Archive for March, 2012

Mengenal Al-Qur`an Al-Karim

March 31st, 2012 by Abu Muawiah

Mengenal Al-Qur`an Al-Karim 

Definisi al-Qur`an

كِتاَبُ اللهِ المُنَزَّلُ عَلىَ رَسُوْلِهِ مُحَمَّدٌ المَكْتُوْبُ فِيْ المَصاَحِفِ المَنْقُوْلُ إِلَيْناَ عَنْ النَّبِيِّ نَقْلاً مُتَواَتِراً بِلاَ شُبْهَةٍ

Yaitu Kitabullah yang diturunkan oleh Allah tabaraka wata’ala kepada Rasulullah r yang tertulis di dalam al-mushhaf, yang dikutip kepada kita dari Nabi r dengan kutipan secara mutawatir.1

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Wahai Rasul, sampaikanlah segala yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Jikalau engkau tidak melakukannya, maka tidaklah engkau menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah senantiasa menjagamu dari seluruh kaum manusia. Sesungguhnya Allah tidak akan member hidayah kepada kaum yang kafir.” (al-Maidah: 67)

Firman-Nya:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Kalian ikutilah segala yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya, -namun- amat sedikit di antara kalian yang mengambil pelajaran.” (al-A’raaf: 3)

Dan firman Allah ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab dengan kebenaran, sebagai pembenar atas segala kitab suci yang telah berada sebelumnya dan sebagai ujian atas kitab-kitab yang lain tersebut. Maka putuskanlah hukum di antara mereka dengan segala yang Allah turunkan. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Dan Kami telah merikan bagi masing-masing umat aturan dan jalan yang terang.” (al-Maaidah: 48)

Dan firman Allah ta’ala:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Dan berilah hukum di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah engkau jangan sampai mereka memalingkan engkau dari sebagian yang Allah telah turunkan kepadamu. Dan apabila mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah telah menghendaki untuk menurunkan musibah bagi mereka sebagai sebab atas sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya sebagian besar kaum manusia adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maaidah: 49) Read the rest of this entry »

Category: Ilmu al-Qur`an | Comments Off on Mengenal Al-Qur`an Al-Karim

TWITTER AL-ATSARIYYAH

March 29th, 2012 by Abu Muawiah

TWITTER AL-ATSARIYYAH

Atas saran dari sebagian pembaca dan beberapa teman-teman di jabodetabek sejak dahulu akan perlunya adanya info-info kegiatan di daerah Bekasi dan sekitarnya secara khusus dan juga info-info dakwah ahlussunnah di berbagai tempat secara umum. Saran ini akhirnya bisa kami wujudkan mengingat di 3 blog kami yang sudah ada memang belum ada tempat khusus untuk info-info atau artikel-artikel pendek.

Karenanya alhamdulillah kemarin al-atsariyyah.com sudah membuat akun TWITTER untuk menuliskan info-info ringan seperti di atas. selain info-info dakwah, melalui TWITTER kami, anda juga bisa memantau setiap info arttikel dan downloadan terbaru di ketiga blog kami. Dan tentu saja tidak lupa kami juga akan menyertakan faidah-faidah ringkas seputar ilmu agama Islam. Yassarallahu

Langsung saja, tafadhdhalu berkunjung ke: abumuawiah.

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Telah Terbit Ezine Islami Edisi 7

March 25th, 2012 by Abu Muawiah

Telah Terbit Ezine Islami Edisi 7

Alhamdulillahi Rabbil alamin, setelah hampir dua bulan, akhirnya terbit juga edisi ke-7 dari Ezine Islami Penuntut Ilmu. Sebelumnya kami dari redaksi memohon maaf sebesar-besarnya, karena faktor kesehatan yang memakan waktu yang lama di bulan Februari dan Maret kemarin, kami tidak bisa menerbitkan edisi ke-7 ini pada bulan Februari, dan baru bisa menerbitkannya di akhir bulan Maret ini. Qaddarallahu wa maa syaa`a fa’al.
Berikut gambaran umum materi Ezine Islami Edisi 7 kali ini:

1.    Nawaqidh Al-Islam.
Ini adalah silsilah pertama terhadap syarh risalah Nawaqidh Al-Islam (Pembatal Keislaman) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah, setelah sebelumnya kita telah menamatkan syarh risalah Al-Qawa’id Al-Arba’ yang juga merupakan karya beliau.
Materi pembuka syarh ini adalah penjelasan mengenai definisi pembatal Islam serta penjelasan secara lengkap mengenai definisi agama Islam.

