Archive for October, 2011

Keutamaan Surah Yasin (1)

October 31st, 2011 by Abu Muawiah

 

Keutamaan Surah Yasin (1)

Berikut kami nukilkan artikel yang sangat bermanfaat dari majalah An-Nashihah yang ditulis oleh Ust. Dzulqarnain -hafizhahullah-, yang menjelaskan LEMAHNYA semua hadits yang menyebutkan keutamaan surah Yasin.

Karena panjangnya tulisan, maka kami membaginya menjadi 3 bagian, selamat membaca:

Ada beberapa hadits yang menyebutkan keutamaan surah Yasin. Diriwayatkan dari beberapa shahabat yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khoththob, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Umar,  Ma’qil bin Yasar, Ubay bin Ka’ab, Abu Darda`, Abu Dzar, dan ‘Abdullah bin Samjaj –radhiyallahu ‘anhum ajma’in-.

 

Berikut rincian hadits-hadits tersebut lengkap dengan penjelasan derajatnya dalam timbangan ahli hadits.

 

1. Hadits Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Hadits Abu Bakar datang dari dua jalan dengan kandungan hadits yang berbeda.

Jalan pertama : Diriwayatkan oleh Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afa` 2/143, Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman 2/481/2465, Al-Khatib dalam Tarikh-nya 2/388 dan Ibnul Jauzy dalam Al-Maudhuat no. 483 (cet Adhwa` As-Salaf) dari jalan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Bakar Al-Jud’any dari Sulaiman bin Mirqo‘ Al-Junda’iy dari Hilal bin Sholt, sesungguhnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

[ 1 ]

سُوْرَةُ يس تُدْعَى فِي التَّوْرَاةِ الْمُعِمَّةَ. قِيْلَ : وَمَا الْمُعِمَّةُ ؟ قَالَ : تُعِمُّ صَاحِبَهَا بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَتُكَابِدُ عَنْهُ بَلْوَ الدُّنْيَا وَتَدْفَعُ عَنْهُ أَهَاوِيْلَ الآخِرَةِ. وَتُدْعَى الدَّافِعَةَ الْقَاضِيَةَ, تَدْفَعُ عَنْ صَاحِبِهَا كُلَّ سُوْءٍ وَتَقْضِيْ لَهُ كُلَّ حَاجَةٍ. مَنْ قَرَأَهَا عُدِّلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً, وَمَنْ سَمِعَهَا عُدِّلَتْ لَهُ أَلْفَ دِيْنَارٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ, وَمَنْ كَتَبَهَا ثُمَّ شَرِبَهَا أَدْخَلَتْ فِيْ جَوْفِهِ أَلْفَ دَوَاءٍ وَأَلْفَ نُوْرٍ وَأَلْفَ يَقِيْنٍ وَأَلْفَ بَرْكَةٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَنَزَعَتْ عَنْهُ كَلَّ غِلٍّ وَدَاءٍ

“Surat Yasin dalam Taurat disebut “Al-Mu’immah”. Ditanyakan : “Apakah Al-Mu’immah itu ?”, ,maka beliau menjawab : “Yang meliputi pemiliknya kebaikan dunia dan akhirat dan mematahkan darinya petaka dunia dan menolak  darinya kengerian akhirat. Dan (Yasin) disebut sebagai Ad-Dafi’atul Qadhiyah (Penolakan yang pasti menyelesaikan), menangkal dari pemiliknya segala kejelekan dan menyelesaikan segala hajatnya. Siapa yang membacanya dinilai untuknya dua puluh haji dan siapa yang mendengarkannya dinilai untuknya seribu dinar (mata uang emas) di jalan Allah. Siapa yang menulisnya lalu meminumnya maka dimasukkan ke dalam dadanya seribu obat, seribu cahaya, seribu yakin, seribu barakah dan seribu rahmat dan dicabut darinya seribu kedengkian dan penyakit”. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Syubhat & Jawabannya | Comments Off on Keutamaan Surah Yasin (1)

