Archive for June, 2011

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

June 28th, 2011 by Abu Muawiah

Tabligh Akbar Masyaikh 2011

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarganya, shahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu’alaihi wasallam hingga akhir zaman.

Alhamdulillah, sebuah kabar gembira bagi kaum Muslimin di Indonesia. Pada tahun 1432 H (2011 M) ini, kembali akan dilaksanakan majelis ilmu bersama para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari Timur Tengah.

Di antara masyayikh yang insya Allah akan hadir adalah:

1. Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri
2. Asy Syaikh Khalid Azh Zhafiri
3. Asy Syaikh Muhammad Ghalib
4. Asy Syaikh Khalid bin Abdirrahman Jad

Tema: “AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DALAM ISLAM BUKAN ANARKISME”

Adapun pelaksanaannya sebagai berikut:

Hari : Sabtu—Ahad,
Tanggal : 14—15 Sya’ban 1432 H/ 16—17 Juli 2011 M
Waktu : 09.00—selesai
Tempat : Masjid Agung Manunggal, Bantul, Yogyakarta.

Penyelenggara:

Panitia Majelis Ilmu Nasional Ahlus Sunnah wal Jamaah
Jl. Godean KM. 5 Gg. Kenanga 268, Patran Rt.01/01 – Banyuraden-Gamping-Sleman-DI. Yogyakarta
Info Contact: 085747566736 Read the rest of this entry »

Category: Tanpa Kategori | Comments Off on Tabligh Akbar Masyaikh 2011

Akhir Waktu Shalat Isya

June 27th, 2011 by Abu Muawiah

Akhir Waktu Shalat Isya

Tanya:
kapan batas akhir boleh dilakukannya sholat isya? benarkah smapai fajar ?
abu abdillah rudi [udikhaeyatno@yahoo.com]

Jawab:
Ada 3 pendapat di kalangan ulama mengenai akhir waktu shalat isya:
1.    Akhir waktunya adalah 1/3 malam pertama.
Ini adalah pendapat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Hurairah dari kalangan sahabat, Umar bin Abdil Aziz, dan salah satu pendapat Asy-Syafi’i.
Mereka berdalil dengan hadits Abu Musa, Buraidah, Jabir, dan Ibnu Abbas radhiallahu anhum yang semuanya menyebutkan bahwa akhir waktunya adalah 1/3 malam pertama.

2.    Akhir waktunya adalah 1/2 malam.
Ini adalah pendapat Ats-Tsauri, Ash-hab Ar-Ra`yi, Ibnu Al-Mubarak, Ishaq bin Rahawaih, dan pendapat lama Asy-Syafi’i, Ahmad, Al-Bukhari, dan Ibnu Hazm rahimahumullah. Read the rest of this entry »

Incoming search terms:

  • batas solat isya
  • kapan habis waktu shalat isya

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 3 Comments »

Shalat 2 Rakaat, Iftrasy atau Tawarruk?

June 24th, 2011 by Abu Muawiah

Shalat 2 Rakaat, Iftrasy atau Tawarruk?

Tanya:
Assalamu ‘alaikum wwb.
Ustadz ‘afwan ana mau tanya dalil yang menerangkan shlat yang dua roka’at dengan duduk iftirosy ?
A. Fakhri [mamat.rahmat57@yahoo.coom]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Ya benar, ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa pada shalat yang dua rakaat, duduk tasyahudnya adalah duduk iftirasy yaitu kaki kanan ditegakkan dan duduk di atas kaki kiri. Di antaranya adalah hadits Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu anhu dia berkata:
كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ اْليُسْرَى ، وَنَصَبَ اْليُمْنَى
“Adalah Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – jika duduk pada dua raka’at, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan.”
(HR. Ibnu Hibban: 5/370/no.1943, sebagaimana dalam Al-Ihsan)
Semakna dengannya hadits Wail bin Hujr riwayat An-Nasai no. 1158 dengan sanad yang shahih.

