Archive for July, 2013

Join Now, BBM Al-Atsariyyah

July 29th, 2013 by Abu Muawiah

Join Now, BBM Al-Atsariyyah

Alhamdulillah, di bulan yang penuh berkah ini, al-atsariyyah kembali menghadirkan program baru guna semakin menyebarkan ilmu dan keberkahan Islam di tengah-tengah kaum muslimin. Program yang dimaksud adalah BBM (Blackberry Messenger) Al-Atsariyyah.

Sama seperti BBM dakwah lainnya, konten BBM Al-Atsariyyah berisi berbagai informasi dan wawasan keislaman dari berbagai disiplin ilmu-ilmu Islam, yang insya Allah bisa memberikan tambahan ilmu dan iman di tengah padatnya rutinitas kita sehari-hari.

Sebelum bergabung, harap diketahui bahwa program ini bersifat satu arah, sehingga kami tidak menerima kiriman apapun dari siapa saja yang bergabung, baik itu berupa informasi maupun pertanyaan. Tata tertib selengkapnya akan anda dapatkan setelah anda bergabung.

Bagi yang ingin bergabung, silakan invite kami melalui pin:

25C26D4E

Demikian info dari admin, wajazakumullahu khairan ‘alah timamikum.

Category: Info Kegiatan | 2 Comments »

Libur 10 Hari Terakhir Ramadhan

July 29th, 2013 by Abu Muawiah

Libur 10 Hari Terakhir Ramadhan

Berhubung sebentar lagi kita akan memasuki 10 hari terakhir ramadhan, maka kami menasehatkan diri kami sendiri kemudian kepada semua pengunjung secara khusus dan kaum muslimin secara umum, agar hendaknya mereka memanfaatkan dengan baik 10 hari terakhir Ramadhan, karena pada 10 hari terakhir terdapat keutamaan yang sangat besar.

Karenanya, kami menganjurkan kepada segenap kaum muslimin untuk mengurangi aktifitasnya di dunia maya selama 10 hari tersebut, dan hendaknya mereka memfokuskan dirinya untuk ibadah kepada Allah. Bahkan jika ada di antara kita yang bisa melakukan I’tikaf, maka itu jauh lebih utama.

Sehubungan dengan hal ini, maka dengan terpaksa kami kembali akan menon aktifkan kolom komentar terhitung mulai malam ini sampai malam 1 Syawal insya Allah. Ini kami lakukan untuk mencegah bertumpuknya pertanyaan, karena insya Allah kami tidak akan menjawab komentar dan pertanyaan dalam 10 hari terakhir ini.

Oleh karena itu, jika para pengunjung mempunyai permasalahan yang ingin ditanyakan seputar amalan Ramadhan, atau tentang shalat id, atau yang lainnya, maka kami sarankan anda bertanya sebelum masuknya 10 malam terakhir.

Demikian dari admin, sebelumnya kami memohon maaf wa jazakumullahu khairal jaza`.

Category: Info Kegiatan | Comments Off on Libur 10 Hari Terakhir Ramadhan

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

July 28th, 2013 by Abu Muawiah

Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah ditanya :

هل الحجامة داخلة في السنن الفعلية للنبيّ صلى الله عليه وسلم ؟

Apakah bekam termasuk dalam sunnah fi’liyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Syaikh hafidzahullah menjawab :

الحجامة مباحة, فهي علاج مباح لا يقال إنه سنة وأن الذي لا يتحجم تارك للسنة . . لا. هذا من المباحات والعلاج والأدعية من الأمور المباحات.

Bekam adalah perkara mubah. Ia termasuk pengobatan yang mubah. Tidak dikatakan bahwa ia sunnah, sehingga orang yang tidak melakukan bekam berarti telah meninggalkan sunnah. Tidak dikatakan demikian. Bekam termasuk perkara mubah. Dan pengobatan termasuk salah satu dari perkara mubah.

Sumber : Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Tahukah Anda? | Comments Off on Siapa Bilang Bekam Itu Sunnah?

Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

July 25th, 2013 by Abu Muawiah

Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

Tanya : Apakah shalat tarawih 4 raka’at 4 raka’at dengan satu salam (lalu witir 3 raka’at) termasuk bid’ah ?

