Archive for the 'Aqidah' Category

Definisi Syirik

July 29th, 2015 by Abu Muawiah

Definisi Syirik

            Syirik secara bahasa, dikatakan شَارَكْتُ فُلانا maknanya: Saya menjadi sekutunya. Syirik juga bisa bermakna asy-syarik (sekutu) dan juga bisa bermakna an-nashib (bagian). Bentuk jamaknya adalah asyraak. Kalimat شَرَكَهُ فِي الأَمْرِ yakni dia bersekutu dengannya dan terjun bersama ke dalamnya. Dikatakan أَشْرَكَهُ مَعَهُ فِيْهِ dan أَشْرَكَ فُلانًا فِي الْبَيْعِ , jika dia memasukkan orang tersebut bersama dirinya ke dalam urusan tersebut (jual beli)[1].

Secara istilah: Menjadikan untuk Allah sekutu dalam uluhiah-Nya, rububiah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifatNya.

Tidak diragukan bahwa kesyirikan merupakan asal dan pengumpul semua kejelekan. Dia merupakan dosa yang terbesar secara mutlak, karena dialah satu-satunya dosa yang Allah nafikan pengampunannya. Sebagaimana kesyirikan ini juga menghapuskan semua amal saleh seseorang, dan mengharuskan pelakunya mendapatkan kekekalan dalan api neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa di bawah daripada itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah maka sungguh dia telah mengada-adakan suatu dosa yang sangat besar” (QS. An-Nisa`: 48)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya, barangsiapa yang berbuat kesyirikan kepada Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga atasnya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan tidak ada seorangpun penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72) Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | Comments Off on Definisi Syirik

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

July 22nd, 2015 by Abu Muawiah

Kaidah Keempat

Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

            Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقاعِدَةُ الرّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمانِنا أَغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ. لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ فِي الرَّخاءِ وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْ زَمانِنا شِرْكُهُمْ دائِمٌ؛ فِي الرَّخاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

[Terjemah]

Kaidah keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita lebih besar kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin zaman dahulu. Hal itu karena kaum musyrikin terdahulu hanya berbuat kesyirikan ketika mereka dalam keadaan lapang, adapun ketika dalam keadaan susah maka mereka mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Sementara kaum musyrikin pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan susah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya. Tapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al-Ankabut: 65) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Komparasi Antara Musyrikin Klasik Dengan Musyrikin Modern

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

July 15th, 2015 by Abu Muawiah

Kaidah Ketiga

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

          اَلْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنّ النَّبِيَّ r ظَهَرَ عَلَى أُناسٍ مُتَفَرِّقِيْنِ فَي عِباداتِهِمْ: مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَنْبِياءَ وَالصّالِحِيْنَ، ومنهم من يعبد الْأَحْجارَ وَالْأَشْجارَ، ومنهم مَن يعبد الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقاتَلَهُمْ رَسُوْلُ الله r وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾

          وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ والْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾

          ودليل الملائكةِ قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾

          ودليل الأنبياءِ قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

          ودليل الصَّالِحِيْنَ قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآيةَ

          ودليل الأحجارِ والأشجارِ قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾

وَحَدِيْثُ أَبِي واقِدٍ اللَّيْثِي t قالَ: خَرَجْنا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍ, وَنَحْنُ حُدَثاءِ عَهْدٍ بِكُفْرٍ. وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ, يَعْكُفُوْنَ عِنْدَها وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ, يُقالُ لَها: ذاتُ أَنْواطٍ. فَمَرَرْنا بِسِدْرَةٍ, فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِجْعَلْ لَنا ذَاتَ أَنْواطٍ كَما لَهُمْ ذَاتُ أَنْواطٍ… اَلْحَدِيْثَ

[Terjemah]

Kaidah Ketiga: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus kepada umat manusia yang beraneka ragam dalam ibadahnya: Di anatar mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, di antara mereka ada yang menyembah bebatuan dan pepohonan, dan di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

memerangi mereka seluruhnya tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dan Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan), dan semua amalan (ibadah) itu hanya milik Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Dalil adanya penyembahan kepada matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan.[1] (QS. Fushilat : 37).

