Doa Adalah Ibadah

October 3rd 2014 by Abu Muawiah |

Contoh-Contoh Syirik yang Tersebar:

Ucapan penulis: Di antara bentuk kesyirikan dalam ibadah adalah berdoa kepada orangorang yang telah wafat.

Maksudnya: Di antara bentuk kesyirikan adalah berdoa kepada selain Allah. Hal itu karena doa adalah ibadah, yang tidak mungkin dilakukan kecuali disertai dengan perasaan cinta, pengagungan, perasaan butuh, perendahan diri, dan keyakinan bahwa tempat kita berdoa mampu mengabulkan doa.
Dan maksud doa di sini adalah: Permintaan

Ibnu Taimiah berkata, “Maka siapa saja yang berlebihan dalam mengkultuskan orang yang masih hidup atau seorang yang saleh, dengan menyematkan kepada mereka sifat-sifat uluhiah (sembahan, penj.), misalnya dia mengatakan: Wahai sayyid fulan ampunilah aku, atau rahmatilah aku, atau tolonglah aku, atau berilah rezki kepadaku, atau bantulah aku, atau lindungilah aku, atau aku bertawakal kepadamu, atau engkaulah pemberi kecukupan kepadaku, atau aku dalam kecukupan darimu, atau ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan semacamnya yang merupakan hak-hak eksklusif rububiah (ketuhanan, penj.), yang tidak pantas disematkan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Semua amalan di atas adalah kesyirikan dan kesesatan, yang pelakunya wajib disuruh bertaubat. Jika dia bertaubat maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak maka dia harus dijatuhi hukuman mati. Hal itu karena tidaklah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci kecuali agar kita menyembah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan agar kita tidak mengangkat sembahan lain selain Allah.” (Majmu’ al Fatawa: 3/395)
Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, “Maka siapa saja yang berdoa kepada selain Allah seraya meminta kepadanya sesuatu yang tidak ada yang bisa memenuhinya kecuali Allah, semisal permintaan untuk meraih maslahat atau menolak mudharat, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah dalam ibadah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ. وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaf: 5-6)
Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 13-14)

Allah Tabaraka wa Ta’ala mengabarkan bahwa doa kepada selain Allah adalah kesyirikan. Karenanya, siapa saja yang berdoa seraya mengatakan: Wahai Rasulullah, atau: Wahai Abdullah bin Abbas, atau: Wahai Abdul Qadir, atau: Wahai Mahjub. Dia menyeru mereka seraya meyakini bahwa selain Allah itu bisa mengantarkan hajatnya kepada Allah Ta’ala, atau selain Allah itu bisa memberi syafaat baginya di sisi Allah atau wasilah baginya kepada Allah, maka inilah bentuk kesyirikan yang menghalalkan darah dan harta pelakunya, kecuali jika dia bertaubat darinya.” (ad Durar as Saniyah fi al Ajwibah an Najdiah: 2/19)

Ibnu Bàz berkata, “Maka siapa saja yang menyangka atau meyakini bolehnya beribadah kepada selain Allah dengan sembahan yang lain, seperti malaikat atau nabi atau pohon atau jin atau selainnya, maka dia adalah orang yang kafir. Jika dia mengucapkan keyakinannya itu, maka dia kafir dengan ucapan dan keyakinannya secara bersamaan. Dan jika dia mengamalkannya dengan berdoa kepada selain Allah dan beristighatsah dengan selain Allah, maka dia kafir dengan ucapan, amalan, dan keyakinannya sekaligus.
Di antara contoh hal ini adalah apa yang dilakukan oleh para penyembah kubur di zaman ini di berbagai negeri. Mereka berdoa kepada orang-orang yang telah wafat, beristighatsah dengan mereka, dan meminta kelapangan dari mereka. Mereka berdoa: “Wahai sayyidku, berilah kelapangan, berilah kelapangan kepada kami. Wahai sayyidku, tolonglah kami, tolonglah kami. Aku ada di sisimu, karenanya sembuhkanlah penyakitku, kembalikanlah barangku yang hilang, dan perbaikilah hatiku.”
Mereka berbicara dan meminta permintaan semacam ini kepada orang-orang mati yang mereka gelari sebagai wali. Mereka melupakan Allah dan menyekutukanNya dengan selainNya. Ini adalah kekafiran ucapan, keyakinan, dan amalan.
Di antara mereka ada yg menyeru dari tempat atau daerah yang jauh: “Wahai Rasulullah, bantulah saya,” atau ucapan semacamnya. Sebagian di antara mereka ada yang berdoa di samping kubur beliau seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sembuhkanlah penyakitku. Wahai Rasulullah, berilah kelapangan, berilah kelapangan kepada kami. Bantulah kami dalam melawan musuh-musuh kami. Anda mengetahui keadaan kami di sini, karenanya bantulah kami dalam melawan musuh-musuh kami.”
Padahal ar Rasul shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahui ilmu gaib, karena tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali Allah Subhanah. Perbuatan di atas adalah syirik qauli (ucapan) sekaligus amali (amalan). Namun jika dia juga meyakini bolehnya hal itu dan bahwa hal itu tdk mengapa, maka jadilah kesyirikan dalam hal ucapan, amalan, dan keyakinan. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” (Al Qawadih fi al Aqidah hal. 35)

Ibnu Utsaimin berkata, “Firman Allah Ta’ala:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’: 57)
Dalam ayat ini terdapat sanggahan atas kaum musyrikin yang berdoa kepada orang-orang saleh. Dan Allah menjelaskan bahwa perbuatan itu adalah syirik akbar, karena doa adalah ibadah. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah. Karena jika bukan ibadah, maka tentu awal ayat akan bertentangan dengan akhirnya. Padahal justru akhir ayat itu merupakan sebab dari apa yang tersebut di awal ayat. Karenanya siapa saja yang berdoa kepada siapa pun selain Allah, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, maka dia adalah seorang musyrik yang melakukan syirik akbar.

Doa ada 3 jenis:
Pertama: Boleh.
Yaitu jika anda berdoa (baca: meminta) kepada sesama manusia -yang msh hidup- dengan permintaan yang jelas dan bisa ditangkap oleh panca indera. Maka yang seperti ini bukanlah doa ibadah, namun merupakan bentuk permintaan yang dibolehkan.

Kedua: Anda berdoa kepada sesama makhluk -baik yang masih hidup maupun yang telah wafat- dengan permintaan yang tidak ada yang mampu memenuhinya kecuali Allah. Maka ini adalah syirik akbar, karena anda telah menjadikan makhluk itu sebagai tandingan bagi Allah pada hal-hal yang tidak ada yang mampu memenuhinya kecuali Allah. Semisal ucapan: Wahai fulan, jadikanlah janin yang ada dalam perut istriku menjadi bayi laki-laki.

Ketiga: Anda berdoa kepada makhluk yang telah wafat yang jelas tidak bisa mengijabahi doa, walaupun permintaan yang diminta adalah sesuatu yang jelas dan bisa disaksikan oleh indera. Maka ini adalah syirik akbar, karena orang ini tidak akan berdoa kepada mayit kecuali jika dia meyakini bahwa si mayit ini memiliki kemampuan tersembunyi untuk mengatur alam semesta.” (al Qaul al Mufìd: 1/197-198)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, October 3rd, 2014 at 1:22 pm and is filed under Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.