Hukum Bekerja Pada Rentenir

October 3rd 2008 by Abu Muawiah |

Hukum Bekerja Pada Rentenir

Tanya:
Bagaimana hukum bekerja membangun rumah untuk seorang rentenir dan mendapat upah dari hasil pekerjaan rumah tersebut? Jazakallahu khairan.

Abu Muhammad, Poso

Jawab:
Hukum asalnya adalah boleh, dan tidak mengapa dia mengambil dan menggunakan uang dari upah kerjanya karena hal itu adalah haknya. Adapun kalau dikatakan bahwa uang yang diterima oleh sang pekerja berasal dari uang riba, maka kami katakan bahwa hal tersebut tidak mengapa, karena ada kaidah di kalangan ulama yang berbunyi: “Al-Itsmu ‘alal mubasyir” yang artinya: Dosa ditanggung oleh orang yang melakukannya secara langsung. Jadi dosa dari riba ditanggung oleh rentenir tersebut dan tidak ditanggung oleh orang yang makan dari harta riba tersebut selain dirinya. Dalil dari kaidah ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى
“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 38-39)
Dan telah masyhur bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengadakan transaksi jual-beli dengan orang-orang Yahudi yang mereka ini terkenal berjual-beli dengan cara riba, dan terkadang beliau diundang makan oleh sebagian orang Yahudi lalu beliau memenuhi undangannya, bahkan beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dalam keadaan baju besi beliau masih tergadaikan pada seorang Yahudi.
Akan tetapi jika para pekerja di daerah tersebut bersepakat untuk tidak bekerja membantu rentenir tersebut sebagai bentuk nasehat kepadanya agar dia mau meninggalkan praktek-praktek ribanya serta sebagai bentuk waro’ (menjaga diri dan merasa cukup) dari harta yang haram maka hal tersebut  tentunya lebih afdhol, wallahu A’lam.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 3rd, 2008 at 8:47 pm and is filed under Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Hukum Bekerja Pada Rentenir”

  1. sayid said:

    apaka bank krliling sama dengan rentenir ,dan siapa saja kah yang mendapat dosa atasnya????

    semua bank yang memberikan bunga baik pada tabungan nasabah maupun ketika dia meminjamkan uang kepada nasabah maka itu adalah riba, sama saja dengan rentenir. Hanya saja bungan utang pada rentenir jauh lebih besar, tapi keduanya tetaplah riba.
    Adapun masalah siapa yang berdosa, maka Jabir -radhiallahu anhu- berkata:
    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim no. 2995)

  2. Irwan Setiawan said:

    Sekarang ini bnyk bermunculan bank2 syariah, katanya agar aktivitas perbankan sesuai dengan syariat Islam. Namun ternyata bnyk jg yg berpendapat bhw aktivitas yang dilakukan oleh perbankan syariah itu ternyata tidak berbeda (sama saja) dg aktivitas yg dilakukan oleh perbankan konvensional, yang membedakan keduanya hanyalah sebatas pd istilah-istilahnya sj dimana pd perbankan syariah digunakan istilah2 yg islami akan tetapi praktek pelaksanaannya tetap sama dg bank konvensional (non syariah), misal: istilah ‘bunga’ (bank konvensional) dganti dg istilah ‘bagi hasil’ (bank syariah)pdhl dlm cara mendapatkan dan pembagiannya memiliki kesamaan. Bagaimana pendapat ust. tentang hal ini?

    Sepanjang pengetahuan kami tentang aktifitas di bank-bank syariah ini, memang secara umum tidaklah berbeda dari bank konvensional. Dan secara umum kami setuju dengan pernyataan di atas.

  3. iqna rusli said:

    bagaimana apabila tinggal dengan seorang rentenir?

    Jika dia sanggup, seharusnya dia tidak tinggal bersamanya.