Hukum Azan dan Iqamah Saat Penguburan

November 24th 2008 by Abu Muawiah |

Hukum Azan dan Iqamah Saat Penguburan

Tanya:
Apa hukum azan dan iqamah pada kuburan mayat ketika dia dimasukkan ke dalamnya?

Jawab:
Tidak ada keraguan bahwa hal itu adalah bid’ah yang Allah tidak menurunkan sulthan (argumen) tentangnya, karena hal itu tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tidak pula dari para shahabat beliau radhiallahu ‘anhum, padahal semua kebaikan ada pada mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka sebagaimana firman Allah Subhanah :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama dari (kalangan) Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya” . Sampai akhir ayat
Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
Dan dalam lafadz yang lain, beliau ‘alaihishshalatu wassalam bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”.
Dan beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu. Shalawat dan salam Allah atas Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan shahabat beliau”.
(Majmu’ Fatawa karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz jilid 1 pada judul ‘Al-Ajwibah an As`ilah Al-Mutafarriqah soal no. 5)

Incoming search terms:

  • hukum adzan di kuburan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, November 24th, 2008 at 11:26 pm and is filed under Fatawa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Hukum Azan dan Iqamah Saat Penguburan”

  1. muhsin al jakarty said:

    Semoga Alloh subhanahuwata’ala melindungi kita yang mau istiqomah menegakkan dienul islam dibawah bimbingan manhaj salaf, kita lihat sekeliling kita betapa banyak ummat ini yang masih mengamalkan suatu ajaran yang tidak jelas datangnya dari mana..? kalaulah tidak karena taufiq dan hidayah dari Alloh, niscaya akan samalah kita dg mereka-mereka kaum muslimin yang tertipu/ditipu oleh para RUWAIBIDHOH di pelosok maupun ditengah-tengah kota dan desa bergentayangan siang dan malam mencari pengikut tuk menemani iblis LAKNATULLOHI ALAIH di neraka Alloh Azzawajala
    Na’uudzubillaahimindzaalik
    _______
    admin:
    Allahumma amin. Barakallahu fikum

  2. IQAMAH: Seruan Mendirikan Shalat dan Fiqh Seputarnya « Muhammad Qosim's Webblog said:

    […] Tidak ada keraguan bahwa hal itu adalah bid’ah yang Allah tidak menurunkan sulthan (argumen) tentangnya, karena hal itu tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tidak pula dari para shahabat beliau radhiallahu ‘anhum, padahal semua kebaikan ada pada mengikuti mereka dan menempuh jalan mereka. (Link) […]

  3. joko said:

    Assalamualaikum Saudaraku, kami ingin bisa mendapatkan dalil yang pas (lebih detail)alasan tidak boleh mengumandangkan Adzan di saat menguburkan Jenazah.
    terimakasih.Wasalamualaikum Wr Wb.

    Waalaikumussalam.
    Agama sudah sempurna dan tidak mungkin ada kekurangan, karenanya tidak ada satupun amalan Nabi shallallahu alaihi wasallam kecuali pasti ternukil dalam hadits-hadits yang shahih. Karenanya jika suatu amalan tidak pernah tersebut dalam hadits yang shahih maka itu berarti Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Jadi dalam hal ini, justru yang mengamalkan amalan di ataslah yang seharusnya dimintai dalil sharih atas amalannya, bukan yang tidak mengamalkannya.