Hadits Al-‘Ajn

April 29th 2009 by Abu Muawiah |

Hadits Al-‘Ajn
(Mengepalkan Kedua Tangan Ketika Akan Berdiri Dalam Sholat)

Sepanjang pemeriksaan kami, ada dua hadits yang menyebutkan tentang hal ini :
1.    Hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma :

أَنَّ رسَوُلْ َاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ

“Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-‘ajin (orang yang melakukan ‘ajn)”.
Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhish Al-Habir (1/466) dan An-Nawawy dalam Al-Majmu’ (3/421).
Berkata Ibnu Ash-Sholah dalam komentar beliau terhadap Al-Wasith –sebagaimana dalam At-Talkhis- : “Hadits ini tidak shohih dan tidak dikenal serta tidak boleh berhujjah dengannya”.
Berkata An-Nawawy : “(Ini) hadits lemah atau batil, tidak ada asalnya”.
2.    Berkata Al-Azroq bin Qois rahimahullah:

رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ وَهُوَ يَعْجِنُ فِي الصَّلاَةِ, يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ : مَا هَذَا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ قَالَ : رَأَيْتُ رسَوُلْ َاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَعْجِنُ فِي الصَّلاَةِ, يَعْنِي اعْتَمَدَ

“Saya melihat ‘Abdullah bin ‘Umar dalam keadaan melakukan ‘ajn dalam sholat, i’timad di atas kedua tangannya bila beliau berdiri. Maka saya bertanya : “Apa ini wahai Abu ‘Abdirrahman?”, beliau berkata : “Saya melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam melakukan ‘ajn dalam sholat –yaitu beri’timad (bertumpu dengan kedua tangannya)-”.
Diriwayatkan oleh Ath-Thobarony dalam Al-Awsath (4/213/4007) dan Abu Ishaq Al-Harby dalam Ghoribul Hadits (5/98/1) sebagaimana dalam Adh-Dho’ifah no. 967 dari jalan Yunus bin Bukair dari Al-Haitsam dari ‘Athiyah bin Qois dari Al-Azroq bin Qois.
Al-Haitsam di sini adalah Al-Haitsam bin ‘Imran Ad-Dimasyqy, meriwayatkan darinya 5 orang dan tidak ada yang mentsiqohkannya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana bisa dilihat dalam Ats-Tsiqot (2/296) dan Al-Jarh wat Ta’dil (4/2/82-83). Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan rowi yang seperti ini sifatnya dan yang benar di sisi kami –wal ‘ilmu ‘indallah- bahwa rowi yang seperti ini dihukumi sebagai rowi yang majhul hal (tidak diketahui keadaannya) yang membuat haditsnya tidak bisa diterima.
Hadits ini juga bisa dihukumi sebagai hadits yang mungkar dari dua sisi :
1.    Al-Haitsam ini menyelisihi Hammad bin Salamah (Haditsnya diriwayatkan oleh Al-Baihaqy: 2/135) –yang beliau ini lebih kuat hafalannya- dan juga ‘Abdullah bin ‘Umar Al-‘Umary (Haditsnya diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq no. 2964 dan 2969), yang keduanya meriwayatkan dari Al-Azroq bin Qois dengan lafazh, “bahwa beliau bertumpu di atas bumi kedua tangan beliau,” tanpa ada tambahan yang menunjukkan bahwa beliau melakukan al-‘ajn (mengepalkan kedua tangannya).
2.    Hadits ini berisi tentang tuntunan sholat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang setiap hari disaksikan oleh para shahabat dan sekaligus hadits ini merupakan ‘umdah (pokok satu-satunya) dalam masalah ini. Maka bisa dikatakan : Kenapa hadits ini bersamaan dengan sangat dibutuhkannya, perkaranya disaksikan setiap hari dan merupakan umdah dalam masalah ini hanya diriwayatkan dari jalan Al-Haitsam dari Al-Azroq dari Ibnu ‘Umar?!. Mana murid-murid senior Ibnu ‘Umar, seperti : Salim (anak beliau), Nafi’ dan lain-lainnya, kenapa mereka tidak meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Umar tapi justru diriwayatkan oleh orang yang tingkat kemasyhuran dan hafalannya biasa-biasa saja?!
Dan termasuk perkara yang semakin menguatkan lemah hadits ini, yaitu bahwa para pengarang kitab hadits terkenal seperti ashhab kutubut tis’ah (Bukhary, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah, Malik, Ahmad dan Ad-Darimy) dan yang lainnya berpaling dari (baca : tidak) meriwayatkan hadits ini bersamaan dengan sangat dibutuhkannya dan isinya adalah suatu perkara yang disaksikan setiap hari. Tapi yang meriwayatkannya adalah Imam Abu Ishaq Al-Harby dan Ath-Thobarony yang beliau ini terkenal sebagai hathibu lail (pencari kayu bakar di malam hari) yang artinya beliau hanya sekedar mengumpulkan riwayat tanpa menyaring mana yang shohih dan mana yang lemah.
Wa fauqo kulli dzi ‘ilmin ‘alim.

