Archive for February, 2013

Shalat Sunnah Awwabiin

February 28th, 2013 by Abu Muawiah

Shalat Sunnah Awwabiin

Tanya : Tolong dijelaskan mengenai shalat sunnah awwabiin ! Apakah shalat tersebut adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat maghrib sebagaimana yang sering dilakukan oleh masyarakat kita ?

Jawab : Awb artinya adalah rujuk, maka awwab adalah rajja’ atau munib, yaitu orang yang banyak kembali (dari dosa dan kesalahan). Shalat awwabiin adalah shalatnya orang-orang yang taat kepada Allah ta’ala. Merujuk kembali pada apa yang ditanyakan, maka shalat sunnah awwabiin itu adalah Shalat Dluha yang dilakukan setelah terbitnya matahari hingga menjelang waktu Dhuhur. Dalil yang melandasinya adalah sebagai berikut :

Hadits Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على أهل قباء وهم يصلون فقال صلاة الأوابين إذا رمضت الفصال

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar menuju orang-orang di masjid Quba’ dimana mereka sedang melaksanakan shalat. Maka beliau bersabda : “Shalat Awwabiin dilakukan saat anak-anak onta telah kepanasan” [HR. Muslim nomor 748].

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhu :

ان النبي الله صلى الله عليه وسلم أتى على مسجد قباء أو دخل مسجد قباء بعدما أشرقت الشمس فإذا هم يصلون فقال ان صلاة الأوابين كانوا يصلونها إذا رمضت الفصال

Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mendatangi atau memasuki Masjid Quba’ setelah matahari terbit yang ketika itu orang-orang sedang melakukan shalat. Maka beliau bersabda : “Shalat Awwabiin, mereka melakukannya saat anak onta kepanasan”. [HR. Ahmad juz 4 nomor 19366].

Dari Al-Qasim Asy-Syaibani radliyallaahu ‘anhu :

أن زيد بن أرقم رأى قوما يصلون من الضحى فقال أما لقد علموا أن الصلاة في غير هذه الساعة أفضل إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال صلاة الأوابين حين ترمض الفصال

Bahwasannya Zaid bin Arqam melihat suatu kaum yang sedang melaksanakan shalat di waktu dluha, maka ia berkata : “Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya shalat di selain waktu ini lebih utama ?. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “Shalat Awwabiin dilakukan saat anak onta kepanasan”. [HR. Muslim nomor 748]. Read the rest of this entry »

Category: Fiqh | Comments Off on Shalat Sunnah Awwabiin

WARNA PAKAIAN AKHWAT = HITAM/GELAP ?

February 21st, 2013 by Abu Muawiah

WARNA PAKAIAN AKHWAT = HITAM/GELAP ?

Beberapa waktu lalu, hp Nokia saya berbunyi : Tet-tet…tet-tet. Setelah saya lihat, ternyata isinya adalah sebuah sebuah pesan pendek (SMS) dari seorang teman yang isinya secara ringkas kurang lebih demikian : ”Akhwat…. sudah lama ngaji…tapi jilbabnya masih berwarna”. SMS ini merupakan jawaban SMS saya sebelumnya yang misinya adalah permintaan bantuan nyariin seorang akhwat (buat dijadiin istri) untuk seorang teman yang lain. Dalam benak saya, ada yang ”aneh” atas jawaban yang disampaikan teman saya tersebut. Keanehannya terletak pada kalimat : ”tapi jilbabnya masih berwarna”. Ada apa dengan kalimat ini ?

Telah jamak beredar di sebagian ikhwan dan akhawat (salafiyyun pada khususnya) bahwa warna pakaian yang mesti dikenakan (bagi akhawat) adalah warna hitam atau gelap. Mereka menganggap, memakai pakaian selain warna tersebut merupakan satu tindakan tabarruj. Ini adalah pandangan yang keliru. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan sedikit menyampaikan apa yang saya ketahui terkait dengan permasalahan.

