Archive for April, 2012

Hukum Menyembuhkan Rematik Dengan Gelang

April 30th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Menyembuhkan Rematik Dengan Gelang

Soal:
Apa hukum memakai gelang untuk mengobati penyakit rematik?

Jawab:
Perlu diketahui bahwa obat merupakan sebab datangnya kesembuhan, sementara yang membuat sebab itu berpengaruh adalah Allah Ta’ala.Karenanya, tidak ada satu pun yang dinamakan ‘sebab’ kecuali apa yang Allah Ta’ala telah tetapkan dia sebagai sebab. Kemudian, sebab-sebab yang Allah Ta’ala jadikan dia sebagai sebab ada dua bentuk:
Bentuk pertama: Sebab-sebab syar’iyah seperti Al-Qur`an Al-Karim dan doa. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam mengenai surah Al-Fatihah, “Darimana kamu tahu kalau dia adalah ruqyah.” Dan sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa meruqyah orang-orang yang sakit dengan mendoakan mereka, maka Allah Ta’ala menyembuhkan mereka dari penyakit berkat doa beliau.
Bentuk kedua: Sebab-sebab lahiriah seperti obat-obatan yang sudah diketahui melalui jalur syariat seperti madu atau yang diketahui melalui penelitian seperti kebanyakan obat-obatan yang ada. Sebab seperti ini pengaruhnya harus secara langsung dan terbukti, bukan sekedar dugaan dan khayalan. Jika pengaruh obatnya sudah terbukti secara langsung dan hasilnya bisa diindera maka dia boleh dijadikan sebagai obat yang dengannya kesembuhan akan terwujud engan izin Allah Ta’ala. Adapun jika sebab itu hanya sekedar dugaan dan khayalan semata yang disangkakan oleh orang yang sakit sebagai obat, lalu dia mendapatkan ketenangan psikologis dan rasa sakitnya terasa berkurang dikarenakan sangkaan dan khayalan ini, dan bahkan kegembiraan psikologis orang yang sakit ini tumbuh sehingga penyakitnya bisa sembuh. Maka yang seperti ini tidak boleh dijadikan sebagai sandaran dan tidak boleh menetapkannya sebagai obat, agar manusia tidak terbawa oleh sangkaan dan khayalan. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang untuk mengenakan gelang atau mengikatkan benang dan semacamnya untuk menyembuhkan penyakit atau mencegah datangnya, karena hal tersebut bukan sebab secara syar’i dan secara hissi (terbukti). Dan apa saja yang belum dipastikan sebagai sebab syar’i dan juga bukan sebab hissi, maka tidak boleh menjadikan hal itu sebagai sebab. Karena menjadikan hal itu sebab merupakan bentuk menandingi Allah Ta’ala dalam kekuasaan-Nya dan bentuk kesyirikan dengan-Nya, tatkala dia telah menyamakan dirinya dengan Allah Ta’ala dalam menetapkan sesuatu itu sebagai sebab yang bisa melahirkan akibat. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah telah membuat judul bab untuk masalah ini dalam Kitab At-Tauhid dengan ucapanya, “Bab: Termasuk kesyirikan, mengenakan gelang, benang dan yang semacamnya untuk mencegah turunnya musibah atau menghillangkannya.”

Ibnu Utsaimin

[Jami’ Al-Fatawa Ath-Thibbiah hal. 32-33]

Category: Fatawa | 3 Comments »

Seputar Al-Qur`an

April 28th, 2012 by Abu Muawiah

Seputar Al-Qur`an

A.    Definisi Al-Qur`an.
Secara etimologi bermakna bacaan.
Secara terminology bermakna firman Allah Ta’ala berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas.
Hal ini terdapat dalam beberapa ayat dalam Al-Qur`an, di antaranya dalam surah Al-Insan ayat 23 dan surah Yusuf ayat 2.
Allah Ta’ala telah memberikan penjagaan terhadapnya dari segala sesuatu yang bisa merusaknya, dan juga menyifatinya dengan sifat-sifat yang agung lagi mulia. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur`an, di antaranya dalam surah Al-Hijr ayat 9, surah Qaf ayat 2, dan surah Al-Waqiah ayat 77.

