Archive for September, 2013

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

September 30th, 2013 by Abu Muawiah

Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Tanya:
assalamu ’alaikum.
Pak ustadz mau bertanya: Berapakah jumlah rakaat shalat dhuha? Apakah yg sesuai sunnah itu 4 rakaat atau berapa rakaat?
Mohon dijawab dengan dalilnya?

iskandar
dodi.setia97@yahoo.com

Jawab:
Tidak ada perselisihan di antara ulama mengenai jumlah rakaat minimal shalat dhuha, yakni dua rakaat berdasarkan hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan salat dhuha. Namun, mereka berbeda pendapat tentang berapakah jumlah rakaat maksimal shalat dhuha. Dalam hal ini setidaknya ada tiga pendapat:

Pertama, jumlah rakaat maksimal adalah delapan rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalil yang digunakan madzhab ini adalah hadis Umi Hani’ radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719).

Kedua, rakaat maksimal adalah 12 rakaat. Ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan pendapat lemah dalam Madzhab Syafi’i. Pendapat ini berdalil dengan hadis Anas radhiallahu’anhu: Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Konsultasi Agama BBM Al-Atsariyyah

September 26th, 2013 by Abu Muawiah

Konsultasi Agama BBM Al-Atsariyyah

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin, wa ‘ala aalihi ajma’in.
Karena banyaknya permintaan dari kontak BBM Al-Atsariyyah agar kami membuka layanan konsultasi diniah (agama), maka dengan ini kami informasikan kepada semua kontak BBM Al-Atsariyyah, bahwa konsultasi diniah sudah kami mulai dari hari selasa kemarin. Mohon maaf, karena baru sempat diinfokan di situs ini.
Dan bagi semua kontak BBM Al-Atsariyyah yang ingin mengirimkan pertanyaan, hendaknya mematuhi aturan-aturan berikut guna kemaslahatan bersama:

1. Kami hanya menerima pesan yang berisi pertanyaan. Kami tidak menerima pesan selain dari itu, baik berupa informasi apalagi promosi.

2. Pengunjung bisa mengirimkan pertanyaan kapan saja, namun kami BERHAK untuk menunda menjawabnya sesuai dengan kemampuan dan waktu kami dan juga berhak untuk tidak menjawab pertanyaan tertentu yang kami anggap tidak perlu untuk dijawab.

3. Karenanya, TIDAK dibolehkan mengirimkan pertanyaan yang sama lebih dari sekali, dan hendaknya sabar menunggu jawaban pertanyaannya.

4. Pertanyaan yang dikirim harus jelas dan lengkap, agar jawaban yang disampaikan juga bisa dipahami.

5. Sebagaimana dalam konsultasi via WhatsApp, kami tidak akan menjawab pertanyaan yang jawabannya membutuhkan penjelasan yang panjang. Karena itu kebanyakannya kami hanya akan menjawab ringkas langsung ke jawaban permasalahan tanpa menyebutkan dalilnya.

6. Bagi yang menginginkan penjelasan atau dalil, hendaknya bertanya melalui web.

7. Setiap kontak HANYA BOLEH bertanya dengan SATU pertanyaan per hari.

8. Aturan lain bisa ditambahkan belakangan jika dibutuhkan.

Jazakumullahu khairan atas atensinya, semoga hal ini bisa menjadi sarana yang mubarak bagi kita dalam menambah ilmu agama, Allahumma amiin.

Dan tidak lupa kami haturkan banyak terima kasih kepada para donatur dakwah al-atsariyyah, yang dengan bantuan mereka -tentunya setelah izin dari Allah- program al-atsariyyah bisa terlaksana dengan baik. Jazaahumullahu khairan wa abdala lahum maa huwa khairun min-hu.

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Konsultasi Agama BBM Al-Atsariyyah

Buku Baru ‘Hukum-Hukum Seputar Mushaf dan Al-Qur`an’

September 21st, 2013 by Abu Muawiah

Buku Baru ‘Hukum-Hukum Seputar Mushaf dan Al-Qur`an’

Alhamdulillah, telah terbit buku II dari Pustaka Khazanah Islamiah dengan judul ‘Hukum-Hukum Seputar Mushaf dan Al-Qur`an’.
Penulis: Amr bin Abdi Al-Mun’im Salim
Penerjemah: Abu Muawiah
Soft Cover dengan jumlah halaman: 240
Harga: Rp. 35.000,-

Info dan Pemesanan:
Telpon/sms: 0812 8523 5499
Whatsapp: 0899 5693 888
Pin BB: 25C26D4E

Berikut link gambar cover, daftar isi, dan sinopsis: Read the rest of this entry »

Category: Info Buku Terbaru | Comments Off on Buku Baru ‘Hukum-Hukum Seputar Mushaf dan Al-Qur`an’

Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)

September 19th, 2013 by Abu Zakariyya

Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)

 Sesungguhnya kalimat ‘Ahlul Bait’ bukanlah sesuatu yang asing lagi di bumi Indonesia, bahkan bagi masyarakat awam sekalipun biasa mendengar dan mengungkapkannya. Tidak sedikit oknum yang mengaku sebagai ‘Ahlul Bait’ atau membentuk organisasi atau jama’ah yang  mengatasnamakan ‘Ahlul Bait’, sedangkan dalam waktu yang bersamaan tidak sedikit pula oknum yang mencela bahkan mengkafirkan ‘Ahlul Bait’. Semua hal di atas bisa jadi muncul dari ketidaktahuan tentang hakikat ‘Ahlul Bait’ atau kedengkian terhadap ‘Ahlul Bait’.

Lantas siapa yang dimaksud dengan ‘Ahlul Bait’? apa keutamaan mereka? dilarangkah seseorang mencela mereka? simak pembahasannya berikut ini;

Definisi Ahlulbait secara etimologi

Sesungguhnya para ilmuwan Bahasa Arab dan Ulama Islam telah menjelaskan makna ‘Ahlul Bait’ secara detail dan gamblang, diantaranya apa yang telah dijelaskan oleh salah seorang ulama bahasa Arab Abul Husain Ahmad Ibnu Faaris dalam kitabnya yang berjudul Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh(1/150):

“Ahlu(keluarga) seorng lelaki adalah istrinya, berkeluarga ertinya beristri dan ahlu(keluarga) seorang lelaki  adalah orang khususnya, dan ahlul bait(orang rumah) adalah penghuni (rumah tersebut) dan Ahlul Islam(orang Islam) adalah orang yang beragama dengan (agama tersebut)”

Abul Qoosim Al-Husain bin Muhammad yang lebih terkenal dengan nama Ar-Rhooghib Al-AshFahaaniy berkata :

“Ahlu(keluarga) seorang lelaki adalah orang yang ia dan dirinya terkumpul dalam satu garis keturunan atau agama atau yang semisal dengan keduanya berupa profesi, rumah dan negeri, dan pada asalnya ahlu(keluarga) seseorang itu adalah orang yang ia dengan dirinya tinggal dalam satu rumah, kemudian (istilah) itu digunakan di luar (makna asalnya) seperti jika dikatakan: Ahli Baitnya seseorang adalah orang yang ia dengan dirinya berada dalam satu garis keturunan, dan jika dikatakan Ahlul Bait, biasanya (istilah itu) untuk keluarga Nabi ‘alaihis shalaatu wassalam secara mutlak sebagaimana dalam firmanNya: Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Manhaj, Mengenal Syi'ah Rafidhah | Comments Off on Ada Apa Dengan Ahlul Bait? (Bagian 1)

Hukum Mempelajari Anatomi Dengan Peraga Patung Kerangka Manusia

September 16th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Mempelajari Anatomi Dengan Peraga Patung Kerangka Manusia

Tanya:

Bolehkah mempelajari anatomi tubuh manusia dengan menggunakan patung tengkorak manusia?

Jawab:

Para ulama telah bersepakat bahwa gambar makhluk bernyawa dalam berwujud 3 dimensi -seperti patung kerangka manusia di sini- adalah termasuk gambar yang terlarang untuk dibuat dan terlarang untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka berdalilkan dengan banyak dalil, di antaranya:

  1. Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata:
    نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ
    “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (HR. At-Tirmizi no. 1671 dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)
  2. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
    لا تَدْخُلُ الْمَلائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ أَوْ تَصَاوِيرُ
    “Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat patung-patung atau gambar-gambar.” (HR. Muslim no. 5545)
  3. Aisyah radhiallahu anha berkata: Rasulullah masuk ke rumahku sementara saya baru saja menutup rumahku dengan tirai yang padanya terdapat gambar-gambar. Tatkala beliau melihatnya, maka wajah beliau berubah (marah) lalu menarik menarik tirai tersebut sampai putus. Lalu beliau bersabda:
    إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ
    “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah mereka yang menyerupakan makhluk Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 5525 dan ini adalah lafazhnya) Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

September 12th, 2013 by Abu Muawiah

Status Doa Pernikahan dari Nabi kepada Ali dan Fathimah

Kisah pernikahan antara Ali dengan Fathimah -radhiallahu anhuma- telah shahih dalam beberapa hadits. Hanya saja yang kami bahas di sini adalah status doa pernikahan yang masyhur di tengah-tengah masyarakat:

جمع الله شملكما ، وأعز جدكما ، وأطاب نسلكما  وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة ، وأمن الأمة ، وبارك الله لكما ، وبارك فيكما ، وبارك عليكما ، وأسعدكما ، وأخرج منكما الكثير الطيب

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memuliakan usaha kalian, memperbaiki anak keturunan kalian, dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat, sumber hikmah, dan keamanan bagi umat. Semoga Allah memberkahi untuk kalian berdua, memberkahi kalian, memberkahi atas kalian, memberikan kebahagiaan kepada kalian, dan memberikan kepada kalian keturunan yang banyak lagi baik.”

Doa semisal di atas diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam At-Talkhish, Abu Al-Hasan Ali bin Syadzan -dan Ibnu Abdil Hadi[1] dari jalannya- dan Ibnu Asakir dari jalur Muhammad bin Nahar bin Abi Al-Mahyah dari Abdul Malik bin Khiyar putra paman Yahya bin Main dari Muhammad bin Dinar dari Husyaim dari Yunus bin Ubaid dari Al-Hasan dari Anas dengan lafazh:

جمع الله شملكما وبارك عليكما  وأخرج منكما صالحا طايبا

زاد في رواية ابن شاذان: وجعل نسلكما مفاتيح الرحمة ومعادن الحكمة

“Semoga Allah mengumpulkan yang terserak dari kalian berdua, memberkahi atas kalian, dan mengeluarkan dari kalian berdua keturunan yang saleh lagi baik.”

Dalam riwayat Ibnu Syadzan ada tambahan, “Dan menjadikan anak keturunan kalian sebagai pembuka pintu-pintu rahmat dan sumber hikmah.”

Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Qani’ dan selainnya dari jalur Muhammad bin Dinar di atas dari Jabir bin Abdillah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • Doa Rasulullah untuk Ali dan Fatimah

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Zikir & Doa | 1 Comment »

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

September 10th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Menggabungkan Aqiqah dan Qurban Dalam Satu Sembelihan

Sudah banyak pertanyaan yang masuk seputar hukum menggabungkan niat antara menyembelih aqiqah/nasikah dengan menyembelih qurban  di hari idul adh-ha.

Maka berikut pembahasannya:

Sebenarnya, jawaban dari permasalahan ini dibangun di atas salah satu masalah ushuliah, yaitu: Hukum menggabungkan dua ibadah dalam satu niat. Apakah hal ini diperbolehkan atau tidak?