Hukum Upacara Bendera

October 27th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Upacara Bendera

Tanya:
bismillah, Bgmna Hukum mengikuti upacara kenaikan bendera di mana terdapat penghormatan kepada sangsaka bendera merah putih apakah termasuk syirik kecil atau besar? dan kalau upacra itu haram bgmna seharusnya kami sbg PNS agar selamat dari penghormatan pada bendera merah putih jika mengikuti upacara? krn PNS wajib mengikuti upacra bendera pada setiap hari kemerdekaan?
Abu Zaid siakad
andi.isran@yahoo.co.id

Jawab:
Berikut kami nukilkan jawaban dari Ust. Zulqarnain -hafizhahullah- yang pernah dimuat dalam majalah An-Nashihah:
Di dalam upacara bendera terdapat beberapa kemungkaran :
Pertama : Sering terdapat ikhtilath didalamnya dan banyak dalil yang menunjukkan tentang haramnya ikhtilath.

Kedua  : Menghormati bendera adalah bid’ah dan merupakan bentuk tasyabbuh kepada orang-orang kafir sedangkan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.(Dihasankan oleh Syaikh Al-AlBany dalam Al-Irwa` no.1269)
Dan apabila ada bentuk pengagungan atau penghormatan terhadap bendera yang menyamai dengan pengagungan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka hukumnya adalah syirik akbar. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Jawaban Pertanyaan | 4 Comments »

Shalat Tasbih

October 25th, 2011 by Abu Muawiah

Shalat Tasbih

Tanya:
Assalamualaikum..
Ustadz saya mau tanya,,maaf kalo agak melenceng dari tema,,bagaimana menurut Ustadz derajad hadits dari shalat Tasbih??karena saya baca di buku Syaikh Utsaimin beliau menganggap tidak disyariatkan karena hadits lemah, juga imam Bukhari dan Imam Syafii..mohon penjelasannya Ustadz..
Wassalamualaikum.
aan
darmawan.sutanto@yahoo.com

Jawab :
Waalaikumussalam Warahmatullah.
Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang sholat tasbih :
1.    Hadits Ibnu ‘Abbas.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ أَلاَ أُعْطِيْكَ أَلاَ أُمْنِحُكَ أَلاَ أُحِبُّوْكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ عَشَرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وِسُوْرَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقُرْاءَةِ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشَرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تّهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِيْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً  فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِيْ كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ عُمْرِكَ مَرَّةً
Artinya :”Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rasulullah  bersabda kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Mutholib : Wahai ‘Abbas, wahai pamanku maukah saya berikan padamu?, maukah saya anugerahkan padamu?, maukah saya berikan padamu?, saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu  awalnya dan akhirnya, yang lama maupun yang baru yang tidak disengaja maupun yang disengaja yang kecil maupun yang besar yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Semuanya 10 macam. Kamu sholat 4 rakaat setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan surah-surah. Jika telah selesai maka bacalah Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaaha illallah wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian ruku’ dan bacalah di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam  empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan kalau tidak mampu setiap bulan kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu”. Read the rest of this entry »

Category: Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Hadits, Jawaban Pertanyaan | 8 Comments »

Ayah Tiri Mahram bagi Istri Anak Tiri?

October 23rd, 2011 by Abu Muawiah

Ayah Tiri Mahram bagi Istri Anak Tiri?

Ana mau tanya kepada Ustadzah barakallahu fikum, siapa sajakah wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki karena hubungan mahram? Apakah istri anak tiri merupakan mahram bagi ayah tirinya? Jazakumullah khairan atas jawaban yang diberikan.
(Ummu Fulan, Cilacap, Jateng)

Jawab:
Allah I berfirman:
“Janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayah-ayah kalian (ibu tiri) kecuali pada masa yang  telah lampau (sebelum datangnya larangan ini) karena sesungguhnya perbuatan menikahi ibu tiri itu amatlah keji, dibenci dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh. Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri  kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu) dan menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 22-23)
Dalam ayat yang mulia di atas, Allah I menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki, baik karena hubungan nasab, karena penyusuan ataupun karena hubungan pernikahan. Read the rest of this entry »

Category: Muslimah | 1 Comment »