Hanya saja, hadits di atas tidak bisa dijadikan sebagai dalil bahwa semua shalat yang 2 rakaat, maka duduk tasyahudnya adalah iftirasy. Hal itu dikarenakan 2 alasan: Read the rest of this entry »

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 18 Comments »

Hukum Flek (Darah) Setelah Haid

June 20th, 2011 by Abu Muawiah

Hukum Flek (Darah) Setelah Haid

Tanya:
Saya mengalami flek setelah masa haid, kira-kira 10 setelah selesai haid, flek itu keluar, yang saya alami sudah hampir 3 hari, selama flek ini keluar saya tidak menjalani ibadah shalat karena saya takut kalu itu menjadi dosa bagi saya. saya kurang faham dengan masalah ini, jadi yang saya mau tanyakan bagaimana hukum shalat bagi orang yang dalam keadaan keuar flek? terima kasih
Muliana [uliel_107@yahoo.com]

Jawab:
Jika masa haid biasanya telah berlalu dan masa haidnya ini masih normal dan berlangsung setiap bulan sebagaimana biasanya, maka semua darah dan flek yang keluar setelahnya bukanlah dihukumi haid sehingga tidak berlaku padanya hukum-hukum haid.

Karenanya dia tetap wajib untuk shalat dan berpuasa dan jangan dia tinggalkan karena adanya flek seperti itu. Satu hal yang sudah pasti bahwa shalat itu wajib, sementara keluarnya flek ini adalah masalah yang masih diragukan apakah dia haid atau bukan. Dan seorang muslim tidak boleh meninggalkan suatu kewajiban yang pasti hanya gara-gara sesuatu yang masih diragukan keberadaannya.

Incoming search terms:

  • flek setelah haid
  • flek setelah Menstruasi
  • masih flek setelah haid boleh puasa/tidak

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 34 Comments »

Penggabungan Nishab Zakat Uang dan Emas

June 17th, 2011 by Abu Muawiah

Penggabungan Nishab Zakat Uang dan Emas

Tanya:
Assalamu Alaikum Ust.
Ana mau tanyakan,ana punya emas tapi tdk cukup nishabnya untuk dikeluarkan zakatnya dan ana juga punya uang tp tdk cukup jg nishabnya untuk dikeluarkan zakatnya, tp kalo’ keduanya digabung maka nishabnya cukup.Apakah wajib keluar zakatnya?jazakumullahu khairan ust
Ridwansyah [blackwaone@gmail.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah
Emas dan uang dalam masalah zakat dihukumi sama, karenanya jumlah keduanya boleh digabungkan untuk mencapai nishab. Jika setelah digabungkan jumlahnya mencapai atau melebihi nishab, maka zakatnya wajib dikeluarkan setelah dimiliki selama setahun (haul). Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • nishab zakat

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 6 Comments »

Jika Imam Lupa Tasyahud Pertama

June 13th, 2011 by Abu Muawiah

Jika Imam Lupa Tasyahud Pertama

Tanya:
assalaamu alaikum
ana mau tanya bagaimana imam yg lupa duduk tasyahhud awal dia langsung berdiri sempurna ke rakaat ketiga.
Apa yg harus dilakukan imam? dan bgmana dgn makmum apakah harus mengikuti imam?
jazaakallaahu khair atas jawabannya
rusdianto [rusdianto_40@yahoo.com]

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Kejadian seperti ini pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau telah menuntunkan apa yang harus dilakukan oleh si imam dan para makmum.

Abdullah bin Malik bin Buhainah radhiallahu anhu dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ الظَّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلَاةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat zuhur bersama mereka, lalu beliau berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud), maka orang-orang juga ikut berdiri bersama beliau. Hingga ketika shalat akan selesai, dan orang-orang sudah menanti salamnya, beliau bertakbir dalam posisi duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, setelah itu baru beliau salam.” (HR. Al-Bukhari no. 786 dan Muslim no. 885)

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa kewajiban bagi imam yang lupa duduk tasyahud awal sementara dia telah berdiri tegak adalah tetap melanjutkan shalatnya dan tidak perlu dia duduk kembali untuk tasyahud awal, akan tetapi sebelum salam dia disyariatkan untuk sujud sahwi. Adapun bagi makmum, mereka tidak perlu mengingatkan imam ketika imam sudah berdiri tegak, akan tetapi mereka tetap mengikuti semua gerakan imam. Jika di akhir shalat imam sujud sahwi maka mereka juga sujud sahwi. Wallahu a’lam.

