Archive for January, 2013

Dia Bukan Salafiy

January 27th, 2013 by Abu Muawiah

Pertanyaan :
“Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda wahai syaikh,…. Penanya ini berkata : ‘Sungguh akhir-akhir ini telah banyak digunakan kalimat : ‘Fulan bukan salafiyyiin’ atau ‘Ia bukan termasuk salafiyyiin’. Apakah perkataan ini dianggap sebagai tabdii’ dan menjadi keharusan untuk menegakkan hujjah kepadanya ?”.

 

Jawab :
“Demi Allah, aku memperingatkan kalian agar tidak menggunakan ungkapan seperti ini. Yang lebih cocok/sesuai bagi muslim dan juga bagi penuntut ilmu…. bahwa mereka semua berada di atas kebaikan, mereka di atas ‘aqidah salaf. Sebagian mereka mungkin mempunyai beberapa kekurangan dan kebodohan, namun mereka tidaklah dikeluarkan dari lingkup Salafiyyin.
Perkataan ini tidaklah diperbolehkan. Perkataan ini tidak boleh diucapkan antar saudara, antar para penuntut ilmu, antar anak-anak kaum muslimin, dan diucapkan di negeri-negeri muslim… ini tidak diperbolehkan.
Seandainya engkau mengetahui beberapa pokok perselisihan yang terjadi dengan saudaramu, maka seharusnya engkau menasihatinya. Adapun mengatakan : ‘dia bukan dari salafiy’ atau ‘tidak berada di atas salafiyyah’…. mungkin engkau sendiri belum mengetahui apa Salafiyyah itu.
Sebagian dari mereka mengklaim Salafiy, padahal mereka belum mengetahui apa makna Salafiy…. Jika kalian bertanya kepada mereka apa itu salafiyyah dan apa artinya, maka mereka tidak mengetahuinya. Na’am….”.

[selesai – dari penjelasan Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan hafidhahullah dalam http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/9918].

Category: Fatawa, Manhaj | 1 Comment »

Hukum Mengkopi Program atau Buku

January 20th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Mengkopi Program atau Buku

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Fadlilatusy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :
Tanya : Apakah diperbolehkan mengkopi program komputer yang bersamaan dengan itu, perusahaan dan sistem/peraturan tidak memperbolehkannya ? Apakah hal itu bisa diperhitungkan sebagai satu bentuk monopoli ? Mereka menjualnya dengan harga yang mahal, namun jika mereka menjual dalam bentuk kopian, maka mereka bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah ?
Jawab : Apakah program itu adalah program Al-Qur’an ?

Tanya : Program komputer secara umum.
Jawab : Apakah program itu adalah program Al-Qur’an ?

Tanya : Program Al-Qur’an, hadits, dan banyak program lainnya.
Jawab : Apakah yang engkau maksud adalah isi dari program tersebut ?

Tanya : Ya, apa-apa yang termuat dalam CD-nya.
Jawab : Apabila negara melarangnya, maka tidak diperbolehkan mengkopinya, karena Allah telah memerintahkan kita untuk mentaati waliyyul-amri, kecuali dalam hal kemaksiatan kepada Allah. Dan pelarangan pengkopian bukan termasuk perbuatan maksiat kepada Allah.
Adapun dari sisi perusahaan, maka aku berpendapat bahwa jika seseorang mengkopi hanya untuk dirinya sendiri, maka tidak mengapa. Namun jika ia mengkopinya untuk diperdagangkan, maka tidak boleh, karena itu akan merugikan bagi yang lain. Perbuatan itu menyerupai penjualan terhadap penjualan seorang muslim. Karena jika mereka menjualnya dengan harga seratus, kemudian engkau mengkopinya dan menjualnya dengan harga limapuluh, maka ini namanya penjualan terhadap penjualan saudaramu.

Tanya : Dan apakah diperbolehkan saya membelinya kopian dengan harga limapuluh dari pemilik toko ?
Jawab : Tidak diperbolehkan, kecuali jika engkau ketahui bahwa si penjual telah memperoleh idzin. Namun jika ia tidak punya bukti (bahwa ia telah diijinkan), maka ini termasuk anjuran untuk berbuat dosa dan permusuhan.

Tanya : Apabila ia tidak mempunyai ijin – jazaakallaahu khairan ?
Jawab : Seandainya engkau tidak mengetahuinya, kadang-kadang seseorang memang tidak mengetahuinya, dan ia melewati sebuah toko, lalu ia membeli sedangkan ia tidak tahu; maka tidak mengapa dengannya. Orang yang tidak tahu, maka tidak ada dosa baginya”.
[Silsilah Liqaa’ Al-Baab Al-Maftuuh, juz 178]
http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=348387 Read the rest of this entry »

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Mengkopi Program atau Buku

Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

January 13th, 2013 by Abu Muawiah

Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

Soal : Pada beberapa seminar/pertemuan ditampilkan penjelasan tentang (gambaran) luka-luka yang diderita oleh kaum muslimin Palestina dan selain mereka. Di situ ditampilkan gambar tentang beberapa kaum muslimin yang terluka dan yang terbunuh, dan kadangkala mereka menampilkan video. Mereka bertujuan (dengan itu) adalah mendorong kaum muslimin untuk bershadaqah menyumbangkan sebagian hartanya kepada saudaranya (yang teraniaya tersebut). Apakah perbuatan seperti ini diperbolehkan ?