Jawab : Tidak, bahkan kaifiyyah shalat seperti itu shahih dicontohkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2013 dan Muslim no. 738].

Dhahir hadits ini menunjukkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at dengan satu salam. Inilah pendapat Abu Haniifah, sebagaimana disitir oleh Al-‘Iraaqiy rahimahumallah :

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْأَفْضَلُ أَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعًا أَرْبَعًا وَإِنْ شَاءَ رَكْعَتَيْنِ وَإِنْ شَاءَ سِتًّا وَإِنْ شَاءَ ثَمَانِيًا وَتُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ

“Abu Haniifah berkata : “Afdlal-nya shalat malam empat raka’at empat raka’at. Apabila berkehendak, shalat 2 raka’at, apabila berkehendak shalat 6 raka’at, apabila berkehendak shalat 8 raka’at. Dan dimakruhkan menambah raka’at dari itu” [Tharhut-Tatsriib, 3/357]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Shalat Tarawih 4 Raka’at dengan 1 Salam Bid’ah ?

Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

July 22nd, 2013 by Abu Muawiah

Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

Tanya : Apakah membayar zakat fitrah dengan uang merupakan satu kebid’ahan dalam agama ?

Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Jumhur ulama mengatakan tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) berupa uang. Inilah yang dipegang kuat oleh Maalikiyyah, Syaafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah. Sedangkan ulama lain, seperti Al-Hasan Al-Bashriy, ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziiz, Ats-Tsauriy, Abu Haniifah, dan yang lainnya; berpandangan boleh mengeluarkan zakat fitrah (fithri) dengan uang.

Dalil Pokok Madzhab Pertama

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ السَّكَنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Muhammad bin As-Sakan : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdlam : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far, dari ‘Umar bin Naafi’, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadlan kepada manusia; satu shaa’ tamr (kurma) atau satu shaa’ gandum atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan wanita dari kalangan umat muslimin. Dan beliau pun memerintahkan agar mengeluarkannya sebelum orang-orang keluar mengerjakan shalat (‘Ied)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1503].

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Iyadl bin ‘Abdllah bin Sa’d bin Abi Sarh Al-‘Aamiriy, bahwasannya ia mendengar Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Dulu kami mengeluarkan zakat fithri (sebanyak) satu shaa’ makanan, atau satu shaa’ gandum, atau satu shaa’ tamr (kurma), atau satu shaa’ keju, atau satu shaa’ anggur kering (kismis)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1506].

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Khaalid Ad-Dimasyqiy[1] dan ‘Abdullah bin ‘Abdirrahmaan As-Samarqandiy[2], mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwaan[3]– ‘Abdullah berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Yaziid Al-Khaulaaniy[4], ia seorang syaikh yang jujur, dan Ibnu Wahb meriwayatkan darinya : Telah menceritakan kepada kami Sayyaar bin ‘Abdirrahmaan[5]– : Mahmuud berkata : Ash-Shadafiy, dari ‘Ikrimah[6], dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan perkataan yang tidak senonoh, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1506; hasan]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Apakah Membayar Zakat Fitrah/Fithri dengan Uang Merupakan Satu Kebid’ahan dalam Agama ?

Seputar Waktu dalam I’tikaf

July 21st, 2013 by Abu Muawiah

Seputar Waktu dalam I’tikaf

Dalam artikel ini, ada 4 permasalahan yang akan kita bahas:

  1. Waktu I’tikaf.
  2. Durasi minimal I’tikaf.
  3. Kapan mu’takif (orang yang I’tikaf) memulai I’tikafnya?
  4. Kapan mu’takif selesai dari I’tikafnya?