Incoming search terms:

  • dalil berdiri dari sujud dengan mengepalkan tangannya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 29th, 2009 at 10:04 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Hadits Al-‘Ajn”

  1. M.Aziz said:

    Jazakumullahu khoiron, skr ana tidak lagi melakukan ‘ajn sjk membaca artikel tsb, sekedar ingin tahu apakah ada ulama’ abad ini yg mendho’ifkan hadits tsb? Baarokalloohu fiikum

    Waiyyakum. Di antaranya Syaikh Bakr Abu Zaid dan beliau punya pembahasan khusus dalam menjelaskan lemahnya hadits ini. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam risalah beliau yang sangat bermanfaat ‘Laa Jadiida fii Ahkam Ash-Shalah’ hal. 47-48

  2. ardianroe said:

    Assalamualaikum,
    ana mau nanya masalah ajn, kalau tidak salah (mohon dikoreksi)syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam bukunya sifat shalat Nabi mencantumkan masalah ajn,dimana beliau merajihkan (menshahihkan) mengepal jari-jemari tangan (menggenggam) dan menyatakan bahwa hadist yang berbunyi “Nabi bangkit untuk berdiri seperti anak panah tanpa bertumpu pada tangannya” adalah hadist palsu, apakah pendapat Syaikh Albany pada masalah ini salah? karena sepengetahuan ana beliau adalah ulama yang ahli dalam masalah hadist sholat nabi dan beliau juga dikenal sebagai muhaddist zaman ini. jika belaiu salah apakah beliau pernah ruju’ atas pernyataan beliau di bukunya tsb?