Dalam beberapa hadits atau atsar telah tetap bahwa sebagian kaum wanita shahabiyyat memakai pakaian berwarna selain warna hitam. Di antara hadits atau atsar tersebut adalah :

  1. Warna hijau.

عن عكرمة أن رفاعة طلق امرأته فتزوجها عبد الرحمن بن الزبير القرظي قالت عائشة وعليها خمار أخضر فشكت إليها وأرتها خضرة بجلدها فلما جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم والنساء ينصر بعضهن بعضا قالت عائشة ما رأيت مثل ما يلقى المؤمنات لجلدها أشد خضرة من ثوبها

Dari ’Ikrimah : Bahwasannya Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh ’Abdurrahman bin Az-Zubair Al-Quradhy. ’Aisyah berkata : ”Dia memakai khimar yang berwarna hijau, akan tetapi ia mengeluh sambil memperlihatkan warna hijau pada kulitnya”. Ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tiba – dan para wanita menolong satu kepada yang lainnya – maka ’Aisyah berkata : ”Aku tidak pernah melihat kondisi yang terjadi pada wanita-wanita beriman, warna kulit mereka lebih hijau daripada bajunya (karena kelunturan)” [HR. Al-Bukhari no. 5487].

  1. Motif kecil-kecil warna hitam, hijau, dan kuning.

عن أم خالد بنت خالد أتى النبي صلى الله عليه وسلم بثياب فيها خميصة سوداء صغيرة فقال من ترون أن نكسو هذه فسكت القوم فقال ائتوني بأم خالد فأتي بها تحمل فأخذ الخميصة بيده فألبسها وقال أبلي واخلقي وكان فيها علم أخضر أو أصفر

Dari Ummu Khaalid binti Khaalid : ”Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam datang dengan membawa beberapa helai pakaian yang bermotif kecil warna hitam. Beliau berkata : ”Menurut kalian, siapa yang pantas untuk memakai baju ini ?”. Semua diam. Beliau kemudian berkata : ”Panggil Ummu Khaalid”. Maka Ummu Khaalid pun datang dengan dipapah. Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam mengambil pakain tersebut dengan tanggannya dan kemudian memakaikannya kepada Ummu Khaalid seraya berkata : ”Pakailah ini sampai rusak”. Pakaian tersebut dihiasi dengan motif lain berwarna hijau atau kuning” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5485]. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | Comments Off on WARNA PAKAIAN AKHWAT = HITAM/GELAP ?

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

February 14th, 2013 by Abu Muawiah

Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah pernah ditanya :

ما حكم من أحب عالماً أو داعية، وقال : إني أحبه حبًا كثيرًا، لا أريد أن أسمع أحداً يرد عليه، وأنا آخذ بكلامه حتى وإن كان مخالفاً للدليل، لأن هذا الشيخ أعرف منا بالدليل ؟

“Apa hukum bagi seseorang yang mencintai seorang ulama atau da’i, hingga ia berkata : ‘Sesungguhnya aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin seorang pun membantahnya, dan aku mengambil perkataannya meskipun ia menyelisihi dalil, karena syaikh tersebut lebih mengetahui dalil daripada kita’ ?”.

Beliau hafidhahullah menjawab :

هذا تعصب ممقوت مذموم، ولا يجوز.

نحن نحب العلماء –و لله الحمد-، ونحب الدعاة في الله عز وجل، لكن إذا أخطأ واحد منهم في مسألة فنحن نُبَيِّن الحق في هذه المسألة بالدليل، ولا يُنقص ذلك من محبة المردود عليه، ولا من قدره .

يقول الإمام مالك – رحمه الله – : (( ما مِنَّا إلا رادٌ ومردودٌ عليه؛ إلا صاحب هذا القبر )). يعني : رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Sikap ini merupakan kefanatikan (ta’ashub) yang dibenci lagi tercela, tidak diperbolehkan.[1]

Kita mencintai ulama – walillaahil-hamd – , dan mencintai da’i yang menyeru di jalan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi jika salah seorang di antara mereka terjatuh dalam kesalahan dalam satu permasalahan, maka kita menjelaskan kebenaran dalam permasalahan ini dengan dalil. Hal itu sama sekali tidaklah mengurangi kecintaan kita pada orang yang dibantah, dan tidak pula mengurangi kedudukannya.

Al-Imaam Maalik rahimahullah berkata : “Tidaklah seorang pun dari kita kecuali orang yang membantah atau yang dibantah, kecuali pemilik kubur ini”[2] – yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

نحن إذا رددنا على بعض أهل العلم، وبعض الفضلاء؛ ليس معنى هذا أننا نبغضه أو نتنقصه، وإنما نُبَيِّن الصواب، ولهذا يقول بعض العلماء لما أخطأ بعض زملائه، قال : (( فلان حبيبنا، ولكن الحق أحب إلينا منه )). ، هذا هو الطريق الصحيح .

ولا تفهموا أن الرَّد على بعض العلماء في مسألة أخطأ فيها معناه تَنَقُّص لـه أو بُغض، بل ما زال العلماء يرد بعضهم على بعض، وهم اخوة ومتحابون .

