Dakwah Salafiyah di Villani II (selesai)

November 27th 2008 by Abu Muawiah |

Dakwah Salafiyah di Villani II (selesai)

Demikianlah, setelah uraian tentang ciri dan karakter dakwah Salafiyah terdahulu, barulah pembicaraan melangkah pada waqi’ -realita- dakwah Salafiyah di Villa Nusa Indah II(Villani II). Syabaab di wilayah ini dan juga sekitarnya, pada dasarnya –sebagian besarnya tentunya- adalah para syabaab yang haus akan ilmu dan dirasah ‘ilmiyah. Hanya saja, dari jeda waktu mulainya pengenalan “nama” dakwah Salafiyah oleh beberapa da’i, mereka tidaklah diajak untuk mengenal dan mendalami ilmu-ilmu asy-syar’iyah. Sebagian besar fokus dakwah para da’i tersebut hanya bersifat formalitas bahkan cenderung pada tajammu’at, yaitu mengumpukan sebanyak-banyaknya pengikut tanpa memperhatikan kualitas ilmiyah yang dicapai oleh mereka. Hingga penokohan da’i tertentu serta kultus individu menjadi ciri dakwah para da’i ini ditengah-tengah mad’u mereka. Dakwah Salafiyah yang hakikipun pada akhirnya tidak dikenali oleh sebagian besar mad’u, yang mana mereka semakin jauh dari metode at-tarbiyah dan ats-tashfiyah yang ditunjukkan para ulama as-Salaf. Sehingga beberapa diantaranya malah menganggap “asing” metode at-tarbiyah yang telah dicontohkan oleh ulama as-Salaf.
Sebut saja misalnya, seorang yang mengaku diri sebagai senior dakwah Salafiyah di Villani II ini. Penulis telah mendengar sendiri, tidak sekali dua kali, klaim senioritas itu terujar dari lisannya. Kata-kata, “paling demikian dan demikian…” telah menghiasi lisan, bahkan mungkin hatinya -na’udzu billah-.Sementara, orang ini tidaklah mengerti ilmu-ilmu syara’. Bahasa Arab, ilmu Hadist, ilmu Ushul dan Qawa’id Fiqhiyah, dan ilmu-ilmu teoritis/alat lainnya, sangat asing bagi dia, terlebih jika dikatakan dia mengetahuinya. Keangkuhan yang menjadikan semakin “muram”-nya wajah dakwah Salafiyah.
Lain halnya, seorang yang lain, pengajar “Sekolah Dasar” di salah satu sekolah di dalam area Villani II. Yang pernah mengecap sedikit pengetahuan bahasa arab “percakapan” dari sebuah instituisi pendidikan swasta. Al-Akh ini, ketika melihat perkembangan beberapa syabaab yang menelaah kajian Ilmu an-Nahwu/ash-Sharf, ilmu Ushul, Mushthalah Hadist dll, memberi komentar yang menunjukkan “kebodohan”-nya terhadap dakwah Salaf –semoga bukan karena “kedengkian” dia atas dakwah Salafiyah ini-:
Belajar ilmu menurutnya, haruslah memakai absensi, tidak sebatas hadir saja. Demikian salah satu ujarannya yang sampai. Mungkin, karena “kerja harian” sebagai guru sekolah dasar yang terbiasa “memegang absen” yang menjadikan dia menyamakan forum ta’lim dan dakwah ilallah sederajat dengan mengajar anak-anak SD.
Saat lainnya, dia meminta adanya tazkiyah –license/rekomendasi- pada pelajaran-pelajaran ilmu-ilmu alat itu sendiri. Ucapan ini bukan hal yang baru penulis dengar, sebelumnya orang-orang hizbiyyah dari kaum harakah juga menghujat para da’i dan thalabul ilmu Ahlus Sunnah dengan ucapan ini. Ada kemungkinan, al-akh ini, karena pernah belajar di institusi yang nota bene “hizbiy” hingga pemikirannya menjadi kacau seperti ini, ataukah karena selama ini dia –sepanjang pengetahuan penulis- mengambil ilmu dari para da’i Hizbiyyiin, sehingga cara berpikirnya juga tidak jauh berbeda dengan para da’i tersebut.
Kami katakan – selain sebagai kritik dan nasihat baginya-, dan sebagai jawaban diatas:
1. Jikalau tazkiyah tersebut yang dimaksud adalah tazkiyah “kabiiruhum” yang memasung dirinya sebagai tolak ukur “salafiyah” seseorang, maka ucapan al-akh ini –semoga Allah mengampuninya- adalah ucapan yang lazim dikalangan kaum hizbiyyiin dan para muqallid.
2. Demikian juga, jika pernyataan tersebut diterima, maka pernyataan serupa akan ditujukan kepada al-akh itu sendiri -yang sepengetahuan penulis telah berani mengajar salah satu dari ilmu alat yakni bahasa Arab- pada kapasitas keilmuannya sendiri yang jauh dari layak untuk mengajar terlebih untuk mendapatkan tazkiyah. Bahkan juga tertuju kepada “kabiiruhum” diatas, yang akan terlontar pertanyaan, apakah “kabiiruhum” ini juga telah mendapatkan tazkiyah ?? Adapun jawaban al-akh atau siapa saja dalam membela “kabiiruhum” adalah juga jawaban kami, karena tidak ada perbedaan diantar kedua keadaan pada pernyataan al-akh tersebut. Agama Islam tidak membedakan dua hal yang serupa dan juga tidak menyatukan dua hal yang berbeda.