Ezine Islami Al-Atsariyyah Edisi 3 Telah Terbit

October 23rd, 2011 by Abu Muawiah

Ezine Islami Al-Atsariyyah Edisi 3 Telah Terbit

Alhamdulillahi Rabbil alamin. Walaupun agak mundur dari jadwal, akhirnya Ezine Islami Al-Atsariyyah edisi 3 bisa kembali terbit. Berikut judul-judul materi Ezine Islami Al-Atsariyyah edisi 2:

1.    Tauhid: Kaum Musyrikin Mengimani Rububiah (Ketuhanan) Allah.

2.    Nahwu Dasar: Mengenal Al-Fi’il.

3.    Musthalah Al-Hadits: Hadits Hasan dan Shahih li Ghairihi.

4.    Bulugh Al-Maram: Air Suci dan Air Najis.

5.    Ushul Al-Fiqhi: Hukum-Hukum Syar’iyah.

6.    Al-Qawa’id Al-Fiqhiah: Niat Adalah Syarat Syah Semua Ibadah.

7.    Akidah Ahlissunnah: Al-Qur`an Kalam Allah dan Bukan Makhluk.

Untuk membaca preview dari setiap materi silakan kunjungi: http://ezine.al-atsariyyah.com/.

Category: Info Kegiatan | 1 Comment »

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (Final)

October 21st, 2011 by Abu Muawiah

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (Final)

Berikut kelanjutan dari 7 kesalahan dalam shalat, yang tersebut dalam artikel sebelumnya

8. Bermain-main dengan menggunakan pakaian, jam tangan, atau yang lainnya.
Amalan ini menafikan kekhusyukan, dan telah berlalu dalil-dalil (akan disyari’atkannya) khusyu’ dalam masalah ke-5. Dan sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melarang untuk menyentuh batu kerikil dalam sholat karena bisa menafikan kekhusyukan, beliau bersabda:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يَمْسَحِ الْحَصَى فَإِنَّ الرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ
“Jika salah seorang di antara kalian berdiri dalam sholat, maka janganlah dia menyapu kerikil (di tempat sujudnya), karena rahmat (Allah) berada di depannya”. Riwayat Ahmad dan Ashhabus Sunan dengan sanad yang shohih.
Dan tidak jarang perbuatan sia-sia itu bertambah sampai menjadi gerakan yang banyak yang mengeluarkan sholat dari gerakan asalnya, sehingga sholat bisa menjadi batal.

9. Memejamkan kedua mata dalam sholat tanpa ada keperluan.
Ini adalah perkara yang makruh, Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata, “Bukan termasuk tuntunan beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- memejamkan kedua mata dalam sholat”. Beliau (juga) berkata, “Para ahli fiqhi berselisih pendapat tentang makruhnya, Imam Ahmad dan selain beliau memakruhkannya, mereka berkata, [“Ini adalah perbuatan orang-orang Yahudi (dalam sholat mereka)”] dan sebagian lain membolehkannya dan tidak memakruhkannya, mereka berkata, [“Perbuatan ini lebih cepat menghasilkan kekhusyukan yang merupakan mana dia merupakan ruh, rahasia, dan maksud dari sholat.
Yang benarnya adalah dikatakan, [“Jika membuka mata tidak menghilangkan kekhusyukan maka ini yang paling afdhol. Tapi jika dengannya (membuka mata) akan menghalangi dia untuk khusyu’ karena di kiblatnya ada semacam hiasan, at-tazrawiq, atau yang semacamnya dari hal-hal yang bisa mengganggu hatinya, maka ketika itu tentunya tidak dimakrukan untuk menutup mata”]. Dan pendapat yang menyatakan disunnahkannya dalam keadaan di atas lebih mendekati ushul dan maksud syari’at dibandingkan pendapat yang menyatakan makruhnya, wallahu A’lam”. Selesai ucapan Ibnul Qoyyim -rahimahullah-. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bolehkah memakai jam tangan saat shalat
  • sholat memakai jam tangan

Category: Fiqh | 7 Comments »

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (1)

October 19th, 2011 by Abu Muawiah

Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat (1)