B.    Awal Turunnya Al-Qur`an.
Awal turunnya pada lailatul qadr di bulan Ramadhan, dan ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah berumur 40 tahun. Hal ini disebutkan di antaranya dalam surah Al-Qadr ayat 1 dan di awal-awal surah Ad-Dukhan.

C.    Ayat Yang Pertama Turun.
Ayat yang pertama turun adalah 5 ayat pertama dari surah Al-Alaq. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu anha)
Setelah itu terjadi masa vakum dimana wahyu tidak turun selama beberapa lama. Namun setelah itu, wahyu kembali turun dan dimulai dengan 5 ayat pertama dari surah Al-Muddatstsir. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiallahu anhuma) Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Seputar Al-Qur`an

Syiah dan Al-Qur`an

April 26th, 2012 by Abu Muawiah

Syiah dan Al-Qur`an

Di antara kesesatan mereka adalah apa yang mereka sebutkan dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab mereka lainnya, yaitu bahwa Utsman radhiallahu anhu mengurangi sesuatu dari Al-Qur`an. Karena pada surah “Bukankah Kami telah melapangkan …” (QS. Asy-Syarh: 1) pada bagian setelah firman Allah Ta’ala, “Dan Kami telah meninggikan penyebutanmu,” (QS. Asy-Syarh: 4), dulunya setelah itu ada ayat, “Dan Kami jadikan Ali sebagai menantumu.” Tapi Utsman lalu menghapuskan kalimat tersebut karena dia hasad Ali juga menjadi menantu Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Mereka berkata: Panjang surah Al-Ahzab sebenarnya sama seperti panjang surah Al-An’am. Akan tetapi Utsman menghilangkan darinya ayat-ayat yang berkenaan dengan keutamaan kerabat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Disebutkan bahwa orang-orang Syiah di zaman ini memunculkan dua surah baru yang mereka klaim keduanya dahulu merupakan bagian dari Al-Qur`an yang disembunyikan oleh Ustman, masing-masing dari kedua surah ini panjangnya seperti satu juz. Mereka mengikutkan kedua surah baru ini di bagian akhir mushaf. Mereka menamakan salah satu surah dengan nama An-Nurain dan yang lainnya adalah surah Al-Wala`[1]. Read the rest of this entry »

Category: Mengenal Syi'ah Rafidhah, Syubhat & Jawabannya | 1 Comment »

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Para Sahabat

April 24th, 2012 by Abu Muawiah

Syiah Rafidhah Mengkafirkan Para Sahabat

Al-Kissy[1] -dan dia di kalangan syiah adalah orang yang paling berilmu dan paling terpercaya dalam masalah perawi hadits dan selainnyap- meriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq[2] radhiallahu anhu bahwa beliau berkata -padahal tidak mungkin beliau mengatakan hal ini-:

لَمّا ماتَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم, اِرْتَدَّ الصَّحابَةُ كُلُّهُمْ إلاَّ أَرْبَعَةَ: اَلْمِقْدادُ, وَحُذَيْفَةَ, وَسَلْمانُ, وَأبُوْ ذَرٍّ رضي الله عنهم. فَقِيْلَ لَهُ: كَيْفَ حالُ عَمّارِ بْنِ ياسِرٍ؟ قالَ: حاصَ حَيْصَةً ثُمَّ رَجَعَ

“Tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, semua sahabat murtad kecuali empat orang: Al-Miqdad, Hudzaifah, Salmad, dan Abu Dzar radhiallahu anhum. Maka ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana dengan keadaan Ammar bin Yasir?” Beliau menjawab, “Awalnya dia berada dalam kebingungan, kemudian dia rujuk.”