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan | 6 Comments »

Pembagian Warisan Ayah Saat Ibu Meninggal

June 10th, 2011 by Abu Muawiah

Pembagian Warisan Ayah Saat Ibu Meninggal

Tanya:
Ibunda sy beberapa bulan yg lalu dipanggil oleh Allah SWT setelah dicoba olehNya dengan penyakit selama lebih kurang 6 bulan. Maninggalkan seorang suami (ayah kami) dan kami anak2nya ada 5 bersaudara, satu diantaranya perempuan, semuanya alhamdulillah sudah mandiri dan berkeluarga. Setelah lewat sebulan ibunda wafat, ayahanda sy menikah lagi dengan seorang janda beranak tiga (semoga Allah memberkahi mrk). selama bersama almarhumah ibunda, ayah telah dikarunia harta yg lumayan banyak. Cuman ayah yg bekerja memang sementara ibu hanya berperan sebagai IRT. Pertanyaan saya, apakah setelah wafatnya ibunda sy, harta milik org tua sy tersebut sdh harus dibagikan sesuai dengan ketentuan faraid, atau tidak bisa dibagikan selama ayah sy masih hidup?
Erza Chaldun [anaxaiak@hotmail.com]

Jawab:
Harta yang boleh dibagikan hanyalah harta yang murni milik ibu. Adapun jika ibu hanya berperan sebagai ibu rumah tangga dan tidak mempunyai penghasilan sehingga tidak mempunyai harta, maka tidak ada harta yang harus dibagikan.
Adapun harta ayah yang merupakan hasil pekerjaannya, maka dia nanti dibagikan setelah ayah meninggal. Dimana pembagiannya akan dibagi bersama istri keduanya beserta semua anak-anaknya (dari istri pertama). Adapun anak tirinya maka tidak mendapat warisan, karena bukan darah dagingnya. Wallahu a’lam.

Incoming search terms:

  • pembagian harta warisan ibu ketika ayah masih hidup

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Warisan | 2 Comments »

Pembagian Warisan

June 6th, 2011 by Abu Muawiah

Pembagian Warisan

Tanya:
ustadz hafidzokumulloh,ana mau nanya,ada seorang laki-laki meninggal,dan mempunyai sebidang tanah,dan meninggalkan seorang istri, seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan, berapakah bagian masing-masing ahli waris, jazaakumulloh khoir
abu muslim [abu.muslim123@yahoo.id]

Jawab:
Istri mendapatkan 1/8 dari harta warisan karena adanya anak-anak.
Sementara 7/8 lainnya untuk anak-anaknya dengan catatan anak perempuan mendapatkan bagian 1/2 anak laki-laki. Atau dengan kata lain, anak laki-laki mendapatkan 7/16 bagian dan kedua anak perempuan juga mendapatkan 7/16 bagian. Tinggal nilai tanahnya yang dikonversi menjadi uang, lalu dihitung.

Ini tentu saja setelah ditunaikan hak dan kewajiban mayit, seperti penunaian wasiat kalau ada, pembayaran utang kalau ada, dan biaya penyelenggaraan jenazah. Wallahu a’lam.

Category: Fiqh, Jawaban Pertanyaan, Warisan | 27 Comments »

Dua Kerancuan Dalam Masalah Keberadaan Allah

June 3rd, 2011 by Abu Muawiah

Dua Kerancuan Dalam Masalah Keberadaan Allah

Sebelum menguraikan beberapa syubhat dan jawabannya, perlu diketahui letak perselisihan antara Ahlus Sunnah dan kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah ini. Dan uraiannya sebagai berikut :

Tidak ada perbedaan pendapat diantara seluruh kelompok dari kalangan Ahlus Sunnah dan selainnya akan penetapan ‘Uluwul Qadr (Ketinggian derajat/kekuatan) dan ‘Uluwul Qahr (Ketinggian kekuasaan dan keperkasaan).

Letak perselisihan Ahlus Sunnah dan seluruh kelompok yang menyimpang adalah dalam menetapkan ‘Uluwudz Dzat (Ketinggian Dzat). (Lihat Mukhtashor Ash-Showa‘iqh 1/275).

Berikut ini beberapa syubhat dan jawabannya :

Syubhat Pertama

Dan sungguh banyak dari ahli bid’ah yang memahami bahwasanya Ahlus Sunnah menta`wil ayat-ayat ma’iyah (yang menunjukkan bahwa Allah bersama dengan makhluk-Nya) dan memalingkannya dari zhohirnya agar mengharuskan Ahlus Sunnah untuk menyetujui ta`wil (yang mereka lakukan) tersebut atau (Ahlus Sunnah) bergampangan dalam masalah tersebut. Mereka mengatakan : “Bagaimana bisa kalian wahai Ahlus Sunnah mengingkari kami dalam menta`wil apa-apa yang kami ta`wil padahal kalian juga melakukan yang semisalnya (menta`wil) pada apa-apa yang kalian ta`wil ?!”. Read the rest of this entry »

Category: Aqidah, Syubhat & Jawabannya | 6 Comments »