    Baarokalloohu fiikum

    Waalaikumussalam warahmatullah. Pertama butuh diketahui bahwa bertumpu dengan kedua tangan saat akan berdiri adalah sunnah, sehingga kalaupun seseorang tidak bertumpu dengan tangannya dan langsung berdiri maka itu juga tidak mengapa. Yang diperselisihkan hanyalah bagaimana sifat kedua tangan ketika dijadikan tumpuan, apakah dikepalkan ataukan dihamparkan.
    Kedua, khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal ini adalah khilaf dalam masalah fiqhi yang diperbolehkan untuk berbeda pendapat, dan hendaknya setiap pihak yang berselisih menghargai pendapat lain dan tidak memakasakan pendapatnya selama pendapat yang menyelisihinya juga berlandaskan pada dalil.
    Ketiga, sebagaimana halnya khilaf dalam fiqhi, khilaf dalam penshahihan dan pelemahan hadits juga adalah hal yang biasa, bahkan salah satu sebab terjadinya khilaf dalam fiqhi adalah karena adanya khilaf dalam masalah hadits, sebagaimana dalam masalah al-ajn ini.
    Keempat, setinggi apapun kedudukan dan keilmuan seorang ulama maka tidak ada yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Jangankan syaikah Al-Albani yang kita akui sebagai ahli hadits di zaman ini, Imam Al-Bukhari yang disifati sebagai ‘amirul mukminin fil hadits’ (pimpinan kaum mukminin dalam masalah hadits) pun tak luput dari kekeliruan dengan adanya segelintir hadits dalam Shahih Al-Bukhari yang dikritik dan dilemahkan oleh ulama lain.
    Setelah ini dipahami maka kami katakan, pendapat beliau yang menshahihkan/menghasankan hadits Ibnu Umar adalah keliru dan termasuk ketergelinciran beliau dalam masalah ini -rahimahullah-. Tapi tentunya kami tetap menghargai siapa saja -terutama beliau- yang menshahihkan haditsnya lalu mengamalkannya karena dia juga beramal dengan dalil. Hanya saja kebenaran tidak berbilang karenanya kami menegaskan pendapat yang kami pilih adalah yang tepat dan selainnya adalah keliru, dan kami menghargai siapapun yang menyelisihi kami dalam masalah ini selama dia juga beramal dengan dalil.
    Wallahu a’lam, kami tidak mengetahui apakah beliau rujuk darinya atau tidak.

  3. [Yang Melemahkan] Hadits Al-’Ajn (Mengepalkan Kedua Tangan Saat Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri) « TUNTUNAN SHOLAT said:

    […] Sumber: al-atsariyyah.com […]

  4. ibnu ahmad albanjary said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Ana membaca di Kitab Tamamul Minnah karya Syaikh Albani, disana sebutkan nama rowi pada hadist ini yang beliau tsiqotkan adalah Al-Haitsami bin Imran Al-Abasi, sedangkan pada tulisan disini bernama Al-Haitsam bin ‘Imran Ad-Dimasyqy, apakah kedua nama tersebut sama rowi yang dimaksud? Jazakumullahu Khairon.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ia orangnya saja, hanya saja yang benarnya Al-Absi bukan Al-Abasi, sebagaimana yang Ibnu Hibban katakan dalam Ats-Tsiqat (7/577), “Al-Haitsam bin Imran Al-Absi, dari penduduk Damaskus,” jadi Al-Haitsam ini Al-Absi Ad-Dimasyqi. Waiyakum

  5. Ibnu Abi Irfan said:

    Assalamu’alaikum

    afwan seribu kali afwan. ana termasuk orang yang bimbang dalam masalah ini karena ana pernah membaca artikel di blog ahlus sunnah Abul Jauza bahwa disebutkan Syaikh Al Albani menghasankan hadits ‘ajn ini.

    mohon kedua ustadz pengelola situs Al-Atsariyah.com dan blog Abul-jauza.blogspot.com untuk saling mengklarifikasi agar dapat diketahui mana yang rojih antara kedua pendapat ini.
    syukron katsiiron

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tidak usah bingung akh, antum tinggal ngikuti mana pendapat yang antum lebih tenang mengamalkannya. Kamipun mencantumkan artikel ini hanya sebagai penjelasan mengenai pendapat kami, bukan dalam rangka memaksa orang lain untuk berpendapat dengannya.

  6. amil said:

    jadi untuk sunnah,apakah telapak tangan dikepalkan ataukan dihamparkan????

    Sunnahnya dihamparkan.

  7. lilmos said:

    minta dalil telapak tangan dihamparkan ketika bangun !!!!

    “Nabi bertumpu dengan kedua tangannya ketika akan bangkit ke rakaat kedua.” (HR. Al-Bukhari)
    Sementara keadaan normal dari kedua telapak tangan adalah dengan terhampar, bukan mengepal. Siapa yang menyatakan mengepal, maka hendaknya dia datangkan dalilnya. Dan dalam hal ini tidak ada dalil yang shahih, sebagaimana yang telah kami jelaskan.