Duduk Tasyahud

March 22nd 2010 by Abu Muawiah |

6 Rabiul Akhir

Duduk Tasyahud

Dari Aisyah -radhiallahu’anha- dia berkata:
وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
“Beliau membaca ‘tahiyyat’ pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkkan kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan beliau melarang seseorang menghamparkan kedua dzira’ sebagaimana binatang buas menghamparkannya. Dan beliau menutup shalatnya dengan salam.” (HR. Muslim no. 498)
Duduknya setan yang dimaksud adalah: Seseorang menegakkan kedua betisnya lalu duduk di atas pantatnya dan meletakkan kedua tangannya di atas tanah. Ini adalah penafsiran Abu Ubaidah Ma’mar bin Al-Mutsanna, Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallaam, dan selainnya. Lihat Aun Al-Ma’bud (2/348)
Maksud menghamparkan dzira’ (ujur jari tengah sampai siku) adalah merapatkannya ke tanah.
Dari Abu Humaid As Sa’idi -radhiallahu anhu- dia berkata:
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Apabila beliau duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedepankan (baca: memasukkan) kaki kirinya (di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (lantai).” (HR. Al-Bukhari no. 828)
Dari Abdullah bin Az-Zubair -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَعَدَ فِي الصَّلَاةِ جَعَلَ قَدَمَهُ الْيُسْرَى بَيْنَ فَخِذِهِ وَسَاقِهِ وَفَرَشَ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dalam shalat, maka beliau memasukkan kaki kirinya di antara pahanya dan betisnya, serta menghamparkan telapak kaki kanannya, sambil meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan beliau letakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, lalu beliau memberi isyarat dengan jari (telunjuk) nya.” (HR. Muslim no. 579)

Penjelasan ringkas:
Dalam shalat, ada dua duduk tasyahud yang disyariatkan: Duduk tasyahud awal yaitu yang terletak pada rakaat kedua dan duduk tasyahud akhir yang terletak pada rakaat terakhir. Persamaan antara keduanya adalah bahwa tangan kanan di letakkan di atas lutut kanan dan tangan kiri di atas lutut kiri, lalu berisyarat dengan jari telunjuk.

Adapun perbedaan di antara keduanya, maka para ulama menyebutkan beberapa perbedaan sebagai berikut:
1.    Duduk tasyahud awal (pada rakaat pertama) adalah kewajiban shalat, sementara duduk tasyahud terakhir adalah rukun shalat.
2.    Karenanya meninggalkan tasyahud awal -baik sengaja maupun tidak- tidaklah membatalkan shalat, akan tetapi cukup ditutupi dengan sujud sahwi kalau memang dia meninggalkannya karena lupa. Adapun jika sengaja maka dia telah berdosa dan tidak perlu ditutupi dengan sujud sahwi.
3.    Cara duduk pada tasyahud pertama adalah dengan duduk iftirasy, yaitu menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri lalu duduk di atasnya (kaki kiri). Sementara dalam tasyahud akhir, ada dua cara duduk yang tersebut dalam sunnah:
a.    Menegakkan kaki kanan lalu memasukkan kaki kiri di bawah betis, dan duduknya di lantai.
b.    Menegakkan kaki kanan lalu memasukkan kaki kiri di antara betis dan paha, dan duduknya di lantai.
4.    Perbedaan keempat akan disebutkan pada artikel ‘Bacaan Dalam Tasyahud’ selanjutnya.

Incoming search terms:

  • maksud tasyahud
  • duduk tasyahud
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, March 22nd, 2010 at 3:28 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Duduk Tasyahud”

  1. Widodo Abu Abdirrahman said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum Ustadz Hafidzakallah

    Terkait : “Duduknya setan yang dimaksud adalah: Menegakkan kedua kaki lalu duduk di atas kedua tumit.”
    Yang ana pahami arti tersebut adalah duduk iq a’, yang mana termasuk salah satu cara ketika duduk diantara 2 sujud.
    Ana pernah membaca :”Syaikh Al Albani berkata, duduknya syaithan adalah dua telapak kaki ditegakkan kemudian duduk dilantai antara dua kaki tersebut dengan dua tangan menekan dilantai.”
    Mohon penejelasannya.
    Jazakallahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia afwan ana salah lihat. Sudah ana sebutkan makna yang benar. Jazakallahu khairan

  2. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz izinkan saya ingin membagi ilmu saya dapat dari “shifat shalat nabi” dari syaikh Al-Albani bahwa duduk tasyahud akhir pada shalat 2 rakaat adalah duduk iftirasy.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Jazakallahu khairan atas ilmunya.

  3. hani said:

    assalaamu’alaikum, bacaan tasyahud awal dan akhir sama ya, ustadz?

    Kalau tasyahud awal tidak pakai shalawat ibrahimiah, sementara tahiyat akhir pakai shalawat.

  4. argian said:

    assalamu’alaikum pak ustadz..
    sujud sahwi itu kan dilakukan 2 kali..pertanyaannya
    bagaimana posisi duduk saat bangun dari sujud sahwi yang pertama?? apakah iftirasy??
    lalu bagaimana posisi duduk saat bangun dari sujud sahwi yg kedua kalinya??

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam. Duduk pertama iftitasy dan yang kedua tawarruk.

  5. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, Mohon jawabanya:
    1. Sewaktu bangkit dari duduk tasyahud awal ke raka’at ke tiga apakah mengangkat tangan sejajar pundak sambil takbir?
    2. Bagaimana maksud mengangkat tangan sejajar pundak? Apakah posisi telapak didekatkan (sejajar) pundak atau telapak tangan agak ke depan tapi masih sejajar pundak?
    3. Bolehkah posisi telapak tangan sewaktu takbir sejajar telinga?
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    1. Ya.
    2. Terserah, keduanya nggak masalah.
    3. Boleh.

  6. Refnadi said:

    Assalamualikum..mau tanya tentang 2 poin ini,menurut saya kok ada yang bertentangan poin 1 dan 2,..dimana poin 1 menyebutkan tasyahud awal adalah kewjiban shalat, sementara di poin 2 menyebutkan “meninggalkan tasyahud awal sengaja atau tidak sengaja tidak membatalkan shalat”,berikutnya “tetapi kalo sengaja maka dia telah berdosa”……mohon penjelasannya!!!

    1. Duduk tasyahud awal (pada rakaat pertama) adalah kewajiban shalat, sementara duduk tasyahud terakhir adalah rukun shalat.
    2. Karenanya meninggalkan tasyahud awal -baik sengaja maupun tidak- tidaklah membatalkan shalat, akan tetapi cukup ditutupi dengan sujud sahwi kalau memang dia meninggalkannya karena lupa. Adapun jika sengaja maka dia telah berdosa dan tidak perlu ditutupi dengan sujud sahwi.

    Waalaikumussalam.
    Saya rasa jelas dari kedua point di atas. Dalam gerakan shalat, harus dibedakan antara kewajiban dan rukun shalat. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah tidak tasyahud awal, tapi beliau hanya sujud sahwi dan tidak mengulang shalatnya.
    Jadi tidak ada yang bertentangan.