Dalil adanya penyembahan kepada para malaikat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan dia (Muhammad) tidaklah pernah memerintah kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan.[2] (QS. Ali Imran: 80)

Dalil adanya penyembahan kepada para Nabi adalah firman Allah Ta’ala, “Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).

Dalil akan adanya penyembahan kepada orang-orang saleh adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka yang mereka menyembah kepada mereka, sembahan mereka tersebut senantiasa mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat, mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan khawatir akan siksaan-Nya.[3]” (QS. Al-Isra`: 57) sampai akhir ayat.

Dalil akan adanya penyembahan kepada pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala, “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Uzza, serta Manat (sebagai sembahan) yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Dan juga hadits Abi Waqid Al-Laitsi radhiallahu anhu dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kesyirikan. Sementara itu, kaum musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka biasa berdiam di sisinya dan mereka menggantungkan pedang-pedang mereka di situ. Pohon tersebut bernama Dzatu Anwath (yang mempunyai gantungan-gantungan). Lalu kami melalui pohon bidara tersebut dan sebagian kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki ….” sampai akhir hadits. Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

July 8th, 2015 by Abu Muawiah

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.

فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18].

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ وَشفاعة مُثْبَتَةٌ.

فَالشفاعة الْمنفيّة مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاّ اللهُ. وَالدَّلِيْلُ قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

وَالشفاعة الْمُثبَتة هِيَ: اَلَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ. وَالشّاَفِعُ مُكْرَمٌ بِالشفاعة، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الْإِذْنِ كَمَا قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]

[Terjemah]

Kaidah Kedua: Mereka (kaum musyrikin) berkata: Kami tidak berdoa dan menghadap (baca: berharap) kepada mereka (orang-orang saleh) kecuali karena kami ingin meminta syafaat dan mengharapkan kedekatan dengan mereka.

Dalil (bahwa tujuan mereka untuk) mengharapkan kedekatan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3) Dan dalil (bahwa mereka mengharapkan) syafaat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

Syafaat itu ada dua bentuk: Syafaat yang dinafikan (keberadaannya) dan syafaat yang ditetapkan (keberadaannya).

Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah, pada perkara yang tidak ada yang sanggup melakukannya selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah. Dimana hamba yang memberikan syafaat itu dimuliakan oleh Allah dengan (kemampuan memberikan) syafaat. Sementara hamba yang diberikan syafaat adalah hamba yang Allah ridhai ucapan dan amalannya, itupun setelah ada izin (Allah). Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255) Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

July 1st, 2015 by Abu Muawiah

Kaidah Pertama

Kaum Musyrikin Mengimani Rububiah (Ketuhanan) Allah

Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah berkata:

 Al-Imam Al-Mujaddid Al-Mushlih Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الأُوْلىَ: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رسولُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالىَ هُوَ الْخَالِقُ الْمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ فِي الإِسْلاَمِ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ[يونس:31]

[Terjemah]

“Kaidah Pertama: Kamu meyakini bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur (alam semesta). Akan tetapi ternyata pengakuan mereka tersebut belumlah cukup untuk memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Kaum Musyrikin Mengakui Allah Sebagai Tuhan

Ibadah dan Kesyirikan

June 24th, 2015 by Abu Muawiah

Ibadah dan Kesyirikan

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اِعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطاعَتِهِ: أَنَّ الْحَنِيْفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْراهِيْمَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصـًا لَهُ الدِّيْنَ كَما قالَ تَعالىَ ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ[الذاريات:56].

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ اللهَ خَلَقَكَ لِعِبادَتِهِ فَاعْلَمْ: أَنَّ الْعِبادَةَ لاَ تُسَمَّى عِبادَةً إِلاَّ مَعَ التَّوْحِيْدِ، كَما أَنَّ الصَّلاَةَ لاَ تُسَمَّى صَلاَةً إِلاَّ مَعَ الطَّهارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرْكُ فِي الْعِبادَةِ فَسَدَتْ كالْحَدَثِ إِذا دَخَلَ فِي الطَّهارَةِ.