2.    Nahwu Dasar.
Masih melanjutkan pembahasan pada edisi 6 yang telah lalu tentang al-i’rab, pembahasan kali ini adalah kebalikan darinya yaitu al-bina`. Pembahasan mencakup pembagian bina`, bina` pada huruf dan fi’il, serta isim-isim yang mabni.

3.    Al-Manzhumah Al-Baiquniah.
Sudah sampai pada bait ke-12, dimana pada  bait tersebut Al-Baiquni rahimahullah mengisyaratkan akan definisi hadits aziz dan masyhur, yang keduanya termasuk dari pembagian hadits ahad.

4.    Bulugh Al-Maram.
Masih dalam Kitab Thaharah, Bab Air, pada hadits yang ke-8, yaitu tentang hukum su`ru (air bekas minum) anjing. Dan dari masalah su`ru ini berkembang menjadi pembahasan najis tidaknya liur dan tubuh anjing, serta pembahasan mengenai cara pembersihan bejana yang terkena liur anjing, dan masalah-masalah fiqhi yang ada seputar itu.

5.    Risalah Lathifah.
Pembahasan ushul fiqhi kita masih dalam dalil-dalil syari’. Setelah pada edisi sebelumnya kita sudah membahas mengenai Al-Kitab atau Al-Qur`an, maka pada edisi ke-7 ini kita membahas mengenai as-sunnah beserta pembagiannya. Baik pembagiannya dari sudut tinjauan bentuknya, maupun pembagiannya dari sudut tinjauan hubungannya dengan Al-Qur`an.

6.    Al-Manzhumah Al-Qawa’id Al-Fiqhiah.
Bada bait syair ke-16 dan 17 ini, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah mengisyaratkan 3 kaidah penting dalam masalah keringanan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba dalam menjalankan perintah atau menjauhi larangan. Ketiga kaidah tersebut adalah:
a.    Tidak ada kewajiban jika seseorang tidak mampu mengerjakannya.
b.    Tidak ada yang diharamkan jika dalam keadaan darurat.
c.    Hal yang haram hanya boleh dikerjakan sesuai dengan keadaan darurat tersebut.
Dan tidak lupa dua masalah penting yang banyak dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin dalam menerapkan kaidah ini sehingga mereka terjatuh ke dalam kesesatan, yaitu: Batasan sejauh mana sesuatu dikatakan darurat dan syarat-syarat seseorang diboleh mengamalkan yang haram dalam keadaan darurat.

7.    Ashlu As-Sunnah.
Ibnu Abi Hatim rahimahullah kali ini menyebutkan sebuah aqidah yang menjadi pemisah antara ahlussunnah dengan selain mereka, bahkan pemisah antara muslim dengan kafir, yaitu: Allah Ta’ala akan dilihat pada hari kiamat. Dan telah shahih dari Imam Ahmad rahimahullah dan selainnya bahwa beliau mengkafirkan jahmiah yang mengingkari bahwa Allah Ta’ala akan dilihat pada hari kiamat.

Penasaran ingin membaca semua pembahasan di atas? Silakan baca preview materinya di: penuntutilmu.com. Atau lihat cara berlangganannya di: Cara berlangganan.

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

March 23rd, 2012 by Abu Muawiah

Sudah Lama “Ngaji” Tapi Akhlak Semakin Rusak?

“Akh, ana lebih senang bergaul dengan ikhwan yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang ikhwan]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [Pengakuan seorang akhwat]

“Ana suka bergaul dengan akh Fulan, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan ana lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, ana langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang ikhwan]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji”(1) . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kami pribadi dan yang lainnya.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah radhiallahu ‘anha mengambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah radhiallahu ‘anha berkata,
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini, “Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya. [Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ
”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) Read the rest of this entry »

Category: Akhlak dan Adab, Manhaj | 10 Comments »

Menunaikan Amanat Ilmiyah dan Jujur Dalam Tulisan

March 21st, 2012 by Abu Muawiah

Menunaikan Amanat Ilmiyah dan Jujur Dalam Tulisan

Tidak menunaikan amanat ilmiyah, mungkin kami pribadi atau kita sekalian pernah melakukan sebelumnya. Dan semoga Allah Ta’ala mengampuni dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Tetapi yang pertama kali kami sampaikan bahwa, kita harus ber-husnudzon bahwa bisa jadi kesalahan yang dibuat ini dikarenakan tidak tahu bagaimana amanat ilmiyah dalam menulis sebuah tulisan.

