Benarkah Istiwa` Diterjemah bersemayam?

October 11th 2008 by Abu Muawiah |

Benarkah Istiwa` di Atas Arsy Diterjemahkan Bersemayam?

Disebutkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia):
se•ma•yam, ber•se•ma•yam v 1 hor duduk: baginda pun – di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang; 2 hor berkediaman; tinggal: Sultan Iskandar Muda pernah – di Kotaraja; 3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu – dl hatinya; keyakinan yg – dl hati;
me•nye•ma•yam•kan v 1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana); 2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;
per•se•ma•yam•an n 1 tempat duduk; 2 tempat kediaman.
[sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php]

Dari sini kita bisa melihat bahwa arti semayam dalam bahasa Indonesia meliputi: Duduk, berdiam, berbaring. Sementara istiwa maknanya tinggi dan berada diatas, dan ini ini adalah ijma’ para ulama bahasa sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Taimiah rahimahullah dan selainnya.
Telah dimaklumi dalam kaidah-kaidah tauhid asma` wa ash-shifat bahwa semua sifat yang tidak ditetapkan dan tidak juga ditolak oleh Allah Ta’ala dari dirinya dan tidak pula Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- dari Allah, maka kita juga tidak boleh menetapkan dan tidak boleh juga menolaknya. Kecuali jika sifat itu mengandung kekurangan bagi Allah maka wajib untuk ditolak dari-Nya.
Maka sifat duduk dan berdiam merupakan sifat yang tidak pernah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan tidak pula menolaknya dari diri-Nya, baik dalam Al-Qur`an maupun dalam As-Sunnah, karenanya kita tidak boleh menetapkan kedua sifat ini untuk-Nya dan tidak pula menolaknya dari-Nya. Sementara sifat baring -wallahu a’lam- zhahirnya mengharuskan sifat kurang bagi Allah karenanya harus ditolak dari Allah.
Kesimpulannya: Menerjemahkan istiwa bermakna bersemayam adalah kurang tepat bahkan salah, karena mengharuskan kita menetapkan sifat yang Allah tidak tetapkan bagi dirinya dan itu bentuk berkata atas nama Allah tanpa ilmu, wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • Al-istiwa artinya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, October 11th, 2008 at 9:57 pm and is filed under Aqidah, Tahukah Anda?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Benarkah Istiwa` Diterjemah bersemayam?”

  1. M.Aziz singkep said:

    Assalaamu’alaykum warahmatullah, kenapa artikel tsb tdk ada(hanya ada judul), apa krn saya buka pakai hp? Mohon penjelasannya. BAAROKALLAHU FIIKUM

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Tidak, bukan karena antum pake hape, tapi memang artikelnya terpotong. Tapi alhamdulilah kami sudah kembali melengkapinya, silakan dilihat kembali artikelnya.

  2. abdullah said:

    Assalamu’alaikum warahmatullah.Terima saja sebagaimana ia di datangkan tanpa di takwil tanpa diperdebatkan.Jelas manusia tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit!Jazzakallah

  3. Dedy Iskandar said:

    Assalamu’alaikum warahmatullah

    Saya ingin menanggapi saja bahwa seharusnya terjemahan Al-Quran dari beberapa penerbit itu harus merevisi kembali terbitannya dan juga yang ada di internet.

  4. imam said:

    ustadz, klo menerjemahkan arsy dgn singgasana ? Apakah diperbolehkan ??
    Lalu terjemahan yang tepat untuk istiwa apa ustadz ? Apakah tidak perlu diterjemahkan? Cukup mengatakan Allah ber istiwa di atas arsy ?

    Ia boleh. Makna istiwa` sudah dijelaskan di atas.