1. Tidak tuma’ninah dalam sholat
Masalah ini termasuk masalah yang kejahilan merebak di dalamnya, dan merupakan maksiat yang sangat jelas karena tuma`ninah adalah rukun yang sholat tidak teranggap syah tanpanya. Hadits al-musi`u sholatuhu (orang yang jelek sholatnya) sangat menunjukkan akan hal tersebut. Makna tuma`ninah adalah orang yang sholat tenang di dalam ruku’nya, i’tidalnya, sujudnya, dan ketika duduk di antara dua sujud, dengan cara dia tinggal sejenak sampai setiap tulang menempati tempatnya, dan dia jangan tergesa-gesa untuk berpindah dari suatu rukun (sholat) sampai dia tuma`ninah dan setiap persendian telah menempati posisinya.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada al-musi`u sholatuhu (orang yang jelek sholatnya) tatkala dia tergesa-gesa dan tidak tuma`ninah:
اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
 “Kembali ulangi sholatmua, karena (tadi) kamu belum sholat”.
Dan dalam hadits Rifa’ah (juga) dalam kisah al-musi`:
ثُمَّ يُكَبِّرَ وَيَرْكَعَ فَيَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِي, ثُمَّ يَقُوْلُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ, وَيَسْتَوِيَ قَائِمًا حَتَّى يَأْخُذَ كُلُّ عَظْمٍ مَأْخَذَهُ
“Kemudian dia bertakbir lalu ruku’ dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya sampai semua tulang-tulangnya tenang dan rileks. Kemudian dia membaca “Sami’allahu liman hamidah” dan tegak berdiri sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing”.

2. Sengaja mendahului dan menyelisihi imam.
Ini membatalkan sholat atau (minimal) membatalkan raka’at. Sehingga barangsiapa yang ruku’ sebelum imamnya, maka batal raka’atnya kecuali jika dia ruku’ kembali setelah ruku’nya imam, demikian halnya pada seluruh rukun-rukun sholat. Maka yang wajib bagi orang yang sholat adalah mengikuti dan mencontoh imamnya, jangan dia mendahuluinya dan jangan pula terlambat dalam mengikutinya dalam satu rukun (gerakan) atau lebih.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dengan sanad yang shohih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ: فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَلاَ تُكَبِّرُوْا حَتَّى يُكَبِّرَ, وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا وَلاَ تَرْكَعُوْا حَتَّى يَرْكَعَ
“Tidaklah seorang imam dijadikan sebagai imam kecuali untuk diikuti; maka jika dia bertakbir maka bertakbirlah kalian dan janganlah kalian bertakbir sampai mereka sudah bertakbir, jika dia ruku’ maka ruku’lah kalian dan janganlah kalian ruku’ sampai mereka sudah ruku’ …”. sampai akhir hadits. Asal haditsnya ada dalam Ash-Shohihain, dan juga diriwayatkan semisalnya oleh Imam Al-Bukhary dari Anas -radhiyallahu ‘anhu-.
Dimaafkan dalam masalah ini orang yang lupa dan orang yang jahil. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • ketika makmun tidak sempat baca alfatiha karna iman tergesagesa
  • tidak tuma\ninah hanya 1 rakaat

Category: Fiqh | 28 Comments »

Saya Mu`min Insya Allah

October 17th, 2011 by Abu Muawiah

Saya Mu`min Insya Allah

Ucapan, “Saya mu`min insya Allah,” seperti di atas. Apa hukum seorang muslim mengucapkannya?
Sebelumnya perlu diketahui bahwa ucapan di atas -di kalangan para ulama- dikenal dengan nama ‘al-istitsna` fi al-iman’, yang artinya ‘pengecualian dalam masalah keimanan’.
Adapun hukumnya, berikut terjemahan dari ucapan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah:

Istitsna` dalam masalah keimanan adalah seseorang mengatakan, “Saya seorang mukmin insya Allah.”
Ulama berselisih paham menjadi tiga pendapat dalam permasalahan ini:
Pendapat pertama: Haramnya istitsna`.

