Beberapa Adab Terhadap Air

January 27th 2010 by Abu Muawiah |

12 Shafar

Beberapa Adab Terhadap Air

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
“Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah dia mencuci kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam air wudhunya, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu dimana tangannya bermalam.” (HR. Al-Bukhari no. 263 dan Muslim no. 278)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing pada air yang tidak mengalir, lalu mandi di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari no. 346 dan Muslim no. 282)
Dalam sebuah riwayat:
لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mandi dalam air yang menggenang (diam), sedang dia dalam keadaan junub.” (HR. Muslim no. 283)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً
“Apabila seekor lalat hinggap di tempat minum salah seorang dari kalian, hendaknya dia mencelupkan lalat tersebut ke dalam minumannya, kemudian membuangnya. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3320)

Penjelasan ringkas:
Dalil-dalil di atas menyebutkan beberapa adab dimana seorang muslim disyariatkan untuk mengamalkannya dalam rangka menjaga air agar tetap suci dan bersih. Di antara adab-adab tersebut adalah:
1.    Bagi orang yang bangun tidur -baik tidur siang maupun tidur malam-, lalu dia ingin bersuci atau berbersih dimana dia harus memasukkan tangannya ke dalam bejana, maka disunnahkan baginya untuk mencuci terlebih dahulu kedua tangannya di luar bejana sebanyak tiga kali, baru setelah itu dia boleh mencelupkan kedua tangannya.
Nabi -alaihishshalatu wassalam- menjelaskan hikmahnya bahwa jangan sampai kedua tangannya menyentuh najis ketika dia tidur dalam keadaan dia tidak sadar, sehingga hal itu akan menajisi air yang akan dia gunakan kalau kedua tangannya tidak dia cuci terlebih dahulu.
Hukum sunnah di sini berlaku umum baik yang bisa memastikan bahwa kedua tangannya tidak menyentuh najis maupun tidak, wallahu a’lam.

2.    Dilarang kencing atau memercikkan kencing dan juga dilarang BAB ke dalam air yang diam atau yang tergenang -baik itu di kolam atau di baskom dan semacamnya- walaupun bukan untuk dipakai mandi, apalagi jika akan dipakai mandi.

3.    Dilarang mandi -baik mandi junub maupun mandi biasa- di dalam air diam yang telah terkena kencing atau terkena percikan kencing atau yang kemasukan tinja.

4.    Bagi orang yang mandi di kolam atau di dalam air yang tidak mengalir, maka dia dilarang untuk buang air di dalamnya, baik buang air kecil apalagi buang air besar.

5.    Dilarang mandi junub di dalam air yang diam walaupun tidak ada kencing dan najis yang masuk ke dalamnya.
Catatan:
Illah (sebab) dari keempat larangan di atas adalah sadd adz-dzariah (pencegahan) jangan sampai airnya menjadi najis gara-gara dia buang air dan mandi junub di dalam air yang diam. Jadi sebab larangannya bukan karena hal tersebut akan menyebabkan airnya ternajisi. Karena telah berlalu kami sebutkan adanya ijma’ di kalangan para ulama bahwa air nanti menjadi najis jika salah satu dari ketiga sifatnya berubah akibat najis yang masuk ke dalamnya.
Adapun hukum ketiga larangan di atas, maka Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (1/75) merajihkan bahwa hukumnya adalah haram, bukan makruh. Jadi barangsiapa yang melanggar keempat larangan di atas maka dia telah berdosa, adapun airnya maka dilihat ketiga sifatnya: Jika ada yang berubah maka hukumnya najis dan jika tidak ada yang berubah maka air itu tetap suci lagi menyucikan. Wallahu a’lam.

6.    Sebaliknya, dibolehkan seseorang buang air besar dan kecil dan boleh juga seseorang mandi junub di dalam air yang mengalik (seperti sungai) dan boleh juga di dalam air yang sebagiannya diam dan sebagian lainnya mengalir. Hal itu karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- hanya membatasi hukum larangan ini pada air yang diam lagi tidak mengalir. Wallahu a’lam.

7.    Tatkala lalat -baik dia masih hidup maupun telah menjadi bangkai- bukanlah najis maka Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang untuk membuang air yang kejatuhan lalat. Hal itu karena lalat yang jatuh ke dalam air tidaklah menajisi air tersebut sehingga dia masih bisa diminun dan dimanfaatkan, sehingga membuang air tersebut merupakan perbuatan boros dan mubazzir.
Berdasarkan ini pula para ulama menyatakan bahwa semua hewan yang darahnya tidak mengalir maka bangkainya bukanlah najis sebagaimana halnya lalat. Misalnya: Cicak dan serangga lainnya
Dan di antara tanda kenabian beliau -alaihishshalatu wassalam- adalah beliau mengabarkan bahwa salah satu dari kedua sayap lalat itu ada berisi penyakit dan pada sayap yang lainnya berisi obatnya. Maka tatkala tidak diketahui pada sayap mana obat dan penyakit itu berada, Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan agar sekalian mencelupkan semua tubuh lalat tersebut ke dalam air lalu setelah itu baru lalat itu dibuang.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, January 27th, 2010 at 11:04 am and is filed under Akhlak dan Adab, Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

15 responses about “Beberapa Adab Terhadap Air”

  1. Arief Tisnawidjaya said:

    Afwn mw tnya poin 5.,
    jadi kita gak boleh mndi junub pke bak mandi y ustadz?
    Kalo pke gayung?