Berikut uraiannya satu per satu secara ringkas:

A. Waktu I’tikaf.

Mayoritas ulama memandang bahwa I’tikaf disyariatkan kapan saja sepanjang tahun, dan tidak terkhusus dalam bulan Ramadhan saja. Hanya saja, memang lebih utama dilakukan pada bulan Ramadhan, dan lebih ditekankan lagi pada 10 hari terakhir Ramadhan. Semua ini berdasarkan perbuatan dan kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Seseorang dianjurkan untuk tidak meninggalkan I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukannya secara berkesinambungan dan beliau mengqadha` jika tidak melakukannya. Sementara amalan apa saja yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rutin melakukannya, maka amalan itu termasuk sunnah mu`akkadah, sama seperti shalat lail.[1]Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Seputar Waktu dalam I’tikaf

Tidak Ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

July 18th, 2013 by Abu Muawiah

Tidak ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

 

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarij As-Salikin (1/381):

“Allah Subhanahu telah mensyariatkan untuk mengqadha` puasa Ramadhan bagi orang yang tidak berpuasa karena adanya uzur, seperti: Haid atau safar atau sakit. Namun Allah tidak pernah mensyariatkan qadha` ini bagi orang yang sengaja tidak berpuasa tanpa ada uzur, tidak ada satu pun nash, tidak pula isyarat, tidak pula tanbih (catatan), dan itu juga tidak sejalan dengan aturan-aturan syariat-Nya. Argumen terkuat yang kalian[1] miliki hanyalah menganalogikannya dengan tidak berpuasanya orang yang mempunyai uzur. Padahal aturan-aturan syariat telah baku menetapkan adanya perbedaan antara yang mempunyai uzur dengan yang tidak mempunyai uzur. Bahkan syariat telah mengabarkan bahwa puasa sepanjang tahun pun tidak akan bisa mengqdha` satu hari puasa Ramadhan yang dia tinggalkan tanpa uzur[2], apalagi jika hanya diqadha` dengan satu hari juga.[3]Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Tidak Ada Qadha` Bagi yang Sengaja Membatalkan Puasanya

Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

July 15th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

Apa hukum mengoleskan minyak atau salep atau balsem untuk terapi atau tujuan lainnya? Dan apa juga hukum memakai patch untuk terapi?
Permasalahan ini dibahas, karena sebagaimana yang diketahui bersama, kulit akan menyerap bahan-bahan di atas ketika dia dioleskan atau direkatkan ke tubuh. Nah, apakah masuknya bahan-bahan ini ke dalam tubuh melalui kulit, bisa membatalkan puasa?
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah rahimahullah pernah menyebutkan permasalahan ini, dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak membatalkan puasa. Hal itu karena tidak ada satu pun dari bahan-bahan itu yang berfungsi layaknya makanan dan tidak ada satu pun di antaranya yang sampai ke dalam perut.
Inilah hukum yang difatwakan oleh Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami, bahkan sebagian di antara mereka ada mengutip adanya konsensus ulama kontemporer terhadap hukum ini.

[Diringkas dari Al-Mufthiraat Al-Mu’asharah, karya Dr. Khalid bin Ali Al-Musyaiqih]

Incoming search terms:

  • menggunakan balsem ketika solat

Category: Fiqh | Comments Off on Hukum Minyak, Salep, Balsem, dan Patch Terapeutik

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

July 14th, 2013 by Abu Muawiah

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

Ibnu Abi Daud meriwayatkan dalam Al-Mashahif (193-194) dari jalur Jarir bin Hazim dia berkata, “Saya pernah melihat Ibnu Sirin sedang mengerjakan shalat sambil duduk bersila, sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Sanadnya shahih.

Dia meriwayatkannya dari jalur yang lain dari Ma’mar dari Ayyub dari Ibnu Sirin:

أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي وَالْمُصْحَفِ إِلَى جَنْبِهِ، فَإِذَا تَرَدَّدَ نَظَرَ فِي الْمُصْحَفِ

“Bahwa beliau pernah mengerjakan shalat sementara mushaf berada di sampingnya. Jika beliau ragu-ragu akan suatu ayat, beliau melihat ke dalamnya.”

Category: Fiqh, Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Melihat Mushaf?

Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’

July 11th, 2013 by Abu Muawiah

Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’

At-Tirmizi dalam Al-Jami’ (3570), Ibnu Abi Ashim dalam Ad-Du’a, Ibnu Mardawaih dalam Tafsirnya -sebagaimana dalam An-Nukat Azh-Zhiraf karya Ibnu Hajar (via Tuhfah Al-Asyraf: 5/91), dan Al-hakim dalam Al-Mustadrak (1/16), mereka semua meriwayatkan dari jalur Sulaiman bin Abdirrahman Ad-Dimasyqi (dia berkata): Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami (dia berkata): Ibnu Juraij menceritakan kepada kami dari Atha` bin Abi Rabah dan Ikrimah maula Ibni Abbas dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآنُ مِنْ صَدْرِي فَمَا أَجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا الْحَسَنِ أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَ فِي صَدْرِكَ قَالَ أَجَلْ يَا رَسُولَ اللهِ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُومَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ وَقَدْ قَالَ أَخِي يَعْقُوبُ لِبَنِيهِ: { سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي }. يَقُولُ حَتَّى تَأْتِيَ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي وَسَطِهَا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي أَوَّلِهَا فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةِ يس وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَحم الدُّخَانِ وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالم تَنْزِيلُ السَّجْدَةِ وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَتَبَارَكَ الْمُفَصَّلِ فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدْ اللهَ وَأَحْسِنْ الثَّنَاءَ عَلَى اللهِ وَصَلِّ عَلَيَّ وَأَحْسِنْ وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَاسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِإِخْوَانِكَ الَّذِينَ سَبَقُوكَ بِالْإِيمَانِ ثُمَّ قُلْ فِي آخِرِ ذَلِكَ:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

يَا أَبَا الْحَسَنِ تَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا تُجَبْ بِإِذْنِ اللهِ وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَخْطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ.

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَوَاللَّهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي كُنْتُ فِيمَا خَلَا لَا آخُذُ إِلَّا أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ وَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي تَفَلَّتْنَ وَأَنَا أَتَعَلَّمُ الْيَوْمَ أَرْبَعِينَ آيَةً أَوْ نَحْوَهَا وَإِذَا قَرَأْتُهَا عَلَى نَفْسِي فَكَأَنَّمَا كِتَابُ اللهِ بَيْنَ عَيْنَيَّ وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيثَ فَإِذَا رَدَّدْتُهُ تَفَلَّتَ وَأَنَا الْيَوْمَ أَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ فَإِذَا تَحَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ يَا أَبَا الْحَسَنِ

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah r, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang seraya berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan untuk anda. Al-Qur’an mudah hilang dari hafalanku, dan aku tidak mampu untuk menjaganya.” Maka Rasulullah r bersabda, “Wahai Abu Al-Hasan, maukah kamu saya ajarkan beberapa ucapan yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu dan kepada orang yang engkau ajari ucapan ini kepadanya, serta memantapkan apa yang telah engkau pelajari di dalam dadamu?” Dia berkata, “Mau wahai Rasulullah! Ajarkan kepadaku!” Beliau bersabda, “Apabila tiba malam Jumat dan engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, maka ketahuilah bahwa waktu itu merupakan malam yang disaksikan (para malaikat), doa pada saat itu terkabulkan, dan saudaraku Ya’qub telah berkata kepada anak-anaknya, “Aku akan memintakan kalian ampunan kepada Tuhanku,” dan ucapan ini terus beliau ucapkan hingga datang malam Jumat. Jika engkau tidak mampu untuk bangun di sepertiga malam terakhir, maka bangunlah pada pertengahan malamnya. Dan jika engkau tidak mampu maka bangunlah pada awal malam lalu shalatlah empat raka’at, dimana pada rakaat pertamanya hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Yaasiin. Pada rakaat kedua hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Ad-Dukhan. Pada rakaat ketiga hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat As-Sajadah. Dan pada rakaat keempat hendaklah engkau membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Mulk. Kemudian apabila engkau telah selesai dari tasyahud maka pujilah Allah dengan sebaik-baiknya, ucapkanlah shalawat kepadaku dan kepada semua para nabi dengan sebaik-baiknya, mintakan ampunan untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, dan untuk semua saudaramu yang telah beriman sebelummu. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Kritik Terhadap Hadits ‘Shalat untuk Memudahkan Menghafal Al-Qur’an’