Pendapat ini adalah pendapat sekte al-murji`ah, sekte al-Jahmiyah dan yang semisal mereka. Dasar pegangan pendapat ini bahwa iman itu adalah satu bagian yang diketahui oleh setiap orang di dalam dirinya, yaitu pembenaran sesuatu yang melekat didalam hatinya. Karenanya kalau seseorang mengucapkan istitsna` dalam keimanan maka pengecualian iman tersebut adalah bukti akan keraguanya. Olehnya itu mereka menamakan orang-orang yang membolehkan istitsna` sebagai kaum syakkakan (ragu-ragu). Read the rest of this entry »

Category: Aqidah | 2 Comments »

Jihad Yang Paling Besar

October 15th, 2011 by Abu Muawiah

Jihad Yang Paling Besar

Tanya:
Hadits tentang jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Apakah hadits itu shohih ?

Aswin
Karawang Jawa Barat

Jawab:
Berkata Ibnu Rajab dalam Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam hal. 369 (Tahqiq Thoriq bin ‘Iwadhullah) : “Ini diriwayatkan secara marfu’ dari hadits Jabir dengan sanad yang lemah, dan lafazhnya :
قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ قَالَ مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ لِهَوَاهُ
“Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar. (Mereka) berkata : “Apakah jihad besar itu ?”. beliau menjawab : “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya”.”
Dan Syaikh Al-Albany rahimahullah menyebutkan hadits di atas dalam Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah no. 2460 dan memberikan vonis terhadap hadits tersebut sebagai hadits “Mungkar”. Dan dari uraian beliau diketahui bahwa hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr Asy-Syafi’iy dalam Al-Fawa`id Al-Muntaqoh, Al-Baihaqy dalam Az-Zuhd, Al-Khatib dalam Tarikh-nya dan Ibnul Jauzy dalam Dzammul Hawa, dan  juga dipahami bahwa selain dari Ibnu Rajab, hadits ini juga dilemahkan oleh Al-Baihaqy, Al-‘Iraqy dalam Takhrijul Ihya` dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Takhrijul Kasysyaf. Read the rest of this entry »

Category: Ensiklopedia Hadits Lemah, Jawaban Pertanyaan | 1 Comment »

Mengambil Manfaat Dari Sawah Yang Digadaikan

October 13th, 2011 by Abu Muawiah

Mengambil Manfaat Dari Sawah Yang Digadaikan

Pertanyaan:
Ada contoh kasus sebagai berikut : Si A menggadaikan sebidang tanah kepada Si B dengan harga satu juta dengan perjanjian bahwa Si B akan menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen setelah itu barulah uang bisa dikembalikan. Jadi ada Si A mampu mengembalikan uang atau tidak maka Si B tetap menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen. Dan kalau Si A setelah tiga kali panen belum mampu mengembalikan satu juta maka sawah masih tetap digarap oleh Si B sampai uangnya kembali.
–    Apakah sistem seperti di atas dibolehkan menurut syari’at agama kita ?
–    Bagaimana contoh gadai yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam?
Tolang penjelasannya secara rinci beserta dalil-dalilnya.

Sinardin Baddusa’
Desa Raoda Kec. Lasusua Kab. Kolaka
Sulawesi Tenggara

Jawab :
Sistem seperti yang disebut dalam contoh kasus tidaklah dibenarkan dalam syari’at Islam yang mulia lagi penuh kebijaksanaan. Hal tersebut karena beberapa perkara :
1.    Hal tersebut adalah bentuk kezholiman yang diharamkan dalam syari’at Islam yang luhur dan mulia.

2.    Adanya perjanjian bahwa Si B akan menggarap sawah tersebut selama tiga kali panen setelah itu barulah uang bisa dikembalikan adalah pensyaratan yang terlarang dan bertentangan dengan maksud dari syari’at sistem gadai yang sifatnya hanya sebagai barang jaminan bila si peminjam tidak mampu mengambalikan pinjaman.

3.    Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
الظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَلَبَنُ الدُّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إِذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَعَلَى الذِّيْ يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ النَّفَقَةُ
“Hewan tunggangan ditunggangi sesuai dengan nafkahnya (baca : biayanya) apabila ia tergadaikan dan susunya diminum sesuai dengan nafkahnya apabila ia tergadaikan. Dan atas orang yang menunggangi dan meminumnya (menanggung) nafkahnya”. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • bolehkah mengambil manfaat dari tanah yang di gadaikan

Category: Ekonomi Islam, Jawaban Pertanyaan | 2 Comments »