Archive for the 'Akhlak dan Adab' Category

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

June 3rd, 2015 by Abu Muawiah

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Seorang muslim haruslah berfikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah Shallalluhu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alahissalam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu ‘unhu atau Ali radhiyallahu ’anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan Cara membaca sepintas?
Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Tuntunan Hidup ala Ibnu Utsaimin

April 17th, 2015 by Abu Muawiah

Nasehat dari asy-Syaikh Muhammad bin Saleh al-Utsaimin rahimahullah
kepada salah seorang murid beliau mengenai metode yang ditempuh dalam menjalani kehidupan

Bismillahirrahmanirrahim

Dari Muhammad bin Saleh al-Utsaimin kepada putranya hafizhahullah.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kamu -semoga Allah memberkahimu- meminta saya untuk menjelaskan jalan hidup yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan keseharianmu. Dan saya memohon kepada Allah Ta’ala berkenan memberikan taufik kepada kita menuju hidayah, petunjuk, kebenaran, dan keistiqamahan, dan agar Dia menjadikan kita sebagai para pemberi petunjuk dan kebaikan.

Berikut jawaban saya:
Pertama: Jalan hidup dalam bermualah dengan Allah Azza wa Jalla.
1.    Senantiasa bersama Allah dengan menghadirkan keagunganNya dan memikirkan ayat-ayatNya yang bersifat empirik, seperti penciptaan langit dan bumi, serta semua yang ada pada keduanya yang menunjukkan kedalaman hikmah, kebesaran qudrah, dan keluasan rahmat dan nikmatNya. Juga ayat-ayatNya yang bersifat verbal, yang dengannya Dia mengutus para rasul, terkhusus rasul terakhir, Muhammad صلى الله عليه وسلم .
2.    Penuhi hatimu dengan cinta kepada Allah Ta’ala hingga Dia menjadi sesuatu yang paling kamu cintai. Dia telah melimpahkan nikmat kepadamu dan melindungimu dari bencana. Terkhusus nikmat Islam dan istiqamah di atasnya.
3.    Penuhi hatimu dengan pengagungan kepada Allah Azza wa Jalla hingga Dia menjadi sesuatu yang teragung bagimu.
Dengan memadukan cinta dan pengagungan kepada Allah Ta’ala di dalam hatimu niscaya kamu akan senantiasa taat kepadaNya. Kamu melaksanakan perintahNya karena cinta kepadaNya, dan kamu meninggalkan larangaNya karena mengagungkanNya.
4.    Ikhlaskan ibadahmu hanya kepada Allah Jalla wa Ala seraya bertawakkal kepadaNya dalam semua keadaan, sebagai realisasi dari firmanNya, “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Ingatlah selalu bahwa kamu hanya melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan karena Dia semata. Dengan demikian kamu akan merasakan manisnya ibadah, yang tidak akan kamu rasakan jika kamu melakukannya dalam keadaan lalai. Dan kamu akan mendapatkan bantuan dariNya dalam setiap urusanmu, yang tidak akan kamu dapatkan jika engkau bergantung kepada dirimu sendiri. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Fatawa | Comments Off on Tuntunan Hidup ala Ibnu Utsaimin

Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

January 10th, 2015 by Abu Muawiah

قـال الشيخ العلامـة ابن عثيمين – رحمه الله -:

أشير عليكم بأمر مهم !!
وهـو أنـك إذا حلفـت على يميـن فـقـل بعدهـا : ( إن شـاء الله ) ولو لـم يسمعهـا صاحبـك. لأنـك إذا قلـت : إن شـاء اللـه ، يَسَّـر الله لـك الأمـر حتـى تَبـرَّ بيمينـك. وإذا قُـدَّر أنـه مـا حصـل الـذي تريـد فـلا ؛ كَـفَّـارة عليـك .

وهـذه فائـدة عظيمـة. فلـو قلـت مثـلاً لواحـد : واللـه مـا تَذبـح لـي ثـم قلـت بينـك وبيـن نفسـك : ( إن شـاء الله )، ثـم ذبـح لـك ، فـلا عليـك شـيء ، ولا عليـك كفـارة يميـن. وكذلـك أيضـاً بالعكـس.
لو قلت : والله لأذبـح ، ثم قلت بينك وبين نفسك : ( إن شاء الله ) ولـم يسمـع صاحبـك , فإنـه إذا لـم تذبـح فليـس عليـك كفـارة يميـن. لقـول النبي صلى الله عليه وسلم : ” مـن حلف علـى يميـن فقـال : إن شـاء الله لـم يحنـث “

وهـذه فائـدة عظيمـة اجعلهـا علـى لسانـك دائمـاً، حتــى يكـون لـك فائدتـان :
* الفائـدة الأولـى : أن تيـسّـر لـك الأمـور الفائـدة .
* الثانيـة : أنـك إذا حنثـت فـلا تلزمـك كفـارة يميـن .

