Boleh Menunda Shalat Setelah Iqamat

March 5th 2010 by Abu Muawiah |

19 Rabiul Awal

Boleh Menunda Shalat Setelah Iqamat

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَسَوَّى النَّاسُ صُفُوفَهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَقَدَّمَ وَهُوَ جُنُبٌ ثُمَّ قَالَ عَلَى مَكَانِكُمْ فَرَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً فَصَلَّى بِهِمْ
“Suatu hari iqamat sudah dikumandangkan dan orang-orang sudah merapikan shaf-shaf mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan maju ke depan untuk memimpin shalat padahal waktu itu beliau sedang junub. Kemudian beliau berkata, “Tetaplah di tempat kalian.” Beliau pun kembali ke rumah untuk mandi dan datang kepada kami dalam keadaan kepalanya meneteskan air, kemudian beliau shalat mengimami mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 640)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:
أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَعَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَحَبَسَهُ بَعْدَ مَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ
“Ketika iqamah telah dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihampiri oleh seorang laki-laki hingga menahan (menunda) beliau dari menunaikan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 643)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:
أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِي رَجُلًا فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ فَمَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ حَتَّى نَامَ الْقَوْمُ
“Pada suatu hari ketika iqamat sudah dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih berbicara dengan seseorang di sisi masjid. Beliau belum juga melaksanakan shalat hingga sebagian para sahabat tertidur.” (HR. Al-Bukhari no. 642)

Penjelasan ringkas:
Imam shalat terkadang mempunyai suatu keperluan mendadak lagi mendesak ketika iqamah telah dikumandangkan, yang mana hal itu menyebabkan dia sibuk dan terlambat dari mengimami shalat, sebagaimana yang pernah terjadi pada Rasulullah .
Ada beberapa faidah yang bisa dipetik dari hadits-hadits di atas:
1.    Makmum hendaknya berdiri dan mengatur shafnya ketika iqamah sudah dikumandangkan, walaupun mereka belum melihat imamnya datang.

2.    Nabi -alaihishshalatu wassalam- adalah manusia biasa yang juga dihinggapi oleh kelupaan.

3.    Bolehnya imam ratib menyuruh jamaah untuk menunggu dirinya dan tidak menunjuk penggantinya, jika dia hanya pergi sebentar.

4.    Bukan kebiasaan beliau -alaihishshalatu wassalam- menyeka air dari tubuh dan kepala beliau setelah mandi junub dan berwudhu. Ini ditunjukkan dalam hadits Maimunah bintu Al-Harits riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang sifat mandi junub Nabi -alaihishshalatu wassalam-.

5.    Walaupun imam mengerjakan keperluannya memakan waktu yang lama, akan tetapi setelah dia datang, maka iqamah tidak perlu diulangi. Tidak pernah disebutkan dalam nash beliau memerintahkan untuk mengulang iqamah, hanya karena beliau pergi setelah iqamah.

6.    Besarnya perhatian Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada umatnya dan tinggi kepedulian beliau kepada mereka. Sehingga walaupun iqamah telah dikumandangkan dan ada orang yang masih membutuhkan bantuan beliau, maka beliau tidak menegakkan shalat sampai memenuhi kebutuhan orang tersebut.

7.    Muazzin tidak boleh iqamah seenaknya (tanpa izin imam) hanya karena imamnya terlalu lama datangnya. Karenanya urusan kapan iqamat itu di tangan imam, dia yang memerintahkan muazzin untuk mengumandangkan iqamat.

8.    Bolehnya tidur di dalam masjid.

9.    Bolehnya berbincang-bincang setelah iqamat dikumandangkan, selama tidak menyebabkan terlambat mengikuti rakaat pertama.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, March 5th, 2010 at 7:52 pm and is filed under Fiqh, Hadits, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Boleh Menunda Shalat Setelah Iqamat”

  1. fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,apakah bagi masjid atau mushala yang tak ada imam ratibnya muazin lansung iqamat apabila sebelumnya tak ada imam shalat atau menunjuk imam dahulu? Apakah muazin yang berazdan dan beriqamat boleh orang berbeda? Bolehkah nuazin jadi imam? Jazakallah

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Hendaknya muazzin menunjuk dulu imam sebelum iqamah, agar tidak terjadi kegaduhan (tunjuk menunjuk) setelah iqamah.
    Apakah muazzin dan yg iqamah bisa berbeda? Bisa berbeda karena tidak ada dalil yang melarang. Semua dalil yang mengharuskan keduanya sama adalah lemah. Lihat pembahasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=265
    Muazzin boleh menjadi imam jika tidak ada imam ratib dan dia pantas menjadi imam.

  2. Abu Ayyub said:

    Tanya Ustadz. bagaimana dengan imam yang kadang kala memberikan tausiyah kpd makmum untuk khusuk dalam sholat dan semisalnya setelah iqomah di kumandangkan dan makmum sudah berbaris dan imam di posisi imam. barokallohu fik

    Tidak mengapa insya Allah

  3. Abu Hanifah said:

    Assalamuálaikum…
    Ustadz, apakah HR. Al-Bukhari no. 642 diatas dapat dijadikan dalil bagi bolehnya menunda shalat sejenak karena sebuah keperluan? (misalnya meneyelesaikan terlebih dahulu syuro/rapat, baru kemudian shalat berjamaáh).

    Waalaikumussalam.
    Jika itu mengandung maslahat maka termasuk dalam hadits ini.