Fatawa Asy-Syaikh Ar-Rajihi Seputar Zakat

October 4th 2008 by Abu Muawiah |

Fatwa-Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Ar-Rajihi Dalam Masalah Zakat

1. Bolehkah saya mengeluarkan zakat kepada kerabat yang miskin, jika mereka tidak mengerjakan shalat dan juga tidak berpuasa, hanya saja istrinya mengerjakan shalat dan berpuasa, sedangkan mereka sangat membutuhkan?
Jawab: Ia, dia berikan kepada sang istri agar dia bisa menghidupi anak-anaknya, dan jangan diberikan kepada sang suami. Tidak mengapa hal tersebut dilakukan.

2. Bolehkah seorang menjamu tamunya dari harta zakat (yang dia akan keluarkan)?
Jawab: Tidak boleh, tamu memiliki hak lain yang bukan harta zakat. Zakat hanyalah untuk orang-orang yang miskin. Maka hak menjamu tamu beda dengan hak zakat.
3. Apakah boleh memberi zakat kepada kerabat yang telah kehilangan ayah (yatim), terlebih jika anak sulung dalam kerabat saya itu umurnya sekitar 18 tahun, akan tetapi dia sedang menjalani pendidikan. Apakah mereka dianggap sebagai anak-anak yatim yang halal mendapatkan zakat?
Jawab: Jika mereka tidak mempunyai harta yang mencukupi, mereka tidak punya penghasilan, tidak ada pula yang menafkahi, dan juga tidak ada sama sekali warisan yang mereka warisi dari ayah mereka, sehingga mereka kekurangan dalam hal nafkah atau pakaian atau tempat tinggal, maka mereka (berhak) menerima zakat dengan kadar yang bisa menutupi kebutuhan mereka -yang berupa nafkah, pakaian, dan tempat tinggal- selama setahun ke depan.
Adapun jika Allah memudahkan mereka, dan orang tua mereka meninggalkan warisan untuk mereka atau mereka mempunyai penghasilan atau gaji bulanan atau mendapatkan sesuatu (uang) dari negara yang mana semua ini bisa mencukupinya, maka tidak apa-apa. Jika semua itu belum mencukupi kebutuhannya, maka mereka diberi zakat sesuai kebutuhan mereka. Yang jadi ukuran adalah kebutuhan, na’am

4.    Apakah berinfak (baca: mengeluarkan zakat) kepada (penuntut) ilmu termasuk (berzakat) di jalan Allah (arab: fii sabilillah) yang zakat di dalamnya dianggap syah? Terlebih lagi jika tidak ditemukan adanya jihad dengan senjata, yang ada hanyalah jihad dengan lisan dan pena?
Jawab: Yang benarnya, bahwa firman Allah -Ta‘ala-:
وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
“… dan di jalan Allah” (QS. A-Taubah: 60)
Yang diinginkan dengannya adalah jihad dengan pengertian khusus yakni memerangi musuh-musuh (dengan senjata). Dia menginfakkan (baca: mengeluarkan zakat) bagi para mujahidin atau membeli senjata. (Disyari’atkan) berinfak kepada para mujahidin, jika mereka tidak mendapat tunjangan rutin dari baitul mal (pemerintah), terkhusus lagi keluarga mereka (yang ditinggalkan).
Dan (para penuntut ilmu-pent.) tidak termasuk ke dalam golongan ini (di jalan Allah-pent.) walaupun (menuntut) ilmu memang merupakan suatu bentuk jihad. Akan tetapi mereka tidak diberikan nafkah dari harta zakat, terkecuali jika para ulama dan para penuntut ilmu yang akan diberikan nafkah ini adalah orang-orang yang miskin, maka mereka boleh diberikan (zakat) karena sifat fakir yang ada pada mereka (bukan karena mereka penuntut ilmu-pent.).  Maka seorang penuntut ilmu yang miskin (boleh) diberikan zakat yang dengannya dia bisa menafkahi dirinya dan keluarganya, atau dengannya dia bisa sedikit buku, tidak masalah hal ini.
Adapun jika dia tidak membutuhkannya maka tidak boleh, inilah (pendapat) yang benar. Sebagian (ulama) lainnya menyatakan, “(Tidak), bahkan zakat ini mencakup semua jalan-jalan Allah secara umum, dalam jalan-jalan kebaikan”. Akan tetapi pendapat mereka ini lemah, karena keharusan dari makna ‘jalan-jalan Allah’, artinya (dia bisa mengeluarkan zakatnya-pent.) ke mesejid-mesjid, sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan untuk perbaikan jalan-jalan umum. Semua perkara ini adalah umum (termasuk di jalan Allah-pent.). Sehinga artinya tidak tersisa sesuatupun (berupa kebaikan-pent.) kecuali masuk ke dalam makna ayat ini, padahal Allah -Ta‘ala- telah mengkhususkannya dan menjadikan zakat hanya untuk delapan kelompok:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 60)
Yakni khusus untuk jihad dalam memerangi musuh-musuh, untuk membeli pedang, membiayai para mujahidin agar mereka mempunyai tunjangan rutin dan lebih terkhusus lagi bagi keluarga-keluarga mereka yang ditinggal (tapi pemberian nafkah kepada keluarga-pent.) hanya sekali selama berlangsungnya jihad. Inilah pendapat yang benar yang dikuatkan oleh para muhaqqiq (peneliti). Adapun pendapat yang menyatakan bahwa ‘di jalan (Allah)’ mencakup umum dan semua jalan-jalan kebaikan, maka ini berarti tidak ada satupun kegiatan-kegiatan (kebaikan) kecuali masuk ke dalam ayat tersebut.