ولا يجوز لنا أن نأخذ كل ما يقوله الشخص أخذاً مسلّماً؛ أصاب أو أخطأ، لأن هذا تعصُّب .

“Apabila kita membantah sebagian ulama dan sebagian fudlalaa’ tidaklah bermakna kita membencinya atau merendahkannya. Kita hanyalah menjelaskan kebenaran. Oleh karenanya sebagian ulama berkata ketika sebagian rekannya terjatuh dalam kesalahan : ‘Fulaan adalah orang yang kami cintai, akan tetapi kebenaran lebih kami cintai daripadanya’[3]. Inilah jalan yang benar.

Janganlah kalian memahami bahwa bantahan terhadap sebagian ulama dalam permasalahan yang mereka jatuh dalam kekeliruan bermakna perendahan atau kebencian. Bahkan para ulama senantiasa memberikan bantahan sebagian terhadap sebagian yang lain, dalam keadaan mereka saling bersaudara dan mencintai. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Fanatik pada Ustadz atau Ulama

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

February 7th, 2013 by Abu Muawiah

Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’

Tanya :

فضيلة الشيخ صالح أحسن الله إليك، هناك فئة من طلبة العلم وبعض الشباب تحزبوا واحتكروا السلفية وبدعوا إخوانهم وتعصَّبوا لآرائهم تعصُّباً شديداً. يقول: ما السلفية؟

Fadliilatusy-Syaikh Shaalih, semoga Allah melimpahkan Anda kebaikan. Terdapat sekelompok penuntut ilmu dan sebagian pemuda yang ber-tahazzub dan memonopoli istilah Salafiyyah, yang kemudian membid’ahkan saudara mereka dimana mereka  sangat fanatik terhadap pendapat mereka tersebut. Sebenarnya, apakah Salafiyyah itu ?

 

Jawab :

السلفية: من كان على منهج السلف قال تعالى:

{وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِن الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ}[التوبة: 100]

وقال تعالى:

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ} [الحشر: 10]

فالسلفية هي اتباع السلف من الصحابة والتابعين وأتباع التابعين والقرون المفضلة هذه هي السلفية، وليس لأحد أن يحتكرها، فكل من سار على منهج السلف فهو سلفي، فليست خاصة بفئة أو بشخص وإنما هي لمن اتصف بها على الحقيقة.

ثم إني أدعو إلى أن الشباب وطلبة العلم يترفعون عن هذا التنابز بالألقاب : هذا سلفي هذا جامي هذا إخواني هذا كذا … أنا لا أرى هذه الأمور لأنها أصبحت نفَّرت المسلمين وشباب المسلمين وأوقعت الفتنة. وأحثُّ على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله ومنهج السلف الصالح وأن نكون إخوة متحابين في الله عزوجل.

“Salafiyyah adalah siapa saja yang berada di atas manhaj salaf. Allah ta’ala telah berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik’ (QS. At-Taubah : 100). Dia ta’ala juga berfirman : ‘Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS. Al-Hasyr : 10).

Maka Salafiyyah itu adalah mengikuti salaf dari kalangan shahabat, tabi’iin, atbaa’ut-taabi’iin, dan generasi yang utama. Inilah yang dinamakan Salafiyyah. Tidak ada seorangpun yang berhak memonopolinya. Setiap orang yang berjalan di atas manhaj salaf, maka dia itu Salafiy. Salafiyyah tidaklah dikhususkan pada kelompok tertentu atau individu tertentu, karena Salafiyyah itu hanyalah disifatkan untuk setiap orang benar-benar berada di atas manhaj salaf (secara hakiki).

Kemudian aku mengajak para pemuda dan penuntut ilmu untuk menghilangkan saling panggil : ‘Orang ini Salafiy, orang ini Jaamiy, orang ini Ikhwaaniy,…dst… Aku tidak menganggap perkara-perkara ini (termasuk perkara yang bermanfaat), karena hal tersebut akan membuat kaum muslimin dan para pemuda muslim menjauh/lari (dari dakwah), serta menyebabkan terjadinya fitnah. Aku menganjurkan untuk senantisa berpegang teguh pada Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, dan manhaj As-Salafush-Shaalih, sehingga kita menjadi bersaudara yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla” [selesai]. Read the rest of this entry »

Category: Fatawa, Manhaj | Comments Off on Monopoli Penyebutan ‘Salafiy’