Asy Syaikh al ‘Allàmah Ibnu Utsaimìn rahimahullah berkata:
Aku ingin menunjukkan kepada kalian satu masalah yang penting!!
Yaitu jika kamu bersumpah, maka ucapkanlah setelahnya ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki), walaupun temanmu tidak mendengarnya. Karena jika kamu mengucapkan ‘insya Allah’, niscaya Allah akan memudahkan urusan itu sehingga kamu akan mampu memenuhi sumpahmu. Namun jika apa yang kamu ingin lakukan dalam sumpahmu ditakdirkan tidak terwujud, maka kamu tidak ada kewajiban membayar kaffarat.
Ini adalah pelajaran yang sangat bermanfaat. Jadi seandainya kamu berkata kepada seseorang, “Demi Allah kamu tidak usah menyembelih untuk aku,” kemudian kamu mengucapkan ‘insya Allah’ (dengan suara pelan) dimana hanya kamu sendiri yang mendengarnya, kemudian ternyata orang itu menyembelih untukmu, maka kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa dan kamu tidak wajib membayar kaffarat. Demikian pula sebaliknya (jika ternyata dia menuruti sumpahmu). Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Tahukah Anda? | Comments Off on Manfaat ‘Insya Allah’ Setelah Bersumpah

Perwujudan Kegembiraan

December 4th, 2014 by Abu Muawiah

Kita sering mendengar dan membaca pada momen dua hari raya yang diberkahi -idul fitri dan idul adha-, orang yang menyeru untuk menampakkan kegembiraan dalam menyambut kedua hari raya ini. Dia menyebut bahwa kemungkaran yang bertentangan dengan syariat yang dilakukan oleh sebagian orang awam pada hari raya merupakan perwujuduan kegembiraan yang dibenarkan dan tidak boleh dilarang. Maka kami katakan: Tidak boleh melakukan dan menyetujui kemungkaran, kapan pun terjadinya. Karena mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban, dan meninggalkannya akan mengundang azab dan kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Yang saya ingin katakan adalah: Apa yang terjadi pada kedua hari raya ini berupa adanya para penyanyi serta pagelaran sandiwara dan teater, semua ini tidak sejalan dengan kemuliaan bulan ini. Demikian halnya dengan pertunjukan sulap dari para penyulap, berkumpulnya kaum lelaki dan wanita, begadang di malam hari, dan menelantarkan pelaksanaan shalat dari waktunya bersama jamaah di masjid. Karenanya, jika ada pihak berwenang yang berusaha untuk melarang semua kegiatan ini, maka itu sudah menjadi kewajiban mereka dan itu memang sudah merupakan tugas mereka. Kita wajib membantu dan bekerjasama dengan mereka, bukan justru mengkritisi dan menghina mereka melalui makalah-makalah di surat kabar, atau pada obrolan sehari-hari, serta menyifati mereka sebagai ekstrimis. Karena mereka melarang perwujudan kegembiraan semacam ini yang hakikatnya mengotori kesucian hari raya yang Mubarak dan bertolak belakang dengan tujuan syariat dari pelaksanaan hari raya.
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Perwujudan Kegembiraan