5.    Ada seorang penuntut ilmu yang menakutkan kekejian (baca: zina) atas dirinya, bolehkah dirinya menerima zakat dan sedekah sebagai biaya pernikahan, mengingat dia belum punya usaha atau pekerjaan yang dengannya bisa menghasilan uang untuk biaya mahar?
Jawab: Boleh dia diberikan zakat sesuai dengan keperluannya untuk menikah, dia boleh diberikan zakat walaupun dia seorang penuntut ilmu, bahkan penuntut ilmu lebih pantas (untuk diberikan zakat), karena pernikahan adalah termasuk kebutuhan yang mendesak, sebagaimana halnya seorang diberi zakat untuk menafkahi serta memberi pakaian dan tempat tinggal untuk keluarganya. Maka boleh dia diberi zakat untuk menjadi maharnya dalam pernikahan.

6.    Apakah boleh seorang anak perempuan memberikan zakat kepada ibunya?, terlebih jika ibunya adalah seorang yang sangat miskin. Akan tetapi saya (penanya) tidak tahu, dia (sang putri) memberi nafkah kepada ibunya ataukah tidak.
Jawab: Tidak boleh, zakat tidak boleh diberikan kepada orang tua, tidak kepada kakek, tidak pula nenek, tidak diberikan kepada anak laki-laki, tidak pula kepada anak perempuan, tidak kepada cucu laki-laki, dan tidak pula kepada cucu perempuan. Ushul dan furu’ sama sekali tidak boleh diberikan secara mutlak, baik dia laki-laki maupun perempuan. Seorang tidak boleh mengeluarkan zakatnya kepada ayahnya, tidak kepada kakeknya, tidak kepada ibunya, tidak kepada nenek-neneknya, tidak kepada anak laki-lakinya, tidak kepada anak-anak perempuannya, dan tidak pula kepada cucu-cucunya. Ushul dan furu’ darimu tidak boleh kamu berikan zakat, bahkan wajib atasmu untuk menafkahi mereka dari selain zakat. Jika mereka membutuhkan, maka wajib bagimu untuk menafkahi mereka dari selain zakat. Yang boleh diberikan zakat hanyalah (dari keluarga-pent.) saudara, saudari, keponakan, paman, dari pihak ayah, dan paman dari pihak ibu.

7.    Ada seorang lelaki yang memiliki. Apakah boleh baginya untuk memberikan zakatnya kepada saudara-saudaranya, sedang mereka memang tidak memiliki penghasilan, karena ia adalah seorang penuntut ilmu? Demikian pula, apa boleh baginya untuk memberikan zakat hartanya kepada orang tuanya?
Jawab: Tidak boleh! Orang tua tidak diberi, orang tua tidak diberi dari zakat. Ushul-mu dan furu’-mu, putra-putramu, putri-putrimu, anak-anak mereka, orang tua, ibu, kakek, dan nenek, semuanya tidak boleh diberi. Adapun saudara-saudaramu, jika mereka fakir, sedang mereka tidak ada (tidak tinggal) di rumahmu untuk kamu nafkahi dan mereka faqir lagi butuh, tidak mengapa (diberi zakat). Paman dan bibi (baik dari arah bapak atau ibu) , saudara, anak saudara, saudari, anaknya, paman, anaknya, mereka semua boleh diberi zakat, jika mereka bukan orang yang kamu nafkahi, mereka tidak ada di rumahmu, sedang mereka butuh kepada pakaian, nafkah, sewa rumah, dan semisalnya. Engkau boleh memberi mereka (dari zakat) sesuatu yang mencukupi mereka selama setahun berupa nafkah, pakaian, dan tempat tinggal. Jika mereka ada di rumahmu dan engkaulah yang menafkahi mereka, maka tidak boleh (diberi zakat). Ada fatwa Syaikh Muhammad bin Utsaimin dalam masalah ini, tapi masih perlu direnungi. Pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa orang tua tidak diberi zakat secara mutlak.