    Kalau kita masuk ke dalam bak tersebut, maka iya tidak boleh. Tapi kalau airnya ditimba dari luar maka ini tidak mengapa.

  2. fickar said:

    ustadz saya kalau habis bersuci dari kencing sering merasa was2,tidak cukup dengan 1-2 gayung ,,bagaimana cara bersuci yang baik dan benar?

    Itu adalah was-was setan, hendaknya jangan diikuti karena pasti akhirnya akan menyeret kepada hal yang tidak baik. Yang jelas kapan dia telah menyiram kemaluannya setelah kencing maka itu sudah cukup selama tidak ada lagi kencing yang keluar.

  3. Ummu Mujahid said:

    Bismillaah…
    Afwan Ustadz… apabila lalat kecemplung diminuman kita, terus karena menjalankan sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tersebut kita memasukkan seluh bagian lalat kedalam air minuman kita dan kita merasa jijik untuk meminum air tersebut, akhirnya kita membuangnya. bagaimana hukumnya ustdaz?
    Baarokallohu fiik yaa Ustadz Abu Muawiah…

    Wallahu a’lam, hal itu bisa dianggap sebagai perbuatan kurang beradab terhadap air. Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyunnahkan hal di atas agar airnya bisa digunakan. Karenanya seandainya air tersebut sudah tidak bisa digunakan maka tentunya tidak ada gunanya tuntunan tersebut. Kalau dia memang dia merasa jijik maka dia boleh tidak meminumnya akan tetapi jangan dibuang begitu saja, hendaknya digabungkan dengan air yang bisa dimanfaatkan, misalnya untuk cuci piring atau mandi dan semisalnya.

  4. Imam said:

    satu yang masih mengganjal di pikiran, bagaimana halnya dengan berenang di kolam renang umum yang bukan tidak mungkin ada penggunanya yang buang air kecil di sana?

    bagaimana syariat Islam memandang pemandian umum semisal kolam renang, apakah harus dipisah antara pria dan wanitany? atau mutlak tidak boleh hukumnya?

    Memang ada kemungkinan tapi belum pasti. Dan dalam masalah ini dia tidak dituntut untuk melakukan apapun sampai dia yakin ada kencing di dalamnya.
    Kalau sudah yakin ada kencing di dalamnya maka:
    a. Jika salah satu dari 3 sifat air berubah maka tidak boleh mandi darinya karena airnya sudah menjadi najis.
    b. Jika tidak ada sifat yang berubah maka dimakruhkan mandi darinya. Karena telah ada larangan untuk mandi di dalam air yang diam yang najis masuk ke dalamnya.
    Tentu saja wajib dipisahkan antara lelaki dan wanita. Jangankan kolam renang yang pasti akan menampakkan aurat, dalam kelas pesantren saja wajib untuk dipisahkan.
    Tidak ada masalah dengan kolam renang selama pakaian yang digunakan tidak menampakkan aurat dan tidak pula ketat. Lelaki khusus di kolam renang laki-laki, wanita di kolam renang khusus wanita. Wallahu a’lam

  5. hamba-Nya said:

    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    bagaimana jka ingin bersuci, dan airnya itu dalam bak sedangkan kita tidak mengetahui apakah air itu terkena percikan air dari tubuh orang lain atau tidak saat orang tersebut mandi yang saat mandi.. Apakah air itu tetap bisa mensucikan??

    عَلَيْكُمْ اَلسَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Ia, airnya tetap syah dipakai bersuci.

  6. ahlussunnah unpad said:

    […] Imam Tanya: November 11th, 2010 at 6:13 am […]

  7. Delila said:

    Assalamualaikum pak ustad,

    saya mau tanya
    1. kalau air yang dipakai bersuci itu keruh, tapi masih bersifat air apakah boleh dipakai bersuci?
    2. ada kucing kencing di ubin, setelah menghilangkan kencingnya dengan dilap, apakah cukup dipel saja? apakah harus diguyur dengan air?

    Waalaikumussalam.
    1. Ya, boleh dipakai bersuci.
    2. Harus disiram dengan air agar zat kencingnya hilang.

  8. santo said:

    pak ustadz..cara menghilangkan was-was gimana ya?? krna saya kerap kali di hantui kl sehabis buang air kecil serasa ada yg keluar lagi.
    padahal saya sudah mengikuti syariat dan adab buang air sesuai tuntunan rosul
    jika saya TIDAK menghiraukan was-was itu apakah sudah benar??krna was-was itu kn dari syetan??
    bagaimana pndpat pak ustadz ttg hadist yg mengatakan kalo adzab kubur itu kbnyakan krn air kencing.??