Berkembangnya tulis-menulis tidak lepas dari pengaruh kemajuan pengetahuan dan teknologi. Perkembangan percetakan, internet, jejaring sosial dan berbagai media menyebabkan manusia sangat memanfaatkannya baik untuk kepentingan dunia atau kepentingan dakwah sebagai tabungan di akherat. Sesuatu hal yang patut kita syukuri karena dahulu di zaman para ulama, buku sangat berharga sekali, jika ingin memperbanyak, maka harus disalin dengan tulisan tangan, dengan teliti beserta konsekuensi kesalahan yang kecil dan beberapa coretan untuk memperbaiki. Sampai-sampai dahulu dikenal ungkapan, jika meminjamkan buku adalah suatu hal yang sangat merugikan.

Bersamaan dengan nikmat Allah ini, maka terkadang kita terjerumus dalam penulisan yang kurang memperhatikan amanat ilmiyah. Yang setelah dipikir dan direnungi sebabnya adalah perasaan ingin dianggap tinggi ilmunya dan mengharap pujian dari manusia.

Berikut penjabarannya,

>>menulis berbagai referensi, tetapi tidak mengambil bahan tulisan dari referensi tersebut

Sebaiknya mencantumkan referensi atau maraji’ sesuai dengan buku atau kitab yang dibaca kemudian diambil dan dinukil ilmu dari sumber tersebut. Terkadang kita menulis berbagai macam referensi kitab-kitab dengan tujuan agar pembaca tahu bahwa kita telah banyak menelaah kitab, telah banyak membaca dan melakukan penelitian yang sangat dalam. Padahal kita sekedar melihat-lihat sekilas atau yang parah kita tidak membacanya sama sekali.

Sekedar contoh yang kurang tepat, ketika membuat judul tulisan “keutamaan tauhid”, kemudian mencantumkan sumber yang sangat banyak, dan tidak semua sumber ini dibaca.

Maraji’:

Kitabut Tauhid, syaikh muhammad bin Abdul Wahhab
Qoulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Al-Utsaimin
At-Tamhid lisyarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Bin Abdul Aziz Alu Syaikh
Qoulus Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy
Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh
Mulakhkhos Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih Sholih bin Fauzan bin ‘ Abdillah Al Fauzan
I’anatul Mustafid bi Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan bin ‘ Abdillah Al Fauzan Read the rest of this entry »

Category: Artikel Umum | 3 Comments »

Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya, Keshalihannya Belum Tentu Nyata

March 19th, 2012 by Abu Muawiah

Jangan Cari Jodoh Di Dunia Maya
Keshalihannya Belum Tentu Nyata

Sebelumnya kami hanya membaca nasihat seperti ini di dunia maya. Akan tetapi setelah mendengar dan melihat langsung, dan kasusnya tidak hanya satu. kami melihat bukti langsung bagaimana seorang laki-laki dan wanita, yang sudah mengenal agama dengan manhaj yang benar berdasarkan pemahaman sahabat, mereka berdua malah terjerumus dalam hal ini.Padahal kita sudah diajarkan bagaimana cara yang benar mencari jodoh yaitu dengan ta’aruf yang syar’i. Oleh karena itu maka kami coba menangkat tema ini.

Umumnya dilakukan oleh yang kurang imannya

Mungkin awalnya tidak bermaksud mencari jodoh, akan tetapi lemahnya iman yang membuatnya bermudah-mudah berhubungan dengan hubungan yang tidak halal, padahal mereka sudah mengetahui ilmunya. Inilah fenomena yang sering terjadi belakangan ini, wanita dibalik hijabnya yang tertutup rapat tetapi hijab kehormatannya tidak tertutup dibalik e-mail,inbox FB, dan SMS. Begitu juga dengan laki-laki dengan penisbatan mereka kepada, “as-salafi”, “al-atsari” dengan hiasan-hiasan status dan link berbau syar’i, akan tetapi sikap dan wara’-nya tidak menunjukkan demikian.