8.    Tema: Mengeluarkan zakat sebelumnya
Soal: Ada seorang wanita yang memiliki emas, dan ia mengumpulkan zakatnya sampai datang waktu pengeluarannya. Kemudian bibinya datang dari negeri lain, sedang ia butuh. Lalu wanita itu mengambil sebagian zakat emasnya dan memberikannya kepada si bibi, sedang belum tiba saatnya dikeluarkan. Apakah mengeluarkan zakat seperti ini benar atau tidak?
Jawab: Ya, boleh baginya menunaikan zakat sebelum waktunya. Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menarik zakat untuk dua tahun dari pamannya, yaitu Abbas. Boleh menyegerakan zakat (sebelum waktunya) karena ada suatu maslahat. Ya, tidak apa-apa.

9.    Tema: Menyegerakan zakat untuk tahun-tahun berikutnya.
Soal: Ada seorang yang bertanya tentang penyegeraan zakat untuk tahun-tahun berikutnya (akan datang). Apa hukumnya andaikan ia menyegerakan zakat, kemudian hartanya bertambah. Demikian pula sebaliknya, bila harta kurang, bagaimana cara menghitungnya?
Jawab: Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah menyegerakan (mempercepat) zakat untuk dua tahun dari pamannya, yaitu Al-Abbas. Kemudian dari sini para ulama mengambil kesimpulan bahwa tidak mengapa menyegerakan zakat, jika disana terdapat maslahat ketika disegerakan. Silahkan disegerakan, tidak ada salahnya. Jika harta (zakat) lebih, maka ia keluarkan, jika kurang boleh baginya menghitung dalam zakatnya dimasa akan datang. Atau ia jadikan sebagai sedekah sunnah.

10.    Tema: Zakat buah-buahan
Soal: Apakah ada zakat pada apel dan jeruk?
Jawab: Pada keduanya tidak ada zakat, karena zakat hanya ada pada biji-bijian, buah-buahan yang ditakar dan disimpan. Adapun apel dan jeruk, maka ia tidak mereka tidak menyimpannya. Apel, jeruk, sayuran, tomat, ubi, lobak dan semisalnya di antara sayur mayur harian, dan pekanan, tidak ada zakat di dalamnya. Zakat hanyalah pada biji-bijia, dan buah, seperti korma, biji-bijian, anggur, dan kismis yang ditakar dan disimpan.

11.     Tema: Zakat laba saham
Soal: Jika ada yang diberikan laba saham akhir tahun, apakah ia mengeluarkan zakat untuk laba ini? Apakah ia zakati harga pokoknya, jika kembali padanya?
Jawab: Saham-saham ini jika ia serahkan untuk mendapatkan keuntungan, maka ia seperti rumah yang disewakan. Zakat yang ada uang sewanya, jika laba datang dan genap setahun -maksudnya setelah lewat setahun-, maka ia zakati laba ini. Adapun jika laba itu datang sebelum genap setahun, maka ia tidak mengeluarkan zakatnya, kecuali setelah genap setahun. Adapun saham ini, jika ia tidak menyiapkan untuk dagang, maka tidak ada zakatnya. Jika ia siapkan untuk dagang, dan telah berlalu padanya setahun sejak ia menyiapkannya untuk dagang, maka ia zakati saham ini. Adapun jika ia tidak niatkan untuk dagang, tapi ia niatkan untuk investasi, dia ingin mengambil keuntungan dari laba, maka zakat ini pada laba. Akan tetapi, laba ini harus diketahui (jelas), seperti tanah yang sudah dimaklumi, atau saham yang jelas. Di antara syarat perdagangan, adalah diketahui jelas, saham tidak boleh berupa sesuatu yang tidak jelas, saham ini harus jelas. usaha yang dilakukan oleh mudharib (penanam saham) ini, harus jelas karena syarat perdagangan adalah diketahui (jelas). contohnya jika engkau memiliki saham berupa tanah tertentu, maka engkau mendapatkan laba sekian dari saham, 100 saham dari sekian dan sekian berupa tanah tertentu. Yang diinginkan disini, saham jika jelas dan dikelola dalam perdagangan dan jelas. Jika ia tidak siapakan untuk dagang, maka zakatnya ada pada hasil sewa, jika genap setahun baginya. Jika ia siapkan untuk dagang dan telah lewat padanya setahun, maka ia zakati sahamnya, dia menaksir saham-saham tersebut, dan mengeluarkan zakatnya setelah genap setahun. Seperti rumah, jika kau siapkan untuk penyewaan, maka zakatnya ada pada hasil sewa. Jika engkau siapkan rumah itu untuk dagang dan sewa sekaligus., maka kau zakati hasil sewa, jika genap setahun, sedang dia tetap, tidak dijual, maka engkau menghargainya, dan menaksir rumah ini, serta mengeluarkan zakatnya.

