Asal Syarat Dalam Muamalah Adalah Boleh

October 13th 2008 by Abu Muawiah |

Asal Syarat Dalam Muamalah Adalah Boleh

Karena kaidah ini tidak tersebut dalam tulisan Al-Ustadz Zulqarnain, maka untuk menyempurnakan faidah, kami menyisipkan satu kaidah ini, yang kami ambil dari tulisan Asy-Syaikh Khalid bin Ali Al-Musyaiqih yang berjudul ‘Al-Mu’amalah Al-Maliyah Al-Mu’ashirah, berikut terjemahan ucapan beliau:

Perbedaan pendapat dalam dhabith ini sama seperti perbedaan pendapat yang terdapat dalam shabith sebelumnya.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum asal semua syarat dalam muamalah adalah halal. Karenanya syarat apa saja yang dipersyaratkan oleh salah satu dari dua pihak yang bertransaksi, baik syarat itu merupakan kelaziman dari akadnya, ataukah syarat itu dimunculkan guna kemaslahatan akad, ataukah syarat itu berupa persyaratan sifat tertentu atau persyaratan pengambilan manfaat -sebagaimana yang akan datang pada pembagian syarat-syarat insya Allah-, maka hukum asal dari semua itu adalah halal.
Ini ditunjukkan oleh firman Allah -Azza wa Jalla-, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Maidah: 1) Perintah untuk memenuhi akad mengandung perintah untuk memenuhi akad itu sendiri dan sifat dari akad tersebut, dan termasuk dari sifat akad adalah syarat-syarat yang ada di dalamnya.
Juga ditunjukkan oleh firman Allah -Azza wa Jalla-, “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra`: 34) Perintah ini mengandung kewajiban untuk memenuhi syarat-syarat yang ada.
Yang dimaksudkan dengan syarat-syarat dalam jual beli adalah apa yang dipersyaratkan oleh salah satu dari dua pihak yang bertransaksi guna mewujudkan maslahat bagi dirinya. Dan letak persyaratan dalam akad adalah sebelum terjadinya akad, maksudnya: Jika kedua belah pihak telah menyepakati syarat tersebut. Misalnya penjualnya mensyaratkan agar sebelum menjualnya dia bisa memanfaatkan dulu barang tersebut selama sekian waktu, ataukah pihak pembeli mensyaratkan pembayarannya bisa diundur. Intinya, tempat dinyatakannya syarat  dalam akad adalah sebelum terjadinya akad jika memang kedua belah pihak telah menyetujuinya, bisa juga di tengah-tengah berlangsungnya akad, dan bisa juga dalam masa ikhtiyar (masa pembolehan pembatalan akad).
Di tengah akad misalnya dia katakan: Saya menjual mobil ini kepadamu  dengan syarat saya pakai dulu selama sehari atau dua hari, selama dalam masa khiyar -baik khiyar majlis maupun khiyar syarth-. Sebagaimana jika dia membeli mobil tersebut kemudian setelah itu -di dalam majlis yang sama- dia berkata: Dengan syarat saya gunakan dahulu selama sehari atau dua hari. Demikian pula jika masih dalam masa khiyar syarth, maka dia boleh mensyaratkan ketika dia membeli mobilnya dengan mengatakan: Saya punya hak khiyar (boleh membatalkan akad) selama tiga hari. Kemudian ketika khiyar ini berjalan (sebelum hari ketiga), dia lalu mensyaratkan agar dia bisa memakai dahulu mobil tersebut selama sepekan atau dua pekan. Maka kita katakan: Syarat ini syah.

Incoming search terms:

  • muamalah adalah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, October 13th, 2008 at 1:28 am and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.