Keumuman ucapan di atas mengharuskan murtadnya Ali dan seluruh ahlul bait, tapi mereka tidak berpendapat dengannya. Ucapan dia atas adalah ucapan yang menghancurkan dasar-dasar agama. Hal itu karena dasar agama ini adalah Al-Qur`an dan hadits. Sehingga jika dianggap semua sahabat yang meriwayatkan (Al-Qur`an dan hadits) dari Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kafir, kecuali sekelompok kecil yang khabar mereka tidak mencapai jenjang mutawatir, maka itu bisa membuat kita meragukan kebenaran Al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan kita berlindung kepada Allah dari meyakini keyakinan yang menghancurkan agama seperti ini. Read the rest of this entry »

Category: Mengenal Syi'ah Rafidhah, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Syiah Rafidhah Mengkafirkan Para Sahabat

Ezine Islami Edisi 8 Telah Terbit

April 22nd, 2012 by Abu Muawiah

Ezine Islami Edisi 8 Telah Terbit

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Nabiyiinaa Muhammad, wa ‘ala alihi washahbihi, waman tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du:

Alhamdulillah di akhir bulan april ini, Ezine Islami Penuntut Ilmu kembali terbit dengan menyuguhkan berbagai pembahasan yang ilmiah seputar ilmu-ilmu Islam. Dimana pada bulan ini, kita sudah sampai pada edisi ke-8, yassarallahu itmamahu.

Kemudian, pembahasan kita pada edisi kali ini masih melanjutkan syarh durus yang telah berlalu:
Pada rubrik ‘Nawaqidh Al-Islam’, kita sudah mulai masuk pembahasan Pembatal Islam yang pertama yaitu Kesyirikan Dalam Beribadah. Hanya saja karena syarhnya yang cukup panjang, maka syarhnya kami bagi menjadi dua bagian, yang bagian keduanya akan kita sambung pada edisi berikutnya, insya Allah.

Dalam rubrik ‘Nahwu Dasar’, kita juga sudah masuk ke bab yang baru dalam pembahasa i’rab yaitu: Mengenal Tanda-Tanda Rafa’. Dan pada edisi ini kita baru berbicara mengenai: Dhammah sebagai tanda rafa’.

Pada pembahasan ‘Manzhumah Al-Baiquniah’, kali ini kita akan mengenal dua jenis hadits lain yaitu: Hadits Mu’an’an dan hadits mubham, beserta hukum-hukumnya.

Melanjutkan syarh ‘Bulugh Al-Maram’, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah selanjutnya menyebutkan hadits Abu Qatadah radhiallahu anhu, yang dengannya beliau mengisyaratkan hukum air bekas minum kucing, yang mana masalah ini bersumber dari masalah hukum liur dan tubuh kucing, apakah najis atau bukan.

Pada syarh ‘Risalah Lathifah fi Ushul Al-Fiqhi’, As-Si’di rahimahullah menguraikan masalah dilalah (penunjukan/inferensi) lafazh-lafazh dalam Al-Kitab dan As-Sunnah seperti: An-nash, azh-zhahir, al-manthuq, dan al-mafhum.

Syarh ‘Al-Manzhumah Al-Baiquniah’ edisi ini sudah sampai pada bait syair ke-18, yang mengisyaratkan salah satu kaidah terbesar dalam agama Islam, yaitu Keyakinan Tidak Bisa Digugurkan Oleh Keraguan.

Dan edisi kali ini ditutup dengan pembahasan Eksistensi dan Kekekalan Surga dan Neraka, masih dari syarh ‘Ashlu As-Sunnah’.

Demikian gambaran global dari materi-materi yang insya Allah akan anda dapatkan pada edisi kali ini. Bagi yang minat untuk  berlangganan, silakan baca cara berlangganannya di sini: http://penuntutilmu.com/cara-berlangganan/

Washallallahu wasallama ala Nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi.

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

April 21st, 2012 by Abu Muawiah

Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

 

Ketika kami menerjemah Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 45-52 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -pada pembahasan pengingkaran Syiah terhadap keabsahan khilafah Abu Bakar-, muhaqqiqnya menyebutkan ada beberapa hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh rahimahullah di dalamnya. Karenanya jumlahnya ada beberapa hadits, maka kami pisahkan terjemahannya lalu mengumpulkannya dalam artikel tersendiri di sini.

Kemudian, inti kandungan dari semua hadits dha’if yang akan kami sebutkan di bawah adalah penetapan kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu. Namun kami membawakannya di sini tentu saja bukan untuk tujuan mengingkari kekhalifahan beliau, sebagaimana yang diyakini oleh Syiah. Akan tetapi kami membawakannya di sini agar jangan sampai ada yang menisbatkan hadits-hadits ini kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam padahal beliau tidak pernah mengucapkannya. Karena itu merupakan perbuatan berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dan berdusta atas nama beliau shallallahu alaihi wasallam adalah dosa besar, baik isi kedustaannya itu benar maupun salah.

Maka kembali kami tekankan kalau kandungan semua hadits di atas adalah benar karena didukung oleh hadits shahih yang lain, bahkan ijma’ para sahabat. Akan tetapi berhubung sanadnya lemah, maka kita tidak boleh menisbatkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi kita mencukupkan dengan dalil-dalil lain yang shahih. Wallahu a’lam

 

Berikut beberapa hadits dha’if dalam masalah ini:

Hadits Pertama:

Dari Ali radhiallahu anhu dia berkata:

دَخَلْنا عَلَى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِسْتَخْلِفْ عَلَيْنا. قالَ: إنْ يَعْلَمِ اللهُ فِيْكُمْ خَيْرًا يُوَلِّ عَلَيْكُمْ خَيْرَكُمْ. فَقالَ عَلِي رضي الله عنه: فَعَلِمَ اللهُ فِيْنا خَيْرًا فَوَلىَّ عَلَيْنا خَيْرَنا أَبا بَكْرٍ رضي الله عنه

“Kami pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, tentukanlah seorang khalifah untuk kami.” Beliau bersabda, “Jika Allah mengetahui pada kalian ada kebaikan, maka Dia akan memilihkan pemimpin untuk kalian orang yang terbaik di antara kalian.” Maka Ali radhiallahu anhu berkata, “Maka Allah mengetahui kalau pada kami ada kebaikan, sehingga Dia memilihkan pemimpin untuk kami orang yang terbaik di antara kami, yaitu Abu Bakar radhiallahu anhu.” (HR. Ad-Daraquthni[1]) Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah | Comments Off on Hadits-Hadits Dha’if Dalam Kekhalifahan Abu Bakar

Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar

April 20th, 2012 by Abu Muawiah

Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar

Di antara kesesatan Syiah adalah mereka mengingkari keabsahan khilafah Ash-Shiddiq radhiallahu anhu[1], dan pengingkaran ini melazimkan mereka menghukumi fasik semua orang yang membaiat beliau dan yang meyakini keabsahan khilafah beliau. Padahal beliau telah dibaiat oleh para sahabat radhiallahu anhum, termasuk di dalamnya para sahabat ahlul bait seperti Ali radhiallahu anhu, dan mayoritas umat ini meyakini keabsahan khilafah beliau[2]. Keyakinan bahwa para sahabat ini adalah orang-orang yang fasik bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat terbaik yang pernah terlahir untuk umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Hal itu karena kebaikan macam apa yang ada pada suatu umat yang para sahabat nabi mereka menyelisihi nabi mereka sendiri, yang menzhalimi ahli baitnya dengan kebencian hanya karena masalah kedudukan, mengganggu mereka, dan mayoritas mereka meyakini kebatilan sebagai suatu kebenaran? Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah suatu kedustaan yang besar. Sementara siapa saja yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan kitab Allah maka sungguh dia telah kafir.