12.    Zakat harta jika telah lewat setahun
Soal: Penaya berkata, “Aku menyewakan sebuah rumah milikku seharga 20.000 real pertahun, penyewa menyerahkan uang sewanya lebih dahulu, satiap awal tahun. Apakah ada kewajiban zakat bagiku dalam harta seperti ini, ketika aku menerimanya?”
Jawab: Jika lewat padanya setahun, jika engkau menerima sewanya, dan telah lewat baginya setahun, sejak terjadinya akad, maka engkau zakati. Adapun jika engkau nafkahkan, dan engkau makan, maka ada sesautu padanya (zakat) padanya berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Bila engkau menerimanya, dan telah padanya setahun sejak terjadi akad, maka engkau zakati.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, October 4th, 2008 at 7:54 pm and is filed under Fatawa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Fatawa Asy-Syaikh Ar-Rajihi Seputar Zakat”

  1. afwan said:

    Apakah saya boleh memberi zakat kepada bibi dari ibu karena dia tidak mempunyai penghasilan dan juga janda, tapi untuk sementara dia tinggal dengan saya. Jazakumullahu khairan

    Boleh saja karena dia bukan termasuk ushul (orang tua ke atas) dan furu’ (anak ke bawah) antum. Bahkan memberikan zakat kepada kerabat itu lebih utama daripada kepada selain kerabat, karena selain dia mendapatkan pahala zakat, dia juga mendapatkan pahala menyambung silaturahmi, wallahu a’lam.

  2. abu abdillah said:

    Bismillah. Ustadz, adakah lafazh khusus dalam ijab qabul zakat fithr? Jazakumullah

    Dari Abdullah bin Abu Aufa dia berkata:
    إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبِي أَبُو أَوْفَى بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
    Apabila seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa sedekahnya, maka beliau mendo’akan; “ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIHIM (Ya Allah, bershalawatlah atas mereka).” Kemudian bapakku Abu Aufa mendatangi beliau (dengan membawa sedekah), maka beliau pun mendo’akan: “ALLAHUMMA SHALLII ‘ALA `AALI ABII AUFA (Ya Allah berilah shalawat kepada keluarga Abu Aufa).”
    Imam Ash-Shan’ani dalam Subul As-Salam (2/38-39) menjelaskan bahwa makna shalawat Nabi untuk umatnya adalah doa dari beliau agar mereka diampuni.
    Jadi tidak ada lafazh ijab qabul dalam zakat, tapi yang ada adalah mendoakan para pemberi zakat.
    Walaupun dalam hadits di atas ada persilangan pendapat di kalangan ulama: Apakah syariat mendoakan pemberi sedekah itu hanya berlaku khusus untuk Nabi atau juga berlaku kepada para amil?
    Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1791 dan diberikan judul bab oleh An-Nawawi: Bab Mendoakan Orang Yang Membawa Sedekah, dan ini menunjukkan bahwa Imam An-Nawawi memahami kalau syariat di atas berlaku umum untuk semua penerima zakat.
    Ala kulli hal, bagi siapa yang mau mendoakan dengan berdalilkan hadits di atas maka silakan dia mengerjakannya. Sedang barangsiapa yang tidak mengamalkannya maka hukum mendoakan di sini hanya sunnah (bukan wajib).
    Yang jelas -sepanjang pengetahuan kami- tidak ada ucapan ijab qabul dalam serah terima zakat, wallahu a’lam

  3. hairah said:

    Ana baca di kitab kalo nishab emas=85 grm zakatnya=2,5% dan nishab perak=595 grm zakatnya=2,5%. Tapi di kitab yang lain disebutkan kalau nishab emas=93,6grm dan perak=672 grm yang masing2 zakatnya 2,5%. Mana yang benar ust?