Fenomena Fatwa

November 21st, 2014 by Abu Muawiah

Kaum muslimin membutuhkan orang yang mampu menjelaskan kepada mereka urusan akidah, ibadah, muamalah, dan pernikahan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Inilah yang dimaksud dengan fatwa, yaitu penjelasan mengenai hukum syariat berdasarkan dalil dari al Kitab dan as Sunnah. Mereka juga membutuhkan orang yang mampu menjadi hakim di antara mereka dalam persengketaan dan perselisihan di antara mereka. Dan ini yang dimaksud dengan qadha` (vonis hukum). Dan tidak ada orang yang mampu mengemban kedua tugas yang besar ini kecuali orang yang memiliki kapabilitas ilmiah, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan senantiasa mengingat kondisinya ketika dia berdiri di hadapan Allah kelak. Karena, baik pemberi fatwa maupun hakim, keduanya adalah orang yang mengabarkan dari Allah bahwa Dia menghalalkan ini dan mengharamkan itu, dan bahwa kebenaran hanya berpihak kepada salah satu pihak dari pihak-pihak yang berselisih. Karenanya, Allah memandang besar kedua tugas ini; memberi fatwa dan vonis dan Dia memperingatkan jangan sampai seseorang menceburkan diri ke dalamnya tanpa ilmu dan pengetahuan serta tanpa sifat adil dan obyektif.
(وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمْ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ* مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.”
Dan Allah berfirman kepada NabiNya:
(وَأَنْ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ)
“Dan berhukumlah di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah mengikuti keinginan mereka. Dan wasapadalah jangan sampai mereka memalingkan kamu dari sebagian yang Allah turunkan kepadamu.”
Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off on Fenomena Fatwa

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

October 30th, 2014 by Abu Muawiah

Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ.

“Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak menjaharkan suara, pada pagi dan petang, serta janganlah kamu termasuk sebagai orang-orang yang lalai.” [Al-A’râf: 205]

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat sejumlah adab dan etika berkaitan dengan dzikir kepada Allah Ta’âlâ.

Berikut uraiannya.

Pertama: dalam ayat di atas, termaktub perintah untuk berdzikir kepada Allah. Telah berlalu, pada tulisan sebelumnya, berbagai perintah untuk berdzikir beserta keutamaan berdzikir kepada Allah dan besarnya anjuran dalam syariat untuk hal tersebut. Seluruh hal tersebut memberikan pengertian akan pentingnya arti berdzikir dalam kehidupan seorang hamba.

Kedua: firman-Nya, “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu pada dirimu,” mengukir sebuah etika yang patut dipelihara dalam berdzikir kepada llahi, yaitu dzikir hendaknya dalam diri dan tidak dijaharkan. Yang demikian itu lebih mendekati pintu ikhlas, lebih patut dikabulkan, dan lebih jauh dari kenistaan riya. Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebut dua penafsiran frasa “pada dirimu”:

  1. Bermakna dalam hatimu.
  2. Bermakna dengan lisanmu sebatas memperdengarkan diri sendiri.

Namun, penafsiran kedualah yang lebih tepat berdasarkan dalil kelanjutan ayat “… dan dengan tidak menjaharkan suara,” sebagaimana yang akan diterangkan.

Ketiga: firman-Nya, “dengan merendahkan diri,” mengandung etika indah yang patut mewarnai seluruh ibadah, yaitu hendaknya dzikir dilakukan dengan merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Hal yang demikian lebih mendekati makna ibadah yang mengandung pengertian merendah dan menghinakan diri serta tunduk dan bersimpuh di hadapan-Nya. Dengan menjaga etika ini, seorang hamba akan lebih mewujudkan hakikat penghambaan dan lebih mendekati kesempurnaan rasa tunduk kepada Allah Jallat ‘Azhamatuhu. Kapan saja seorang hamba berpijak di atas kaidah ini dalam seluruh ibadahnya, niscaya ia akan semakin mengenal jati dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, sebagai seorang hamba yang harus bersikap tawadhu dan membuang segala kecongkakan. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Zikir & Doa | Comments Off on Beberapa Adab dan Etika Dalam Berzikir

Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah

August 9th, 2014 by Abu Muawiah

Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah
Oleh : Ustadz Ibnu Yunushafizhahullah

Berikut ini adalah nasehat yang indah serta faedah yang tak ternilai harganya yang disampaikan oleh Syaikh (Professor) Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, – Semoga Allah menjaga beliau – ,guru besar aqidah pada Universitas Islam Madinah, Kerajaan Saudi Arabia, yang disampaikan oleh beliau sebagai arahan dan nasehat bagi seluruh kaum muslimin dan secara khusus kepada para pemuda Ahlus Sunnah. Kami nukilkan dari buku tulisan beliau yang berjudul   

” النصيحة فيما يجب مراعاته عند الإختلاف و ضوابط هجر المخالف و الرد عليه

(Nasehat tentang perkara-perkara yang wajib untuk dijaga ketika terjadi perbedaan pendapat serta kaedah-kaedah dalam memboikot ahlul bidah dan membantah mereka ) , cetakan pertama, penerbit Daaru Al Imam Ahmad,1424 H/ 2003 M. Selamat menyimak dan semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk dapat mengamalkan nasehat-nasehat indah tersebut,amin.