Hadits-hadits serta ijma’ para sahabat dan mayoritas umat ini yang menunjukkan keabsahan khilafah Ash-Shiddiq sangat banyak sekali. Dan siapa saja yang menghukumi mayoritas sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah fasik dan zhalim dan menyatakan bahwa kesepakatan mereka adalah kesepakatan di atas kebatilan, maka sungguh dia telah menghina Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara menghina beliau adalah kekafiran. Betapa sia-sianya[3] amalan kaum yang meyakini mayoritas[4] Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai orang-orang yang fasik, pelaku maksiat, dan melampaui batas. Padahal akal yang sehat telah menetapkan bahwa Allah Ta’ala tidaklah memilihkan sahabat untuk manusia pilihannya dan tidaklah memilih kaum yang menolong agama-Nya kecuali juga merupakan makhluk pilihan-Nya[5]. Dan penukilan yang mutawatir juga menunjukkan hal tersebut. Seandainya terdapat kebaikan pada mereka (Syiah), niscaya mereka tidak akan berkomentar tentang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan penolong agama-Nya kecuali dengan komentar yang baik. Akan tetapi Allah telah menetapkan mereka sebagai kaum yang celaka, sehingga Diapun menghinakan mereka dengan mereka mencela para penolong agama ini. Setiap orang dimudahkan untuk menjalani apa yang dia diciptakan untuknya. Read the rest of this entry »

Category: Mengenal Syi'ah Rafidhah | 1 Comment »

Mengenal Syiah Rafidhah dan Pencetusnya

April 18th, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal Syiah Rafidhah dan Pencetusnya

Orang yang pertama kali mencetuskan agama Rafidhah adalah Abdullah bin Saba`, salah seorang Yahudi dari Yaman. Dia pura-pura masuk Islam, kemudian dia mendatangi Madinah Nabawiah pada zaman khalifah ar-rasyid Utsman bin Affan radhiallahu anhu.

Mereka dinamakan Rafidhah dikarenakan mereka رَفَضُوْا (menjauhi/menolak) Zaid bin Ali ketika mereka meminta Zaid untuk berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, akan tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka berkata, “Kalau begitu kami akan menjauhi kamu.” Maka Zaid berkata, “Pergilah, karena kalian adalah orang-orang yang dijauhkan.” Dan ada yang berpendapat bahwa mereka dikatakan Rafidhah karena mereka menolak Abu Bakr dan Umar. (Lihat Siyar A’lam An-Nubala`: 5/390 dan Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiah: 4/435)

Syaikh Al-Islam juga berkata masih pada tempat yang sama, “Asal mazhab Rafidhah adalah dari kaum munafiq dan zindiq, karena mazhab ini dimunculkan oleh Abdullah bin Saba` sang zindiq. Dia menampakkan pengkultusan yang berlebihan terhadap Ali dengan klaim bahwa Ali adalah imam dan menyatakan ada nash dari Nabi akan hal itu.”

Ibnu Abi Al-Izz rahimahullah berkata dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiah hal. 490, “Asal mazhab Rafidhah tidaklah dimunculkan kecuali oleh seorang munafiq lagi zindiq yang bertujuan untuk menghapuskan agama Islam dan mencela Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang para ulama sebutkan. Hal itu karena tatkala Abdullah bin Saba` sang Yahudi pura-pura masuk Islam, dia berniat dengannya untuk merusak agama Islam dengan makar dan kebusukannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Bulis terhadap agama Nashrani. Maka Abdullah bin Saba` pura-pura rajin beribadah, kemudian dia mengobarkan secara berlebihan semangat amar ma’ruf dan nahi mungkar, sampai akhirnya dia berusaha untuk memfitnah dan membunuh Utsman. Kemudian, tatkala dia mendatangi Kufah, dia menampakkan pengkultusan dan pembelaan yang berlebihan terhadap Ali, agar dia bisa berhasil meraih tujuannya. Hal itu kemudian sampai ke telinga Ali, maka beliau mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi dia melarikan diri ke daerah Qirqis. Dan kisah Abdullah bin Saba` ini masyhur dalam buku-buku sejarah.” Read the rest of this entry »

