mujahid Ali Thoe said:

    Assalaamu ‘alaykum. Bagaimana hukumnya jika saya ikut menjadi anggota MLM untuk mendapatkan potongan harga produk, yang nantinya produk tsb akan saya jual lagi dgn harga pasar? Jadi saya hanya ikut jual belinya, tanpa mengembangkan jaringannya. Jazakallaah khairan

    Waalaikumussalam.
    Tidak bergabung dengan praktek MLM itu jauh lebih utama, mengingat hukumnya. Dikhawatirkan bisa termasuk ke dalam larangan bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran.