Archive for August, 2013

Konsultasi Agama Via Whatssapp

August 29th, 2013 by Abu Muawiah

Konsultasi Agama Via WhatsApp

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin, wa ‘ala aalihi ajma’in.

To the point aja yah:

Kabar gembira bagi semua pengunjung al-atsariyyah.com, alhamdulillah dengan izin Allah, konsultasi tanya jawab diniah sekarang kami perluas melalui chatting via aplikasi WhatsApp. So, bagi para pengunjung yang ingin memanfaatkan sarana konsultasi ini, silakan menambahkan nope berikut ke kontak WhatsApp anda:

0899 5693 888

Namun sebelumnya perlu diketahui dan dipatuhi beberapa peraturan berikut:

1. Kami hanya menerima pesan yang berisi pertanyaan. Kami tidak menerima pesan selain dari itu, baik berupa informasi apalagi promosi.

2. Pengunjung bisa mengirimkan pertanyaan kapan saja, namun kami berhak menunda menjawabnya sesuai dengan kemampuan dan waktu kami.

3. Karenanya, TIDAK dibolehkan mengirimkan pertanyaan yang sama lebih dari sekali, dan hendaknya sabar menunggu jawaban pertanyaannya.

4. Walaupun via chating, akan tetapi pertanyaan tetap harus jelas dan lengkap, agar jawaban yang disampaikan juga bisa dipahami.

5. Karena via chating, kami tidak akan menjawab pertanyaan yang jawabannya membutuhkan penjelasan yang panjang, karena itu kebanyakannya kami hanya akan menjawab ringkas langsung ke inti permasalahan tanpa menyebutkan dalilnya.

6. Bagi yang menginginkan penjelasan atau dalil, hendaknya bertanya melalui web.

7. Setiap orang HANYA BOLEH bertanya dengan SATU pertanyaan per hari.

8. Aturan lain bisa ditambahkan belakangan jika dibutuhkan.

Jazakumullahu khairan atas atensinya, semoga hal ini bisa menjadi sarana yang mubarak bagi kita dalam menambah ilmu agama, Allahumma amiin.

Dan tidak lupa kami haturkan banyak terima kasih kepada para donatur dakwah al-atsariyyah, yang dengan bantuan mereka -tentunya setelah izin dari Allah- program al-atsariyyah bisa terlaksana dengan baik. Jazaahumullahu khairan wa abdala lahum maa huwa khairun min-hu.

Incoming search terms:

  • konsultasi islam via whatsap
  • konsultasi online dgn ustadz

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdi Al-Wahhab

August 26th, 2013 by Abu Muawiah

Risalah Asy-Syaikh Kepada Penduduk Qashim

Tatkala Mereka Bertanya Tentang Aqidah Beliau[1]

Bismillahirrahmanirrahim

Saya mempersaksikan kepada Allah dan kepada siapa yang hadir bersamaku dari para malaikat, dan saya mempersaksikan kepada kalian bahwasanya saya meyakini apa yang diyakini oleh al-firqah an-najiah (kelompok yang selamat) yaitu ahlussunnah wal jamaah, berupa keimanan kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada apa yang ditakdirkan, yang baik maupun yang buruk. Termasuk bentuk beriman kepada Allah adalah mengimani semua yang Dia sifatkan diri-Nya dengannya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya  tanpa melakukan tahrif (pemalingan makna atau huruf) dan tidak pula ta’thil (mengingkari sifat). Bahkan saya meyakini bahwasanya tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka saya tidak menafikan dari-Nya apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya dan saya tidak memalingkan kata-kata (sifat Allah) dari makna sebenarnya. Saya tidak melakukan penyimpangan dalam nama-nama dan ayat-ayatNya, saya tidak melakukan takyif (membagaimanakan sifat Allah), dan saya tidak memisalkan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala, tidak ada yang setinggi dengannya, tidak ada yang setara dengannya, dan tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya. Karena Allah Subhanah paling mengetahui tentang diri-Nya dan selainnya, paling jujur ucapannya, dan paling baik perkataannya. Dia menyucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan oleh para penentang dari kalangan pelaku takyif dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk). Dia berfirman, “Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.[2] Al-firqah an-najiah berada di pertengahan -dalam masalah perbuatan Allah Ta’ala- antara Al-Qadariah dengan Al-Jabriah. Mereka berada di pertengahan -dalam masalah ancaman Allah- antara Al-Murjiah dan Al-Waidiah. Mereka berada di pertangahan -dalam masalah iman dan agama- antara Al-Haruriah (Khawarij) dan Mu’tazilah dengan Al-Murjiah dan Al-Jahmiah. Dan mereka berada di pertangahan -dalam masalah sahabat Rasulullah - antara Ar-Rafidhah (Syiah) dengan Al-Khawarij.

Saya meyakini bahwa Al-Qur`an adalah kalam Allah yang diturunkan, bukan makhluk, dari-Nya berasal dan kepada-Nya akan kembali, dan bahwa Dia berfirman dengannya secara hakiki. Dia menurunkannya kepada hamba, Rasul-Nya, orang kepercayaan-Nya dalam wahyu-Nya, dan perantara antara Dia dengan hamba-hambaNya, yaitu Nabi kita Muhammad . Saya juga meyakini bahwa Allah Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatupun yang akan terjadi kecuali dengan kehendak-Nya, tidak ada satupun yang keluar dari keinginannya. Tidak ada satupun dalam alam ini yang keluar dari penakdiran-Nya, tidak aka nada satupun yang lahir kecuali atas pengaturan-Nya, dan tidak ada jalan keluar bagi seorang pun dari takdir yang telah dibatasi dan tidak ada sesuatupun yang bisa melampaui apa yang ditetapkan untuknya dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | Comments Off on Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdi Al-Wahhab

Definisi Nadzar

August 22nd, 2013 by Abu Muawiah

Definisi Nadzar

Nadzar menurut bahasa bermakna pengharusan dan janji.

Adapun menurut istilah syara’, Ar-Raghib Al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Nadzar adalah kamu mewajibkan atas dirimu sesuatu yang bukan merupakan kewajiban karena adanya suatu kejadian.[1]

Sementara Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam mendefinisikannya, “Nadzar adalah seorang mukallaf mengharuskan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak wajib, karena Allah.”

Maka dari kedua definisi ini kita bisa menarik beberapa kesimpulan dalam definisi nadzar, yaitu:

1. Nadzar adalah mewajibkan diri untuk mengerjakan suatu amalan yang asalnya tidak wajib[2].

Misalnya seseorang mengatakan, “Aku bernadzar untuk Allah akan berpuasa senin kamis pekan ini.” Puasa senin kamis asalnya adalah sunnah, akan tetapi dia mewajibkan hal itu atas dirinya sehingga jadilah puasa sunnah ini hukumnya wajib atas dirinya. Termasuk di dalamnya, menadzarkan ibadah wajib tapi dengan sifat tertentu yang tidak wajib. Semisal seseorang mengatakan, “Saya bernadzar akan mengqadha` puasa ramadhan saya pada bulan Syawal.” Penyebutan nama bulan di sini hanyalah sifat tambahan dari kewajiban qadha` puasa dan tentunya qadha` puasa di bulan Syawal bukanlah kewajiban karena qadha puasa boleh dikerjakan pada bulan-bulan setelahnya. Tapi tatkala dia menadzarkannya maka jadilah qadha` di bulan Syawal sebagai suatu kewajiban.

Karenanya jika dia berkata, “Saya bernadzar akan naik haji jika mampu,[3]” maka ini bukanlah nadzar karena haji bagi yang mampu adalah kewajiban.

Inti dari nadzar ini adalah pewajiban atas diri sendiri sesuatu yang tidak wajib, apapun lafazh yang digunakan. Baik dia mengatakan, “Saya bernadzar …,” atau mengatakan, “Saya berjanji kepada Allah akan melakukan ibadah …,” atau mengatakan, “Wajib atas saya amalan ini karena Allah,” dan seterusnya. Karena semua ucapan ini mengandung makna dia mewajibkan dirinya mengerjakan suatu amalan karena Allah. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Fiqh | Comments Off on Definisi Nadzar

Tafsir Surah Al-Falaq

August 19th, 2013 by Abu Muawiah

Tafsir Surah Al-Falaq

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila dia dengki.”

Sejumlah ulama mengatakan, “Al-falaq” adalah subuh, ini seperti firman Allah Ta’ala, “Dia menyingsingkan waktu subuh.” (Al-An’am: 96) Ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah makhluk,” dan ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah sebuah rumah di dalam Jahannam. Jika pintu rumah ini dibuka, maka semua penghuni neraka akan berteriak karena sangat panasnya.” Ibnu Jarir berkata, “Yang paling benar adalah pendapat yang pertama, bahwa al-falaq adalah subuh.” Inilah pendapat yang paling benar.

Firman Allah Ta’ala, “Dari kejahatan makhluk-Nya,” yakni: Dari kejelekan seluruh makhluk.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Ada yang mengatakan, “Kejahatan malam jika telah gelap gulita.” Az-Zuhri berkata, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” yaitu matahari jika dia tenggelam.

Dari Abu Salamah dia berkata, “Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memegang tanganku, lalu beliau memperlihatkan kepadaku bulan ketika munculnya. Kemudian beliau bersabda, “Berlindunglah kamu kepada Allah dari kejelekan bulan ini jika dia terbenam.”

Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama mengatakan, “Yaitu tanda masuknya malam adalah jika bulan sudah muncul.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat kami, karena bulan adalah tanda masuknya malam. Bulan tidak mempunyai peranan apa-apa kecuali di malam hari, sebagaimana bintang-bintang juga tidak bisa bersinar kecuali di malam hari, sehingga hal ini kembalinya kepada apa yang telah kami jelaskan, wallahu a’lam. Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Tafsir Surah Al-Falaq

Keutamaan Surah Al-Falaq

August 17th, 2013 by Abu Muawiah

Keutamaan Surah Al-Falaq

Dari Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 “Tidakkah engkau melihat ayat-ayat yang diturunkan pada malam ini? Tidak diketahui ada ayat-ayat yang semisal ini sama sekali. “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.[1]

Dari Uqbah bin Amir[2] dia berkata:

“Suatu ketika saya pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, pada sebuah rombongan dari rombongan-rombongan yang ada. Tiba-tiba beliau bersabda kepadaku, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” akan tetapi saya menghormati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga saya tidak naik ke tunggangan beliau. Beliau kembali berkata, “Wahai Uqbah, tidakkah kamu naik ke tungganganku?” Maka akhirnya saya khawatir kalau-kalau penolakan saya ini merupakan maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian turun dan saya yang menaiki tunggangan beliau ???, kemudian beliau menaiki tunggangannya. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Uqbah, maukah kamu saya ajarkan dua surah di antara dua surah terbaik yang dibaca oleh manusia?” Saya menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau membacakan kepadaku “Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq,” dan “Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia.” Kemudian shalat ditegakkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maju mengimami kami dan membaca kedua surah ini. Setelah selesai, beliau melewatiku seraya bersabda, “Bagaimana pendapatmu wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap kali kamu mau tidur dan setiap kali kamu bangun dari tidur.”

Dari Uqbah bin Amir dia berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan saya untuk membaca surah-surah perlindungan di akhir setiap shalat.[3]Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | 1 Comment »

Update BBM Al-Atsariyyah

August 14th, 2013 by Abu Muawiah

Update BBM Al-Atsariyyah

Kami informasikan kepada semua pengunjung Al-Atsariyyah.com yang telah bergabung di kontak BBM Al-Atsariyyah:

Tanpa sengaja, semua kontak di BB kami terhapus. Karenanya, kami mengharapkan kepada semua teman-teman yang telah atau yang akan bergabung, untuk MENGINVITE ULANG PIN BB Al-Atsariyyah:

25C26D4E

Demikian informasi dari admin BBM Al-Atsariyyah, dan kami memohon maaf sebesar-besarnya atas hal ini.

Jazakumullahu khairan wabaraka fiikum.

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Update BBM Al-Atsariyyah