Hubungan laki-laki dengan wanita yang berujung cinta adalah kebahagian hati terbesar bagi manusia terutama pemuda, lebih-lebih bagi mereka yang belum pernah mecicipi sama sekali. Maka ketika bisa merasakan pertama kali sebagaimana berbuka puasa, sangat nikmat dan bahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)

Mereka yang sudah paham tentu tidak leluasa melakukannya di dunia nyata, baik karena tidak ada kesempatan ataupun malu jika ketahuan. Akan tetapi kedua hal ini hilang ketika berkecimpung di dunia maya. Mulai dari cara halus dengan menyindir dan tersirat ke arah cinta tak halal sampai dengan cara terang-terangan. Ketika mereka merasakan nikmat perasaan cinta yang berbunga-bungan maka lemahnya iman tidak bisa membendung sebagaimana berbuka puasa. Sehingga terjalinlah cinta yang tidak diperkenankan syariat bahkan sampai ke arah pernikahan.

Terkesan shalih dan shalihah di dunia maya

Jangan langsung terburu-buru menilai seseorang alim atau shalih hanya karena melihat aktifitasnya di dunia maya. Sering meng-update status-status agama, menaut link-link agama dan terlihat sangat peduli dengan dakwah. Hal ini belum tentu dan tidak menjadi tolak ukur keshalihan seseorang. Dan apa yang ada di dunia maya adalah teori, bukan praktek langsung. Bisa jadi sesorang sering menulis status agama, menaut link syar’i tetapi malah mereka tidak melaksanakannya dan melanggarnya, apalagi ada beberpa orang yang bisa menjaga image alim di dunia maya, pandai merangkai kata, pandai menjaga diri dan pandai memilih kata-kata yang bisa memukai banyak orang

Tolak ukur kita bisa menilai keshalihan seseorang secara dzahir adalah takwa dan aklaknya yang terkadang langsung bisa kita nilai dan melihatnya di dunia nyata, bukan menilai semata-mata bagaimana teorinya saja di dunia maya. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | 18 Comments »

Rincian Hukum Jimat

March 17th, 2012 by Abu Muawiah

Rincian Hukum Jimat

Point-point isi khutbah:
1. Jimat merupakan perbuatan kaum musyrikin.
2. Menggunakan jimat adalah kesyirikan.
3. Semua jimat adalah kesyirikan, apapun bentuknya, dimanapun dipasangnya, dan apapun tujuannya.
4. Kapan jimat dihukumi syirik kecil?
5. Kapan jimat dihukumi syirik besar?
6. Hukum jimat dari Al-Qur`an.
Silakan download khutbahnya di sini: http://taklimonline.com/download-khutbah

Category: Download Khutbah | Comments Off on Rincian Hukum Jimat

Hak-Hak Nabi Shallallahu alaihi wasallam

March 15th, 2012 by Abu Muawiah

Hak-Hak Nabi Shallallahu alaihi wasallam

Point-point isi khutbah:
1. Kewajiban mencintai dan berterima kasih kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam
2. Besarnya hak beliau dari umat beliau.
3. Hak Pertama: Menjalankan semua perintah beliau, baik yang wajib maupun yang sunnah.
4. Hak Kedua: Menyembah kepada Allah sesuai dengan petunjuk beliau.
5. Hak Ketiga: Mendahulukan ucapan beliau dari semua ucapan manusia selain beliau.
Silakan download khutbahnya di sini: http://taklimonline.com/download-khutbah

Category: Download Khutbah | Comments Off on Hak-Hak Nabi Shallallahu alaihi wasallam

Kewajiban Menjaga Lisan

March 13th, 2012 by Abu Muawiah

Kewajiban Menjaga Lisan

Point-point isi khutbah:
1. Semua ucapan dicatat oleh malaikat, termasuk ucapan yang mubah
2. Larangan banyak berbicara kecuali dalam hal kebaikan.
3. Wajibnya memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi setiap majelis, terkhusus ketika nama Nabi disebut.
4. Setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan.
5. Wajibnya memanfaatkan kesehatan dan waktu luang dengan baik
Silakan download khutbahnya di sini: http://taklimonline.com/download-khutbah

Category: Download Khutbah | Comments Off on Kewajiban Menjaga Lisan

Ikhlas dan Riya`

March 11th, 2012 by Abu Muawiah

Ikhlas dan Riya`

Point-point isi khutbah:
1. Makna ikhlas.
2. Larangan meniatkan dunia dalam ibadah.
3. Bahaya Riya`.
4. Dua keyakinan yang bisa menghilangkan riya`.
Silakan download khutbahnya di sini: http://taklimonline.com/download-khutbah

Category: Download Khutbah | Comments Off on Ikhlas dan Riya`