Jawab : Perbuatan ini merupakan perbuatan yang tidak pantas. Tidak boleh menampilkan gambar orang yang terluka. Namun, kaum muslimin hendaknya tetap diajak untuk bershadaqah untuk saudaranya dan disampaikan kepadanya bahwa saudaranya tersebut berada dalam keadaan tertindas. Juga (perlu disampaikan bahwa) mereka dalam keadaan seperti itu akibat ulah kaum Yahudi. Hal tersebut dilakukan oleh mereka tanpa ditampilkannya gambar dan gambar orang-orang yang terluka. Perbuatan itu tidak diperbolehkan karena berkenaan dengan hukum penggunaan gambar (makhluk hidup – yaitu haram). Selain itu juga merupakan perbuatan yang membebani diri (takalluf) pada apa-apa yang tidak diperintahkan Allah ta’ala. Perbuatan tersebut juga dapat mengurangi/menghilangkan kekuatan kaum muslimin; karena jika kalian menampilkan di hadapan manusia gambar orang muslim yang terluka atau terpotong-potong anggota tubuhnya, maka ini termasuk hal yang menakut-nakuti kaum muslimin dan membuat kaum muslimin takut terhadap perbuat yang dilakukan oleh musuhnya (dari kalangan Yahudi dan Nashara). Padahal wajib bagi kaum muslimin untuk tidak menampakkan kelemahan, tidak menampakkan musibah (yang menimpa mereka kepada musuh), dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ini. Justru mereka harus menyembunyikan semuanya itu hingga tidak memperlemah kekuatan kaum muslimin.

Diambil dari Muhadlarah (Ceramah) yang bertema : At-Tauhid : Miftaahus-Sa’aadati fid-Dunyaa wal-Akhirah (Tauhid, Kunci Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat) oleh Asy-Syaikh Shalih bin ’Abdillah Al-Fauzan; dari kitab Al-Ijaabatul-Muhimmah fil-Masyaakilil-Mulimmah. Diterjemahkan dari : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=343294

[source: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hukum-menampilkan-mayat-dan-orang-orang.html]

Category: Fatawa | Comments Off on Hukum Menampilkan Mayat dan Orang-Orang Terluka dari Kaum Muslimin Palestina

Tartib Al-Qur’an

January 6th, 2013 by Abu Muawiah

Tartib Al-Qur’an

Yang dimaksud dengan tartib dalam Al-Qur’an adalah membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan dan berurtan sesuai dengan yang tertulis dalam Mushhaf-Mushhaf dan yang dihafal oleh para shahabat radliyallaahu ‘anhum ajma’in.

Tartib dalam Al-Qur’an ada 3 macam, yaitu :
1.        Tartib Kalimat (kata), yaitu setiap kata dalam suatu ayat harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma’, dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang memperselisihkannya tentang masalah ini. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat dalam surat Al-Fatihah :  للّهِ الْحَمْدُ رَبّ الْعَالَمِينَsebagai pengganti  الْحَمْدُ للّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ .

2.        Tartib Ayat, yaitu setiap ayat dari suatu surat harus diletakkan pada tempat  yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma’, dan yang demikian ini adalah wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan menyelisihinya hukumnya adalah haram. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat :  مَـَلِكِ يَوْمِ الدّينِ – الرّحْمـَنِ الرّحِيم sebagai pengganti  الرّحْمـَنِ الرّحِيمِ – مَـَلِكِ يَوْمِ الدّينِ .
Dan dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Az-Zubair radliyallaahu ‘anhu berkata kepada ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu tentang firman Allah ta’ala :
 وَالّذِينَ يُتَوَفّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً وَصِيّةً لأزْوَاجِهِمْ مّتَاعاً إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ
”Dan orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya” (QS. Al-Baqarah : 240) bahwa ayat ini dinasakh (dihapus) oleh ayat lainnya yaitu firman Allah ta’ala :
 وَالّذِينَ يُتَوَفّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبّصْنَ بِأَنْفُسِهِنّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً
”Orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari” (QS. Al-Baqarah : 234).
Dan ayat ini dibaca sebelum ayat yang tadi. Dia (Abdullah bin Zubair) berkata,”Kenapa engkau menulisnya?” ( = yaitu menulis apa yang telah dihapus).
Maka ‘Utsman radliyallaahu ‘anhu menjawab : “Wahai anak saudaraku, aku tidak mau merubah Al-Qur’an sedikitpun dari tempatnya”. Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Tirmidzi dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu bahwa diturunkan sejumlah (ayat-ayat ), maka apabila turun kepada beliau suatu ayat, beliau memanggil sebagian orangyang mempu menulis, kemudian beliau berkata,”Letakkanlah ayat-ayat ini pada satu surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini”. Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Tartib Al-Qur’an