3. Adapun jika yang dimaksud tazkiyah yang syar’iyah, maka Salafiyyiin saling memberi tazkiyah satu dengan lainnya, adapun kaum hizbiyyin maka tazkiyah mereka sama sekali tidak mu’tabar. Karena kaum hizbiyyin memberi tazkiyah pada pada wakat ilmiyah seseorang melainkan pada al-wala` wa al-bara kepada seseorang tertentu -dalam hal ini adalah kabiiruhum mereka- atau komunitas tertentu.
4. Dan dalam tinjauan lebih spesifik, ustadz Salafiyiin yang mengajari ilmu-ilmu tersebut, bukanlah seorang yang tidak diketahui wawasan keilmuannya, telah makruf pengambilan ilmu dan sebagai seorang penuntut ilmu syar’i, hal mana berbeda dengan status “kabiiruhum” sendiri yang tidak memiliki kejelasan karakter ilmiyah dan hanya berkecimpung dalam muhadharah-muhadharah umum, layaknya al-qashshash dan al-khuthaba` dimasa generasi ulama Hadist.
Demikian ulasan yang agak panjang, walau tidak mendetail dalam membahas masalah “at-tazkiyah” dan insya Allah sekiranya ada kesempatan akan dibahas secara spesifik tentang masalah tersebut. Ulasan diatas sebatas nasihat ringkas bagi al-akh –semoga Allah mengembalikannya kepada kebenaran-.
Beginilah mungkin gambaran tentang beberapa watak “pelaku dakwah” di daerah Villani ini. Watak yang sebenarnya warisan dari “kabiiruhum” dan corong-corongnya yang berdakwah ala dakwah “kabiiruhum” daerah Villani II dan sekitarnya. Sebuah realita yang memprihatinkan, terkumpul dua hal yang sangat jauh dari metode dakwah Salafiyah, kejahilan atas al-ilmu asy-syar’i (dengan manhaj at-tashfiyah dan at-tarbiyah) dan dakwah hizbiyyah “tajammu’at”. Dakwah yang menghasilkan kebodohan, taklid, fanatisme pada individu tertentu, hizbiyah “model” baru yang dihias dengan pakaian as-Salafiyah.
Akan tetapi, walillahil hamdu, sebagaimana sabda Nabi , “bahwa akan senantisa ada diantara umatku suatu kalangan yang menunjukkan al-haq, tidaklah mendatangkan mudharat siapa saja yang menyelisihi mereka dan tidak pula yang merendahkan mereka,” beberapa syabaab telah kami ketahui sebagai thalabul ilmu asy-syar’i. Dan telah tampak pula kecintaan mereka kepada ilmu-ilmu syara’ dan kepada sunnah Nabi  ash-shahihah. Mereka mempelajari ad-Diin ini dengan berpedoman kepada al-Qur`an, al-hadits dan al-atsar, sebatas dengan kemampuan mereka dalam al-fahm dan at-tafaqquh fid-diin.
Disisi lain pula, kaum muslimin telah tergerak hati mereka untuk mengenal dakwah Salafiyah yang murni, baik itu dalam al-aqidah ash-shahihah, fiqh yang berpedoman pada ad-dalil asy-syar’i, kajian al-hadits an-nabawi dan ilmu-ilmu lainnya. Kaum muslimin inilah yang membutuhkan sambutan dan uluran tangan untuk bersama-sama menegakkan as-sunnah dan dakwah Salafiyah Ahlis Sunnah wal-Jama’ah. Adapun yang menyuarakan dakwah tajammu’at, mereka hanyalah menilai kaum muslimin sebagai bagian dari mereka, jika melayani dan memfasilitasi kebutuhan “komunitas” mereka. Jika tidak, maka mereka akan menganggap kaum muslimin sebagai musuh mereka dan sebagai kalangan yang harus dijauhi. Sebut saja sebuah masjid “al-fulani” di Villani II, yang telah sejak dahulu menjadi fasilisator dakwah mereka, ketika disebabkan hal-hal yang manusiawi, mereka –pelaku dakwah tajammu’at ini- meninggalkan masjid “al-fulani” tersebut. Kemudian mereka menelan lisan dan ucapan mereka dengan –setelah meninggalkan kaum muslimin tersebut- menerima atau “memanfaatkan” fasilitas sebuah institusi pendidikan di Villani II yang dahulu mereka cap sebagai institusi gado-gado, tidak jelas, dan dengan segala macam tuduhan ekstri lainnya. Sebuah interaksi mu’amalah hizbiyah, mu’amalah yang berasaskan asas pemanfaatan, dan loyalitas kepada komunitas/individu tertentu.
Namun dengan keberadaan beberapa da’i ilallah, dakwah kepada kaum muslimin tersebut masih dapat berjalan, terlepas dari segala ikatan hizbiyah yang tercela yang ditunjukkan oleh para pelaku dakwah tajammu’at.
Dan inipula-lah penutup rangkaian ulasan dakwah di Villa Nusa Indah II. Adapun sejumlah masalah ilmiyah dakwiyah yang penulis isyaratkan dalam bahasan ini, insya Allah akan dibahas pada materi lainnya secara lebih luas dan ilmiyah, bi-idznillah ta’ala.

[Sumber: http://salafivilla.blogspot.com/search/label/Manhaj]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, November 27th, 2008 at 9:55 am and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.