Ringkasnya, para ulama ushul menyebutkan 2 syarat akan bolehnya menggabungkan 2 ibadah dalam 1 niat, yaitu:

  1. Kedua ibadah itu sama jenis dan waktunya. Adapun jika kedua ibadah itu tidak sama jenis dan berbeda waktu pelaksanaannya, maka keduanya tidak boleh digabungkan.
  2. Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya.

Contoh yang memenuhi syarat:

Shalat 2 rakaat setelah azan dengan meniatkannya sebagai sunnah rawatib sekaligus tahiyatul masjid. Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian tahiyatul masjid adalah shalat 2 rakaat (apapun jenisnya) sebelum seseorang duduk di dalam masjid. Karenanya, kapan seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid, apapun jenis shalat 2 rakaat yang dia lakukan itu. Karenanya ketika seseorang mengerjakan sunnah rawatib 2 rakaat sebelum duduk, maka itu sudah teranggap sebagai tahiyatul masjid baginya.

Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis. Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bolehkah qurban dan aqiqah bersamaan?
  • hukumnya aqiqah bersamaan dg haul

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Seputar Anak | 1 Comment »

Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

September 5th, 2013 by Abu Muawiah

Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

Hadits yang menyebutkan masalah ini adalah:

إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللهُ بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي

“Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka ingatlah aku, dan bershalawatlah atasku. Dan katakanlah: DZAKARALLAAHU BI KHAYRIN MAN DZAKARANI (Semoga Allah menyebut dengan kebaikan orang yang menyebutku namaku).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (1/48/2), Al-Bazzar no. 3125, Ibnu Hibban dalam Adh-Dhu’afa (2/250) dan selainnya. Semuanya dari jalur Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’dari saudaranya yang bernama Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya (Abu Rafi’) radhiallahu anhu.
Ini adalah hadits yang dha’if jiddan (sangat lemah), bahkan dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu’at dan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam Al-Manar Al-Munif (hal. 25), dan Asy-Syaikh Al-Albani sependapat dengan keduanya.

Alasannya adalah adanya perawi yang bernama Muhammad bin Ubaidillah di atas. Dia adalah salah seorang penganut Syiah di Kufah. Al-Bukhari berkomentar tentangnya, “Mungkarul hadits (mungkar haditsnya).” Yahya bin Main berkata, “Laysa bisyay`in (tidak ada apa-apanya).” Dan Ad-Daraquthni berkata, “Matruk lahuu mu’dhalaat (ditinggalkan haditsnya dan mempunyai banyak hadits-hadits yang mu’dhal).” Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • telinga berdenging menurut islam

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Telinga Berdengung, Haruskah Kita Bershalawat?

Menghapus Gambar Dalam Buku

September 3rd, 2013 by Abu Muawiah

Menghapus Gambar Dalam Buku

Sudah jadi pemandangan sehari-hari bagi para pelajar, dimana mereka mendapati banyak gambar makhluk bernyawa di dalam buku-buku pelajaran mereka. Jangankan buku pelajaran umum, dalam buku pelajaran yang berbau agama sekali pun tidak luput dari gambar-gambar seperti ini. Contoh jelas terdapat dalam kitab-kitab muhadatsah (percakapan) berbahasa Arab, dimana di dalamnya pasti disertakan gambar-gambar makhluk bernyawa yang berfungsi sebagai alat peraga untuk memudahkan pembacanya memahami muhadatsah yang dibawakan.

Nah, apakah orang yang membaca buku-buku bergambar seperti ini diharuskan untuk menghapus gambar-gambar bernyawa yang terdapat di dalamnya?

Berikut jawaban dari Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah ketika beliau ditanya dengan teks soal sebagai berikut:

Apakah seseorang diharuskan untuk menghapus gambar-gambar yang terdapat di dalam buku-buku? Dan apakah membuat garis melintang di antara bagian kepala dan tubuh gambar itu, itu sudah cukup untuk menghilangkan hukum haramnya? Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Menghapus Gambar Dalam Buku