فَإِذَا عَرَفْتَ أَنَّ الشِّرْكَ إِذا خالَطَ الْعِبادَةَ أَفْسَدَها وَأَحْبَطَ الْعَمَلَ وَصارَ صاحِبُهُ مِنَ الْخالِدِيْنَ فِي النَّارِ, عَرَفْتَ أَنَّ أَهَمَّ ما عَلَيْكَ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ. لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُخَلِّصَكَ مِنْ هَذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرْكُ بِاللهِ الَّذِي قالَ اللهُ فِيْهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ[النساء:116].

وَذَلِكَ بِمَعْرِفَةِ أَرْبَعِ قَواعِدَ ذَكَرَها اللهُ تَعالَى فِي كِتابِهِ.

[Terjemah]

“Ketahuilah -semoga Allah memberikan hidayah kepada anda untuk taat kepada-Nya-: Bahwa al-hanifiah yang merupakan agama Ibrahim adalah anda beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jika anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali dengan adanya tauhid. Sebagaimana shalat tidak dinamakan shalat kecuali dengan adanya thaharah[1]. Karenanya, kapan kesyirikan masuk ke dalam ibadah maka ibadah itu menjadi rusak, sebagaimana hadats (pembatal wudhu) membatalkan shalat jika dia muncul setelah thaharah.

Jika anda telah mengetahui bahwa jika kesyirikan bercampur dengan ibadah maka kesyirikan itu akan merusak ibadah tersebut, menghapuskan amalan (pelakunya), dan pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam neraka. Jika anda telah mengetahui hal tersebut maka berarti anda telah mengetahui bahwa perkara yang terpenting bagi anda adalah mengetahui kesyirikan tersebut. Semoga Allah berkenan untuk membebaskan anda dari kejelekan ini yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah telah berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kesyirikan kepada-Nya dan Dia mengampuni dosa di bawah dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 116).

Cara mengetahui kesyirikan adalah dengan mengetahui 4 kaidah yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya.” Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Ibadah dan Kesyirikan

Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

June 17th, 2015 by Abu Muawiah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. amma ba’du:

 

Pengantar:

Berikut ini adalah syarah Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah. Sebuah risalah yang ditulis oleh Imam dakwah ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Kami mulai dengan risalah ini karena selain dia ringkas, dia juga termasuk risalah dasar dalam tauhid uluhiah dan sanggahan kepada pelaku kesyirikan. Dan kami memilih syarah dari Asy-Syaikh Saleh karena menurut pengamatan kami -wallahu A’lam- syarah beliau adalah syarah yang terbaik dari semua syarah yang pernah kami baca.

Perlu diketahui bahwa syarah Asy-Syaikh hafizhahullah asalnya adalah transkrip dari kaset rekaman sehingga bahasanya adalah bahasa kaset (bukan bahasa buku). Terkadang beliau mengulangi kalimat yang sudah diucapkan sebelumnya. Karenanya untuk mempersingkat, kalimat-kalimat yang diulangi itu tidak lagi kami terjemahkan. Dan juga perlu diketahui bahwa semua catatan kaki dalam syarah ini adalah dari kami, bukan dari transkrip aslinya.

Saya rasa hanya ini yang butuh kami sampaikan sebagai pengantar, selamat membaca:

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

أَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ ربَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَتَوَلاّكَ في الدُّنْيا وَالآخِرَةِ، وَأنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكـًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعلك مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإذا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإذا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعادَةِ

[Terjemahan]

“Saya meminta kepada Allah yang Maha Pemurah Rabbnya arsy yang besar, agar Dia berkenan menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat, menjadikanmu berberkah dimanapun kamu berada[1], serta menjadikanmu termasuk orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.”