    Kalau ana sendiri lebih condong ke nishab yang pertama: Emas 85 gr dan perak 595 gr, seingat ana ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, wallahu a’lam.

  4. Akhmad Najib khoiruddin said:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Teman saya bertanya pd saya bhwa ada seorang ibu (yg punya suami dan anak) mendptkan warisan yg banyak (yg mnrt ibu tsb sdh masuk nishaf zakat). pertanyaanya adalah :
    1. Apakah warisan memang ada zakatnya kalo sdh masuk nishafnya?
    2. nishaf warisan itu brp & brp persen bagian utk zakatnya?
    3. Jika zakat tsb utk anaknya apakah boleh (kalo tdk boleh karena apa?), krn mnrt ibu tsb yg berkewajiban menafkahi anak adalah bapaknya Mohon jawabannya & rujukannya agar ibu tersebut mantap dalam bersikap.
    Terima kasih atas jawabannya. jazakumullahu khairan katsira wa barakallahu fi kum. Mohon maaf kalo ada kekhilafan. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.
    1. Jika jumlah warisan yang dia terima saat itu telah mencapai nishab di atas dan warisan dengan jumlah yang mencapai nishab itu telah berada di tangannya selama setahun penuh maka barulah dia wajib untuk mengeluarkan zakatnya. Adapun saat dia menerima warisannya maka dia belum wajib mengeluarkan zakatnya (walaupun jumlahnya mencapai nishab) karena belum dia miliki selama setahun.
    2. Jumlah nishab pada harta warisan seperti ini adalah nishab pada zakat mal, yaitu 85 gram emas atau yang senilai dengannya. Dan dikeluarkan darinya 2,5 %.
    3. Tidak boleh memberikan zakat kepada ushul (orang tua ke atas) dan furu’nya (anak ke bawah), karena kedua pihak ini adalah pihak yang wajib dia nafkahi kalau mereka kekurangan. Baca kembali artikel di atas.

  5. Ummu Aisyah said:

    Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.

    Apakah uang yang diperoleh dari gaji sebagai pegawai apabila telah sempurna nishob dan haulnya terkena zakat?
    Nishob yang dipakai nishob emas atau perak?
    Bagaimana jika pegawai tersebut memperoleh uang dari hasil perdagangan juga, apakah terkena zakat perdagangan?
    Jika uang dari gaji blum mencapai nishob tapi dia mempunyai uang lain dalam bentuk modal dan hasil perdagangan, apakah kesemuanya itu bisa dihimpunkan dan dibayarkan zakatnya? Jika iya, berapa kadarnya?

    Afwan ustadz, sebelumnya beberapa waktu yang lalu ana sudah membaca beberapa penjelasan dari beberapa ustadz juga, namun karena ada perbedaan, ana jadi bingung menentukan manakah pendapat yang paling rajih dalam masalah ini.

    Mohon penjelasannya beserta dalil-dalilnya.

    Jazakumullah khoir.
    Barokallahu fiikum.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Ia, kapan hartanya baik berasal dari gaji atau dari perdagangan dan selainnya mencapai nishab dan nishab itu tetap berada di tangannya selama setahun maka dia wajib membayar zakat.
    Adapun nishabnya, maka kalau dia ingin lebih berhati-hati maka dia boleh menggunakan nishab perak.
    Zakat perdagangan menurut kami tidak ada dalam Islam, tidak ada satupun dalil yang shahih lagi tegas menunjukkan adanya zakat perdagangan dalam Islam. Karenanya, tidak ada zakat pada barang dagangan. Yang ada zakatnya hanyalah uang hasil keuntungan perdagangannya jika memang dia mencapai nishab, baik dia sendiri maupun setelah digabungkan dengan harta asalnya. Wallahu a’lam

  6. tao said:

    assalamualaikum ustadz

    merujuk jawaban dri ummu aisyah disitu di tulis zakat perdagangan tidak ada
    tapi saya baca di artikel selanjutnya yaitu beberapa hukum zakat. zakat barang dagangan dan keuntungan nya ada zakat nya

    maksud zakat perdagangan di atas gmn ustadz ? mhn penjelasanya

    syukron

    Waalaikumussalam.
    Memang ada persilangan pendapat dalam hal ada tidaknya zakat perdagangan. Namun yang lebih tepat insya Allag adalah tidak adanya. Wallahu a’lam.