    Ya, itu sudah benar. Jangan menghiraukan was-was tersebut.
    Memang ada hadits yang berbunyi:
    استنزهوا من البول فإن عامة عذاب القبر منه
    “Berbersihlah dari kencing, karena kebanyakan penyebab siksa kubur adalah karena kencing.”
    Hanya saja hadits ini diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama.
    Kalaupun shahih, maka ini hanya berlaku bagi orang yang sengaja dan yakin. Adapun kalau masih was-was lantas dia tidak menghiraukannya, maka insya Allah tidak termasuk dalam hadits ini. Wallahu A’lam.

  9. Achmad said:

    Bismillah,

    Bagaimana jika air yang kita pakai untuk cebok dari air kencing juga mengenai pakaian kita pada saat cebok tersebut?

    Apakah pakaian kita ternajisi?

    Barakallaahu fiik..

    Tidak najis, karena air bekas mencuci najis itu tidak najis jika sifatnya tidak ada yang berubah.

  10. Fita said:

    Assalamu’alaikum.ustadz,sy mau tnya bagaimana cara istinja yg benar utk wanita?krn tdk dpungkiri jika wanita kencing kdang2 cipratan2 air kencing mengenai bagian tubuh yg lain,bkn hnya tempat keluarnya yg perlu dbersihkan tetapi bag.tubuh yg tkena cipratan kencing spt skitar bagian paha jg.inilah yg membuat sy sring was-was ust. Shingga sy istinja menggunakan 4-5 gayung penuh air,krn kadang sewaktu sy istinja,sebagian air bekas istinja mengenai kaki sy yg masih terdapat cipratan air kencing,shingga kadang memantul kembali mengenai sy,bagaimana hukumnya air bekas istinja yg mengenai kaki sy yg terdapat cipratan air kencing itu kmudian memantul kembali mengenai saya?najiskah ust.?sy sulit utk menghindari air itu ust,shingga hal itu lah yg membuat sy was2 dan banyak memakai air.sy jg tdk mungkin meneliti apakah air yg memantul ke sy itu telah ternajisi krn sifat2x najis atau tdk sulit dketahui.mohn jwbnya ustadz.syukron

    Waalaikumussalam.
    Semua ini adalah bentuk was-was. Yang najis hanyalah kencing, sementara air bekas istinja bukanlah najis. Jadi yang disiram hanyalah yang terkena kencing, bukan yang terkena cipratan air istinja.

  11. Tera said:

    Assalamualaykum,
    ustad sy sering was” ketika kencing terus”an. Bgma mengatasinya? Bolehkah sy sholat dg keadaan sprti it?

    Waalaikumussalam.
    Kalau masih sekedar was-was maka tidak perlu diperhatikan. Kalau dia sudah bersuci maka dia boleh shalatat walaupun ada was-was, selama dia tidak yakin ada kencing yang keluar.

  12. Andi Isran said:

    Bismillah
    1. Bagaimana ustadz jika pakaian ana terkena najis apakah boleh di pakai melaksanakan shalat dengan alasan tidak ada pengganti karena sedang di luar rumah sementara adzan shalat telah di kumandangkan jika ditunda shalatnya sampai di rumah maka ana tidak dapat melaksanakan shalat berjamaah di mesjid?

    2. Kalau cuma pakaian dalam saja yang kena najis apakah cukup ana memercikkan air saja yang terkena najis lalu ana memakainya shalat?

    Jasakumullahu Khairan

    1. Kok bisa, bukankah bagian pakaian yang terkena najis itu bisa disiram air terlebih dahulu lalu dipakai shalat?!
    2. Ya,, cukup yang terkena najis saja.

  13. Rifqi said:

    Assalamualaikum Pak Ustad
    Saya mau tanya, ketika saya kencing ada seekor nyamuk yang melewati pancuran kencing saya, namun saya belum tahu pasti apakah nyamuk ini terkena kencing saya atau tidak. Jika nyamuk ini kena kencing saya lalu nyamuk ini hinggap di baju yang saya kenakan. Apakah baju saya ini menjadi najis ?

    Waalaikumussalam.
    Selama tidak pasti dia terkena najis, maka tidak ada masalah.

  14. suhada said:

    Assalamu’alaikum

    Mau nannya, kalo kolam ada bangkai cicak, tp tidak mengubah krn dan bau air kolam.apa kah sah mandi junub saya?

    wassalam

    Waalaikumussalam.
    Ya, tetap syah karena airnya tetap suci.

  15. hamba Allah said:

    Assalaamu’alikum

    Ustadz saya kalau ingin kencing selalu buka baju dan celana di kamar mandi. Karena saya merasa kalau kencing, cipratan air kencing mengenai tubuh saya maka dari itu saya buka baju dan celana di kamar mandi. Tolong saran dari ustadz. Jazakallahu Khair.

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada masalah. Hanya saja sebenarnya itu tidak perlu jika dia bisa memastikan kencingnya tidak mengenai tubuhb atau pakaiannya.