Shalat Sunnah di Tengah Hari Pada Hari Jumat

March 24th 2014 by Abu Muawiah |

Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسـم الله
Ustadz, salah satu sunnah menghadiri sholat jum’at yaitu sholat sunnah (mutlak) semampunya sampai khotib naik mimbar. Bagaimana dengan waktu terlarang (matahari tepat di atas) sementara khotib belum naik mimbar apakah harus berhenti sholat (mutlak)?
شكرا ustadz, بارك الله فيـك

Jawab:
Dari Salman al Farisi radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا يغتسِلُ رجلٌ يومَ الجمُعةِ، ويتطَهَّرُ ما استطاع من طُهرٍ، ويدَّهِنُ من دُهنِه، أو يَمَسُّ من طِيبِ بيتِه، ثم يَخرُجُ فلا يُفَرِّقُ بين اثنين، ثم يصلِّي ما كُتِبَ له، ثم يُنصِتُ إذا تكلَّمَ الإمامُ، إلا غُفِرَ له ما بينه وبين الجمُعة الأخرَى .
“Tidak ada seseorg yg mandi pd hr jumat, bersuci semampunya, memakai minyak (rambut), atau memakai wewangian, kemudian dia keluar (menuju masjid). Di masjid, dia tdk memisahkan di antara 2 org (yg duduk). Kemudian dia mengerjakan shalat (sunnah) semampunya. Kemudian dia diam tatkala imam berkhutbah. Tidak ada org yg melakukan semua itu kecuali akan diampuni dosanya antara jumat itu dgn jumat depannya.” (HR. Al Bukhari no. 883)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya shalat sunnah mutlak di saat matahari tepat di tengah langit pd hari jumat. Hal itu krn akhir pembolehan shalat sunnah ini adl dgn datangnya imam, yaitu pd saat matahari tergelincir ke barat. Demikian penjelasan dr al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dlm at Talkhish. Wallahu a’lam

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, March 24th, 2014 at 11:33 pm and is filed under Dari Grup WA, Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.