  Read the rest of this entry »

Category: Syarh al-Qawaid al-Arba' | Comments Off on Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

Keutamaan Akidah Islamiah

April 10th, 2015 by Abu Muawiah

Keutamaan Akidah Islamiah

Mewujudkan Akidah Islamiah merupakan misi para rasul Allah, tujuan diturunkannya semua kitab suci, dan kewajiban atas semua makhluk. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Dzariyat/51:56, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” Allah juga berfirman dalam Q.S. al-Nahl/16:36, “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat rasul, untuk menyerukan: Sembahlah Allah semata dan jauhilah tagut.”
Karena pentingnya Akidah Islamiah, maka sudah sepatutnya setap muslim menaruh perhatian besar padanya, mencari tahu tentangnya dan mempelajarinya. Terlebih kebahagian hidup manusia di dunia dan di akhirat ditentukan olehnya. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:256, “Maka siapa saja yang kufur kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat lagi tidak akan terputus.” Itu berarti siapa saja yang tangannya lepas dari Akidah Islamiah ini, berarti dia berpegang pada khayalan batil, karena tiada setelah kebenaran selain kesesatan. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-Hajj/22:62, “Hal itu karena Allah Dialah sembahan yang benar, dan semua sembahan yang mereka seru selain-Nya adalah batil.”
Akidah adalah apa saja yang diyakini oleh seseorang. Jika keyakinannya itu sejalan dengan ajaran yang dibawa oleh para rasul, maka itu berarti akidah yang shahih (benar), yang dengannya dia mendapatkan keselamatan dari siksaan Allah dan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan demikian halnya sebaliknya. Akidah yang benar akan melindungi nyawa dan harta seseorang. Nabi saw. bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mau mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Jika mereka telah mengucapkannya maka mereka telah menjaga nyawa dan darahnya dariku, kecuali dengan haknya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah) Beliau juga bersabda, “Sungguh Allah mengharamkan atas neraka semua orang yang mengucapkan “laa ilaaha illallaah” karena mengharapkan wajah Allah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Itban bin Malik) Akidah yang benar juga akan menggugurkan semua dosa. al-Tirmizi (w. 279 H) meriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, namun engkau tidak berbuat kesyirikan kepada-Ku, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • amal baik terhapus

Category: Aqidah | Comments Off on Keutamaan Akidah Islamiah

Download Fatwa MUI Akan Sesatnya Paham ‘SIPILIS’

January 26th, 2015 by Abu Muawiah

Paham SIPILIS yang dimaksud di sini adalah: Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme.

Berikut gambaran singkat ketiga isme ini menurut MUI:

Sekulerisme agama adalah memishkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Link download fatwa MUI:
Fatwa Sesat Paham SIPILIS

Category: Aqidah, Download, Fatawa | Comments Off on Download Fatwa MUI Akan Sesatnya Paham ‘SIPILIS’

Nur Muhammad Makhluk Pertama?

June 16th, 2014 by Abu Muawiah

Nur Muhammad Makhluk Pertama?

س: ما حكم قول القائل أن النور المحمدي هو أول ما خلق الله تبارك وتعالى؟
Soal:
Apa hukum ucapan org yg menyatakan bahwa cahaya Muhammad adl makhluk pertama yg Allah Tabaraka wa Ta’ala ciptakan?

ج : في الحديث (إن أول شيء خلقه الله تعالى القلم ، وأمره أن يكتب كل شيء يكون) ، إشارة إلى رد ما يتناقله الناس , حتى صار ذلك عقيدة راسخة في قلوب كثير منهم , وهو أن النور المحمدي هو أول ما خلق الله تبارك وتعالى , وليس لذلك أساس من الصحة.
وحديث عبدالرزاق غير معروف إسناده , ولعلنا نفرده بالكلام في الأحاديث الضعيفة إن شاء الله تعالى.

Jawab:
Dalam sebuah hadits disebutkan:
(إن أول شيء خلقه الله تعالى القلم ، وأمره أن يكتب كل شيء يكون)
“Sesungguhnya makhluk pertama yg Allah Ta’ala ciptakan adl pena, lalu Dia menyuruhnya untuk menulis semua perkara yg akan terjadi.”
Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Dari Grup WA, Fatawa | Comments Off on Nur Muhammad Makhluk Pertama?