Hakikat Kesyirikan

April 5th 2014 by Abu Muawiah |

Ibnu al Qayyim rahimahullah berkata dlm menjelaskan kekejian dan kebobrokan kesyirikan:
“Allah Subhanah telah mengabarkan bahwa Dia mengutus para rasul dan menurunkan kitab2 agar manusia menegakkan al qisth, yaitu keadilan. Dan di antara keadilan terbesar adl tauhid, bahkan tauhid adl puncak dan penegak keadilan. Sementara kesyirikan adl kezhaliman, sbgmn firman Allah Ta’ala:
(إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ)
“Sesungguhnya kesyirikan adl kezhaliman yg sangat besar.” (QS. Luqman: 13)
Maka kesyirikan adl puncak kezhaliman dan tauhid adl puncak keadilan. Sehingga amalan apa saja yg paling bertentangan dgn tujuan (tauhid, penj.) ini maka itu adl dosa yg paling besar. Dan tingkatan dosa2 ini sesuai dgn tingkatan penentangan trhdp tujuan ini. Dan amalan apa saja yg paling sejalan dgn tujuan ini mk itu adl amalan dan ketaatan yg paling wajib. Karenanya, telaahlah tujuan ini dgn seksama dan ambillah pelajaran dr perincian di dalamnya, niscaya anda akan mengenal Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Berilmu, dengan mengetahui apa2 yg Dia wajibkan dan haramkan atas hamba2Nya, dan mengetahui berjenjangnya tingkatan2 ketaatan dan kemaksiatan.

Tatkala kesyirikan kpd Allah bertentangan secara langsung dgn tujuan ini, maka jadilah dia sbg dosa yg paling besar secara mutlak. Allah telah mengharamkan surga dari setiap pelaku kesyirikan, dan Dia menghalalkan bagi ahli tauhid untuk merenggut darah, harta, dan keluarga mereka, dan Dia mengizinkan ahli tauhid untuk menjadikan mereka sbg budak. Dan semua itu krn mereka meninggalkan ubudiah kpdNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala enggan menerima amalan org musyrik, enggan menerima syafaat baginya, enggan mengijabahi doanya di akhirat, dan enggan mewujudkan harapannya. Hal itu krn org musyrik adl makhluk yg paling bodoh ttg Allah tatkala dia mengangkat makhluk sbg tandingan bagiNya, dan ini adl puncak kebodohan ttg Allah.”
(Al Jawab al Kafi hal. 191)

Asy Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata dlm menjelaskan kesyirikan:
“Syirik adl mengikutkan selain Allah bersama Allah dlm ibadah. Semisal seseorg berdoa kpd berhala atau selainnya, atau beristighatsah dgnnya, atau bernadzar untuknya, atau shalat untuknya, berpuasa untuknya, atau menyembelih untuknya seperti menyembelih untuk al Badawi atau untuk Idrus, atau shalat untuk si fulan, atau meminta kelapangan dr ar Rasul shallallahu alaihi wasallam atau dr Abdul Qadir atau dari Idrus atau org lain yg sdh meninggal atau yg ghaib. Semua perbuatan ini dinamakan kesyirikan. Demikian halnya jika seseorg berdoa kpd bintang2 atau jin, atau beristighatsah kpd merek, atau meminta kelapangan kpd mereka, atau yg semacamnya. Jika dia menyerahkan sedikit pun dr ibadah2 ini kpd benda2 mati atau kpd org2 yg telah meninggal, atau makhluk yg ghaib, maka itu adl kesyirikan kpd Allah Azza wa Jalla. Allah Jalla wa Ala berfirman:
(وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)
“Seandainya mereka berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapus semua amalan mereka.” (QS. Al An’am: 88)
Dan Allah Subhanah berfirman:
(وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ)
“Dan sungguh telah diwahyukan kpdmu dan kpd semua Nabi sebelummu, jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapus semua amalanmu, dan kamu betul2 akan tergolong org2 yg merugi.” (QS. Az Zumar: 65)
Di antara bentuk kesyirikan adl beribadah kpd selain Allah dgn satu ibadah yg sempurna, mk ini dinamakan kesyirikan dan jg dinamakan kekafiran. Karenanya siapa saja yg berpaling dr Allah secara sempurna dan memperuntukkan ibadahnya kpd selain Allah, seperti kpd pepohonan atau bebatuan atau berhala atau jin atau org2 yg telah meninggal yg mereka gelari sbg wali, dimana mereka beribadah kpd para wali itu, atau shalat untuk mereka, atau berpuasa untuk mereka dan melupakan Allah sama sekali dlm ibadahnya, maka semua itu adl kekafiran yg terbesar dan kesyirikan yg terparah. Demikian halnya dgn org yg mengingkari eksist
ensi Allah, dgn mengatakan: Tidak ada sembahan dan kehidupan itu terus berjalan, seperti keyakinan para penganut ateis yg mengingkari eksistensi Allah. Mereka ini adl manusia yg palibg kafir lagi paling sesat, dan yg paling besar kesyirikannya.
Intinya, penganut semua keyakinan di atas dan semisalnya, semua keyakinan di atas dinamakan kesyirikan dan juga dinamakan kekafiran kpd Allah Azza wa Jalla.”
(Majmu’ al Fatawa: 4/32)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, April 5th, 2014 at 12:00 pm and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.