Berkata Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily – semoga Allah Ta’ala menjaga beliau- :

Aku menutup nasehat ini dengan beberapa arahan yang lembut serta faedah yang banyak yang menurut pendapatku dengan mengamalkannya (kita) akan mendapatkan pahala yang besar serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Aku mengajak saudara-saudaraku untuk mengamalkan dan menjaganya, secara khusus pada zaman-zaman sekarang ini. Zaman dimana fitnah merajalela, hawa nafsu memimpin, serta kejahilan yang menyebar di tengah-tengah manusia, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat Allah dan petunjuk-Nya. Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | Comments Off on Arahan-arahan Lembut Berhiaskan Faedah

Hukum Bertukar Kado

June 20th, 2014 by Abu Muawiah

Hukum Bertukar Kado

Tanya:
Adakah dalil atau hukum bertukar kado dalam Islam?
Misal ada sebuah acara silaturahmi. Lalu dibuat berbagai macam acara dan lomba untuk memeriahkan acara tersebut. Salah satunya acara tukaran kado. Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Jawab:
Tidak diragukan bahwa amalan memberi hadiah kepada orang lain adalah amalan yang mulia. Hal itu karena pemberian hadiah ini merupakan tanda kasih sayang kepada orang yang menerima hadiah, bahkan sebelum itu, memberi hadiah merupakan salah satu bentuk hibah dan sedekah yang dianjurkan dalam syariat.
Karenanya secara umum, Islam menganjurkan untuk memberi hadiah, selama tidak ada unsur keharaman di dalamnya.
Maka dalam kasus di atas, acara bertukar kado yang dimaksud adalah amalan yang dibenarkan dengan beberapa catatan: Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • hukum tukar kado menurut islam

Category: Akhlak dan Adab, Dari Grup WA | Comments Off on Hukum Bertukar Kado

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

May 31st, 2014 by Abu Muawiah

Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

 

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأنْزَلَهَا بالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ أنْزَلَهَا باللهِ ، فَيُوشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah akan memberi rezeki kepadanya, cepat atau lambat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, dan ini adalah lafaz At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu’anhu, Shahihut Targhib: 838]

Dalam lafaz yang lebih shahih,

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍعَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ

“Barangsiapa yang ditimpa kesusahan (kefakiran dan kebutuhan), lalu ia mengadukannya kepada manusia maka tidak akan tertutupi kesusahannya, dan barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka tidak lama Allah akan mencukupinya, apakah dengan kematian yang dekat atau kecukupan yang dekat.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Shahih Abi Daud: 1452, Ash-Shahihah: 2787]

 

Penjelasan Makna Hadits:

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,

لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ أَيْ لَمْ تُقْضَ حَاجَتُهُ وَلَمْ تُزَلْ فَاقَتُهُ وَكُلَّمَا تُسَدُّ حَاجَتُهُ أَصَابَتْهُ أُخْرَى أَشَدُّ مِنْهَا

“Tidak akan tertutupi kesusahannya, maknanya adalah tidak akan terpenuhi kebutuhannya dan tidak akan berakhir kesusahannya, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka ia akan tertimpa kesusahan yang lebih parah.” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/111] Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Hadits | Comments Off on Mengadukan Kesusahan Hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Hukum Memasang Batu Nisan

January 31st, 2014 by Abu Muawiah

Tanya:
Apakah batu nisan juga yang dilarang dibangun di atas kubur? Jika iya, apa yg menjadi penanda makam?

Jawab:
Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata:
Tidak boleh membuat bangunan di atas kuburan, baik berupa batu nisan ataupun lainnya, dan tidak boleh menuliskan tulisan padanya, karena telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang membuat bangunan pada kuburan dan menulisinya.
Imam Muslim rahimauhullah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memagari kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya”.
Lagi pula, hal ini merupakan sikap berlebihan sehingga harus dicegah, dan karena tulisan itu bisa menimbulkan akibat yang mengerikan, yaitu berupa sikap berlebihan dan bahaya-bahaya syar’iyah lainnya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bacaan ganti batu nisan usang

Category: Akhlak dan Adab | Comments Off on Hukum Memasang Batu Nisan