Category: Mengenal Syi'ah Rafidhah, Siapakah Dia? | 12 Comments »

Aqidah Syi’ah Dalam Wasiat Kekhalifahan

April 16th, 2012 by Abu Muawiah

Aqidah Syi’ah Dalam Wasiat Kekhalifahan

 Salah seorang mufid (baca: pengajar) Syi’ah yang bernama Ibnu Al-Mu’allim[1] berkata dalam kitabnya Raudhah Al-Wa’izhin[2]:

“Sesungguhnya Allah pernah menyuruh Jibril untuk turun menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah beliau meninggalkan Madinah, di tengah perjalanan menuju haji wada’. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah mengirimkan salam kepadamu dan Dia berfirman kepadamu, “Jadikanlah Ali sebagai imam dan ingatkan umatmu akan kekhalifahannya.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wahai Jibril saudaraku, sesungguhnya Allah telah membuat para sahabatku membenci Ali. Karenanya saya khawatir mereka akan berkumpul untuk memudharatkan saya (jika saya melakukannya, pent.). Maka mintakanlah maaf untukku kepada Rabbku.” Jibril kemudian naik lalu menyampaikan jawabannya itu kepada Allah Ta’ala. Maka Allah Ta’ala mengutus kembali Jibril, tapi Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap mengatakan jawaban yang sama, dan beliau meminta dimaafkan sebagaimana sebelumnya. Kemudian Jibril naik dan mengulangi jawaban Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Allah. Maka Allah memerintahkan Jibril untuk turun dengan membawa teguran dan sikap keras dari Allah kepada Nabi-Nya dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah: 67)

Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengumpulkan para sahabatnya lalu bersabda, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya Ali adalah amirul mu`minin dan khalifah Rabbil alamin. Tidak ada seorang pun yang berhak menjadi khalifah sepeninggalku selain dia. Dan siapa saja yang saya adalah penolongnya maka Ali adalah penolongnya. Ya Allah, tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.” Selesai ucapannya Read the rest of this entry »

Category: Mengenal Syi'ah Rafidhah, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Aqidah Syi’ah Dalam Wasiat Kekhalifahan

Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah

April 14th, 2012 by Abu Muawiah

Hukum Amalan yang Diniatkan Untuk Allah dan Selain Allah

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
Sebagian ulama menyatakan: Jenis amalan seperti ini ada tiga bentuk:
Pertama: Niat pertamanya dalam beramal adalah ikhlas, kemudian di tengah perjalanan ibadah dimasuki oleh riya` dan keinginan kepada selain Allah. Maka yang menjadi patokan di sini adalah niatnya yang pertama selama niatnya itu tidak dibatalkan dengan niat yang tegas untuk selain Allah. Jika dia membatalkannya maka hukumnya sama seperti memutuskan dan membatalkan niat di pertengahan ibadah.

Kedua: Sebaliknya, yaitu niat awalnya adalah untuk selain Allah, kemudian di tengah ibadahnya dia merubah niatnya untuk Allah. Maka yang seperti ini, amalannya yang sebelumnya tidak mendapat pahala dan yang mendapat pahala hanyalah amalan sejak dia merubah niatnya. Kemudian:
Jika ibadah yang dia sedang kerjakan tergolong jenis ibadah yang akhirnya tidak syah kecuali jika awalnya juga syah, seperti shalat, maka dia wajib mengulangi ibadahnya.
Tapi jika tidak maka dia tidak wajib mengulang ibadahnya. Seperti orang yang melakukan ihram haji dengan niat untuk selain Allah, kemudian ketika wuquf dan thawaf, dia merubah niatnya untuk Allah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • beribadah karna menginginkan sesuatu dari allah

Category: Aqidah, Fiqh | 3 Comments »